Moral dan Spiritual Sebagai Pondasi Utama: Bagi Perjuangan Kemerdekaan Sebuah Bangsa
Oleh: Martinus Tenouye
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “moral” adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Tiap agama pasti diajarkan tentang ajaran moral. Bahkan di bawah bumi ini pada tiap orang tua sudah ajarkan tentang moral kepada anaknya sejak kecil. Tujuan dari ajaran moral ini adalah supaya orang tersebut bijak memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia sebagai mahkluk yang hidup berdekatan dengan hal-hal duniawai, tentang moral tersebut di atas pada tiap orang apa yang semestinya dipertahankan menjadi dasar hidup. Tentu dipertahankan nilai moral adalah hal-hal baik, karna nilai-nilai baiklah yang akan menyelamatkan jiwa, mental dan roh. Nilai-nilai baik adalah seperti “tidak boleh bercina, tidak boleh seks secara sembarangan, jangan mencuri, jangan membunuh, hidup selalu berada pada pihak kebenaran, hal milik barang, mereka punya mereka punya, anda punya anda punya, jaga rumah, jaga tanah, jaga dusun, jaga keluarga dan sebagainya. Sedangkan hal buruk di antaranya, bercina, seks bebas, mencuri, membunuh, jual tanah, jual dusun, tidak mau tinggal di rumah maunya mau jalan terus, suami kasih tinggal istri dan anak di rumah dan sebaliknya istri kasih tinggal suami dan anak di rumah dan sebagainya.
Seandainya kehidupan masa lalu sebelum pemerintah Indonesia masuk di Tanah Papua adalah masa sekarang maka OAP maupun segala ciptaan yang ada di tanah Papua lansung masuk ke tanah suci “ lansung merdeka” merdeka dalam artinya hidup bebas dari segala bentuk kekerasan, penderitaan pembunuhan penembakkan dll. Setelah bertahun-tahun berlalu OAP bertemu dengan namanya kekerasan “penderitan” yang diciptakan oleh pemerintah Indonesia. Oleh sebab itu, sampai saat ini OAP ingin bebas dari penjajahan Indonesia, supaya Orang Asli Papua juga memiliki negaranya sendiri. memperjuangkan kemerdekaan ini dengan kekuatan apa, kalau OAP tidak memiliki moral dan spiritual yang baik. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini kita semua diajak untuk tinggalkan hal-hal buruk semua, seperti bercina, seks bebas, miras, makan pinang secara tidak beretika, mencuri, membunuh, jual tanah, jual dusun, tidak mau tinggal di rumah maunya mau jalan terus, suami kasih tinggal istri dan anak di rumah dan sebaliknya istri kasih tinggal suami dan anak di rumah. melainkan kita (OAP) mempertahankan nilai-nilai hidup, seperti jaga rumah, jaga keluarga, bikin kebun, yang nelayang pergi nelayang, bertumbuh dalam iman, mempertahankan nilai-nilai injili, budaya dan adat adalah identas Orang Asli Papua.
Orang Asli Papua, harus menimba air di sumur sendiri artinya, Orang Asli Papua jangan terlalu komsumsi makanan-makanan istan atau makanan-makanan ataupun munuman yang di bawa dari di luar Papua. Pergi nelayan pasti anda akan dapat ikan, bikin kebun anda akan makan dan satu keluarga bahagia, jaga tanah dan dusun, itu yang harus mempertahkan. Khusus OAP nilai-nilai baik di atas ini mari kita belajar dari Bangsa India ke luar dari penjajahan Inggris. Dengan belajar dari negara-negara yang sudah berhasil dari penderitaa atau bebas dari suatu kolonial, OAP juga pasti akan sadar pentingnya memperjuangkan keadilan, kebenaran dan kedamaian demi membebaskan manusia, tanah dan segala ciptaan yang ada di atas tanah Papua.
Perjuangan Mahatma Gandhi dalam membebaskan India dari kekuasaan kolonial Inggris merupakan salah satu contoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia tentang kekuatan moral dan spiritual dalam melawan penindasan. Gandhi menolak segala bentuk perjuangan yang bersifat kekerasan dan menggantinya dengan prinsip ahimsa (tanpa kekerasan) serta satyagraha (teguh pada kebenaran). Menurut Gandhi, kebebasan sejati tidak hanya berarti berakhirnya kekuasaan asing, tetapi juga pembebasan diri manusia dari kebencian, ketakutan dan ketidakadilan. Dalam konteks ini, kutipan “selama nafas masih berhembus, harapan tetap hidup” mencerminkan keyakinan sebuah perjuangan bahwa selama manusia masih memiliki kehidupan dan kesadaran moral, perjuangan menuju kebebasan dan kebenaran akan selalu memiliki arti dan arah.
