ENAGO DAN MAHAR EPISKOPAL

 



*Ewanaibi Degei Siorus


Yosep, berasal dari sebuah klan marga Gaki, sebuah klan terkecil dalam suku Mee. Mereka hanya tinggal dua bersaudara saja, ia dan adiknya Amos Gaki. Yosep karunia seorang anak laki-laki, Neles biasa disapa Enago dan dua orang anak perempuan, Amelia dan Skolastika. Sementara Amos dikarunia tiga orang anak perempuan, Grace, Riani, Ria serta seorang putra tunggal, Benny. Itu berarti pewaris marga Gaki hanya tinggal dua orang, Neles dan Benny.

Yosep dan Amos bingung, mereka berdua hendak kawin lebih namun karena mereka memeluk keyakinan Katolik tulen mereka tak dapat. Yang bisa kedua ade-kaka kandung ini harapkan ialah Benny bisa bertobat dan mendapatkan istri yang bisa memberikan mereka keturunan laki-laki agar marga mereka bisa tetap eksis. 

Keadaan tambah parah ketika Enago memutuskan masuk Seminari dan memilih menjadi imam.

“Mama, Enago mau lanjut masuk Seminari. Ini formulir pendaftarannya” ujar Enago kepada ibunya di Dapur saat sedang menyiapkan makan malam.

“Ya Tuhan, kenapa bisa begini?” kaget Mama Sisil dalam hati. Ia sudah sejak lama berdoa agar  Enago tidak memilih untuk menjadi seorang imam, karena tentu bapa dan bapade akan menolak, sebab mereka datang dari marga yang langka. Sisil juga menolak kenyataan ini sebab jauh sebelumnya sebagai seorang wanita dari dalam suku Mee, ia sudah mengalami dan mengikuti tradisi “Daa Owapa Bagume” (Mimpi di kemah sakral).

Di mana, setiap gadis remaja suku Mee yang mengalami haid pertama akan diasingkan selama satu Bulan bersama bercak darah haidnya ke suatu pondok atau kemah khusus yang sudah disiapkan. Di dalam kemah sakral (daa owapa) ini anak tersebut akan melihat garis kehidupannya, termasuk pasangan, anak-anak, dan semua dimensi kehidupannya dalam rupa mimpi (bagume). Masyarakat Mee percaya mimpi ini tidak pernah meleset. Sisilia juga mengalami mujizat serupa.

“Baik Enago. Mama selalu mendukung Neles, cuman tidak tahu dengan pikiran Bapa dan Bapade Amos. Nanti kita bicara lagi ke mereka. Mama usulkan saja Enago minta bapa sama bapade restu untuk sekolah di seminari, tapi bukan untuk jadi pastor, hanya untuk sekolah dan dapatkan pendidikan yang jauh lebih baik saja. Nanti bicaranya begitu ke kedua bapa”, ucar Mama Sisilia dengan lembut menguatkan anak semata wayangnya.

Makanan malam sudah tersedia. Enago, mamanya, dan kedua saudarinya sedang duduk bersama menunggu bapa mereka yang sibuk sebagai kepala Distrik. Seperti biasanya, ia harus keluar pagi-pagi dan pulang bisa jauh malam karena tumpukan tugas, dan tanggung-jawabnya di daerah. Belum lagi daerah administrasinya penuh dengan masalah. Pihak-pihak yang bertikai selalu memanggilnya keliling kampung untuk menjadi hakim dalam penyelesaian yang ada. Yosep dikenal sebagai pemimpin kampung yang bijaksana dan adil, oleh karenanya warga distrik memercayakan banyak masalah kepadanya untuk ia tengarai.

“Selama malam semua” ada suara tergesa-gesa dari luar halaman rumah. Rupanya itu adalah Yosep. Bajunya berlumuran darah, ada belas tembakan anak panah di lutut kirinya dan lengan kanan. Untung saja kikis.

“Ya Tuhan, bapa, ada apa ini” teriak Enago yang membukakan pintu. Bapanya dibopong oleh dua orang lelaki muda asal kampung setempat.

“Bapa tadi kena tempat saat mau selesaikan masalah ulayat antara dua kampung di Timur” jawab seorang pemuda dengan suara terputus-putus karena harus membopong Yosep dari jarak jalan yang makan kilo.

“Bapa tidak apa-apa. Jangan terlalu takut, ini hanya luka sobekan kecil. Sekarang cepat ke ujung, panggil tanta suster Siska”, suara datar Yosep menenangkan keluarga kecil untuk tidak cemas dan takut berlebihan sebab ia akan segera pulih.

Enago dan salah seorang pemuda tancap gas motor menjemput suster Sisca, seorang kepala Puskesmas di daerah itu. 

“Padahal Enago hari ini mau minta Bapa restu untuk masuk seminari tapi om Eko. Bapa sakit berat begini lagi. Enago pendamkan dulu pasti niat itu, bapa sembuh total baru Enago sampaikan” ucar Enago membuka pembicaraan pendek dengan Om Eko, seorang pemuda yang tadi menolong bapanya.

“Itu baik Eko. Itu cita-cita mulia. Tapi baiknya, tunggu beberapa hari kedepan, baru Om Enago sampaikan niat itu. Om yakin pasti bapa mau. Cuman akan sedikit berat karena om Enago mereka punya marga ini tinggal Bapa di rumah sama Bapade Amos jadi. Bapa berdua ini nanti berat” balas Om Eko membuka wawasan Enago untuk menimbang lagi niatnya karena mereka datang dari klan langka.

“Benar sekali Om. Tadi sore, Mama juga bilang begitu. Baik, Enago akan cari kesempatan yang tepat untuk bicara dengan kedua bapa” tutup Enago.

Mereka sudah sampai di ujung jalan. Rumah tanta Sisca terbuka, ia sedang asyik duduk nonton serial drama India dengan serius.

“Halo...selamat malam tanta” sapa Enago memanggil tantanya.

“Halo juga...Ihh Enago, Om Eko, ada apa malam-malam begini. Mari masuk dulu sudah” balas tanta Siska dengan sedikit terkejut karena melihat Enago dan om Eko mengunjunginya malam-malam.

“Begini tanta, tadi Bapa Enago kena tempat saat turun amankan masalah di Timur, kena tembak anak panah di lutut kiri dan lengan kanan. Jadi tanta bisa ke rumah sekarangkah” ucap Om Eko dengan tenang dan penuh permohonan.

