Dari Biara ke Meja Dialog: Jejak Pengabdian Almarhum Pater Neles Tebay
Oleh: Yulianus Kebadabi Kadepa
Almarhum Pater Neles Tebay adalah sosok religius yang menghidupi panggilan rohaninya dengan dedikasi tinggi. Perjalanan spiritualnya bermula di biara, tempat ia menapaki kehidupan kontemplatif, menegakkan disiplin rohani, dan memperdalam nilai-nilai pelayanan. Namun, pengabdian Pater Neles tidak berhenti pada ranah kontemplatif; ia kemudian hadir dalam ranah publik melalui “meja dialog,” berperan sebagai mediator, pendidik, dan jembatan antar-komunitas yang berbeda.
Jejak pengabdian Pater Neles mencerminkan integrasi antara kehidupan spiritual yang mendalam dan aksi sosial yang nyata. Kontribusinya meliputi pendidikan, advokasi sosial, pembangunan toleransi, serta dorongan untuk dialog lintas budaya dan agama antara Papua dan Jakarta. Karya dan pengorbanannya menjadi ilustrasi nyata bagaimana kehidupan rohani dapat bersinergi dengan tanggung jawab sosial, sekaligus menegaskan pentingnya dialog dalam menyelesaikan konflik dan membangun masyarakat yang beradab di tanah Papua.
Dalam karya monumentalnya, Angkat Pena Demi Dialog Papua: Kumpulan Artikel Opini tentang Dialog Jakarta-Papua Tahun 2001-2011 (2012), Pater Neles menegaskan pentingnya dialog damai dengan ungkapan khas: “Mari Kitong Duduk Bicara Dulu”. Ungkapan ini kini terukir pada makamnya di Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua, menjadi simbol komitmen hidupnya terhadap perdamaian.
Secara konseptual, Pater Neles mengajukan pertanyaan mendasar: mengapa pemerintah pusat di Jakarta dan masyarakat Papua perlu mengedepankan dialog sebagai metode penyelesaian konflik? Jawabannya terletak pada dialog sebagai cara beradab untuk menghentikan kekerasan, membangun perdamaian, dan menegakkan martabat manusia. Prinsip-prinsip dialog tersebut mencakup kesejahteraan, keadilan, kebenaran, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Bagi Pater Neles, dialog bukan sekadar sarana mencari siapa yang menang atau kalah, tetapi strategi kolektif untuk mewujudkan kehidupan sosial yang adil dan beradab. Ia menekankan bahwa solusi damai atas konflik di Papua hanya dapat dicapai melalui komunikasi terbuka dan inklusif yang mengakui eksistensi semua pihak. Kegagalan untuk berdialog akan menimbulkan kekerasan, pengungsian, dan penderitaan berkepanjangan, sebagaimana terlihat di wilayah konflik Papua seperti Ndugama, Intan Jaya, Kiwirok, Maybrat, Yahukimo, Puncak Jaya, dan Dogiyai.
Dialog, menurut Pater Neles, harus dilakukan secara konsisten dan menyeluruh. Tidak cukup hanya percakapan verbal, dialog harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan, dan perdamaian yang berkelanjutan. Dengan demikian, dialog menjadi “jalan damai” yang memungkinkan rekonsiliasi dan penghormatan terhadap martabat manusia di tanah Papua.
Selain itu, karya tulis Pater Neles termasuk artikel-opini berjudul Why Autonomy Is Not Well Received by Papuans, Papua Needs More than Food and Funds, Menyelesaikan Konflik Papua, Mengubah Papua Menjadi Tanah Damai, dan Mempersiapkan Dialog menegaskan komitmennya terhadap perdamaian. Ia menjadi simbol harapan bahwa Papua dapat memiliki masa depan yang positif sebagai Tanah Damai, berlandaskan prinsip kemanusiaan dan keadilan.
Oleh karena itu, perjuangan Pater Neles Tebay menunjukkan bahwa dialog damai adalah instrumen utama dalam menyelesaikan konflik di tanah Papua. Dengan mengedepankan keterbukaan, penghormatan, dan keadilan, dialog tidak hanya menyelesaikan masalah jangka pendek, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar pembangunan masyarakat Papua yang beradab. Pater Neles Tebay adalah simbol suara perdamaian yang menunjukkan bahwa masih ada masa depan yang positif bagi bangsa Papua menjadi Tanah Damai, Tanah Suci, Tanah Firdaus yang Tuhan tempatkan di atas pulau yang berbentuk Burung Cendrawasih, the bird of paradise. Mari Torang Bicara Dulu di Para-Para Adat, Papua Itu Tanah Damai, Papua itu bukan Tanah kosong.(*)
Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura-Papua.



Komentar
Posting Komentar