PENA MENULIS TENTANG BERCAK DARAH


Oleh: Willy Tigibho


Ah iyo sa tra lari oh, sebuah kalimat yang mengungkapkan inilah saya punya Bokam dan tanah. Tidak ada tempat persinggahan selain bumi cendrawasih. Si sang pengucap “iyo saya tra lari oh” memahami betul apa arti kalimat dari, “ini siapa punya”. kalimat si pengucap Ia memahami keadaan dirinya, tanahnya dan sesamanya.

Kata-kata si sang pengucap: keadaanku sedang tidak baik-baik, sedang terancam dan tenggelam dalam dunia yang tak pernah saya kenal. Saya paham dan mengatakan bahwa kamu memang unik kehidupanmu, karena memang anda pasti akan mengatakan saya paling sempurna, merasa sosok, karena memang saya mengerti maka saya berani mengatakannya, karena saya mempelajari mu siapa anda? dari manakah anda? Dimana kamu tinggal? Tahun berapa kamu datang di-honaiku? Ada tujuan apa ke Papua? Anda mau mengatakan misi Pembangunan, mau mengajari saya atau ada alasan lain sehingga matamu selalu menyalah dan seperti cacing kepanasan disiang bolong. sekali lagi maaf, saya tidak butuh itu, saya hanya ingin tanahku baik-baik saja, tak ada pembunuhan massal ditanahku, hutanku baik-baik saja, sekali lagi saya katakanan kedatanganmu bagian dari egoisentris, maka yang ada adalah perlawanan, maka saya akan berdiri kokoh dilimbah pegunungan Papua bersama hutanku, alamku, sampai dititik penghabisan.

Aku tinggal disini, disini dan disini. Saya tidak pernah datang ketanah orang hanya untuk membunuh, merampas, mengeksploitasi. Saya tidak paham siapa anda sebelum agama dan Tuhan bangsa barat dibawah kehonaiku, lalu racung kebohongan mulai tercipta di honaiku, membohonggi, memaksa orang tuaku bergabung dalam ideologi yang tidak benar satu dibawah kepaksaan moncong senjata, lalu tercipta Opm, kelompok ini adalah organisasi yang membebaskan tanah Papua dari para tikus-tikus bangsa Indonesia diwaktu itu, bersih tapi berani kotor itu baik, tetapi, kotor pura-pura bersih itu, kotor katanya. Saya berpikir otoritas agama yang berdiri kokoh dihonaiku akan membelaku namun agama memili berdiam diri, saya masih bertanya apa itu agama? apa isi ajarannya? Kenapa fraktis gembalaannya menyetujui pembukaan lahan kelapa sawit oleh uskup Merauke? Apakah ini yang orang bilang iblis bertopen malaikat? Aku lama berdiri ditanah ini, tangisku berkepanjangan, suara kenabian hilang, Dimana tempat kuberteduh hutanku dibabat habis, badanku penuh luka, aku lama berharap kepada Tuhan namun tak kunjung datang ekspektasiku, apakah Tuhan menyukai luka diatas tanah ini berkepanjangan? Sio apakah ada seberkas senyuman untuk tanah ini, cerita tentang kehidupan membuatku bingung, meminta tolong kesiapa supaya penderitaan sampai disini.

Aku tinggal tidak jauh dari terbitnya si Mentari, aku lebih dulu mengenal si Mentari pagi, lalu disinilah tempat dimana hari-hariku kuhabiskan untuk bermain bersama alamku, ditemani merdunya suara burung surga orang biasa bilang cendrawasih, alamku indah dan cantik, menyaksikan terbitnya matahari, saya belajar banyak hal, alam mengajariku sebuah arti saling melengkapi, saya sudah berasumsi kamu akan datang bukan karena saya namun alamku. Kamu pasti akan datang mengatasnamakan agama dan Tuhan, hutanku dijadikan lahan pertambangan akan menjadi komoditas utamamu dan akan mengekspor keluar. Ternyata tidak ada orang yang harus kupercaya, agama pun mereka manfaatkan untuk membunuhku, tra papa aku akan berdiri kokoh akan melawan kapitalisme, kolonialisme, militerisme, biarkan luka ini generasi yang menuliskan, mati satu tumbuh seribu kata sang pejuang, biarkan anak cucu menceritakan Sejarah perjuangan ini. Biarlah luka ini tetap berdarah supaya Tuhan yang sedang Tutup mata tahu bahwa ditanah Papua terjadi pembunuhan berkepanjangan. Saya benar-benar bingung antara Tuhan yang salah atau manusia yang salah, kalau memang manusia yang salah kenapa harus membiarkan bibit kejahatan tetap terjadi.