“Ya ampun, kasihan sekali bapa Enago. Anak-anak di Kampung Timur sana memang kurang ajar. Mereka macam tidak bisa bedakan mana orang baik, mana orang jahat. Baik-baik tanta ke sana sekarang. Kamu berdua tunggu tanta yah, tanta ambil kotak P3K” balas tanta Sisika mendengar Yosep kena tembak. Ia ke belakang mengambil perlengkapan medis yang sudah ia siapkan. Berdasarkan penjelasan Om Eko, tanta Siska membawa obat dan alat medis yang dibutuhkan untuk memberikan pertolongan pertama.

Mereka tiga (Enago, Om Eko, tanta Siska) tiba di rumah. Yosep diobati dengan segera oleh tanta Siska yang sudah berpengalaman. Ia sekarang tinggal mengonsumsi obat yang sudah disiapkan. Tanta Siska menyarankan Yosep untuk tidak terlalu mau terjun lebih dulu ke medan masalah demi keselamatannya dan nasib anak istrinya, apalagi ia tidak punya banyak keluarga yang se-marga dengannya.

“Bapa, Enago mau masuk Seminari” suara ini mengagetkan Yosep yang sedang serius membaca koran di temani segelas teh hangat dan tembakau. Ia cuti satu Bulan untuk pemulihan. Jadi, saat-saat cuti di rumah ia habiskan untuk membaca koran dan menonton berita.

“Enago. Biasa dengar nasehat yang selalu bapa bilang?” balas Yosep dengan wajah kalam dan suara tegas serius. Kemudian balik membaca Koran.

“Sudah bapa. Enago sudah dengar. Enago sekolah saja di Seminari, tapi bukan untuk jadi imam” balas Enago dengan sedikit gugup bercampur takut. 

“Tidakk...tidak...Enago. Tidak bisa begitu, tidak ada aturan itu. Kalau masuk Seminari, ya harus jadi imam. Jangan ikut gaya orang-orang yang suka manfaatkan fasilitas pendidikan gratis di seminari, setelah itu bikin kasus moral, dan keluar tinggalkan panggilan, robek jubah. Siapa yang ajar Enago pemikiran itu. Bapa ini sudah jadi dewan pengurus Gereja lama” ucap Yosep dengan nada suara tinggi, sehingga anggota keluarga seisi rumah bisa ikut mendengarkan.

Mama Sisil menguping dari dapur sambil memotong bumbu, sesekali ia terlihat mengusap air mata, ia bisa merasakan batin anaknya yang bergejolak lantaran dibentak ayah sendiri. Ia tidak bisa membantu Enago dan menyelamatkan masa depannya. Sebab ia juga sadar bahwa Tuhan hanya memberikan satu anak laki-laki, dan Tuhan pun mau mengambilnya. Benar bahwa Yosep sudah menjabat sebagai Ketua Dewan Paroki selama tiga periode, sehingga ia cukup paham seluk-beluk dinamika pendidikan menjadi imam.

“Enago...Enago” ucap Yosep sambil meremuk Koran dan meletakkannya dengan keras ke atas meja bacanya.

“Baik-baik. Bapa harus bel Bapade Amos lagi. Ia juga hadir, lalu kita bicarakan sama-sama. Bapade dia juga harus dengar sendiri apa yang Enago mau, juga Enago juga harus dengar apa yang bapade mau” ucap Yosep sambil melipat kedua tangannya dan menatap Enago.

“Baik bapa. Enago minta maaf” balas Enago semakin gugup dan takut, karena ayahnya tidak pernah membentak dan bicara serius dengannya dengan nada suara yang tegas sebelumnya.

Amos datang dengan kedua anak putrinya, Ina dan Riani yang masih kecil. Mereka memarkir motor. Kursi sudah disiapkan. Enago didampingi mamanya yang terdiam tenang, merangkul anaknya. Sementara Yosep dan Amos dengan wajah penuh tendensi siap mengadili Enago. Suana sore itu lebih mirip suasana dalam ruangan pengadilan, Enago semacam narapidana yang bersalah, didampingi pengacara yang adalah ibunya sendiri, berhadapan dengan Amos wakil hakim dan Yosep hakim utama, sementara saudari-saudari Enago adalah saksi dan hadirin di ruang sidang.

“Enago. Masuk seminari dan jadi imam itu baik, itu cita-cita yang luhur dan mulia. Bapa kami tidak larang dan dukung” ucap Amos membuka pembicaraan yang serius sore itu.

“Cuman Enago lihat. Anak laki-laki dalam rumah hanya Enago saja. Lihat di sebelah-sebelah Enago. Semuanya perempuan. Kalau perempuan-perempuan sebagiannya adalah laki-laki, Bapade yang siap bawa Enago ke seminari menghadap Pastor mereka. Tapi tidak, Tuhan karuniakan Bapade sama bapa laki-laki cuman dua orang, Enago sama Benny. Tapi Benny sudah lama Bapade coret dari dalam kartu keluarga, karena suka bikin masalah, keluar masuk penjara. Sekarang tidak tahu dia ada hidup di dunia mana. Padahal dia sebagai anak laki-laki pertama dan tertua semestinya tinggal tenang dekat orang tua, kerja jelas, kawin jelas, dan bisa wariskan generasi. Marga kita ini sedikit lagi punah Enago. Bapa kami hanya taruh harapan sama Enago. Tapi kenapa bisa begini?” ucap Amos dari nada yang serius, tegas, dan tinggi itu berubah menjadi nada yang datar, rendah, dan penuh kesedihan.

“Itu Enago. Alasan paling utama dan terutama kami Bapa-Bapa agak berat dengan niat Enago. Bukan berat dengan cita-citanya tapi berat dengan kenyataan yang ada. Enago adalah nafas terakhir bapa kami, karena pewaris marga, garis akhirnya ada di Enago. Kalau kalian saudara laki-laki banyak, pasti bapa kami bisa relakan, tapi ini hanya Enago dan Benny saja. Kalau Benny orang yang jelas, pasti bapa kami bisa lepas Enago. Tapi Enago lihat sendiri, Benny sudah hilang kabar dari kita keluarga semua. Ia hidup entah di mana dan dengan siapa, kita semua tidak tahu” tambah Yosep dengan serius kepada anaknya.