Dalam tulisan ini akan memperlihatkan semangat perjuangan kemerdekaan bangsa India keluar dari penjajahan Inggris. Mohandas Karamchand Mahatma Gandhi adalah tokoh utama dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa India. Gerakan kemerdekaan India yang dipimpin Gandhi berlandaskan pada mobilisasi atau (mengumpulkan masyarakat agar aktif dalam perjuangan bersama) yang secara damai dan kesadaran moral rakyat terhadap ketidakadilan kolonialisme. Melalui berbagai gerakan seperti Non-Cooperation Movement (1920) Salt March atau Dandi March (1930), dan Quit India Movement (1942).
Dalam gerakan-gerakan tersebut metode perjuangan Gandhi bersifat pertisipatif, mengajar seluruh masyarakay India tanpa memandang agama, atau status sosial. Ia menekankan peran setiap individu dalam perjuangan melalui aksi damai. Semangat perjuangan Gandhi tercermin dalam keyakinan bahwa “selama nafas masih ada, harapan tetap hidup” meskipun menghadapi penindasan, penjara, dan tekanan dari kekuatan kolonial, Gandhi dan rakyat India tetap mempertahankan optimisme bahwa kemerdekaan bisa tercapai.
Perjuangan Mohandas Karamchand Mahatma Gandhi mengajak kepada orang-orang yang hidup di bawah tekanan dari kekuasaan penjajahan (tekanan dari kekuatan kolonial. Bahwa pejuang-pejuang kemerdekaan suatu bangsa dan seluruh rakyat harus bersatu. Bersatu untuk melawan kolonial dengan cara damai, perjuangan itu bukan dengan cara menumpahkan darah ataupun kekerasan lainnya. Dalam konteks ini di Tanah Papua sudah jelas bahwa Sepuluh Perintah Allah merupakan kekuatan paling ampuh untuk melawan suatu kekerasan di atas bumi. Dengan praktisnya adalah “jangan membunuh” jangan bercina” adalah suatu lalarangan yang menekankan bahwa menuju kedamaian sejati itu bukan dengan suatu kekerasan melainkan dengan kekuatan moral dan spiritual.
Moral dan spiritual menjadi dasar hidup maka pada tiap orang mesti dipelihara, karena tidak memiliki moral sebuah perjuangan menjadi abu-abu. Sementara berjuang cita-cita bersama yakni kemerdekaan suatu bangsa tapi orang berbuat seks secara sembarangan, dan juga menjadi kaki tangan kolonialisme itu bukan solusi tapi disiksa semangat terhadap sebuah perjuangan. Oleh sebab itu, mesti kita diinggat bahwa, stop seks secara sembarangan, stop miras adalah sebuah perjuangan yang utuh. Kalau hidup yang tidak sehat di atas ini sudah dilepaskan berarti perjuangan ini sungguh-sungguh akan terwujud.
Dengan melihat perjuangan Mahatma Gandhi bersama rakyat di India, khususnya Orang Asli Papua (OAP) bisa menjadi contoh bagi perjuangan kemerdekaan Bangsa Papua Barat. Kita bisa belajar perjuangan dari Mahatma Gandhi bahwa, ketika memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Papua Barat, baik tokoh pejuang, pejabat maupun rakyat mesti membangun sikap saling percaya, saling menghargai, membangun sikap kejujuran, kesadaran, saling memaafkan kepada sesama, dan membangun kasih sayang. Sesama Orang Asli Papua (OAP) jangan membeda-bedakan, baik pantei maupun gunung kita adalah satu ras “seluruh Tanah Papua itu satu kelauarga, meskipun banyak marga dan banyak budaya” mari saling menghargai kepada sesama sebagai satu keluarga, demi mencapai cita-cita bersama yakni kemerdekaan bangsa Papua Barat.
Daftar pustaka
Nicholson, Michael. 1994. Mahatma Gandhi, Pahlawan yang Membebaskan India dan Memimpin Dunia dalam Perubahan Tanpa Kekerasan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, Sylvan Barnet, and Hugo Bedau. 1981. Current Issues and Enduring Questions. St. Martin:. New York, Wegig Wahana, R. 1986. Dimensi Etis Ajaran Gandhi. Yogyakarta: Kanisius, Michael Nicholon. 1994. Mereka Yang Berjasa Bagi Dunia MAHATMA GANDHI. PT Gramedia: Jakarta.



Komentar
Posting Komentar