Kebenaran adalah Tuhan dan Tuhan adalah kebenaran



 Refleksi 

Oleh Martinus Tenouye


Siapa yang tdak mengenal kebenaran maka ia tidak mengenal Tuhan. Tentang kebenaran ini di seluruh agama dengan ajaran masing-masing ditekangkan pentingnya memahami Tuhan sebagai kebenaran atau sebaliknya kebenaran adalah Tuhan. Di beberapa agama sampai saat ini diajarkan dan memberikan sebuah pemahaman baik kepada umat bahwa, kalau anda sedang mencari kebenaran berarti maka anda sedang mencari Tuhan sebab Tuhan adalah kebenaran. Siapa yang betul-betul hidup bersama dengan kebenaran dan menjalankannya maka ia tinggal bersama dengan Tuhan dan kalau melakukannnya maka melakukan tugas luhur bagi Tuhan.

Kita bisa lihat tentang kebenaran bagaimana di setiap agama itu ajarkan tentang kebenaran kepada umat-umat Allah. Gereja Kristen Katolik dan Gereja Kristen protestan, jika kita membaca Alkitab atau biasa disebut dengan Kita Suci (KS) bisa temukan kebenaran-kebenaran di beberapa ayat. Misalnya dalam Injil Yohanes (14:6), Yesus berkata:“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”. atau dalam Injil Yohanes (17:17) “Firman-Mu adalah kebenaran”. Dalam agama Islam Al-Haqq, yang berarti “Yang Maha Benar” atau “kebenaran itu sendiri”.https://quran.nu.or.id.com. 

Dalam tradisi Hindu kemudian digagas oleh Mahatma Gandhi dari filosofinya “Satya adalah Tuhan” (Satya is Gad), selain dari pada itu “Tuhan adalah kebenaran” menjadi “kebenaran adalah Tuhan.https://kejari-jembrana.kejaksanaan.go.id.com.

Dalam ajarannya Gandhi menekangkan demikian: “The only God I know is Truth.” (semua manusia bersaudara “kebenaran”) Ini mau mengajarkan bahwa orang-orang yang sangat peduli terhadap orang miskin, orang yang tertindas, dan orang yang menderita maka mereka benar-benar mencari Tuhan. Sebab Tuhan itu sungguh ada di tempat-tempat yang orang kaya dan berkuasa melihat tempat rendah di situ Tuhan ada, dan disitu kebenaran itu ditemukan. Oleh sebab itu, mesti diingat bahwa menjunjung tinggi kebenaran dalam setiap aspek kehidupan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Maka disadari bahwa menjadi dan hidup dalam kebenaran jalan spiritual yang dasar. Sehingga kebenaran itu jangan sembunyikan di belakang layar kaca, kebenaran itu milik Tuhan, oleh sebab itu orang jangan dimanipulasi demi kepentingan diri. Kebenaran itu mesti diutarakan kepada banyak orang, supaya dari kebenaran itu merasakan di setiap orang.

Cahaya dan terang dari matahari itu diterima banyak orang. Kebaikan dari matahari itu tidak tersembunyi-sembunyi akan tetapi cahayanya, terangnya itu harus dirasakan oleh semua orang. Tuhan mau supaya segala ciptaan baik bintang-bintang langit, ikan-ikan di laut, pohon-pohon dan rumput-rumput di darat dan seterusnya, semua ciptaan termasuk manusia menerima matahari yang sama dan satu. Ini mau dikatakan bahwa kebaikan Tuhan itu selalu mengalir di semua ciptaan. Matahari sendiri itu adalah Tuhan yang sedang menerangi kepada semua ciptaan. Dalam konteks ini, kebenaran itu pun tidak tersembunyi-sembunyi akan tetapi terang-menerang yang sejatinya didirasakan oleh semua orang. Mengapa demikian, karena kebenaran itu tidak bersifat sesuatu yang tersembunyi di belakang layar kaca.

Dalam kenyataan hidup kebenaran tersebut sering menjadi suatu sifat yang tak kelihatan dan sembunyi di belakang layar kaca. Kebanyakkan pimpinan-pimpinan baik pemerintahan maupun keagamaan kedua bola mata dan kedua telingah mendengar dan melihat kebenaran tadi, tetapi dari depan mereka tidak menjadi impian bersama. 

Motivasi negatif bahwa kebohongan menjadi kebenaran, karena dalam diri mereka tidak memiliki spiritualitas berjuang demi membela orang miskin dan menderita. Sementara ada kekayaan alam, di pihak-pihak tertentu kebohongan menjadi sikap hidupnya, karena yang mengutamakan mereka bukan manusia yang sedang menderita tetapi mencuri dan merampas kekayaan alam yang menjadi milik masyarakat. Di mulut yang sebenarnya mesti bersuara tentang kebenaran, akan ditutupi oleh suatu kenikmatan semata dengan pribadi dan dengan keluarganya sendiri.

Berkaitan dengan kenikmatan sendiri atau egois tadi, ada satu kutipan dari agama Hindu yang mengatakan demikian; dari ajaran Dharma adalah (hukum moral,kebenaran dan jalan hidup yang benar) menekankan pentingnya kesembangan dan tanggun jawab sosial “siapa yang makan sendiri tanpa berbagi adalah pemakan dosa”. 

https.//dharma.group,hindu.co.id.com

Dalam kutipan mau ditegaskan bahwa siapa yang tidak memiliki rasa kepedulian terhadap orang miskin, orang menderita dan orang-orang yang tertindas, maka orang tersebut sedang memanggil dosa.


Komentar

Postingan Populer