ENIHA AMADI

 




Si Bungsu Dari Tujuh Peri Surga


*Degei Siorus


‘Awas jangan suka melawan orang tua, nanti eniha amadi datang’, ucap seorang ibu kepada anaknya yang nakal dan suka melawan, ‘Eh tidak boleh menangis malam-malam, nanti eniha amadi dengar baru dia datang tangkap’ ucap mama lainnya kepada anaknya yang suka menangis di tengah malam hari.


Inilah momok untuk menakut-nakuti anak-anak kecil yang nakal, suka menangis malam-malam, pemalas, keras kepala, suka melawan, tidak suka bantu orang tua cari kayu bakar dan timbah air dan lainnya di wilayah Bomomani, Mapia, Kabupaten Dogiyai dan sekitar. Nama eniya amadi begitu melegenda. Sampai saat ini masih begitu banyak orang yang mengenannya dalam versi kisah hidup mereka masing-masing. Saat bersentuhan langsung dengannya.


Eniha amadi sendiri berarti ‘setan bungsu’, masyarakat Mapia percaya bahwa ia adalah anak bungsu dari sekitar tujuh orang setan yang bersaudara. Agak berlebihan menamainya setan, namun itulah nama yang familiar disematkan padanya. Peri barangkali nama yang lebih bermartabat.


Sedikit sekali yang tahu cerita pastinya, namun yang jelas, ia adalah sosok wanita yang dirasuki makhluk supranatural secara permanen. Roh di dalam tubuh wanita ini tidak dapat keluar. Ia punya nama dan keluarga asli, namun ketika ia mengalami gangguan makhluk gaib ia menjadi sendiri, keluarganya semacam membuang dan menyangkalnya. 


Seperti layaknya anak kecil, anak bungsu, eniha amadi selalu menunjukkan mimik gadis belia, sikap dan tingkah laku gadis kecil, sekalipun secara fisik ia sudah tampak dewasa, bahkan nenek. 


Yosua adalah seorang guru muda. Ia bukan dari wilayah asli Mapia, namun dari kecil ia sudah sekolah dan tumbuh besar dengan warga sekitar. Ia begitu baik, ramah, tekun beribadah. Ia memancarkan cahaya iman dalam kehidupannya di wilayah Mapia yang masih dekat dengan alam, leluhur, dan makhluk gaib.


Suatu malam eniha amadi datang ke rumah Yosua. Sebagai guru, Yosua memiliki rumah dinas, ia masih muda, belum menikah, hidup sendirian. Terdengar suara tangisan perempuan dewasa, ‘Kalian jahat....kalian jahat...kalian sudah pukul saya...saya mati...’ demikian suara tangisan eniha amadi tengah malam menuju rumah Yosua, ‘Sayang...sayang....kasihan...ada apa...siapa yang buat mama begini...?’ ucap Yosua membukakan pintu bagi eniha amadi dan membelanya, ‘Orang-orang di sini jahat anakku, mereka mau membunuh saya’ ucap eniha amadi dalam tangisannya. 


Yosua tidak tahu siapa eniha amadi, karena usia eniha amadi ia taksir seusia ibu kandungnya sendiri, maka ia sapa saja eniha amadi dengan nama amai atau mama amadi: mama bungsu. 


‘Mama tinggal dengan saya saja, ada beras, sayur, ikan kaleng, telur, gula-kopi, amai jangan minta-minta sama mereka’ ucap Yosua kepada eniba amadi. Karena kasihan Yosua tidak takut sama sekali dengan ekspresia wajah eniha amadi yang memang murni sangat menakutkan, sekali melihat saja kita tidak bida luput, ingatan kita akan selalu merekam dengan jelas paras wajahnya yang menakutkan itu, sungguh tidak bisa dibayangkan.


‘Sungguh keterlaluan orang-orang itu mama. Mereka bisa-bisa bunuh mama, ini luka parah semua. Besok kita mantri yah’ ucap Yosua ketika dengan jelas melihat tubuh eniha amadi yang penuh luka babak belur. Masyarakat memukulnya dengan kayu buah yang besar, parang, batu, dan anak panah, ‘Sakit sekali anakku. Sakit sekali badan mama semua. Mereka jahat’, balas eniha amadi sambil menunjukkan ekspresi sakit.


