Menjaga Alam Belajar Dari Santo Fransiskus Dari Asisi
Oleh: Martinus Tenouye
Alam Ciptaan Sebagai Saudara
Mencintai alam ciptaan adalah bentuk penghormatan dan kepedulian terhadap alam semesta, yang merupakan ciptaan Tuhan, sebagai wujud syukur atas keberadaannya dan tanggung jawab sebagai manusia untuk melestarikan keutuhannya demi kesejahteraan bersama dan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Ini melibatkan tindakan nyata seperti menjaga lingkungan, melestarikan tumbuhan dan hewan, serta mengelola sumber daya alam secara bijaksana, karena kerusakan lingkungan merupakan perbuatan negatif yang sangat besar terhadap kehidupan manusia.
Di beberapa sumber kita bisa temukan sumber terkait pentingnya menjaga alam ciptaan sebagai saudara. Seperti dalam anjuran Paus Fransiskus dalam dokumen “Laudato Si” bumi sebagai rumah bersama’. Ensiklik Laudati Si, ini merupakan buah pikir Paus Fransiskus yang menginspirasi kepada seluruh umat manusia. Bahwa seluruh umat mengambil bagian terhadap perawatan alam ciptaan sebagai rumah bersama. Mengapa harus kita jaga rumah tersebut tadi sudah rusak maka orang tidak hidup lama di rumah, akhirnya manusia dapat sakit dan menderita. Mesti kita sadar bahwa sesungguhnya manusia itu hidup dari alam itu sendiri, tanpa alam manusia tidak bisa bernafas dan tidak bisa hidup lama di bumi.
Belajar Bersama Santo Fransiskus
Hari ini, Jumat 12 September 2025, Pemuda Katolik kabupaten Dogiyai melakukan aktivitas penanaman pohon, itu beberapa jenis pohon seperti, pohon cemara, pohon geyawas dan beberapa jenis pohon lain. Saya juga diajak oleh salah satu saudara yakni, Diakon Marius Goo. Dua hari sebelum aktivitas penanaman pohon tersebut, Diakon memberikan motivasi serta mengajak kepada saya pentingnya menjaga alam sebagai saudara. Dalam proses itu Diakon juga memberikan inspirasi dan motivasi yang baik kepada saya. Dalam suatu diskusi beliau mengatakan seperti ini; kalau kita menjaga alam maka alam menjaga kita, kalau kita menjaga alam ciptaan, maka kita punya hidup tidak rusak dan tidak menderita.
Saatnya sudah tiba aktivitas penanaman pohon. Pada Jumat September 2025, oleh Diakon ajak kepada saya pergi menanam pohon, tepatnya di kaki gunung Mago. Dalam perjalanan menuju tempat aktivitas itu, saya sangat termotivasi dengan beberapa motivasi yang diberikan oleh Beliau kepada saya. Sesampai di tempat aktivitas saya sebagai bagian dari alam, saya menanam beberapa pohon seperti teman-teman sekerja lainnya. Bersama Diakon dan Pemuda Katolik Dogiyai mereka juga menanam beberapa pohon di tempat-tempat sudah ditentukan sebelumnya.
Ini mengajak kepada semua orang sebagai makhluk sosial yang hidupnya selalu bergantung pada alam. Aktifitas penanaman pohon sebagai bagian dari kepedulian terhadap alam. Alam itu hidup tenang dan damai kalau menjaga dan merawat dengan baik. Kita juga bisa belajar dari Santo Fransiskus dari Asisi, sering disebut dengan “pelindung ekologis”. Santo Fransiskus sangat mencintai segala alam ciptaan. Karena dari alam kita hidup dan bernafas. St. Fransiskus melihat semua makhluk sebagai bagian dari keluarga ciptaan Allah. Artinya ia percaya bahwa segala sesuatu yang diciptakan memiliki nilai dan pantas dihormati karena karena berasal dari Pencipta yang sama. Sebagai pelindung ekologis, St Fransiskus menyebut unsur-unsur alam seperti matahari, bulan, air dan bumi sebagai “saudara” dan “saudari”, yang menunjukkan hubungan spiritual yang era antara manusia dan alam. Kalimat ini mengajak kita, supaya menjaga alam ciptaan, seperti manusia menjaga terhadap diri sendiri. Kalau dirinya itu tidak menjaga dengan baik maka dapat sakit dan akhirnya meninggal. Dan sebaliknya kalau manusia tidak merawat dan menjaga alam ciptaan sebagai “saudara” maka hidup manusia akan rusak.
Belajar Bersama Pemuda Katolik Kabupaten Dogiyai
Hari ini Pemuda Katolik Kabupaten Dogiyai melakukan aktivitas penanaman pohon. Dan ini menunjukkan teladan dan contoh yang baik kepada kita semua. Bagaimana setiap provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan bahkan masyarakat di seluruh Tanah Papua. Setiap orang mengambil bagian dalam merawat, menjaga, serta menanam pohon sebagai saudara. Sehingga segala ciptaan menciptakan harapan baru bagi manusia, hidup subur dan damai. Pemuda Katolik Dogiyai juga mengajak kita seluruh masyarakat Papua pentingnya menjaga dan merawat alam. Karena ini adalah bagian dari manusia mencintai terhadap alam ciptaan, kalau kita menjaga alam ciptaan dengan baik maka alam ikut bahagia dan senang dan hidup dalam damai. oleh sebab itu, setiap kabupaten mesti bangkit dari tempat tidur, mengajar seluruh masyarakat untuk menjaga hutang dan segala ciptaannya lainnya, supaya alam tetap utuh dan tidak menderita lagi. Kalau manusia menebang pohon secara tidak etis alam tetap menderita. Kalau alam menderita maka manusia pun ikut menderita karena manusia itu bagian dari alam itu sendiri.
Dari kabupaten lain bisa belajar dari Pemuda Katolik Dogiyai. Mereka menunjukkan contoh dan teladan yang baik . Dalam kalimat awal dikatakan, bangkitlah dari tempat tidur, agar bidang-bidang kehutanan terkait di kabupaten lain bisa ajak masyarakat setempat, untuk terlibat aktifitas penanaman pohon. Seperti apa yang dilakukan oleh pemuda Gereja Katolik tersebut. Apalagi kalau kita melihat di daerah-daerah lain, memiliki gunung botak akibat kebakaran. Gunung-gunung atau bukit-bukit yang tidak memiliki pohon akibat kebakaran itu, masti sadar untuk perhatiannya. Jangan biarkan gunung ataupun bukit itu berdiri tanpa pohon. Ini tugas utama dari pemerintah. Kabupaten Dogiyai sudah menunjukkan contoh dan teladan yang bagus untuk menjaga alam ciptaan sebagai saudara. Merawat dan menjaga alam ciptaan khusus penanaman pohon adalah bagian dari hidup kita. Maka dari itu, pentingnya menjaga dan merawat alam sebagai saudara. Jika kita menjaga alam berarti kita menjaga kita punya jati diri sebagai manusia.



Komentar
Posting Komentar