CELARCE DAN MISTERI CAWAN SUCI

 


~Degei Siorus


Ada sebuah motor jonson abu-abu milik marinir AS mengawal seorang imam yang mengenakan jubah putih, Pastor Ernest namanya. Ia diminta pihak penjara Guantanamo untuk melayani perayaan Ekaristi dan pelayanan sakramen tobat juga minyak suci terhadap para narapidana kelas berat.

Pater Ernest tiba di dermaga Guantanamo. Ini sebuah pulau kecil di utara negara Cuba. Penjara ini dibuat oleh pemerintah Amerika Serikat di bawah asuhan marinir. Penjagaan di pulau pengasingan ini begitu super ketat. Lantaran ini berarti mereka yang menjadi tahanan di dalamnya bukanlah penjahat kelas ringan. Penjara ini khusus bagi para otak kejahatan dan perang. Banyak teroris dari Timur Tengah bisa kita jumpai di sini.

Pater Ernest berkesempatan mengunjungi tahanan yang beragama Katolik. Rupanya ada cukup juga para narapidana yang beragama Katolik. 

“Pater di sini jumlah narapidana dan petugas yang beragama Katolik cukup banyak.” Ucap Simon, seorang sipir yang sudah 15 tahun bertugas di penjara Guantanamo.

Pater Ernest dan rombongan tiba di tempat. Suasanya sunyi sepi, kesan angker tentu sangat menyengat. Pater Ernest bisa merasakan getaran dari kegetiran para napi yang ditahan. Pater juga bisa merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa yang senantiasa keliaran di setiap lorong gelap jalur sel para tahanan.

“Suasananya mencekam sekali. Padahal ini masih siang, tapi rasanya setiap langkah dan tarikan nafas kita semacam selalu ada yang mengintip benci dari jauh” ucap Pater kepada Simon, sipir yang menemani Pater.

Simon menjelaskan sedikit cerita tentang tujuan di balik pembangunan penjara Guantanamo ini. Bahwa penjara jenis pengasingan dan berwujud neraka ini sejatinya hanya untuk memberikan efek jerah bagi para narapidana dan teroris jelas berat dengan harapan mereka bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar. 

“Pater tahu kisah Injil Tuhan yang mengisahkan hukum yang hanya meninggalkan ratap tangis dan kertak gigi” tanya Simon.

“Ya tentu. Ada banyak perumpamaan dalam Injil yang melukiskan hukuman Allah itu begitu hebat hingga meninggalkan ratap tangis dan kertak gigi bagi mereka yang tidak taat pada titah-titah-Nya” demikian jawab Pater Ernest sambil membuang pandangan ke setiap sudut penjara yang menyeramkan

“Konsep awal Presiden Donald Trump mendirikan penjara ini adalah itu tadi. Ia mau supaya para narapidana kelas berat dan para teroris merasakan ratap tangis dan kertak gigi. Penjara ini semacam simulasi eskaton atas penyiksaan di neraka kelak. Setiap tahanan punya porsi penyiksaan setiap hari, masing-masing mendapatkan 18 jam penyiksaan. Tidak boleh ada kontak dengan orang luar. Tidak boleh ada kunjungan keluarga” ungkap Simon dengan mimik serius.

“Lantas bagaimana dengan hak asasi mereka? Bukankah mereka juga punya hak asasi sebagai manusia? Bukankah Amerika adalah negara yang demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai HAM?” balas tanya Pater Ernest dengan nada sedikit tinggi dan tegas. 

Pater Ernest sedikit goyah dengan penjelasan Simon terkait penjara Guantanamo. Selama ini ia juga hanya dengar dari kebanyakan orang dan media, namun karena terlalu berlebihan dan lebih ke arah mitos, hari inilah ia sendiri mendengar langsung dari salah satu petugas yang cukup lama berkarya di Guantanamo.

“Tepat sekali apa yang Pater bilang. Namun karena alasan itulah Donald Trump membeli pulau ini atas nama marinir AS. Ini adalah pangkalan rahasia tentara angkatan laut Amerika sekaligus neraka yang Amerika ciptakan bagi para musuh bebuyutannya di bawah kolon langit ini. Sehingga konstitusi HAM, demokrasi dan lainnya tidak bisa menembus tembok Guantanamo, sebab hukum yang berlaku di sini adalah hukum pasukan marinir AS, hukum rimba militer Pater” balas Simon menjelaskan dengan suara pelan dan penuh kepastian.

Simon adalah awam Katolik yang tulen. Ia sedikit lagi akan pensiun. Ia percaya dengan Pater Ernest sehingga beberapa hal yang sensitif ia ceritakan bersama Pater.

