Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Ketika Peluru Menghentikan Tawa Aliko

  Oleh: Martinus Gobai  Kematian Aliko Walia bukan angka baru dalam daftar panjang korban konflik di Papua. Ia adalah seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang seharusnya tumbuh dengan tawa dan gembira, bermain di kampung halamannya belajar membaca dan menulis, dan tidur dalam pelukan hangat rasa aman keluarganya. Namun, sebutir peluru telah merampas semua itu. Dadanya ditembus amunisi, masa depannya dihentikan paksa dengan kekerasan aparat, dan harapan kedua orang tuanya dihancurkan di ruang perawatan rumah sakit, setelah 36 hari Aliko berjuang melawan maut. Di balik tragedi ini, ada jeritan sunyi seorang Mama yang setia menunggu keajaiban bagi buah hatinya. Ada seorang Bapa yang tak pernah membayangkan harus mengantar anak kecilnya ke rumah sakit akibat luka tembak di tanah kelahirannya sendiri. Keluarga ini tidak sedang mencari kekuasaan, tidak memegang senjata, dan tidak sedang berada di medan perang. Mereka hanya ingin anak mereka hidup. Menuntut Akuntabilitas Negara Pe...

Postingan Terbaru

Jayapura, 18 Mei 2026 Solidaritas Mahasiswa/i Kabupaten Paniai se-Indonesia (SMI-KP) menggelar aksi mimbar bebas di Asrama Paniai, Wilayah Kota studi Jayapura.

Solidaritas Mahasiswa Se-Indonesia Asal Paniai di kota Jayapura tahun 2026.

BREAKING NEWS: Serangan Udara di Intan Jaya, Dua Warga Sipil Meninggal Dunia dan Dua Luka Kritis di Halaman Gereja Stase Nabuni

Dogiyai Kembali Berdarah: Di Mana Keadilan Pemerintah dan Kapolres serta Polsek bagi Rakyat?

Yesus dan Kaum Tertindas: Relevansi Teologi Pembebasan di Papua

PENIPUAN TERSEMBUNYI YANG SEDANG MENYESATKAN BANYAK ORANG DI ZAMAN INI

Mahasiswa dan Konfrater Keuskupan Bersatu dalam Nobar dan Diskusi: "Papua Bukan Tanah Kosong!"

WEST PAPUA ADALAH MILIK BANGSA PAPUA DAN INDONESIA DI WEST PAPUA SEJAK 1 MEI 1963 ADALAH ILEGAL

MAKNA FILOSOFI DIMI AKAUWAI AWI SERTA RELEVANSINYA DENGAN EKSISTENSI KARYA ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN SUKU MEE