“Enago sama Benny sama-sama enago, anak tunggal. Mirip juga dengan bapa kami berdua. Kalian berdua itu bapa nafas terakhir peradaban marga kita, Gaki. Benny sudah pergi, menghilang entah kemana. Sekarang tinggal Enago saja. Apakah Enago juga benar-benar mau pergi dan masuk Seminari dan jadi imam? Bapa kami tanya?” ucap Amos, bapade Enago serius menanyakan komitmen Enago yang mau masuk Seminari dan menjadi imam.

“Enago kurang tahu Bapa. Apakah nanti Enago jadi imam atau tidak. Tapi yang jelas Enago akan berjuang dan berusaha untuk jadi orang baik bagi banyak orang” jawab Enago dengan gugup dan sopan.

“Namanya juga panggilan. Entah jadi imam atau tidak itu kehendak Allah. Kan Enago sudah merasa terpanggil, jadi kita doakan semoga kehendak Allah yang terjadi” suara seorang wanita dengan rendah dan tenang. Ia adalah Sisilia, ibu kandung Enago. 

“Jika Tuhan yang memanggil dan memilih Enago. Saya kira apa yang menjadi kecemasan dan kegelisahan batin kita orang tua terkait marga dan lain-lainnya akan Tuhan tambahkan dan penuhi dengan cara Tuhan sendiri yang diluar pikiran kita Manusia” tambah mama Sisil dengan lembut meneguhkan dan mencairkan keadaan tegang yang ada, sampai teh panas yang mereka sediakan sudah menjadi dingin, terlihat dari semilir air yang turun mengikuti garis gelas kaca secara beriringan.

“Mama bilang juga benar. Tuhan pasti punya rencana di balik semua ini. Tapi kita juga sebagai manusia punya akal budi untuk mempertimbangkan perkara-perkara dalam hidup secara realistis. Buktinya pewaris marga hanya Enago sama Benny, kakanya yang tidak jelas itu” balas Amos dengan nada kesal.

“Saya tidak bisa menyadari dengan akal sehat saya kalau Tuhan memiliki rencana yang indah di balik semua ini?” Kembali balas Amos dengan nada yang menyangsikan semua yang tadi diucapkan dengan lembut dan sopan oleh Sisil, ibu kandung Enago.

“Benar sekali apa bapade bicarakan, tidak ada hal yang keliru. Saya hanya mau sampaikan apa yang saya rasakan sebagai mamanya Enago. Sebagai orang tua, saya hanya mau yang terbaik untuk putra semata wayang saya. Dan jika menjadi imam adalah pilihan dan cita-citanya, saya tidak berani menolaknya karena itu berurusan langsung dengan Tuhan. Karena anak ini hanya titipan Tuhan, bukan milik saya, saya hanya membantu Tuhan menghadirkan anak ini ke dalam dunia, dan soal masa depannya semuanya ada dalam tangan Tuhan” balas mama Sisil, ia tak kuasa menahan air matanya.

Ia menangis menjadi-jadinya, ia memeluk putranya. Enago juga tidak kuasa menahan air matanya, suara tangisan ibunya dan kata-katanya begitu menusuk hatinya, tidak ketinggalan adik-adik perempuannya yang tadinya diam juga turut terlarut dalam balutan kesedihan yang pelik.

Kedua bapa hanya terdiam, beberapa kata-kata Sisil membuat mereka tersadarkan. Roh keduanya memang kuat, namun daging mereka, rasa kepemilikan marga memang lemah. Mereka terkancing dalam dilema, antara panggilan dan pemalingan.

Mereka juga paham ajaran agama, keduanya aktif dalam kehidupan menggereja. Namun dalam batin keduanya merontak suatu pertanyaan, “Mengapa dari semua marga besar yang ada? Mengapa dari semua anak laki-laki yang ada? Allah hanya memilih satu-satu anak tunggal mereka, satu-satu nafas terakhir peradaban marga mereka? Mengapa Allah tidak memberikan mereka keturunan laki-laki yang banyak? Mengapa Benny Allah pisahkan dari rangkulan mereka? Mengapa Allah menguji mereka sehebat ini?” Demikianlah gelombang pertanyaan-pertanyaan reflektif dan eksistensial yang kedua ade-kaka ini lontarkan ke dalam Singgasana Surga di sore mengharukan dan menggetarkan itu.

“Baik Enago. Bapa kami ikhlas Enago jalan masuk ke Seminari. Tapi bapade pesan satu hal sama Enago” ucap Amos dengan tegar.

“Tolong saat jam-jam doa nanti, waktu-waktu kosong. Tolong sekali supaya Enago berdoa, semoga Allah selamatkan nasib marga kita yang di ambang kepunahan. Tolong minta sungguh-sungguh kepada Tuhan, supaya kita tidak punah. Supaya Benny, kaka Enago itu bisa bertobat, kawin jelas, dan dapatkan keturunan laki-laki yang banyak. Tolong sampaikan ini dalam doa konsekrasi saat Pastor angkat hosti dan anggur jadi tubuh dan darah Kristus” ungkap Amos dengan mata berkaca-kaca.

Ia tidak bisa tumbang dalam kepatahan hati dan tenggelam dalam samudera air mata, ia tegar kuat. Yosep, bapa Enago tidak bisa banyak bicara. Ia pun dilema, sebab Enago bukan orang lain, adalah darah dagingnya sendirk, jadi baginya yang layak bicara adalah Amos, sebab ia tidak mau tercatat dalam memoar kehidupan Enago sebagai ayah yang tidak merestui niat mulia anaknya, menjadi pelayan utama di Mezbah suci Tuhan.

Enago merasa puas, sekalipun kepuasan ini harus ia dapat dari hasil konflik batin dan perkara bumi-surga yang bukan ringan dengan orang tua kandungnya sendiri. Ia senang namun bukan dengan ekspresi girang gembira, melainkan wajah penuh tanggung jawab. Ia harus mengikuti Tuhan di jalan penuh mistri.

Enago ditemani mama dan beberapa adiknya ke pasar. Ia harus membeli beberapa persyaratan untuk masuk seminari dan untuk tinggal di asrama. Mereka pergi ke pasar. Semua keperluan sudah mereka belanjakan. Enago pulang siap-siap dari sore sampai tengah malam. Besok ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk ke Bandara. Amos dan Yosep mempercayakan proses persiapan sampai tibanya Enago ke tangan ibu kandungnya. 

