DI BALIK KEDUA BOLA MATA TERSEMBUNYI KATA-KATA DAN TINDAKAN PALSU
(Dibalik Kata-Kata Muncul Tindakan Palsu)
Oleh: Martinus Tenouye
Sangat tidak asing kedengaran dibalik kata-kata muncul tindakan yang palsu. Bukan mitos bukan harapan tapi nyata kebanyakan orang dibelaan dunia tidak sadar akan kata-kata dibalik tindakan. Yang sering terjadi adalah detik ini orang berbicara sesuatu lalu sebentar tindakan lain. Ini motif budaya negatif yang sering tersebar ke orang-orang, baik itu individu, kelompok, lembaga maupun termasuk negara.
Kenyataan yang benar-benar terjadi di negara ini, pejabat-pejabat pemerintah, terhadap orang miskin mereka keluarkan kata-kata yang manis-manis lalu membuat banyak rencana. Kenyataannya belum terjawab dengan baik. Ini fakta ketika calon DPR, bupati, maupun gubernur mereka punya visi dan misi itu sangat familiar, kata-kata atau pembicaraan mereka itu seolah-olah hari ini terjadi.
Seperti dalam visi dan misinya dikatakan demikian, setelah saya sudah jadi DPR, atau bupati atau gubernur, saya dengan sungguh-sungguh mensejahterakan seluruh masyarakat. Dan seluruh masyarakat itu, kami tidak akan buat seperti membeda-bedakan, tidak tunjukan orang kamu dari mana, kamu marga apa, kamu keluarga dari mana, melainkan akan diterima semua orang sebagai saudara, saudari, om dan lain sebagainya. Apakah hal ini dalam kehidupan sehari-hari biasa terjadi dikalangan masyarakat? Ataukah negara ini pada umumnya dan lebih khususnya di Tanah Papua, seluruh struktur kehidupan, membuat sebuah kerajaan, yang akhirnya tidak mau peduli terhadap orang miskin, orang tertindas, hanya mencari kenyamanan hidup dalam keluarga? Semua orang terutama orang-orang terkait roh dan jiwanya sakit lalu badangnya hidup dalam tidak kenyamanan.
Hidup yang setara dengan semua orang adalah bukan kata-kata manis di atas pangkuan akan tetapi tindakan nyata. Sangat Pendi terhadap baik orang-orang miskin, orang-orang yang tertindas adalah tindakan yang tulus dan adil. Oleh sebab itu, mesti memberikan dorongan dan semangat yang penuh kepada mereka, agar mereka juga dapat keluar dari penderitaan dan merasakan kebahagiaan.
Belajar dari Iypatia (tahun 360-415). Kita bisa belajar dari seorang perempuan hebat yaitu Hypatia ( lain antara tahun 360 dan-415) adalah seorang filsuf, matematikawan dan astronom perempuan asal Aleksandria, Mesir. Ia dikenal sebagai tokoh Neoplatonis, mewarisi ajaran filsafat dari Plato. Dalam bukunya, “rasionalitas vs kepalsuan” dalam bukunya dari kalimat ini menyatakan demikian, bahayanya retorika tanpa dasar akal sehat-, kata-kata manis yang tidak didukung oleh kebenaran atau tindakan yangtulus”.https://id.wikipedia.org.hypatiaaleksandria.com.
Sebagai guru dan filsuf mengajarkan bahwa kebenaran sejati hanya dicapai melalui tindakan bukan sekedar ucapan. Kalau seorang pemimpin jangan tersembunyi di belakang layar kaca, harus bertindak sesuai prosedur birokrat. Hanya dengan tindakan yang baik dan adil maka orang mengalami sejahtera.
Hypatia juga pernah mengkritik terhadap pemimpin tentang kepemimpinannya, karena waktu itu pemimpin negara maupun keagamaan sangat keras, orang miskin tetap orang miskin orang kaya tetap orang kaya. Orang lain hidup dalam kenyamanan orang lain hidup dalam penderitaan.
Dalam situasi seperti ini Hypatia mengkritik terhadap pemimpin negara maupun keagamaan, ia menyatakan demikian banyak pemimpin menggunakan kata-kata pemerintahan mau membangun kesejahteraan masyarakat dan banyak pemimpin menggunakan kata-kata moral, tetapi tindakannya justru kejam dan bertentangan dengan prinsip yang mereka ucapkan. Oleh karena itu, kebenaran tidak bisa berhenti diucapkan, harus wujudkan dalam tindakan nyata yang rasional dan selaras dengan nilai moral.



Komentar
Posting Komentar