Tujuan utama Pater Ernest adalah menjumpai Damian 88. Damian 88 adalah anak asli Papua, ia asli Serui namun besar di lingkungan orang Mee di Nabire. Hari ini tepat jam 12 malam ia akan dieksekusi mati, karena ia hampir saja membobol sistem penjagaan super ketat di loker pribadi keluarga John D. Rockefeller, seorang pebisnis dan konglomerat Amerika paling masyhur. Yah, Damian 88 adalah seorang pencuri profesional, ia tidak pernah gagal mencuri, semua misi pencuriannya selalu sukses, hanya satu yang gagal yaitu mencuri di rumah keluarga besar Rockefeller.

“Saya di sini, mau bertemu dengan umat saya. Ia juga dari Papua, namanya Damianus. Ia lebih dikenal dengan nama Damian 88. Apakah sobat biasa mendengar nama itu?” tanya Pater Ernest sambil membuka percakapan baru.

Simon sedikit tertegun dan mulai menjawab.

“Nama itu terakhir saya dengar 09 tahun lalu. Tidak persis kasusnya, namun berdasarkan informasi yang beredar ia berniat mencuri kekayaan rahasia milik Rockefeller, keluarga paling bangsawan dan kaya di Amerika. Entah apa yang mau ia curi, tapi itu rasanya adalah sesuatu yang sangat berharga sekali bagi keluarga yang punya tambang emas terbesar di dunia itu” demikian jawab Simon.

“Saya sendiri. Belum pernah melihat orangnya. Hampir semua petugas tidak pernah melihat sosoknya. Wajah aslinya maksudnya. Karena wajahnya selalu ditutup dengan kain sorban hitam. Ia sepertinya ditahan di ruangan khusus. Biasanya itu letaknya di penjara bawah tanah” tambah Simon menjelaskan dengan penuh saksama kepada Pater Ernest.

Simon mengantar Pater Ernest sampai di depan Kantor penjara. Mereka berpisah.

“Pater sampai jumpa. Sebentar saya jemput lagi di sini. Selamat melayani Pater. Selamat siang” ucap Simon meninggalkan Pater.

Di ruangan Kantor. Pater Ernest seperti biasanya harus melalui pemeriksaan yang ketat. Banyak alat canggih menanti tubuh dan semua peralatan ibadah yang Pater Ernest bawa.

Ia sudah melalui tiga tahapan pengecekan berlapis. Ia lolos, dinyatakan bersih. Ia sudah biasa melalui ini. Pater Ernest adalah satu-satunya imam yang mendapatkan kesempatan mengunjungi para narapidana Kristen. Ia harus menunggu para narapidana datang.

Mereka melangsungkan Ekaristi suci di dalam penjara. Para narapidananya mengikutinya dengan penuh saksama. Ada 5 orang napi dari total 120 orang tahanan. 120 orang tahanan ini terdiri dari 100 orang tahanan teroris dan 20 orang kejahatan berat. Identitas mereka tidak ada, hak asasi mereka pun tidak ada. Ada doa dan pelayanan misa ini pun diadakan jika hanya ada eksekusi mati, jadi biasa para agamawan akan diantar untuk memberikan doa pengampunan. Untung saja Donald Trump sedikit mengingat Tuhan sehingga ada sedikit kesempatan untuk para napi memperoleh kehidupan bebas yang damai di alam lain.

Usai Misa Pater Ernest menengok mencari sosok Damian 88. Namun tak ia temukan. Ia bertanya kepada para napi itu. Mereka hanya menjawab tahu namanya tapi tidak tahu di mana ia disergap. Pater Ernest bertanya kepada para sipir untuk mengantarnya menemui Damian, sebab Damian adalah tahanan yang harus ia berikan sakramen tobat dan minyak suci.

“Pater tidak bisa mendoakan Damian di sini. Ia ada di dasar penjara ini. Kami akan antar Pater ke sana. Tidak bawa apa-apa hanya jubah, kitab suci, minyak suci, air bening, cawan berisi anggur, piala berisi satu hosti yang tadi sudah ia konsekrir, dan sebatang lilin” demikian jawab seorang sipir dengan tegas.

Pater akan turun ke lantai  dasar. Seorang diri di temani dua sipir. Keadaan semakin ekstrem, ruangan super sempit, gelap pekat, cahaya matahari sulit menjangkau, dan tak ada tanda-tandan kehidupan sama sekali. Dua sipir tidak bisa mengantar sampai ke dasar lantai, mereka menunggu, sebab sudah ada tim khusus lagi yang akan mengantar Pater sampai ke sel Damian. 