Para diktator datang mengarang cerita dihonaiku, saya punya cerita tersendiri disini, aku tumbuh dan besar disini, saya belajar disini, dibesarkan susu dan madu, sore hari, saya dihibur oleh suara burung cendrawasi, orang tuaku mengajari ini siapa punya, kamu datang dengan kemunafikan dari dunia yang tak pernah saya kenal. Seandainya hari ini saya berada dihadapan Tuhan saya protes kepada Tuhan dengan berkata: kenapa Engkau sebagai mahakuasa membiarkan tikus-tikus masuk lewat jendelah, bukankah sebagai manusia harus masuk melalui pintu? Lalu Engkau sebagai mahakuasa kenapa mengizinkan tikus-tikus lalu Lalang dan keluar masuk di orang punya honai, bukankah itu termuat dalam hukum larangan? Saya benar-benar bingung, Tuhan dipihak siapa sebenarnya. Dan kenapa Ia memili berdiam diri? apakah Ia senang melihat tangisku berkepanjangan? Kalau tidak kenapa hurus lama? Semua orang berhak bahagia, tak ada kedamaian tanpa ada kebebasan. yang menjadi paling relevansinya adalah manusia Papua yang berkulit hitam, kritin rambut yang masih tertidur dalam kehidupan mimpi, tidak menyadar keadaan honainya yang sedang dimasuki pencuri, tidak sadar Ia dalam penjajahan kolonial. Sayang, sang pengucap iyo saya tra lari oh orang yang sadar akan keadaan honainya sedang tidak baik-baik dilimbah hutan belantara pegunungan Papua. Kata si pengucap, makan dihutan, tidur hutan biasa bagi saya, sebagai sang pejuang adalah menjadi corong terdepan mati atau hidup, untuk menangkis ribuan peluru melayang didada supaya honai tidak rusak, lebih baik gugur dalam perlawanan dari pada tertawa dalam penindasan kata si sang pejuang.

Di hari itu adalah jam 2 subuh tanggal 21/09/25. Ruang kamarku sunyi dan sepi, saya menjadi kebingugan enta mau buat apa, kebetulan imajinasiku terbawah oleh fenomena realita kejanggalan di honai bumi cendrawasih, mengingat air mata yang tak kunjung henti. Para pejuang yang berjatuhan pergi untuk selamanya.

Lalu dalam sunyi dan sepi saya bertanya kepada sang Mahakuasa, Dimana keadilan-Mu bagi bangsa Papua kalau Engkau memang benar ada? Apakah Engkau menyukai ini? Kenapa Gurung kematian berkepanjangan? Kalau engkau menunggu waktu mengapa harus menunggu? Permintaanku tidak kurang tidak lebih hanya sebatas sebuah senyuman manis bagi tanah ini, bukan air mata dan darah. Ini adalah sebuah tulisan dengan bahasa puitis dengan kata-kata yang sederhana. Saya merasa bahwa ini adalah bagian dari sebuah untaian antara eksfektasi dan kesal kepada sang Ilahi.

Aku tenggelam dilautan darah orang tak berdosa, lentera harapan telah mati ditangan Yudas iskariot masa kini. Aku masih menanti jejak harapan yang lama hilang, peluru buatan emas freprot tembagapura terus merungut nyawa, para intelek Papua pada tergila-gila dengan sang rupia, uang dan jabatan. Sebagian manusia Papua yang lain menjadi bermuka dua dan Yudas iskariot masa kini, entalah… perjuangan butuh persatuan, perjuangan tak lepas dari jejak darah, perjuangan tak pernah menghianati, membuka pintu perjuangan mengumpulkan persoalan supaya api perjuangan tetap berkobar satu kata lawan lawan dan lawan. Ingat kita ibarat bergaya dalam penjara kata pendeta Beny Giyai.

                                                                           


Komentar

Postingan Populer