Bukan karena mereka tidak setuju, bukan karena mereka belum total mempersembahkan putra tunggal mereka, melainkan karena kesedihan mereka akan semakin berat, trauma mereka akan semakin panjang, jika dengan mata kepala sendiri merelakan sisa darah marga mereka menghilang dalam misteri jalan pemuridan Yesus. 

Om Eko datang pagi-pagi, ia menyewa mobil rental ukuran keluarga.  Mereka menggunakan mobil itu. Enago, mamanya, dan semua adik-adik perempuannya masuk mobil. Mereka mengaspal menuju Bandara. Enago dan ibunya naik pesawat, mereka sudah mengudara, memasuki wilayah awan tebal, dari jauh keduanya melihat kota yang hampir menguburkan niat seorang anak tunggal menjadi bentara Allah di kemudian hari.

Mereka tiba di Jayapura, di seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Waena, sebuah seminari menengah yang relatif muda di tanah Papua namun sangat subur menghasilkan imam. Enago di terima dengan baik. Ia bisa lulus tes degan cepat. Tiba saatnya ia harus berpisah dengan ibunya.

“Enago. Ini semua bukan maunya Mama, bukan maunya Bapa sama Bapade Amos, bukan pula maunya Enago dan keluarga, bukan, bukan kemauan kita semua. Mama mau bilang bahwa ini semua kemauan Tuhan. Tuhan sendiri yang mau Enago masuk seminari sini dan ikut dia. Mama mau bilang Enago satu hal: Yesus juga Enago. Ia adalah Enago sejati, sebagai Enago, Neles harus ikut dan belajar dari cara hidup Yesus sebagai Enago Sejati” demikian pesan Ibu kandung Enago. Ia tinggal dua tiga hari lalu pulang kembali ke kotanya.

Enago harus memperjuangkan apa yang sudah ia putuskan, mengikuti Yesus di jalan panggilan imamat yang terkerikil dan berliku. Ia juga harus mempertanggung-jawabkan keputusannya masuk seminari dan puji Tuhan jika dapat ditahbiskan menjadi sorang imam. Ia harus selalu mendoakan agar marganya selalu eksis, tidak punah seperti beberapa marga lain dalam sukunya, suku Mee.

Enago adalah tipe anak penurut, aktif, dan cerdas. Ia tahu ia tidak punya saudara laki-laki. Hanya ada satu Benny, namun sampai sekarang ia sendiri tidak tahu, di mana gerangan keberadaan saudaranya itu. Setiap hari ia membaca Koran Tempo, Majalah BASIS, Majalah Hidup, dan surat kabar lainnya. Ia juga membaca narasikan kematian orang-orang asli Papua dari buku Memoria Passionis seri pertama sampai seri terakhirnya. Ia semakin sadar bahwa bahwa bukan saja marganya yang di ambang kepunahan namun semua kaum bangsa dan rasnya sudah, sedang, dan selalu berada di bawah bayang-bayang genosida, etnosida, ekosida, dan spiritsida: sebuah kepunahan multidimensional problematik. Jadi selain memohon keselamatan bagi Marganya, Enago juga harus berdoa bagi keselamatan jiwa-jiwa bagi bangsa dan tanah air tercintanya Papua.

Ia sudah dekat dengan bacaan-bacaan kritis. Buku-buku filsafat dan teologi kritis ia lahap habis. Ia berziarah dalam sejarah masa lalu bangsa Papua lewat buku-buku sejarah yang ditulis orang-orang Belanda, para misionaris, hingga naskah-naskah secara yang lahir dari rahim intelektual anak-anak asli Papua sendiri: Benny Giyai, Agus Alue Alua, Neles Tebay, Markus Haluk, Pdt. Socrtes Zofyan Yoman, dan lainnya.

Dari bacaan-bacaannya ini ia memosisikan pergulatan pribadinya sebagai nafas terakhir dari nasib marganya, Gaki menjadi nafas terakhir dari bangsa dan tanahnya, Papua. Ia mendapatkan urapan khusus dari ibu bumi dan manusia Papua, yang biasa orang sebut Papuana atau Papuani itu. Kisahnya terjadi di Buper.

Dalam suatu perjalanan sore hari. Ia bersama tiga orang rekan seminaris mengunjungi Goa Maria Mama Fajar Timur. Mereka dikejutkan dengan bunyi petir yang dahsyat di siang hari yang terik. Setalah itu angin besar mengitari mereka. Hujan deras turun. Mereka harus berteduh di dalam Goa itu. Di luar dingin, namun nuansa dalam goa memberikan kesan hangat.

Ketiganya tertidur pulas. Dalam mimpi atau dasar secara samar-samar Enago melihat ada seorang wanita muda, masih gadis, tubuhnya bermandikan cahaya, ia mengenakan busana adat khas perempuan Papua sejati dengan hiasan alam yang memukau. Jarak pandang Enago samar-samar. Karena kuasa cahaya yang berdaya kuat Enago terpental ke luar goa, ia terkena air hujan, ia basah kuyuk, namun ia dengan cepat kaget bangun. Rupanya ia tidak basah kuyuk, pakaiannya kering, hanya kepalanya yang basah, seperti habis disiram air oleh seseorang. Dengan ketakukan mereka pulang. Rupanya kepala Enago diberkati dengan kharisma yang luar biasa. Ia menjadi anak cerdas dan rendah hati, sehingga banyak dikagumi banyak orang lain.

Enago melewati masa pendidikan dengan lancar. Tidak ada gangguan yang berarti. Ia teringat kata-kata mamanya kalah hendak berpisah bahwa semua ini terjadi bukan atas pangkuan kehendak manusiawi, melainkan suatu rancangan ilahi. Ia tertegun. Tinggal beberapa tahun lagi ia akan ditahbiskan menjadi diakon dan imam. Ia sudah menyelesaikan s1 di bidang Filsafat dan Teologi di  Sekolah Tinggi Filsafat ‘Fajar Timur’ Abepura-Papua. Ia juga sudah melalui masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP), Tahun Orientasi Karya (TOK) dengan rekomendasi baik dari para imam pembinanya. Ia juga melanjutkan s2 di Australia, lulus tercepat dengan nilai summa cum laude (lulusan sangat baik). Ia ditahbiskan menjadi diakon dalam rangkaian acara yang meriah. Kini ia menuju tangga-tangga imamat.

Tanpa disadari, saudari-saudarinya sudah ada beberapa yang memutuskan menjadi suster biarawati. Masalah baru tentu muncul dan menggoyang Enago dan keluarganya atas pilihan adik-adiknya.

