Pentingnya Melestarikan Alam Semesta
(Belajar dari Beberapa Mazhab Tiongkok Kuno)
Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa
Realitas mutlak mengenai keberadaan alam menunjukkan bahwa filsafat dapat memberikan gambaran ideal bagi kehidupan masyarakat Papua. Dalam konteks Papua, persoalan sosial, budaya, dan ekonomi terus berulang sehingga diperlukan pembaruan cara berpikir agar praktik merusak seperti penjualan tanah, gunung, serta berbagai ciptaan alam tidak lagi terjadi. Tanah Papua bukanlah ruang kosong; ia merupakan warisan leluhur yang dijaga dari generasi ke generasi.
Pemikiran Kong Fuzi (Konfusius) relevan untuk memahami posisi manusia Papua sebagai makhluk sosial dan budaya. Ia menekankan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan pembentuknya, sebagaimana seorang anak memerlukan pendampingan orang tua selama tiga tahun pertama kehidupan fase universal yang menentukan perkembangan dasar manusia. Kitab Wedha juga menegaskan pentingnya menghindari pikiran buruk dan menumbuhkan hal-hal baru melalui kekuatan spiritual sebagai proses memahami eksistensi manusia.
Dalam ajaran Konfusianisme, manusia ideal adalah mereka yang memahami yi (kebenaran moral), bukan hanya li (ritual formal). Konfusius sering menggunakan konsep ren untuk menggambarkan keseluruhan kebajikan, sehingga “manusia ren” merujuk pada pribadi yang bermoral baik dan bijaksana. Dengan demikian, kebijaksanaan dipahami sebagai kesempurnaan moral yang utuh.
Ungkapan bahwa “orang berkarakter rendah akan menertawakan kebenaran” menunjukkan bahwa penerimaan terhadap nilai luhur memerlukan kedewasaan karakter. Di Papua, kebenaran sering dijaga oleh mereka yang miskin dan tertindas. Kelompok inilah yang sesungguhnya menjaga kelestarian alam, meski tidak memiliki kuasa formal atas tanah. Sementara itu, pihak berstatus tinggi yang menguasai sumber daya kerap mengabaikan nilai-nilai budaya sehingga merusak tatanan sosial dan ekonomi masyarakat Papua.
Laozi melalui Taoisme menawarkan perspektif berbeda. Ia menekankan pentingnya melestarikan kekuatan diri melalui kerendahan hati. Kesombongan adalah tanda kemunduran, sedangkan kerendahan hati membuka ruang untuk terus berkembang. Dalam pandangan Laozi, Tao merupakan dasar dari segala sesuatu yang ada. Manusia kehilangan keaslian dirinya ketika dikuasai oleh keinginan berlebih dan pengetahuan yang tidak diarahkan secara bijaksana; semakin mereka memenuhi keinginan tersebut, semakin jauh mereka dari keseimbangan. Bagi masyarakat Papua, kebijaksanaan tercermin dalam kemampuan menjadi pengelola yang bijak atas tanah air sendiri menjadi tuan atas ruang hidup yang diwariskan leluhur.
Mazhab Yin Yang, yang terdiri dari enam kelompok termasuk praktisi pengetahuan gaib, menekankan pentingnya hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Pelestarian alam Papua hanya dapat terwujud apabila masyarakat Papua sendiri terlibat aktif menjaga, mengolah, dan melestarikan lingkungan secara berkelanjutan.
Pengetahuan lokal Papua juga mencakup pemanfaatan tumbuhan tradisional, seperti daun seribu (Achillea millefolium), keladi, serta berbagai sayuran yang berfungsi sebagai obat alami untuk mengatasi nyeri haid, sakit perut, dan berbagai keluhan lainnya. Tradisi peramalan melalui wajah juga mencerminkan keyakinan bahwa wajah merupakan representasi kodrati ciptaan Tuhan, sehingga dapat dibaca tanpa izin khusus sebagai cerminan kemanusiaan.
Mazhab Yin Yang kemudian mengembangkan teori tentang “saling memengaruhi antara alam dan manusia”, yang menggabungkan aspek teologis dan mekanistis. Dalam pandangan ini, kekuatan utama masyarakat Papua terletak pada alam ciptaan Tuhan. Tanah memberikan makanan, air menopang pertumbuhan tanaman, dan gunung serta lembah menjadi ruang hidup yang menopang keberlanjutan masyarakat Papua.
Konsep yin dan yang menjelaskan bahwa yang berarti cahaya atau sinar matahari, sedangkan yin merujuk pada bayangan atau kegelapan. Interaksi kedua prinsip ini menghasilkan seluruh fenomena alam. Papua yang berada di ufuk timur merasakan kehangatan dan sinar matahari secara langsung, memberikan kesegaran bagi pikiran dan tubuh serta membentuk sikap positif dalam refleksi filosofis dan historis masyarakatnya.
Mazhab ini juga menegaskan bahwa unsur-unsur alam saling melengkapi: langit menghasilkan air dan bumi menyempurnakannya; bumi menghasilkan api dan langit melengkapinya; kemudian tercipta kayu, logam, serta tanah yang kesemuanya saling berhubungan. Keseluruhan pemikiran ini menunjukkan bahwa keseimbangan alam hanya dapat dicapai melalui hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya.
Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Abepura-Papua.



Komentar
Posting Komentar