JOHN, SELAMAT JALAN! AKOM KPR BERDUKA
Gambar mayat JM (21thn) yang ditemukan di KPR Siriwini, Nabire, Papua Tengah pada Kamis, 28 Agustus 2025.
*Siorus Ewainaibi Degei
Nama lengkapnya Johnclaus Mote (21thn) biasa disapa Jomot: John Mote, nama ini tidak asing untuk saya dan anak-anak Kompleks KPR Siriwini. John tidak asing untuk saya karena setiap kali ulang tahunnya saya adalah orang pertama yang ia mintai untuk memimpin doa syukurnya, bukan hanya John tapi hampir semua saudarinya di rumah, tatkala hari ulang tahun mereka datang, mereka selalu meminta saya untuk memimpin doa, mereka selalu bilang, 'Tidak perlu kita cari pendoa jauh-jauh, kita juga punya pastor sendiri juga ada'. Saya ingat baik momen-momen manis ini, setiap kali John atau saudarinya: Mela, Nanda, Geo, Mabi, dan lainnya akan berulang tahun. Mereka akan datang dan minta ijin supaya saya bersedia memimpin doanya. Ini kebiasaan suci kami waktu kecil.
John dan saudari-suadarinya akan membagi tugas. Mereka akan minta uang ke bapa, bapa Guru Mote yang terkenal jahat, tidak pernah senyum, biasa dia adalah guru-guru didikan Belanda. Saya tidak pernah melihat satu kalipun bapa guru Mote ini tersenyum, apalagi tertawa terbahak-bahak, tidak pernah sama sekali. Wajahnya selalu serius, kecam, dan suaranya datar dan tegas. Saya ingat betul, jika kami sedang bermain di halaman rumahnya dan bunyi motor paguru Mote berbunyi dari jauh maka kami semua akan lari terbirit-birit ketakutan. Paguru Mote akan memberikan uang. Uang ini akan diolah dengan baik. John, Mela, Nanda, Geo, dan Mabi tahu menu-menu apa saja yang akan mereka siapkan. Ketika makanan dan minuman tersedia, mereka akan memanggil teman-teman. Tidak banyak orang, hanya kami beberapa rumah terdekat yang biasa bermain bersama. Mereka akan mandi bersih-bersih, lengkap dengan baju ibadah yang cantik dan tampan yang biasa mereka genakan di setiap hari Minggu di Gereja. Mereka sudah duduk rapi. Di meja kecil dan kursi kecil yang terbuat dari kayu itu mereka hiasasi dengan bebungaan segar, ada kain taplak meja dari jahitan benam woll dan bermotif bunga-bunga cantik. Ada sepasang lilin terpasang mengapit sebuah patung salib Yesus berkorpus dan patung bunda Maria. Ketika semuanya sudah siap, ada satu dua adik akan menyerang sebuah parit kecil menuju rumah saya memanggil saya. Saya tentunya sudah siap. Saya datang, ibadah dan doa dimulai. Kami berdoa dengan hikmah. Anda bayangkan, kami baru berusia anak SD dan SMP, belum ada yang SMA waktu itu, namun kami cukup dewasa untuk tahu pasti bagaimana merayakan hidup secara terhormat dalam iman kekatolikan kami. Saya, berdasarkan pengalaman saya melihat pewarta-pewarta Kombas saya memimpin ibadah dan doa, dengan berani menjadi 'imam kayu' bagi teman-teman dan adik-adik saya. Tidak ada kaka-kaka atau orangtua yang mendampingi kami, semuanya kami selenggerakan sendiri. Momen-momen hangat ini adalah teramat berharga bagi saya dan tentunya bagi mereka yang juga turut merasakan dan mengalaminya.
Kata 'Pastor' keluar pertama kali dari mulut mote bersaudara ini, sampai hari ini sapaan yang sama selalu mereka lontarkan ketika berjumpa dengan saya, bahkan hampir beberapa kenalan, teman, dan sahabat saya di kompleks juga selalu menyapa saya dengan istilah itu sejak kecil. Saya menebak karena mereka melihat perawakan hidup saya yang suka bergabung dengan 'Mama-Mama' Kombas St. Yohanes Pemandi, juga karena saya adalah satu-satunya laki-laki selain bapa Ketua Kombas yang aktif dalam kehidupan menggereja di Paroki Kristus Raja Nabire dan Kombas St. Yohanes Pemandi.
