Ketika Peluru Menghentikan Tawa Aliko
Oleh: Martinus Gobai
Kematian Aliko Walia bukan angka baru dalam daftar panjang korban konflik di Papua. Ia adalah seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang seharusnya tumbuh dengan tawa dan gembira, bermain di kampung halamannya belajar membaca dan menulis, dan tidur dalam pelukan hangat rasa aman keluarganya.
Namun, sebutir peluru telah merampas semua itu. Dadanya ditembus amunisi, masa depannya dihentikan paksa dengan kekerasan aparat, dan harapan kedua orang tuanya dihancurkan di ruang perawatan rumah sakit, setelah 36 hari Aliko berjuang melawan maut.
Di balik tragedi ini, ada jeritan sunyi seorang Mama yang setia menunggu keajaiban bagi buah hatinya. Ada seorang Bapa yang tak pernah membayangkan harus mengantar anak kecilnya ke rumah sakit akibat luka tembak di tanah kelahirannya sendiri. Keluarga ini tidak sedang mencari kekuasaan, tidak memegang senjata, dan tidak sedang berada di medan perang. Mereka hanya ingin anak mereka hidup.
Menuntut Akuntabilitas Negara
Pertanyaan besar yang kini berdiri di hadapan publik adalah: siapa yang akan bertanggung jawab atas kematian anak sekecil ini?
Dalam negara hukum, nyawa warga sipil terlebih anak-anak tidak boleh hilang begitu saja tanpa pertanggungjawaban moral maupun hukum. Kematian Aliko tidak boleh diredam dan dianggap sebagai "konsekuensi biasa" dari operasi keamanan. Ketika anak-anak sudah korban, maka yang sedang terluka bukan hanya tubuh manusia, melainkan runtuhnya pilar kemanusiaan itu sendiri.
Aliko Walia adalah simbol betapa rakyat sipil berada dalam posisi paling rentan di tengah konflik yang berkepanjangan. Rumah-rumah kehilangan fungsi sebagai perlindungan, orang tua hidup dalam kecemasan, ketakutan dan anak-anak tumbuh di bawah bayang-bayang trauma kehadiran aparat dan suara tembakan.
Situasi ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan keamanan yang gagal melindungi warga sipil hanya akan mewariskan trauma psikologis yang mendalam bagi generasi masa depan Papua.
Memutus Rantai Impunitas
Negara tidak boleh menutup mata dan telinga terhadap penderitaan ini. Harus ada penyelidikan yang terbuka, independen, dan jujur atas peristiwa penembakan yang merenggut nyawa Aliko. Keluarga korban berhak mendapatkan keadilan. Menjadi pertanyaan adalah Siapa pelaku penembakan tersebut? Bagaimana kronologi peristiwa itu bisa terjadi? Mengapa seorang anak kecil bisa menjadi sasaran di tengah operasi militer?
Tanpa adanya kejelasan dan hukum yang ditegakkan, luka di hati masyarakat Papua akan terus menjaganya, dan mosi tidak percaya terhadap negara akan semakin mengakar.
Kegagalan Kemanusiaan
Kematian Aliko adalah pengingat keras bahwa konflik bersenjata selalu menumbalkan pihak yang paling tidak bersalah: anak-anak. Mereka tidak memahami konstelasi politik, tidak mengerti strategi operasi militer, dan tidak tahu alasan orang-orang dewasa saling mengangkat senjata. Namun, mereka yang justru harus membayar harga paling mahal kehilangan nyawa masa depan.
Hari ini, Aliko Walia telah pergi bersama napas terakhirnya di Rumah Sakit Mulia. Namun, tawa yang terenggut dan luka yang ditinggalkannya akan terus hidup, membeku dalam ingatan kolektif rakyat Papua. Sebab, seorang anak kecil yang tertembak bukan hanya sebuah tragedi keluarga, tapi kegagalan kemanusiaan yang terstruktur.
"Ketika seorang anak ditembak hingga kehilangan hidupnya, maka yang sesungguhnya mati bukan hanya satu nyawa kecil, tetapi juga nurani kemanusiaan kita semua."



Komentar
Posting Komentar