“Cukup Enago saja yang menjadi imam, kalian jaga bapa-mama saja di rumah” demikian pesan Enago kepada Emalia, saudarinya yang tua.

“Kalau Amel. Bapa dan Mama sudah restui. Sekarang sudah di kaul kekal dengan para suster yang lain. Tapi adik Grace, dan Ria juga mau menyusul. Mereka sudah ikrarkan kaul ketujuh. Tinggal Skolastika dan Riani saja yang jaga orangtua di rumah” balas Amel menjelaskan situasi adik-adik mereka yang melaju ke panggilan khusus.

“Kalau semua ikut kaka, nanti nasib marga kita bagaimana. Nasib bapa-mama di hari-hari tua bagaimana?” balik tanya Enago meminta para saudarinya mempertimbangkan keputusan mereka.

“Lagi pula kaka sudah lebih dulu, mengalami dan merasakan manis-pahit hidup membiara dan berasrama yang super ketat. Apakah kalian sudah pikir matang-matang” tambah Enago dengan sedikit memberikan mereka cara pandang yang jauh berdasarkan pengalamannya.

“Nanti kaka sampaikan sendiri saja ke mereka. Tapi kali lalu, Bapa, Bapade Amos, sama Mama-Mama mereka tidak begitu berat. Justru sekarang mereka sudah lebih iklhas mendukung cita-cita kami” balas Amelia.

“Benar Amel. Tapi tidak bisa. Kalau kita semua memilih panggilan khusus. Keturunan kita akan habis. Tidak ada pengganti. Akan tinggal nama dan cerita saja kalau dulu pernah ada marga Gaki dan semuanya punah. Amel begitu dengar cerita seperti itu di negeri seberang sana?” kembali tanya  Enago.

Enago mulai gelisah. Ia bingung cobaan seperti apa lagi yang sedang ia hadapi. Ia akan telah kehilangan satu-satunya keturunan laki-lakinya, Benny, kini ia harus merelakan saudari-saudarinya yang memilih panggilan khusus. Suatu rahmat, tetapi sebagai manusia yang memegang adat-istiadat lewat marga ia merasa kehilangan. Banyak adik-adiknya akan pergi. Mereka akan berpisah, walaupun mereka belum beralih abadi dari dunia ini.

Kini tiba saatnya Enago ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia mengundang saudari-saudarinya baik yang berstatus biarawati maupun yang awam, hanya dua orang saja yang awam, yakni Riani dan Skolastika, namun yang lainnya: Amelia, Grace, dan Ria sudah menjadi suster yunior pada kongregasinya masing-masing.

Setelah lama berpisah mereka akhirnya bersua dalam sebuah perayaan iman yang berharga bagi mereka. Amos dan Yosep dikawal istri mereka masing-masing yang sudah bermahkota rambut putih. Enago sudah sejengkal lagi akan menjadi imam. Namanya disebutkan Uskup untuk melanjutkan pendidikan s3 di Eropa. 

“Bapa kami dua senang. Bapa baru sadar, bahwa sekalipun marga kita akan tinggal nama di dunia yang fana ini, namun di akhirat, di surga sana, marga bapa akan jadi mayoritas. Kita boleh saja punah di bumi ini, dan bapa yakin bahwa semua yang datang dari bumi akan menjadi bumi, tapi sesuatu yang menjadi milik surga, milik Allah, akan tetapi abadi. Orang akan cerita marga Gaki sudah hilang, namun para malaikat akan bersuka-ria karena marga Gaki banyak di surga. Jadi, bapa pesan jadilah pelayan Tuhan yang kudus, supaya kalian bisa menjadi salah satu marga yang banyak di dalam kerajaan surga” demikian pesan Amos, yang sudah tua dalam hajatan syukuran keluarga. Ia dan kakanya Yosep, mengisahkan perjalanan anak satu-satunya mereka.

“Kami berdua awalnya terlalu memikirkan daging, namun apalah artinya daging yang semu tanpa jiwa yang abadi? Mama Sisil, ibu kandung dari Pastor Enago ini yang sudah sedikit membuka pikiran kami berdua. Jadi, kalau boleh jujur, pencapaian Pastor Enago sampai hari ini tidak terlepas dari mama Enago. Tidakpapa marga kami punah di dunia, namun dia akan abadi di surga, karena dia sengaja dipunahkan di bumi oleh Allah demi kelancaran misi penyelamatanNya di bumi. Kami punah secara daging supaya banyak jiwa-jiwa terselamatkan bagi Allah, dan ganjaran bagi kami sebagai hamba yang setia, adalah berbahagia bersama Allah dalam perjamuan surga. Jadi, jangan heran ibu-bapa, saudara-saudari sekalian bahwa marga kami sedikit, semua anak kami, kami berdua persembahkan kepada Allah di ladang kebun anggurnya yang luas, karena mereka yang katanya marga besar acuh tak acuh memberikan anak mereka. Kami sayang bangsa dan tanah ini, jadi harta buah hati kami persembahkan” demikian tambah Yosep, ayah kandung Enago yang sudah ringkih.

Ia mengutarakan hal ini dari kursi roda. Ia sudah lumpuh. Ini ada wejangan dan penguatannya bagi dirinya sendiri, anak-anaknya, dan umat yang hadir. Pesan-kesanya ini membuat suasana hening dan mengharukan banyak umat yang terpukul dan tersentuh dengan ucapkan Yosep, seorang tokoh dan panutan yang mereka kenal sejak dulu sebagai sosok yang arif bijaksana, dan kharismatik. Sosok yang tidak takut mati demi keselamatan banyak orang di sekitar yang diamanahkan kepadanya, padahal ia sendiri, tidak punya kerabat dekat selain Amos. 

Enago dan saudari-saudarinya menghabiskan waktu hampir tiga Minggu bersama keluarga. Kembali mereka berpisah lagi. Seorang adik Enago harus pulang lebih dulu, karena ia memilih biara kontemplatif, sebuah biara yang hampir seluruh rutinitasnya habis dalam doa dan doa. Sementara Amelia sudah menjadi salah satu pimpinan biara di Roma. Ria juga sudah menjadi pimpinan kongregasinya di tingkat regional. 