Jadi, hanya orang-orang tertentu dalam kehidupan pribadi saya yang memanggil saya dengan sebutan 'pastor' sejak kecil dulu hingga saat ini, dan John adalah salah satu yang paling kentara. Selain nama 'pastor', John selalu memanggil saya dengan sebuah nama khusus dan rahasia, nama ini hanya diketahui oleh dirinya dan dua orang teman dekat saya, yaitu 'Sidex Czr Dragon Kick, asal Waena pulang balik Australia'. Entahla dari mana inspirasi nama ini saya dapatkan awalnya, namun yang jelas ini adalah gabungan dari beberapa nama: 1) Sidex, adalah akronim dari Siorus Degei, 2) Czr, adalah singkatan dari Caesar/Kaisar, pemimpin, sejak dulu saya selalu tampil jadi pemimpin bagi diri sendiri, 3) Dragon Kick, berkaitan dengan naga, bola naga yang berkejora, 4) Asal Waena, nama salah satu tempat di Jayapura yang saya dengar dari Almarhum Pastor Nato Gobai, Pastor Kepala Paroki saya dulu di Gereja KR Malompo tatkala beliau membagikan pengalamannya berkunjung ke Seminari Waena, (Saya tidak nyangka 7-8 tahun kemudian saya akan masuk di Seminari Waena dan tinggal selama tiga tahun lebih di sana sebagai seorang seminaris, saya juga selalu pulang balik Waena-Jayapura to KPR Siriwini-Nabire. Sampai saat ini Waena, terutama Seminari Waena adalah salah satu tempat yang tidak akan pernah saya lupakan), 5). Pulang balik Australia, ia lebih merupakan sebuah doa dan impian, untuk suatu saat bisa berkeliling luar negeri. Inilah sebuah nama yang hanya diketahui John, sebuah nama yang selalu ia sapa ketika kami berjumpa, John masih ingat dengan baik nama dan kisah-kisah kami berdua saat masih belia sebagai tetangga di kompleks KPR.
Saya harus masuk ke Seminari Waena Jayapura, selama tiga tahun kami berpisah, saya meninggalkan KPR Siriwini dalam waktu yang lama. Selama tiga tahun itu saya tidak tahu hal-hal apa yang terjadi sampai KPR Siriwini berubah drastis. Setelah menamatkan SMA di Seminari, saya melanjutkan masa pendidikan, pengelolaan, dan pembentukan di Tahun Orientasi Rohani (TOR) Nabire. Saya sudah tidak menjumpai John, berita terakhir yang saya dengar John sudah ke Merauke, ia melanjutkan pendidikannya di sana bersama kaka perempuan pertamanya yang juga sekaligus penganti mamanya, Kaka Rossa. John tinggal cukup lama di sana. Baru sekitar 2023 kami berjumpa lagi di Jayapura, di Kampus FKM Universitas Cenederwasi (UNCEN BAWAH). Saat itu ada perlombaan dari Ikatan Mahasiswa Meepago. Saya masih ingat John, setelah hampir belasan tahun berpisah kami bertemu. John sudah tumbuh menjadi seorang pria yang gagah perkasa, tingginya sudah mau melewati saya. Saya tentu kaget, bangga, dan terharu dengan perjumpaan ini, tentu hal yang sama juga dialami oleh John. Kami duduk bersama. John sudah mirip laki-laki Merauke, Namek. Logat-logat Meraukenya kuat dan kental. Saya membayangkan teman-teman saya yang dari Merauke. Kami menghabiskan waktu, bernostalgia ke masa-masa kecil kami dulu. John akan lanjut kuliah di Nabire. Kami berpisah lagi. Keesokan harinya John datang ke STFT Fajar Timur, bukan di Waena tapi di Abepura. Saya bilang dia, 'Sa su jadi orang Waena selama tiga tahun, sesuai dengan nama itu, sekarang ni tinggal pulang-balik Australia saja yang belum' kami berdua pecah tertawa. Dua tahun kemudian kami berjumpa di Nabire. Ia adalah adik kompleks yang baik, selalu menaruh hormat pada kaka-kaka kompleksnya. Sekalipun ia sedikit 'nakal', namun bagi saya ia tetaplah John yang sudah sejak dulu saya kenal sampai kapan pun, dia adik kompleks, adik tetangga yang terasa seperti adik kandung saya sendiri.