‘Anak sepertinya bukan dari wilayah sini?’ tanya eniha amadi dengan tatapan tajam dan serius, ‘Benar mama’ jawab Yosua dengan kaget, ‘Mama bisa tahu juga yah dengan cepat’, tambah Yosua dengan tenang dan sopan, ‘Mama bisa lihat anak pu keluarga semua, kalian bukan orang sini. Kalian orang jauh di sana. Kalian semua baik’, balas eniha amadi, kali ini ia bicara dengan normal, sekalipun luka di tubuhnya cukup parah ia bisa menahanya, ia tampak baik-baik saja. 


‘Benar Mama, saya guru baru di sini. Mungkin baru menjelang satu Minggu saya di sini’ ucap Yosua, ‘Mama ini pasti bukan orang sembarang’ ucap singkap dalam hati, ‘Jangan takut. Mulai sekarang saya akan tinggal dengan anak’ ucap eniha amadi. Ia bisa mengetahui isi hati orang, apa yang orang ucapkan dalam hati dengan cepat akan ia ketahui dan bongkar di hadapan kita. Ia juga bisa melihat masa lalu dan masa depan orang-orang tertentu yang ia jumpai. Untuk ini banyak orang yang pernah hidup di jamannya selalu punya cerita.


‘Mama tinggal saja sama anak. Jangan jalan-jalan lagi ke orang-orang di kampung sana. Mereka bisa marah dan pukul mama lebih parah lagi’ ucap Yousa meminta supaya eniha amadi hidup dan tinggal bersamanya.


‘Paguru Yosua, saya dengar kemarin malam eniha amadi ada masuk di rumah paguru dan sekarang ada tinggal sama-sama dengan paguru di rumah’ tanya paguru Eman, rekan guru Yosua di sekolah, ‘Benar pa Eman, saya kasihan dengan dia. Masyarakat hampir saja bunuh dia. Padahal dia perempuan, umur mirip mama-mama kandung kita di rumah’ jawab Yosua dengan sedikit emosi.


‘Minta maaf paguru. Nene itu setan, ada setan yang hidup dan tinggal di dalam dirinya, ia bisa haus darah dan daging manusia, paguru Yosua harus hati-hati. Minta maaf paguru, saya hanya ingatkan saja’ ucap Paguru Eman mengingatkan dengan baik-baik kepada paguru Yosua, ‘Saya tidak bisa percaya pa Eman. Itukan kata masyarakat, kalau untuk saya dia juga manusia. Buktinya kami dua baik-baik saja’ balas Yosua penuh meyakinkan.


'Paguru bukan orang sini jadi memang akan sulit percaya. Tapi dengan berjalannya waktu, paguru pasti bisa percaya’ terang pa Eman, tambahnya ‘Kemarin eniha amadi datang ke pa Yosua malam-malam, asalkan pa Yosua tahu, ia sudah banyak kali dibunuh oleh beberapa orang di sini, yang juga punya pegangan, tapi dia kuat, ia tidak mudah mati’ ungkap paguru Eman menjelaskan lebih detail lagi ihwal peristiwa kemarin, ‘Tapi yang malam itu saya lihat, mama dia memang terluka sangat parah, tapi pagi-paginya aman-aman saja, malamnya jangankan luka, bekasnya pun tidak ada’ jawab Paguru Yosua menanggapi pembicaraan paguru Eman,.


‘Mama dia juga saya rasa memiliki atau membawa sesuatu, karena dia tahu semua tentang saya padahal malam itu kali pertama kami bertemu. Dia juga ramalkan beberapa masa depan untuk saya’ tambahnya, ‘Jangan bicara ke mereka, diam’ tiba-tiba muncul bisikan suara di telinga Yosua, ‘Baik mama’ jawab Yosua dalam hati, ‘Baik paguru Eman. Pada intinya itu tidak ada manusia yang suci, tidak ada juga manusia yang jahat, kita semua sama. Mama dia mungkin menurut paguru dan orang-orang asli sini jahat, tuba atau kego (penyihir atau dukun pembunuh orang), setan besar dan lain-lain. Tapi bagi saya dia hanyalah seorang perempuan tua yang mirip mama saya, yang mungkin hanya mengalami sedikit gangguan mental’ tegas paguru Yosua menutup pembicaraannya dengan paguru Eman. 