Enago kagum dan bangga dengan adik-adiknya. Mereka sudah menjadi wanita-wanita hebat dan tangguh di jalan Tuhan, tidak lupa mereka juga mewarisi kecantikan para malaikat. Ia merasa didampingi para wanita suci dari surga selama masa-masa misa perdana sekaligus syukurannya. Kini saatnya mereka berpisah. Enago harus ke Austria melanjutkan pendidikan. Di sana selain studi ia juga akan menemani profesornya yang juga adalah seorang pastor paroki di katederal, namanya Pastor Profesor Oriegenes. Profesor Origen sengaja meminta bantuan kepada ordonya di Keuskupan-Keuskupan di tanah Papua, dan Pastor Enago yang mendelegasi kelima Keuskupan. 

“Nama belakangmu Gaki?” tanya Prof Origen dalam mobil yang menjemput Pastor muda Enago di bandara.

“Benar, nama lengkap saya Neles Enago Gaki. Ini memang marga yang tidak sepopuler dari daerah asal saya. Tidak sebesar dan sepopuler marga besar lainnya” jawab Enago dengan sopan dan sedikit rendah hati.

“Tidak. Justru marga Gaki ini yang selalu tergiang dalam benak saya. Kamu ada hubungan darah atau keluarga dengan Louren Gaki? Balik tanya Prof Origen.

“Tidak. Justru saya baru dengar nama itu. Mungkin nama belakang kami kebetulan sama Pater” balas Enago  dalam kebingungan.

“Tidak. Dia juga orang dari daerahmu. Kamu pasti kenal. Karena ia biasa cerita tentang keluarganya yang di Papua sana” ucap Pater Origen.

“Louren itu mahasiswa kami yang hebat dan pintar. Kini jadi asisten saya di kampus. Ia memperjuangkan nasib bangsa dan tanah airnya dengan gigih dari Eropa secara bawah tanah. Banyak rekan-rekan akademisi yang mendukungnya dalam sepih” tambah Pater Origen.

Mereka melaju. Dalam perjalanan Enago masih diselimuti rasa penasaran. Sambil memandang penorama alam yang masih perawan ia bertanya-tanya siapa gerangan Louren Gaki ini?

Mereka tiba di Gereja Katederal Austria. Sebuah bangunan bergaya gotik-barok yang megah dan kokoh, dikelilingi selimut hutan pinus tropis yang memberikan kesan super dingin.

“Ini rumah barumu Mr. Gaki, buatlah dirimu senyaman mungkin dengan alam dan sengatannya yang ada. Oh iyah, besok saudaramu Louran Gaki akan datang. Saya sudah hubungi dia. Gereja tua ini juga adalah rumah dan keluarganya” demikian ucap Pater Origen sambil mengantar Enago kepada kamar dan menyerahkan kuncinya.

Mereka misa pagi di sebuah kapela kecil di Pastoran sekitar jam 06:00, kemudian sarapan di jam 07:00. Pater Origen akan ke kampus di jam 07:30 sampai pulang di jam 17:00. Enago akan makan siang di Jam 12:00 sendiri di Pastoran. Sebagai mahasiswa waktu kuliah tidak begitu padat, sebab banyak waktu akan dihabiskan untuk riset. Ia harus bisa menyesuaikan diri. Jam 18:00 mereka sudah mulai doa sore. Sebelum tidur malam, mereka akan berdoa kembali di kapel tepat 20:00, atau jika banyak kegiatan doa malam mereka deraskan masing-masing di kamar tidur.

Keesokan harinya, di sore sebelum senja pamit pada pucuk ranting anggur Austria sebuah mobil tua, tapi terawat gagah parkir di depan gerbang Pastoran yang terbuat dari kayu besi tebal dan kuat yang divernis coklat kehitaman. Enago ada di tanam belakang sedang memetik anggur yang sudah berusia panen. Ia menuju ke halaman depan. Dari jauh ia lihat ada seorang pria dengan pakaian rapi mirip detektif. Pria itu melambaikan tangan dari kejauhan dan memancarkan senyuman ramah.

“Pasti Pastor Gaki dari Papua yah” ucap pria baru itu dengan melambaikan tangan. Ia ramah sekali. Seperti berjumpa keluarga sendiri.

“Saya Louren Gaki. Nene dan tete saya juga dari Papua. Bapa-Mama juga asli Papua, mama saya saja peranakan  orang sini. Saya bisa sedikit bicara bahasa Papua. Karena bapa ajarkan dari kecil. Senang bisa berkenalan denganmu bapa. Saya adalah asisten profesor Origen di Kampus. Apakah beliau ada?” tambah Louren dengan sedikit menjelaskan identitasnya, sebab ia tahu bahwa semua orang yang dekat dengan prof Origen bukan sembarang orang dan mayoritas mereka adalah orang-orang baik.

“Iyah. Salam kenal. Saya Pastor Neles Enago Gaki. Saya dari Papua mahasiswa s3 di sini. Saya sudah selesai s2 di Australia, tapi karena tuntutan tugas saya harus menempuh s3 lagi di sini. Pater Origen ada di atas, mari saya antar” ucap Enago sedikit keram dan kaku mengajak Louren ke teras lante dua. Ada sebuah serambi di teras lantai dua. 

Halamannya cukup luas dengan sedikit dekorasi tanama indah dengan air mancur hangat, sudah pula tersedia beberapa kursi dan meja yang nikmat, ruangan kadang digunakan dewan Gereja setempat untuk rapat terbatas tenaga inti Gereja dengan Pastor Origen yang sudah 10 tahun melayani umat disitu. Di hadapan jauh sana terbentang pengunuan tinggi menjulang yang berbumbu salju abadi, dan ladang kebun anggur yang luas menghijau.

“Apalah kalian berdua sudah mengenal. Jadi bagaimana tali-temali ikatan keluarga kalian. Bagiaman Pater Enago, apakah ada sesuatu yang sudah Anda dapatkan?” tanya Pater Origen menyambut Enago dan Louren dengan raham membukakan pintu kaca berdinding kayu.

“Oh iyah tuan Loeran, bisakah saya tahu siapa nama ayahmu?” tanya Enago sedikit canggung.

“Benny Enago Gaki. Itu nama lengkapnya. Wah saya baru sadar rupanya mirip sekali yah dengan nama Pater, ada Enago dan Gakinya juga. Pasti kita keluarga. Bapa pasti kenal Pastor. Saya akan sampaikan kepada bapa” balas Louren dan sontak kaget. Ia baru sadar bahwa nama bapanya mirip dengan Pastor, karena ada nama Enago dan marga gakinya.

