PEMBELA HAM: BERSENJATA FIRMAN TUHAN

 


(Sebuah Perspektif Penulis Tentang Pastor Natalis Hanepitia Gobai, Pr)


Oleh: Emanuel Tetogabii Boma


Pengantar

Di tengah hiruk pikuk isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua, seorang tokoh agama tampil sebagai garda terdepan dalam membela kaum tertindas. Dialah Pastor Natalis Hanepitia Gobai, Pr., seorang imam Katolik yang dikenal gigih memperjuangkan keadilan dan perdamaian di tanah kelahirannya. Dengan bekal keyakinan teguh pada ajaran agama, Pastor Natalis telah menjadi suara bagi mereka yang terpikirkan dan korban ketidakadilan. Ia yakin juga bahwa memperjuangkan keadilan dan kedamaian adalah tugas suci dan mulia sebagai imam Katolik. Keyakinan inilah yang telah mendorong dan meneguhkan iman demi melawan para penindas orang asli Papua di tanah Papua. Ia melawan para penindas bukan dengan kekerasan tetapi ia melawan berlandaskan pada Firman Tuhan sebagai senjata paling ampuh di dunia ini.

Inspirasi dari Firman Tuhan

 Pastor Natalis meyakini bahwa setiap manusia diciptakan untuk hidup damai sebagai manusia yang memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Keyakinan ini menjadi landasan utama dalam setiap langkahnya membela HAM di Papua. Baginya, Firman Tuhan adalah senjata ampuh untuk melawan segala bentuk penindasan dan diskriminasi.

 Sejak penulis masih kecil pernah berkunjung ke Pastoran Kristus Raja, Siriwini di Nabire. Tujuan penulis menemui Pastor untuk menanyakan terkait masalah HAM yang ia perjuangkan. Penulis mulai bertanya kepadanya; Pastor, ”mengapa Pastor memperjuangkan keadilan dan kedamaian di Papua dan tidak mengutamakan untuk mewartakan Firman Tuhan?” sebelum jawab beliau mulai tertunduk sejenak dan tarik nafas sedalam-dalamnya, dan balik menatap saya dengan bertanya, Eman? “Saya sebagai seorang Pastor, saya terpanggil untuk mewujudkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari. Membela HAM adalah bagian dari panggilan itu,” ujarnya dengan penuh semangat.

 Beliau memperjuangkan HAM untuk mewujudkan nilai-nilai Injil seperti kebaikan, cintah kasih, keadilan, kebenaran dan kedamaian sebagai manusia yang sama di hadapan Tuhan (bdk. Mat 22:37-40, 5-7; Luk 4:18-19; Gal 5:22-23). Karena beliau merasa bahwa sebagai seorang Pastor bukan hanya mewartakan Firman di altar saja, tetapi bagaimana apa yang disampaikan Firman itu diwujudkan dalam tindakan nyata dengan membela masalah ketidakadilan yang terjadi di Papua. Nilai-nilai Injil, inilah yang mendorong dan menggerakkan beliau untuk terus bersuara bagi kaum tertindas dan dipinggirkan oleh para penindas (kolonialisme).

Perjalanan Panjang Membela HAM

 Pastor Natalis telah lama terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi HAM di Papua. Ia aktif mendampingi korban kekerasan, memberi bantuan hukum, dan menyuarakan aspirasi masyarakat adat yang seringkali menjadi korban perampasan lahan dan korban berjatuhan manusia Papua yang selayaknya hidup aman di atas negerinya sendiri. Salah satu focus utama Pastor Natalis adalah memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Papua. Ia seringkali mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat adat dan mendorong dialog konstruksi antara pemerintah dan masyarakat sipil.

 Banyak hal yang pernah ia lakukan di tanah Amungsa, antara lain, ”mendorong anak-anak Amungme di kota Timika akan pentingnya Pendidikan dan pembangunan Sekolah Menengah Pertama Yayasan Pendidikan dan Pelayanan Katolik Bernadus Timika, dan mendorong dibentuknya Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (LEMASA) Timika. Ia juga mendampingi ibu Yosepha Alomang, untuk membicarakan dan memperjuangkan penegakan HAM bagi masyarakat adat Amungme, bersama dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendorong Yosepha untuk tetap eksis, dan berhasil menerima sejumlah penghargaan di bidang HAM. Karena karyanya diberikan penghargaan Yap Thian Hien, sebagai penghargaan atas penegakan HAM yang selama tahun-tahun 1991-2006. Selain itu, ia juga telah menjadi salah satu inspirator Gerakan masyarakat suku Amungme dan Kamoro di Timika untuk melawan PT Freeport yang akhirnya telah menjadi sebuah kebangkitan baru gerakan perlawanan masyarakat adat Papua” (Jhon Gobay: 2). Selain itu, di Biak misalnya, “Pater Nato menentang pelanggaran HAM di tanah Papua. Bahkan, ia sempat ke sejumlah negara untuk berbicara kondisi HAM di Papua” (Santon Tekege: 3).