Paguru Yosua pulang ke rumah. Interior rumah sudah berubah, kayu di tungku sudah penuh, tempat penyimpanan airnya juga terisi penuh, ‘Mama dia yang bikin semua ini pasti. Tapi tidak mungkin juga, bagaimana bisa kayu-kayu besar ini mama dia yang bawa’ pikir-pikir Paguru Yosua dalam hati. Ia keluar rumah dalam keadaan persiapan kayu, air, dan bahan makanannya menitis hampir habis, tapi sepulang sore semua sudah lengkap. Ada jenis kayu besar dengan ukuran besar, kayu pinus beberapa buah. Kayu ini hanya bisa dipikul oleh satu atau dua orang pria, kebanyakan laki-laki memilih membelanya menggunakan kampak ke dalam beberapa potong bagian kemudian membawanya sedikit demi sedikit ke rumah.


Selain kayu-kayu besar yang mengundang tanda tanya, ada juga air di tempayan yang terisi penuh. Rasa airnya juga segar, beda dengan air hujan, atau air yang biasa ia ambil, dari tekstur airnya, Yosua tahu bahwa ini adalah air pegunungan tinggi yang berkualitas baik. Ia masuk ke dalam rumah, ia jumlah ubi dan keladi dengan ukuran besar, ada juga sayur-mayur yang segar dan besar-besar, ‘Mama pasti curi di kebun orang. Siap-siap uang sisa yang ada di tabungan habis untuk tutup denda curian’ ucap Yosua dalam hati, ia kesal, marah, tapi juga merasa lain, aneh, dan ganjil.


‘Mama saya kan sudah bilang dan ingatkan terus-menerus jangan jalan ke masyarakat sana. Kenapa mama jalan ke sana lalu mencuri kayu, air, ubi, keladi, dan sayur. Mama mau cari masalah dengan mereka lagi. Mama ada uang untuk ganti rugi hasil curian semua ini’ marah usia kepada eniha amadi. Yosua tidak tega, ia lebih cepat ambil kesimpulan kalau semua barang yang ada di dalam rumah itu adalah hasil curian, ‘Minta maaf mama, saya salah bicara juga, karna sudah tuduh mama mencuri tanpa ada saksi dan bukti. Saya mau tanya, mama jawab dengan jujur yah, kira-kira ini mama ambil dari mana?’ ucap Yosua memohon maaf dan meminta penjelasan pasti akan asal dari semua barang yang ada di dalam rumah mereka, ‘Anakku, mama tidak curi orang-orang jahat di sebelah itu punya barang. Ini mama ambil di kebun. Mama juga punya kebun, mama juga punya tanah, orang-orang di sanalah yang suka merusak kebun mama dan mencuri sesuatu yang tidak seharusnya mereka miliki’ jawab eniha amadi, ‘kalau anak tidak percaya besok mama akan bawa jalan anak keliling mama punya kebun. Biar anak percaya kalau mama tidak mencuri’ tambah eniha amadi. 


‘Pa Eman. Mama amadi dia memang punya tanah dan kebun besar di sekitar sinikah?’ tanya Paguru Yosua pada sahabat gurunya, Pa Eman dengan ekspresi penasaran, ‘Sejauh yang saya tahu ada, cuman semua sudah diambil alih sama keluarganya yang lain’ jawab pa Eman.


‘Soal saya sedikit bingung. Kemarin saat sore saya pulang ke rumah, hampir sebagian besar kebutuhan rumah dan dapur itu semua lengkap. Kayu-kayu besar penuh di tungku api, keladi dan ibu penuh dalam noken, sayur-sayur segar juga banyak. Awalnya saya kira mama amadi curi warga sini punya, tapi dia sendiri jawab kalau itu semua ia ambil dari tanah dan kebun miliknya, saya heran juga’ tambah Yosua.