“Jadi bagaimana Pater” tanya Pater Origen penasaran.

“Louren rupanya keponakan saya, putra saya. Ayahnya, Benny Enago Gaki adalah kaka saya yang paling tua dari bapade saya. Kami berpisah sejak kecil. Ia hilang entah kemana, kedua orang tua, kami keluarga tidak pernah tahu sampai sekarang. Saya sendiri kira hanya bisa berjumpanya dalam surga kelak. Saya tidak nyangka, bisa bertemu dengan putranya di sini. Kalian berapa saudara, kira-kira bagaimana keadaannya orangtuamu” balas Enago ke Pater Origen.

Ia menjelaskan peristiwa perpisahannya dengan kakanya, Benny yang terjadi puluhan tahun. Baginya, tidak ada harapan untuk bertemu dengan Benny. Sekalipun Enago sendiri kurang tahu mengapa Benny menghilang dan tidak ada kabar sama sekali dari keluarga. 

Louren mendengar pernyataan Enago dengan saksama, dan sedikit memberikan gambaran tentang apa yanh terjadi pada Benny ayahnya.

“Benar Bapa Pater, bolehkan saya sapa Bapa Pater” ucap Louren dengan sopan membuka percakapan selanjutnya.

“Jadi dulu, Bapa suka demo dan menjadi otak di balik aksi-aksi besar. Ia dekat dengan om-omnya yang bergerilya di hutan. Sempat beberapa kali ia masuk penjara, namun berhasil kaburkan diri dan lolos. Ia cerdas dan licik, juga sedikit beruntung umurnya panjang. Namanya semakin ganas karena sempat membunuh beberapa pasukan elite negara. Ia juga menyandera 48 karyawan perusahaan. Karena menjadi incaran negara. Ia memutuskan untuk bersuaka ke Australia. Ia bekerja pada semua lembaga kemanusiaan di sana. Kemudian ia kembali ke Papua, mengambil seorang perempuan asli Papua berdarah Austria kemudian mulai berjuang secara secara diplomasi bayangan di luar negeri dari Austria” ungkap Louren.

“Lebih jelasnya. Bapa sendiri akan jelaskan. Saya laki-laki yang bungsu, ada tiga lagi kaka-kaka saya. Kami semua di sini. Mereka bertiga sudah menikah. Tinggal saya sendiri yang akan menyusul. Bapa Pater berdua bisa ikut ke rumah atau bapa-mama yang saya undang ke sini untuk sedikit berbagi kisah” demikian tambah Louren.

Setelah duduk bicara banyak tentag keluarga. Mereka berpisah. Louren harus pulang ke rumah. Hari ini Enago sangat senang dan bahagia sekali. Ia tidak menjadi enago yang pertama dan terakhir, sebab Benny sudah melahirkan empat pemuda gagah dari rahim perempuan. Hari itu Enago super bahagia. Ia menangis terseduh-seduh mewakili air mata kedua bapanya yang teramat merindukan keturunan. Ia berniat mengumpulkan mereka.

Louren datang membawa mobilnya. Parkir di tempat yang sama. Hari ini ada hajatan keluarga. Ia mengundang Pater Enago dan Pater Origen hadir untuk memimpin ibadah.

“Haloo...Bapa Pater. Bapa di rumah ada buat acara. Bapa Pater berdua sangat diharapkan untuk dapat hadir dan tidak boleh tidak hadir di sana” demikian undangan lisan yang Louren sampaikan.

Pater Enago dan Pater Origen bersiap. Mereka meluncur ke kediaman Benny. Sebuah Villa tua yang tersembunyi di dalam sebuah hutan rindang. Ada banyak tanaman buah-buahan. Dari jauh mereka lihat tidak banyak umat yang hadir. Hanya beberapa orang-orang khusus saja. Beberapa mobil sudah parkir lebih dulu. Keduanya menuju tempat parkir dengan hati-hati.

“Pater. Jantung saya berdetak kencang sekali. Tidak seperti biasanya. Darah-darah saya terasa mengalir deras. Saya seperti tersengat listrik namun tidak sakit. Darah saya mengalir kencang. Seperti rasanya mau terbang melayang Pater. Saya tidak tahu apa gerangan yang sebab ini Pater” ucap Enago ketika memasuki ruang parkiran dan mulai turun.

“Tarik nafas...tahan...lepas Pater Enago. Ini gejolak batin dan darah. Itu konflik darah Pater, biasa terjadi tatkala dua saudara yang sedarah yang baru berjumpa setelah puluhan tahun tidak berjumpa bersyukurlah sebab sedikit lagi satu darah yang terpisah lama akan kembali menyatu. Saya tentu tidak sabar menyaksikan keajaiban itu, hahaha...mari masuk” demikian jawab Pater Origen menjelaskan sedikit gerangan apa yang dialami Enago.

“Selamat datang Pater berdua, silakan masuk. Kita langsung mulai Misa’ ucap Louren. Mereka sudah berkumpul sekeluarga. Namun tidak terlihat sosok Benny. Selama perayaan Ekaristi mata Enago tidak berhenti menatap umat yang hadir, namun tidak ia jumpai sosok yang mencurigakan. Misa selesai.

“Di mana bapakmu Louren? Apakah ia tidak datang. Sepertinya dari tadi kalian hanya berdiri sekeluarga saja tanpa Benny” demikian tanya Enago dengan nada penasaran dan rasa ingin tahu.

“Bapa Pater. Sebenarnya ini semua bapa Benny yang rencanakan. Dia bukan tidak hadir, justru dia hadir, selalu hadir bersama bapa Pater Enago” demikian jawab Louren.

“Tapi di mana dia Louran. Sejak tadi mata saya tidak tenang melirik mencari-carinya” balas Enago semakin penasaran bercampur kecewa.

“Bapa Pater Enago. Orang-orang di sini tidak mengenal bapa Benny. Nama Benny Enago Gaki hanya diketahui sama keluarga intinya saja” balas Louran dengan tenang dan berat.

“Jadi bagaimana ini. Di mana kaka saya Benny. Di mana dia?” ucap Enago menitikkan air mata.

“Umat-umat di sini biasa memanggil bapa Benny dengan nama Pater Origen, bapa Pater Enago” balas Agus Kaka tertua Louran, dan anak pertama Benny. Mendengar ucapan Agus, pikiran menggeleng. Ternyata, Pater Origen itu adalah Benny kaka kandung Pater Enago.

