KATA “DI SITU, OK YU” Vs BAHASA FILOSOFIS

 


Oleh:Martinus Tenouye


Filosofi

Filosofi berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia, yang berarti “cinta kebijaksanaan”(Philo:cinta,Sophia:kebijaksanaan).https://id.wi.philosophia.org.com. Filosofi adalah bidang studi yang berusaha memahami, menjelaskan hal-hal paling mendasar tentang kehidupan, pengetahuan, eksistensi, nilai, pikiran dan realitas. Tujuan utama filosofi adalah, mencari kebenaran (menemukan apa yang benar-benar nyata atau benar), memahami kehidupan (menyelidiki makna dan tujuan hidup yang sebenarnya) (menentukan apa yang baik dan buruk, benar dan salah). Dengan memiliki dasar bijak akan menentukan hidup. Gaya hidup menentukan dari kata-kata dan perbuatan-perbuatan kita. kata-kata tidak bisa melihat dengan mata tapi bisa melihat melalui sikap dan tindakannya

Manusia bisa rasa angin dan hujan tapi tidak bisa disitu. Apakah manusia bisa rasa ketika seseorang berkata kepada yang lain dan apakah itu bisa disitu? Setiap kata-kata yang dikeluarkan melalui mulut mempunyai arti dan makna. Dalam Hidup orang sering dikeluarkan kata-kata tanpa sadar dan itu memiliki kata positif dan negatif. Ada juga yang dikeluarkan kata-kata dengan kesadaran penuh tetapi yang dikeluarkan itu memiliki kata yang negatif dan sebaliknya. Kata-kata positif “baik” yang dikeluarkan biasanya, mereka merasakan hal-hal yang baik. Karena kata-kata positif adalah kata-kata yang membawa pengaruh baik terhadap pikiran dan perasaan seseorang. Kata-kata ini bisa meningkatkan suasana hati, motivasi dan rasa percaya diri. Sedangkan kata-kata negatif adalah kata-kata yang bisa membawa dampak buruk pada emosi dan pikiran serta hati menjadi tidak tenang. Kata-kata yang tidak memiliki arti dan makna kadang menjadi penghalang bagi pertumbuhan ala filosofis seseorang. Ala filosofis seseorang bertumbuh dengan baik kalau dengan komitmen memperjuangkan makna hidup. Mencari makna hidup kadang ditentukan oleh tindakan dan kata-kata.

Ok Yu, di situ

Saat-saat ini di pelbagai media sosial viral beberapa kata dengan dikatakan “ di situ, ok yu dan lain-lain. Pasti di setiap suku mengajarkan bahasa filosofis dengan tujuan agar suku tersebut betul-betul menjadi bijak ketika menghadapi hidup. Dalam suku itu belajar banyak nilai-nilai agar tidak gampang tak terlena dengan hal-hal yang menyesesatkan kehidupan orang. Dalam suku ini juga mereka belajar banyak bagaimana mengkritik perkembangan dunia,agar tidak ketinggalan zaman. Mesti betul-betul menghadapi hidup dengan penuh bijak. Jangan sampai terlalu mudah untuk cepat berpengaruh dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya.

Orang sering suka menggunakan kata-kata seperti “ di situ, ok yu” dan ; dan lain sebagainya. Apakah kata-kata seperti ini memiliki arti dan makna. Orang-orang khususnya suku Mee bagi mereka yang mengerti tentang makna hidup dan kata-kata dalam bahasa Mee, kata-kata seperti di atas “di situ dan ok yu” mereka bilang, owa kemo beumana artinya kata-kata yang tidak memiliki rumah atau kata-kata yang tidak punya rumah. selain itu wewe mana artinya kata-kata permainan. Hari-hari tertentu jika suku Mee melakukan diskusi tentang Pendidikan, budaya, ekonomi, dan agama, dalam diskusi itu mereka sudah tahu apa yang mau disampaikan kepada teman diskusi.

Dalam diskusi itu dengan hati-hati diutarakan pendapatnya karena dalam setiap kata-kata itu memiliki arti dan makna yang besar dan dampak positif yang sangat besar. Hal ini bukan pada saat forum diskusi tetapi setiap nadi kehidupan tetap mencari kebijaksanaan dengan mengutamakan nilai-nilai. Sehingga budaya yang baik dan positif itu dapat dipertahankan.

Mesti sadar, jangan sampai kita terlalu banyak menggunakan kata-kata seperti ‘ok yu, di situ’ lalu kita melupakan jadi diri kita dan bahasa filosofis kita yang sesungguhnya. Ketika kita sedang menggunakan kata-kata tersebut kita tidak akan rasa tetapi ada saatnya untuk merasakannya. Yang akan dirasakan adalah kita tidak akan tau untuk menggunakan bahasa dan kata-kata yang aslinya, karena dalam otak dan pikiran sudah di kuasai oleh kata-dan bahasa yang tidak memiliki arti dan makna. Oleh sebab itu, kita sebagai pejuang-pejuang hidup masing-masing pentingnya memilah bahasa dan kata-kata. Artinya kita mesti sadar dan tahu akan keberadaan kita sebagai manusia.

Perlu bertanya bahwa apa tujuan dari hidup? Apakah tujuan dari hidup adalah mencapai pada puncak kebahagiaan? Kalau memang, tujuan dari hidup adalah puncak kebahagiaan maka apa yang saya harus buat. Menurut seorang Filsuf yaitu Marcus Aurelius “Stoikisme” dikatakan demikian; kita tidak bisa mengontrol baik kata-kata, bahasa maupun tindakan, tetapi bisa mengontrol pikiran dan sikap kita. Yang di sisi lain filsuf Immanuel Kant (1724-1804) yang mengatakan, paling penting adalah hidup berdasarkan prinsip moral bukan hanya mencari senang dengan bahasa dan kata-kata yang tidak memiliki arti dan makna.


Komentar

Postingan Populer