 

'Seperti yang sejak awal sudah saya sampaikan pa Yosua. Eniha amadi itu setan, ia bungsu dari tujuh orang perempuan setan besar di wilayah ini. Dia bisa bikin barang saja yang dia mau’, lanjutnya, ‘Saya ingatkan yang terakhir kali pa Yosua. Barang-barang itu pasti hasil dia bunuh orang atau itu semua sebelumnya adalah daging manusia yang dia ubah jadi bahan makanan, kayu, air dan lainnya’ imbuh paguru Eman pada paguru Yosua. Kebetulan mereka sementara ngopi dan merokok di tempat biasa keduanya nongkrong, ‘Jangan langsung ambil kesimpulan seperti itu pa Eman, tidak baik’ bantah Yosua, ‘Mama amadi bilang mau tunjukkan kebunnya ke saya. Saya akan lihat sendiri kayu, air, ubi, keladi, dan sayur-sayurannya langsung. Saya juga nanti langsung petik di tempat, biar rasa penasaran ini hilang’ tegas Yosua.


Keesokan harinya, Yosua dan eniha amadi pergi ke hutan. Mereka tiba di tempat yang sebelumnya tidak pernah Yosua lalui, Mama, ini di mana, sepertinya kita salah jalan mama’ tanya Yosua dengan sedikit takut karena jalan yang mereka lalui tidak seperti yang biasanya ia lalui saat berburu burung, kuskus, atau babi hutan bersama para pemuda kampung, ‘Kalau takut jangan lihat jalan, pegang tangan mama dan coba pejamkan mata’ minta eniha amadi dengan ekspresi hangat dan tenang, ‘Baik mama’ jawab Yosua, ia sudah mulai kedinginan 


‘Ini di mana Mama’ tanya Yosua dengan penasaran, ‘Coba lihat di bawah sana itu di mana’ jawab eniha amadi sambil menunjuk tangannya ke arah pemukiman warga, ‘Ah itu rumah kita dan Komplek sekolah mama’ jawab Yosua dengan sedikit lambat karena harus dengan saksama memastikan apa yang eniha amadi tunjuk. Mereka ternyata ada di suatu puncak gunung yang diselimuti awan dan embun dingin, ‘Sekarang di mana kebun mama’ tanya Yosua, ‘Di sebelah sini’ eniha amadi menari Yosua, dan menunjukkan kepada Yosua kebunnya yang super kaya akan tanaman subur, sehat, dan besar-besar, ‘Ini semua nyatakan mama. Ini semua mama yang kerja dan tanam?’ tanya Yosua dalam ketakjubannya yang tak terjelaskan, ibarat mimpi, eniha amadi menganak Yosua ke dunia kayangan yang penuh makanan, harta karun, dan semua rahasia dunia, ‘Coba petik salah tebu dan buah yang ada. Lalu kamu rasakan’ sanggah eniha amadi dengan ekspresi bahagia, ia hanya bisa tersenyum-senyum melihat Yosua yang dimabukkan rasa antara kagum, heran, antara dunia nyata dan dunia mimpi. 


Yosua memetik tebu dan markisa yang ada. Tebu di kebun eniha amadi ini begitu manis, ia baru rasa sensasi manis dan segar jenis ini, seumur-umur belum pernah ia rasa tebu dengan kualitas yang sama. Ia juga menikmati buah markisa, rasanya manis. Tubuhnya kaget, saraf-saraf terbangun. Ia tampil bersemangat sekali, darahnya mengalir lancar tanpa tersendat-sendat, ‘Jadi mama tidak curi. Mama makan dari apa yang mama tanam sendiri. Orang punya itu orang punya, kita punya yah itu kita punya’ ucap eniha amadi menyadarkan Yosua yang larut menikmati tebu, buah markisa dan pemandangan kebun milik eniha amadi nun menawan asri, ‘Kalau air minum kemarin itu, Mama timba di air terjun yang ada di belakang kebun itu’, ia melanjutkan ‘biasa setelah mama kerja, atau rasa panas, mama biasa minum di mata air itu. Mama juga biasa mandi di situ’ tambah eniha amadi, ‘Indah sekali air terjunnya mama. Saya bisa minum dan cuci muka sedikit di sanakah?’ tanya Yosua dengan nada penuh mohon kepada eniha amadi, ‘Bisa, mimis tebu dan nikmati buah yang sudah anak petik itu dulu’ jawab eniha amadi dengan tulus.


