Di Bawah Langit Revolusi
Di bawah ulatorium Uncen,
di jalan raya Jayapura,
langkah kaki menapak aspal,
menyulam perubahan yang tersembunyi,
seperti rindu yang tak pernah padam
Mereka duduk di tepi jalan,
buku di tangan, kopi hangat di bibir,
waktu bergerak pelan,
kami duduk, kami tak lari,
menangkap riak-riak impian
yang bersembunyi di sudut kota,
seperti doa yang berbisik lembut
untuk tanah Papua tercinta
Langit Papua, saksi bisu,
menyimpan bisik-bisik cita
Revolusi ada
dalam senyum, dalam secangkir kopi,
dalam kata sederhana
yang menyalakan api cinta dan perjuangan
“Ahh… sa tra lari oo,”
suara itu lirih, bergetar,
pelan namun penuh arti,
seperti bisikan hati yang menolak menyerah
Ini tanah Papua kami
rumah hati kami,
darah dan cinta kami
Di setiap batu jalan,
di setiap daun yang bergoyang,
tercipta janji diam-diam,
untuk tetap berdiri, untuk tetap menunggu,
untuk merajut mimpi di atas tanah yang dicinta.
Langit menyaksikan,
matahari menghangatkan,
angin membawa harapan
ke pelosok hati yang setia
Kami duduk, kami menatap,
kami tak lari,
karena cinta ini lebih kuat dari takut,
dan setiap langkah kecil
adalah puisi perjuangan
tulus, romantis, tak tergoyahkan.
Oleh: GERTAK kadepa



Komentar
Posting Komentar