John adalah tunggal (enago, mote enago) dari empat saudari perempuannya. Mamanya, yang adalah seorang guru di SD Inpres Malompo, Nabire harus meninggalkan mereka saat melahirkan adiknya yang bungsu. Mamanya adalah mama saya juga, biasa saya sapa 'Mamatua'. Beliau sangat dekat dengan mama kandung saya, keduanya sudah semacam adik-kaka kandung sendiri. Kedekatan mama kami ini juga yang menjadikan ikatan keluarga saya dengan keluarga Mote bersaudara sudah terjalin lebih dari sekedar tetangga biasa. Saya sering menjumpai mereka (kedua mama saya itu) duduk bersama di tepi tungku api dapur, membicarakan banyak hal tentang kehidupan. Sebagaimana kehidupan tetangga pada umumnya di jaman itu, jika ada berkat lebih dalam bentuk makanan dan uang kami selalu berbagi, hal ini yang mungkin sukar kita jumpai dan alami dalam hidup bertetangga dewasa canggih ini. Saat itu KPR Siriwini tidak sepadat dan sekacau saat ini, alam masih asri dan kaya, kali-kali masih jernih, gunung-gunung dan laut masih menyimpan banyak misteri ilahi. Anak-anak masih bisa bermain, bercerita, berceria, dan bercanda dengan alam. Gereja Edoutou di tengah-tengah kompleks selalu menjadi tempat hiburan yang menyenangkan.
Kami tinggal berdekatan, John tetangga saya di Kompleks KPR Siriwini. Kami tumbuh dan besar bersama bak saudara kandung sendiri. John sudah saya anggap adik kandung sendiri, ia suka ikut saya. Beberapa kali ia saya ajak ke hutan, gunung, kali dan pantai. Ada banyak tempat-tempat rahasia, istilah kami waktu itu adalah 'markas'. Markas ini bisa berupa satu tempat rahasia di gunung, hutan, kali atau laut yang menyimpan banyak berkat. Misalnya 'Markas Ikan', ini berarti suatu tempat di bagian kali yang menyimpan banyak ikan, sehingga hanya satu dua orang saja yang tahu. Ada juga 'Markas Mangga', 'Markas Rambutan, 'Markas Jambu', 'Markas Kakuto', 'Markas Giawas', 'Markas Air Jernih', dan markas-markas lainnya. Kebetulan saya pun tahu beberapa markas ikan dan markas buah-buahan dari kaka laki-laki saya yang tertua, untuk itu John adalah satu-satunya orang yang saya ajak ke markas-'markas tersebut secara rahasia. Selalu saya berpesan supaya tidak ada orang lain yang ia beri tahu ihwal markas-markas itu. Jila datang hujan yang besar, maka besoknya sepulang sekolah ia akan saya ajak ke markas ikan itu, di tempat ini kami tidak perlu pusing-pusing untuk mancing, membawa jaring manual dan lainnya, cukup mencelupkan tangan, maka akan ada banyak jenis ikan yang kami dapat, mulai dari ikan gabus, ikan kumis, ikan mujair, ikan nila, dan ikan lele. Tempat ini letaknya sangat strategis di tepi kali dekat rumah kami. John selalu ceria ketika ikan-ikan yang kami dua dapat semuanya saya serahkan kepadanya. Ia bawa pulang ikan-ikan itu lalu menggoreng dan menikmatinya bersama saudarinya yang lain. Usia kami selisih 5 tahun, namun ia sudah saya anggap adik sekaligus sahabat bermain di masa kecil yang menarik.
Hari, Kamis 28 Agustus 2025, saya mendapatkan berita kepergian John untuk selama ke Rumah Bapa dengan cara yang tidak terpuji. John pergi dengan cara yang mengenaskan sekali. Jasadnya terapung di kali dekat belakang rumah kami berdua bersama serakkan sampah. Sebuah kali jernih tempat dulu kami bermain. Kali tempat kami buang potas akodan, tafiaro cari ikan, balobe ikan di malam hari, ret-ret ikan di kala banjir. Kali yang menjadi 'markas ikan' kami kini menjadi saksi kepergianmu adikku, ia menjadi 'markas begal'. Kaka sedih dan hancur dengan berita kepergianmu seperti ini. John pasti sudah ketemu mama buguru. John pasti sudah ketemu Mama di surga. John pasti sudah lihat wajah asli mama dari dekat, sebuah wajah yang tidak sempat John lihat, karna Mama pergi tinggalkan kita semua saat John masih kecil. Wajah yang sudah 21 tahun tidak John lihat itu hari ini sudah John sentuh, cium, dan tangisi di dalam keheningan surga. John, selamat jalan ee..Minta maaf kaka tidak hadir, kaka pasti doakan John yang terbaik supaya bisa bertemu dengan Mama Buguru, Bunda Maria, dan Allah Tritunggal Mahakudus di Surga dan jadi pendoa dan penguat untuk Bapa Guru Mote, Kaka Rosa, Mela, Nanda, Geo, Mabi, dan Om Vallen.....
Hormat John, sampai jumpa di seberang sana saudaraku....RIP
)* Penulis adalah Alummus STFT Fajar Timur, Abepura-Papua.


Komentar
Posting Komentar