Yosua menghampiri air terjun, airnya jernih sekali, indah, banyak kupu-kupu warna-warni bermain di atas muka air seperti tempat permandian para bidadari kayangan. Yosua mencelupkan tangannya dengan semua daun lalu meminum air alam yang alamiah itu, ia meneguk air itu sebanyak tiga kali. Ia juga membilas wajahnya yang kusam letih dengan air itu. 


‘Mama kebun besar seperti ini, mama sendiri yang kerjakan atau ada anggota keluarga lain lagi yang bantu?’ tanya Yosua sambil melihat ikan-ikan indah sedang bermain di dasar air terjun nun biru tajam, ‘Kebun ini milik mama sama enam kaka mama yang lain’ jawab eniha amadi, ‘enam kaka yang lain maksudnya?’ tanya Yosua lebih dalam. 


‘Kami ada tujuh orang bersaudara anak. Mama ini yang bungsu. Gunung ini milik mama, tapi saat bikin kebun, kaka-kaka mereka juga bantu. Gunung-gunung besar yang tinggi menjulang dan penuh misteri di negeri ini itu semua punya pemiliknya anakku. Anak lihat gunung yang tinggi di sana, di sana, di sana, itu semua ada kebun dari keluarga mama’ jelas eniha amai, ‘Terus bagaiman dengan gunung Deiyai, gunung Dogiyai, gunung Tiho, gunung Pegaitakimai, gunung Kobouge, gunung Gamei, dan gunung lainnya mama? Itu juga milik keluarga mama juga?’ tanya Yosua sambil menunjuk ke arah gunung Deiyai, gunung Kobouge, dan gunung lainnya.


‘Benar, di sana ada mama punya kebun juga. Salah satu kaka mama tinggal di sana juga. Ada kebunnya yang besar juga. Lalu kami kerjakan sama-sama’ jawab eniha amadi dengan manis menggenang kebersamaannya bersama kaka-kakanya bekerja membuat kebun, ‘kalau di danau-danau itu bagaiman mama. Danau Tigi, Danau Paniai, dan Danau Tage?’ kembali Yosua bertanya kepada eniha amadi.


‘Danau-danau itu juga tempat permandian kami. Tapi juga sekaligus kolam tempat kami memelihara ikan. Kebetulan ada tiga orang kaka mama yang suka pelihara ikan, jadi ada banyak ikan yang mereka pelihara. Satu kaka di danau Paniai, satu di danau Tigi, dan satunya kali di danau Tage. Mereka juga suka mandi di sana. Jadi biasa giliran, kali sekarang di air terjun, berarti kali berikut di danau, atau sungai-sungai kecil yang ada’ jawab eniha amadi, lanjutnya, ‘Asal Yosua tahu, selain air tawar, keluarga mama juga ada di air garam, di laut, di pantai-pantai dan pulau-pulau indah. Di raja ampat, di sana masih ada banyak sepupu mama juga.’ Ungkapnya,


‘Baik anakku. Sekarang jelaskan, jadi mama tidak curi seperti yang anak kira. Yang biasa curi itu manusia-manusia munafik itu. Mereka yang selalu curi mama sama kaka punya hasil kebun di gunung dan hasil peliharaan di lembah, sungai, dan danau-danau. Tapi mama kami tidak biasa marah lama-lama. Karna sebagai perempuan dan mama kami sayang anak-anak kami. Cuman apakah mereka semua bisa seperti anak Yosua atau tidak, itulah masalahnya’ tegas eniha amadi sambil sedikit tersenyum. Ia meraih tangan Yosua, menyuruhnya memejamkan mata, dan dalam sekejap saja mereka sudah ada di perjalanan pulang. 


Keesokan paginya, Yosua bangun tidur. Ada berubah setelah minum air di terjun itu, tubuhnya lebih ringan, tulang-tulang kembali bugar. Keajaiban yang sama juga ia rasakan di kulit wajahnya, wajahnya kembali kencang dan mudah, tidak ada lagi kerutan-kerutan yang membuat tua wajahnya. Intuisinya semakin tajam, indra-indranya berfungsi. Ia menjadi guru yang pandai. Ia menguasai mata pelajaran dengan cepat dan cermat. Ada beberapa bahasa asing yang ia kuasai. Singkatnya, sejak pengalaman mengunjungi kebun milik eniha amadi ia mengalami banyak perubahan yang signifikan.


