Ketika Peluru Menghentikan Tawa Aliko
Oleh: Martinus Gobai Kematian Aliko Walia bukan angka baru dalam daftar panjang korban konflik di Papua. Ia adalah seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang seharusnya tumbuh dengan tawa dan gembira, bermain di kampung halamannya belajar membaca dan menulis, dan tidur dalam pelukan hangat rasa aman keluarganya. Namun, sebutir peluru telah merampas semua itu. Dadanya ditembus amunisi, masa depannya dihentikan paksa dengan kekerasan aparat, dan harapan kedua orang tuanya dihancurkan di ruang perawatan rumah sakit, setelah 36 hari Aliko berjuang melawan maut. Di balik tragedi ini, ada jeritan sunyi seorang Mama yang setia menunggu keajaiban bagi buah hatinya. Ada seorang Bapa yang tak pernah membayangkan harus mengantar anak kecilnya ke rumah sakit akibat luka tembak di tanah kelahirannya sendiri. Keluarga ini tidak sedang mencari kekuasaan, tidak memegang senjata, dan tidak sedang berada di medan perang. Mereka hanya ingin anak mereka hidup. Menuntut Akuntabilitas Negara Pe...








