Altar itu, Kita Membawa ke Daerah-Daerah Konflik ka?
(Refleksi atas Sebuah Pengamatan Terhadap Realitas)
Oleh: Martinus D Tenouye
Menurut Kamus Teologi; imam adalah anggota jemaat yang dikhususkan untuk mempersembahkan kurban dan menjadi pengantara antara Allah dan manusia secara kultis seperti imamat Lewi dalam PL (Kel 28:1; 32:25-2-9; Im 8: 1-9:24), atau sebagai raja imam seperti Melkisedek (Kej 14: 18-20). (Collins, SJ, 1996: 112). Sebagai Sang Pengantara antara Allah dan manusia (1Tim 2:5), itu Yesus disebut Imam Agung (Ibr 6:20-10:18). Oleh karena sakramen tahbisan, imam disucikan oleh Roh Kudus demi kebaikan seluruh gereja secara khusus melalui pelayanan sabda, sakramen, dan kepemimpinan pastoral (PO 2;4-6) (collins, 1996: 120). Di samping itu memberikan sakramen tobat, mengurapi orang sakit, dan, menyelamatkan jiwa umat, dan melayani sakramen-sakramen lain. Selain pelayanan tersebut, pelayanan imam juga adalah mempersembahkan kurban misa “atas nama dan sebagai wakil Gereja”, (LG 10; 28). (Collins, 2011: 112).
Imam adalah imam khusus dalam Gereja katolik, yang Allah memilih mereka “imam” supaya mempersembahkan kurban ekaristi. Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji syukur. Kata eucharistia adalah sebuah kata benda dari kata kerja bahasa Yunani eucharistein yang berarti memuji, mengucap syukur. Ekaristi memiliki asal usulnya pada doa berkat yang berlangsung dalam tradisi perjamuan makan Yahudi. (Martasudjita, Pr 2002: 28). Di mana kurban Kristus itu hadir dalam perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi, Kristus hadir baik dalam pribadi pelayanan: “Karena samalah dia yang kini mempersembahkan diri lewat pelayanan imam dengan Dia yang dulu mengorbankan diri di Kayu Salib,” (Leteng, 2003: 384).
Allah memanggil dan memilih seorang imam untuk mewartakan Firman Tuhan, namun tugas utama adalah mempersembahkan kurban ekaristi. Maksud Allah imam mempersembahkan kurban Ekaristi adalah supaya umat beriman dapat merasakan kehadiran Tuhan Yesus yang hadir dalam perayaan Ekaristi. Dan tentu bahwa spiritualitas ataupun pusat kehidupan para imam adalah merayakan perayaan Ekaristi. Sebab spiritualitas Yesus Kristus itu telah hadir dalam Perayaan Ekaristi itu sendiri. Oleh sebab itu, pentingnya seorang imam tetap merayakan ekaristi pada tiap hari. Supaya imam tetap dan kokoh mewartakan Injil dan kebenaran kepada semua orang. Dalam hal ini penulis akan memaparkan kehidupan dan tugas-tugas serta spiritualitas imam di tanah Papua. Dengan melihat beberapa persoalan yang terjadi di tanah Papua, seperti konflik, dan kekerasan lainnya. Apakah dalam situasi seperti ini ekaristi menjadi salah satu kekuatan bagi perdamaian di tanah Papua. Nah tentang Ekaristi menjadi kekuatan bagi perdamaian ini, dengan secara bersama-sama kita bisa mendalami pewartaan Yesus Kristus di bumi bersama para murid-murid-Nya.
Tuhan Yesus memiliki tiga gelar yakni Imam, Raja dan Nabi. Yesus punya tugas jelas, mewartakan, memimpin dan mengajar, sambil mewartakan kerajaan Allah Ia tetap membela kepada orang-orang miskin, orang-orang tertindas, dan orang-orang menderita. Itu yang Tuhan Yesus lakukan ketika Ia mewartakan Firman Tuhan di bumi. Mengapa Yesus selalu membela kepada orang miskin, orang tertindas, dan orang-orang yang menderita, karena Ia mau menyelamatkan mereka dari segala ketidakadilan di bumi. Yesus mau supaya semua orang harus merasakan kedamaian dan kebahagiaan.
Setiap kali Yesus mempersembahkan kurban Ekaristi (makan bersama) dengan para murid-Nya. Yesus selalu mengajak kepada para murid supaya tetap melakukan tugas yakni mewartakan kerajaan Allah kepada siapa saja. Oleh sebab itu, Yesus mengutus kedua belas murid ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil. (Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhirnya zaman, (Mat, 28:19-20).
