OAP BISA MENIMBA AIR DI SUMUR SENDIRI
Oleh: Martinus Tenouye
Tuan rumah tidak pernah pergi dari rumahnya sendiri, dia tetap tinggal di rumahnya sendiri. tuan rumah sering dimaknai sebagai “eksistensi jiwa dan roh yang hidup” pusat keberadaan jiwa yang hidup atau tempat manusia berakar. Kata lain dari pusat eksistensi adalah sejati atau jiwa tetap berada di “rumah batin” spiritual sejati. Tuan rumah ini mengandaikan jiwa yang tetap berada di rumah, tidak pergi ke mana mana, ia tetap di rumahnya sendiri, tidak pergi ke mana-mana karena ia mencintai rumahnya, dan mencintai tanahnya, sedangkan tamu yang datang, hanya pergi dengan membawa narasi-narasi yang tidak masuk akal, yang mencelakakan tuan rumah. Tamu datang ke tuan rumah itu hanya membawa narasi palsu, yang mudah berpengaruh cepat pada hal-hal yang berkaitan dengan bukan nilai filisofi dan nilai-nilai positif melainkan tamu datang hanya membawa motivasi yang tidak berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya. Jadi tuan rumah hati-hati kalau tamu datang berkunjung ke tuan rumah tadi.
Tuan rumah itu dia tau batas artinya dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dia dengan penuh sadar, tahu persis tentang kondisi rumahnya juga tahu persis tentang realitas yang terjadi dalam kehidupannya. Ia tidak suka menipu kepada siapa saja, seperti kebanyakkan orang di dunia. Dalam dunia nyata ini kebanyakan orang gampang menipu orang tetapi tuan rumah tidak. Tuan rumah adalah orang-orang jujur, orang-orang yang tau batas tentang etika dan moral, ia bisa membatasi mana yang baik dan mana buruk. Hal-hal yang baik tuan rumah ini berpikir dua kali untuk bertindak lebih jahu. Komitmen dalam hidupnya adalah mengutamakan bagaimana selalu menimba air di sumurnya sendiri. Artinya ketika orang berada di suatu penjajaan atau dalam suatu kolonial tertentu maka ia jangan makan dan minum dari kolonial tadi. Sebab makan dan minum itu selalu ambil dari kolonial tadi maka orang akan menjadi malas kerja dan akhirnya akan menjadi pembantu suci piring, menjadi penjaga kios, menjadi penjaga depan tokoh-tokoh dan lain sebagainya. Pertanyaaan adalah kalau anda sudah menjadi yang lain-lain maka anda punya hidup ke depan mau ke mana.
Tuan rumah berarti ia tidak mau jadi yang lain-lain. Tuan rumah adalah manusia sejati berarti bisa belajar sendiri, bisa bekerja sendiri, menemukan tujuan hidup sendiri, memiliki etika dan moral, dan selalu hidup berdasarkan nilai-nilai injili, nilai-nilai budaya dan memiliki nilai moralitas yang bagus. Menimba air di sumurnya sendiri merupakan bagaimana orang berpikir untuk keluar dari suatu penjajahan di dunia. Penjajahan ini mempunyai banyak aspek; misalnya penjajahan cara berpikir, penjajahan berpendidikan, penjajahan cara hidup. cara-cara ini merupakan satu motif negatif yang cara mudah untuk mempengaruhi pada nilai-nilai postif yang sudah pernah ada di eksistensi tuan rumah tadi. Tuan rumah punya kehidupan sendiri, kehidupan yang istimewa. Kalau tuan rumah bisa sadar, mesti melawan segala aspek penjajahan di atas. Dengan cara melakukan suatu rekonsiliasi diri merupakan pintu masuk menuju pada kehidupan yang sudah ada.
Menimba air di sumurnya sendiri berarti sebagai tuan rumah, anda jangan hidup tergantung dari orang-orang luar. Tuan rumah, berarti hidup mendiri. Beberapa cara penjajahan yang sebutkan di atas, itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan ke depan, karena itu mulai dari sekarang mesti belajar untuk bagaimana setiap tuan rumah itu menimba air di sumurnya sendiri. Gerakan Tungku Api (GERTAK) menjadi salah satu kunci terbaik untuk masuk dan merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Dalam “ Seruan almarum Mgr. John Philip Saklil, Pr. ditegaskan kepada ribuan umat khususnya di keuskupan Timika “Stop jual tanah berarti menyelamatkan hidup kita dan gerasi penerus. Karena Orang Asli Papua (OAP) tak bisa hidup tanpa tanah, meskipun banyak uang. Jangan menjual tanah agar tidak kehilangan harta benda berharga para pendahulu yang akan menyulitkan anak cucu di kemudian hari. Jaga baik ancaman jual beli tanah yang semakin marak dilakukan pemilik tanah. Tanah adalah mama yang memberi hidup seperti lazimnya dinasehati leluhur. Tanah dan nilai-nilai baik yang telah jelaskan di atas, supaya orang khususnya tuan rumah bisa belajar untuk menimba air di sumurnya sendiri. Menimba air di sumur sendiri, yang dimaksudkan ialah sebagai tuan rumah jangan hidup tergantung dari orang-orang luar. Sebagai tuan rumah, anda harus hidup dari hasil keringat sendiri, bikin kebun, piarah babi. Selain bikin kebun dan piarah babi itu, sebagai tuan rumah mesti menjaga tanah sebagai mama karena dari tanah kita hidup, makan dan menghirup nafas. Apakah tuan rumah menimba air di sumurnya sendiri? dan apakah tuan rumah keluar dari segala aspek penjajahan itu?



Komentar
Posting Komentar