 “Pandangan tokoh lain, Pastor Neles Tebay menyebut Nato sebagai pionir kesadaran diri rakyat Papua. Pastor Alberto Jhon, Bernard Wos Baru (Uskup Timika) mendukung jalan damai dan penolakan militerisme yang sejalan dengan semangat Pastor Nato. Selain itu, tokoh adat seperti Jhon Gobay, aktivis seperti Theo Hesegem, dan banyak pihak sipil melihat sebagai contoh pemimpin moral yang tak tergantikan,” (kutip dari postingan facebook seorang Mahasiswa Uncen).

Tantangan dan Rintangan

 Perjuangan Pastor Natalis tidaklah mudah. Ia seringkali menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, mulai dari intimidasi hingga ancaman kekerasan. Intimidasi dan ancaman yang dialami oleh Pastor Natalis dalam membela HAM di Biak dan wilayah Papua lainnya meliputi: ”Pertama, tekanan dan pengawasan; sebagai pembela HAM yang menentang pelanggaran di Papua, Pastor Natalis menghadapi pengawasan dan tekanan dari berbagai pihak, seperti TNI/Polri, pemerintah dan pihak lainnya. Kedua, risiko personal, Pastor Natalis seringkali menghadapi risiko pribadi termasuk ancaman fisik dan psikologis, karena menyuarakan ketidakadilan dan pelanggaran yang terjadi. Ketiga, advokasi internasional untuk mengatasi tekanan di tingkat local, Pastor Natalis bahkan dilaporkan pernah pergi ke beberapa negara untuk berbicara tentang kondisi HAM di Papua, menunjukkan tingkat ancaman yang membuatnya perlu mencari dukungan internasional.” Namun, semua itu tidak membuatnya gentar, tetapi ia selalu berani berbicara terbuka, bahkan terkadang sangat pedas menyangkut soal-soal keadilan tanpa merasa takut sedikitpun. Bahkan ia juga berani menerima resiko-resiko ini demi kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian di Papua, hingga akhir hayatnya di mana ia dikenang sebagai martir perjuangan HAM. Ia tetap teguh pada pendiriannya untuk terus membela HAM, sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Dalam pertemuan Musyawarah Besar (MUBES), ia pernah sampaikan kepada masyarakat Amungme dan Kamoro di Timika, “saya percaya bahwa kebenaran akan selalu menang. Meskipun banyak rintangan, saya tidak akan pernah menyerah dalam membela masalah HAM.”

Inspirasi bagi Generasi Muda

 Dedikasi dan keteguhan Pastor Natalis dalam membela HAM telah menginspirasi banyak orang, terutama bagi generasi muda Papua. Ia menjadi contoh nyata bahwa agama dapat menjadi kekuatan positif dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Banyak pemuda yang kini mengikuti jejak Pastor Natalis dengan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi HAM. Mereka percaya bahwa dengan bersatu dan berjuang bersama, mereka dapat mewujudkan Papua yang lebih adil dan sejahtera di masa yang mendatang. Misalnya, KNPB (Komite Nasional Papua Barat) dan juga ada beberapa mahasiswa Universitas Cendrawasih yang selalu berdemonstrasi di jalan raja, demi menuntut keadilan dan kedamaian, karena kami dimotivasi oleh semangatnya Pastor Natalis, (ungkap salah satu aktivis mahasiswa Uncen). Pastor Natalis mati bukan berarti bahwa mati dengan semangatnya, namun semangat keberaniannya tetap akan hidup dari masa ke masa. Bahkan akan menjadi suatu inspirasi bagi generasi muda Papua. Mari generasi muda Papua dengan mengikuti jejaknya dapat menelusuri sampai pada kebebasan yang didambakan semau orang asli Papua di atas tanah kita sendiri.

Penutup

Pastor Natalis telah membuktikan bahwa keberpihakan pada rakyat bukan hanya tugas politik, tapi juga panggilan iman. Ia tidak hanya menyampaikan Injil, tapi menjadi Injil yang hidup di tengah penderitaan rakyatnya. Pastor Natalis Hanepitia Gobai, Pr. adalah sosok pembela HAM yang sejati yang berjuang dengan berbekal Firman Tuhan. Dedikasi dan keteguhannya telah menginspirasi banyak orang untuk ikut serta dalam perjuangan membela HAM di tanah Papua. Penulis ingin pesan bahwa semoga semangat Pastor Natalis terus berkobar dan menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan beradab.


 Rujukan:


Kesaksian langsung penulis di Nabire, 2015, Alkitab: Deuterokanonika, Lembaga Biblika Indonesia, edisi baru 2024, Gobay, Jhon: In Memoriam Pastor Nato Gobay, Pr; Sahabat Kaum Tertindas di Tanah Papua. Suarapapua.com, 2014), Postingan Facebook seorang mahasiswa Uncen (Meky M Degei), pada 16 Juni 2025, Tekege, Santon: Tutup Buku Kehidupan Seorang Pastor Natalis Gobai, Pr di Keuskupan Timika Papua. Papualive.com, 2017, Via telepon bersama aktivis Uncen, Nando Gaibiii Boma, pada 7 Oktober 2025, WP 10:25 di Jayapura.


Komentar

Postingan Populer