Kita bisa kutip dua kata dalam ayat tersebut yaitu “seluruh dunia”. semua pelayan Tuhan khusus para imam bisa diketahui bahwa yang dimaksudkan dengan ‘seluruh dunia’ adalah semua tempat. Baik itu tempat konflik maupun tempat aman. Tempat konflik, tempat aman, tempat tugasnya pedalaman, tempat tidak ada jaringan ini semua tempat adalah tempat pelayanan. Tuhan Yesus punya pesan bagi para pelayan umat itu sangat jelas pergilah seluruh dunia dan wartakankan injil kepada dunia. Berarti semua tempat itu bisa mewartakan Injil kepada umat-umat yang merindukan akan Injil.
Imam dan umat di Tanah Papua
Melihat dari realitas dunia saat ini kebanyakkan umat mengalami kekeringan kehidupan rohani. Terutama ditempat konflik seperti di Intan Jaya dan di seluruh Tanah Papua lainya. Sebenarnya mereka ingin peluk Tuhan Yesus melalui perayaan Ekaristi yang hadir dalam ekaristi dan pembinaan iman lainya. Namun semua ini sering terjadi seolah-seolah di antara umat dan imam itu melintang sebuah jembatan yang rusak sehingga merasakan kehadiran Tuhan Yesus melalui ekaristi itu menjadi batu loncatan besar. Mengalami kekeringan rohani ini bukan di satu tempat saja tetapi semua tempat. Ada satu kalimat yang menyarik menyatakan seperti ini “altar/mimbar itu bisa ditempatkan atau bawahkan di tempat-tempat konflik”. Kalimat ini mengajak kepada semua pelayan Tuhan khususnya para imam, sesungguhnya mewartakan Injil kepada umat Allah itu bukan hanya tentang kasih, melainkan sebagai seorang imam atau pelayanan lainnya harus memberikan pemahaman kepada umat tentang realitas yang terjadi khusus di Tanah Papua. Bagaimana supaya seorang imam ini betul-betul menyadarkan umat melalui perayaan ekaristi, supaya umat-umat itu terlibat menyampaikan pendapat tentang masalah-masalah yang terjadi di atas tanah Papua.
Apa yang terjadi di atas tanah Papua sangat membutuhkan suara-suara kenabian, demi membebaskan kepada mereka yang tertindas dan menderita. Sama seperti Tuhan Yesus mengajak kepada para murid untuk membela orang miskin dan menderita, seorang imam juga di situasi apa pun seorang imam mesti mengajak kepada umat untuk menyampaikan pendapat mereka tentang realitas yang terjadi. Kesempatan apa dan kesempatan di mana itu sudah jelas bahwa ketika seorang berkhotbah bisa sampaikan kepada umat pentingnya membela kepada orang miskin dan menderita. Selain itu, seruan maupun doa-doa serta kotbah sorang imam boleh sampaikan dalam konteks Papua, dengan melihat realitas yang terjadi.
Suara-suara yang baik dari umat jangan busuk dalam otak, tetapi harus bersuara demi kedamaian, baik itu umat pendatang maupun umat Orang Asli Papua. Kekerasan yang terjadi di atas tanah Papua ini, membutuhkan kerja sama, saling percaya dan saling menghargai dari semua pihak. Bahwa pentingnya membela kepada yang tertindas dan menderita. Kutipan tersebut di atas, apakah altar atau mimbar itu kita pindahkan ke daerah-daerah konflik dan tempat-tempat atau orang-orang yang jarang merasakan kehadiran Yesus dalam Ekaristi? Mengapa dikatakan bahwa altar atau mimbar itu pindahkan ke tempat-tempat tersebut di atas, sebab altar itu berharga bagi mereka yang menderita dan tertindas. Damai itu terjadi kalau seorang pelayan Tuhan bersuara di tanah-tanah konflik. Bersuara yang dimaksudkan adalah dalam seluruh perayaan ekaristi pentingnya mendoakan bagi semua orang yang selalu merindukan kedamaian dari Allah. Jangan sampai seorang imam mendoakan TNI/Polri tetapi yang lain dilupakan, dan janggan sampai seorang imam mendoakan bagi orang pendatang tetapi yang lain “OAP” dilupakan. Hal ini mesti dipertanyakan dibalik itu ada apa?



Komentar
Posting Komentar