Beberapa pastor mendengar desas-desus adanya kebun eniha amadi yang super ajaib. Mereka juga mendengar bahwa dalam tubuh seorang wanita paruh baya bernama eniha amadi ada sosok bidadari cantik, malaikat kayangan. Mereka kemudian berencana untuk memburunya. Mereka membunuh tubuh nenek tua itu, kemudian menyergap sosok malaikat di dalam tubuhnya. Mereka mengembangkan narasi palsu bahwa eniha amadi bukan kerasukan melainkan sakit jiwa yang mempengaruhi, maka solusinya adalah membawanya ke rumah sakit jiwa di pulau Jawa. Banyak warga setempat mulai termakan isu bohongan yang dimainkan oleh beberapa paranormal yang kebetulan adalah imam asal pulau Jawa. 


‘Paguru Yosua, sudah dengar berita dan cerita yang berkembang di masyarakat kita baru-baru ini?’ Tanya pa Eman sambil menyeruput kopi susu di tempat biasa mereka duduk saat jam istirahat atau jam pulang sekolah, ‘Tidak pa Eman, berita apa soalnya?’ tanya Yosua sambil mengunyah beberapa buah kacang renyah yang ia petik dari kebun eniha amadi. 


‘Ada beberapa Pater kita dari Jawa. Mereka bilang eniha amadi tidak dirasuki roh gaib, melainkan hanya sakit jiwa atau sakit mental, jadi mereka berniat baik membawanya di ke Jawa, ke Rumah Sakit Jiwa katanya’ jelas Pa Eman serius, ‘wah! Pa Eman, apakah Pa Eman percaya sama mereka yang baru satu dua hari di tempat kita lalu menarik kesimpulan seakan-akan mereka lebih paham dengan budaya kita?’ balas Yosua dengan nada tidak percaya dan mencurigai para romo.


‘Menurut saya mereka ada benarnya juga pa Yosua. Mereka itu imam, mereka lebih paha., karena sudah mempelajari semuanya’ balas Pa Eman dengan santai, ‘Pa yakin mereka sudah mempelajari seluk-beluk budaya kita. Bicara bahasa ibu kita saja hanya satu-dua kata sederhana, apalagi mau paham sampai ke jantung budaya kita, bayangkan coba Pa Eman. Saya sangat tidak percaya mereka. Pasti ada selubung niat buruk di balik semua ini!’ jawab Yosua dengan tegas, ‘Pemali bicara keras dan kasar ke para pastor Pa Yosua. Kita cobalah beri kesempatan kepada para romo menangani semua ini’ respons Pa Eman, ‘Saya lebih kenal Mama amadi pa Eman’ ucap Yosua, ‘ada banyak hal yang tidak semua warga sini tahu tentang mama amadi pa Eman’ tambah Yosua dengan tegas.


Suatu ketika, beberapa guru menganak pagurh Yosua ke hutan dengan maksud berburu. Ada sekitar 3 hari 3 malam mereka habiskan di hutan. 


‘Selamat sore mama....bikin api yang besar...hari ini kita makan besar...kita pesta daging...!’ teriak Yosua dari depan jalan masuk rumah dengan penuh antusias dan semangat. Namun kali ini ada yang aneh. Tidak ada balasan suara dari dalam rumah tungku, ‘Mama...mamaa....’ tidak ada suara sama sekali. Yosua melepaskan hasil buruannya di atas rerumputan bercampur tanah hitam dan kerikil kecil batu, tiga ekor kuskus putih dan satu ekor babi hutan sedang, dan tiga ekor burung elang hutan. Yosua terlambat, eniha amadi sudah dilemahkan dan diculik. Ia di bawa ke pulau Jawa oleh para romo tanpa sepengetahuan Yosua. Ia menangis menjadi-jadi. Ia menyesal, ia tidak menjaga mamanya, bukan dari warga lokal yang e namun dari tangan si jahat yang lebih kejam. Ia sedih sampai tertidur lelap.


Bersambung....

Komentar

Postingan Populer