“Bapa adalah seorang imam anglikan. Ia bertugas di Gereja Katederal Austria untuk sementara menggantikan Pater George Origen yang sedang cuti. Bapa sengaja memakai nama teman dosennya itu hanya untuk tinggal bersama bapa Pater selama beberapa hari ini” ucap Sem anak Benny lainnya.

Enago benar-benar tidak menyangka sebenarnya Pater Origen yang selama ini selalu bersamanya di pastoran Paroki dan salah satu guru besar di Austria itu adalah kaka kandungnya sendiri. Ia tentu tidak menyangka dengan kejutan yang Benny sisipkan dalam kehidupannya. Ia berbalik mencari Pater Origen. Pater Origen yang adalah kakanya sendiri, Benny membuka tangan memanggilnya untuk sebuah pelukan persaudaraan yang sudah puluhan tahun tidak terjadi. 

Tidak terasa tiga tahun berlalu. Pater Enago sudah menyelesaikan pendidikannya. Ia harus kembali ke negeri asalnya. Benny dan keluarganya sudah cukup kuat mengetahui orangtua mereka aman-aman di sana. Enago justru lebih bersukacita lagi karena ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Ada empat orang pengantinya. Ia bangga dan bersyukur kepada Tuhan untuk ini. Ini mukjizat baginya dan keluarganya. Berita ini tidak ia beritakan kepada orangtua dan saudari-saudarinya. Waktu terus berjalan. Enago tidak menyampaikan berita tentang Benny dan keluarganya di Austri. Benny sendiri yang meminta Enago untuk tidak dulu memberitakan informasi tentang keberadaannya dan keluarganya. Enago menyanggupinya.

“Kaka ada bocoran dari Kantor Kepausan. Nama kaka terpilih jadi Uskup” demikian isi pesan singkat yang disampaikan Amelia kepada kakanya Enago.

“Tidak mungkin. Masih banyak yang lebih layak, nona sr pasti salah dengar” demikian balas Enago.

“Beberapa rekan-rekan saya sudah mengucapkan selamat secara rahasia kepada saya. Mereka bilang selamat menjadi adik seorang Uskup” demikian balas Amelia.

“Kita berdoa saja. Semoga dia yang benar-benar pilihan Tuhan” balas Enago singkat menutup percakapan.

Dua bulan kemudian nama Neles Enago Gaki keluar sebagai salah satu Uskup di Papua. Berita ini sampai ke telinga Benny dan keluarganya di Austria. Mereka bersukacita.

Upacara penahbisan berlangsung meriah. Semua adik-adiknya hadir. Bapa-mamanya masih hidup, mereka sudah sangat ringkihnya sekali. Harus didorong dengan kursi roda oleh cucu mereka, anak dari Skolastika dan Riani. Mama Sisilia sudah tua tapi tidak dengan ingatannya, ia masih ingat sebuah mimpinya di kemah sakral (daa owapaka bagume) saat haid pertama kali di usianya ke-12 tahun dengan jelas ia di bawa oleh seorang malaikat.

Malaikat itu berkata bahwa lihat ke sana.  Tepat di tempat itu berkumpul banyak umat, imam, rohaniwan-rohaniawati lengkap dengan busana kebesaran mereka. Malaikat itu berkata dia anakmu, mama Sisil kira anaknya adalah satu dari yang hadir, namun ternyata bukan, anaknya adalah seseorang yang memakai mitra Uskup dan tongkat, itulah anaknya. Mama Sisil tahu dengan pasti bahwa mimpi ini akan jadi nyata sehingga ia pendam dan rawat dalam doa. Dan akhirnya mimpi itu menjadi nyata.

Benny dan keluarganya juga datang dan menghadiri perayaan besar itu. Usai perayaan tahbisan. Uskup Enago memimpin Misa Episkopal di Kampung halamannya. Sr Amelia diminta untuk berbicara mewakili keluarga kandung, ia maju seraya mengajak dua adiknya yang lain. Tiga suster biarawati yang tangguh dan hebat-hebat dalam ordonya. Ia mengungkapkan satu rahasia yang ketiganya pendam dalam hati selama ini.

“Kami datang dari marga yang kecil untuk misi yang besar. Seharusnya dalam budaya kami, sebagai perempuan, kami berkewajiban memberikan harta mahar maskawin yang besar kepada saudara kami, Uskup Enago dan kaka kami yang hilang sejak kami kecil, Benny. Tapi itu tidak. Kami bertiga memilih suami yang bukan berasal dari dunia ini, Tuhan Yesus, kami memilih untuk hidup dan mati bersama pasangan rohani kami, Kristus di jalan Salibnya. Tapi kami bertiga punya komitmen dalam bentuk doa khusus, supaya kaka kami, Uskup Enago bisa menjadi wajah Yesus bagi banyak orang. Dan tahbisan episkopal ini sebenarnya adalah mahar dari orangtua Yesus sendiri, Tuhan Allah dan Bunda Maria karena kaka sudah menyerahkan tiga adik perempuan kaka sekaligus kepada Yesus sebagai istri rohaninya, pasangan imannya” demikian ujar suster Amelia membuat merinding dan haru umat yang hadir.

Perayaan telah usai. Uskup Enago kembali ke keluarganya. Ia mengumpulkan keluarga besarnya. Setelah mereka berkumpul ia memanggil Benny dan keluarganya. Mereka tiba. Uskup Enago menyuruh kedua ayahnya, Yosep dan Amos untuk melihat ke arah jalan masuk. Dari seorang yang juga sudah berumur sedang masuk dirangkul istrinya, empat putranya yang gagah perkasa, dan cucunya, itulah Benny, nafas terakhir marga mereka yang datang membawa berjuta nafas kehidupan. Ia yang dulu keluar rumah sendirian, kini balik membawa empat pemuda gagah sebagai penganti dirinya, adiknya Uskup Enago, dan kedua ayahnya.

“Inilah buah doa yang dulu bapa sampaikan kepada Enago sebelum keluar dari rumah ini, yaitu berdoa sepanjang saat untuk Tuhan selamatkan marga kita. Enago sudah berdoa. Dan benar kata mama, ini semua kemauan Tuhan bukan kemauan kita. Selamat datang di Rumah Kaka Benny” demikian ucap Uskup Enago. Sekian....


Mauwa, 01 September 2025

πŸ•ŠπŸ€πŸŒΈπŸ©΅

Komentar

Postingan Populer