Ada dua orang lengkap dengan seragam tempur serba hitam, tanpa suara datang menunjukkan arah jalan kepada Pater Ernest. Pater Ernest sedikit canggung, baru kali ini momen ini dia alami. Dari sinilah kengerian dan keangkeran penjara Guantanamo yang selama ini dia dengar dan baca di berita benar-benar ia alami dan rasakan.

“Jangan takut Pater. Semua akan baik-baik saja” bisik seorang petugas menenangkan Pater Ernest karena mendapati bahwa Pater Ernest mulai tegang dan canggung. 

Pater masuk ke dalam suatu ruangan super gelap. Keduanya membuka sel. Akhirnya tubuh Damian terlihat. Tubuhnya sangat kotor, bau tak sedap, pakaiannya sudah habis di makan rayap dan tikus. Hanya tinggal sehelai kain yang ia kenakan. Suhu di perut penjara paling sadis dan mematikan ini sangat kotor, dingin, dan tak bersahabat dengan sistem pernafasan.

Tubuh Damian tidak berdaya, tulang-tulang melemah, ia sudah koma tapi hidup. Tidak ada makanan layak yang ia dapatkan. Ia tidak berdaya.

Pater Ernest tentu terpukul melihat konfesi Damian yang mengenaskan, terbaring kaku dan dingin di tepi tembok penjara bawah tanah sambil memeluk erat diri sendiri.

“Dami...Dami....Dami...bangunlah” sapa Pater Ernets dengan pelan dan tajam membangunkan Damian.

Panggilan Damian ini sudah 9 tahun terakhir tidak Damian dengar. Hanya orang—orang tertentu yang memanggilnya dengan nama ‘Dami’ itu.

“Tidak...tidak...saya belum mau mati....saya masih mau hidup...jangan jemput saya....saya harus pulang...saya harus ke Papua...” demikian terika Damian sambil membungkus badan mengecil.

Damian takut sebab sudah berkali-kali ada banyak malaikat pencabut nyawa yang datang menggoda dan hendak mencabut nyawanya dengan paksa. Ada juga arwah para tahanan sebelum dirinya yang masih bergentayangan di dalam selnya itu. Dakian takut, sebab tidak ada matahari yang bisa ia lihat, hanya lampu merah kedap-kedip yang di pasang, karena begitu lama, matanya menjadi buta total, tidak bisa melihat. Ia menutup mata sepancang hari, satu-satu kali barulah ia makan tanpa tahu apa yang ia makan. Ia sepenuhnya sudah menyerahkan hidupnya.

“Ini Pater Ernest, bangunlah, ayolah ke sini, kita berdoa, supaya Damian cepat pulang ke Papua” balas Pater Ernest dengan lembut menenangkan Damian yang cemas dan takut. 

Damian merenung sedikit, mendengar kata “Pater” membuatnya percaya bahwa bukan sipir yang datang. Pater itu orang baik, sebab sejak kecil saat masih aktif ke Gereja dan sering bergabung bersama anak sekolah Minggu ia tahu bahwa Pater itu adalah Bapa, orang baik yang menjalankan tugas-tugas Tuhan di bumi, seperti menyelamatkan orang jahat.

Damian bangun pelan sambil memegang dinding. Ia menuju sumber suara Pater.

“Pater...Pater...tolong saya, saya takut sekali di sini, mereka jahat, mereka mau membunuh saya. Tolong saya Pater, saya mau pulang ke Papua, sudah lama saya di sini” teriak Damian sambil menangis ketakutan. 

Damian histeris, ia sudah 9 tahun terkurung dalam neraka ciptaan marinir AS ini. Ia terpisah dari asalnya, keluarga, dan kerabatnya. Ia tahu bahwa ia sudah salah, dan siang mati untuk itu, tapi kenapa bukan kematian pantas yang ia dapatkan tapi siksaan mematikan yang ia alami. Ia mati berulang-ulang tapi nafasnya tidak putus.

“Mari ke sini, kemarilah anakku. Jangan takut, sebentar lagi kau akan ke Papua” balas Pater Ernest menguatkan Damian.

Pater Ernest tahu bahwa usia hidup Damian akan dihitung dari sebatang lilin yang akan ia nyalakan usia berdoa. Ketika lilin itu padam, maka nyawa Damian seketika itu pun akan lenyap bersama cahaya lilin yang terpasang di lorong kegelapan sel tahanannya.

Tangan keduanya saling bertemu, Damian langsung memeluk Pater Ernest. Jubah putih milik Pater Ernest itu berubah menjadi warna tanah. Pelukan Damian sangat erat tapi tidak kuat karena tenaganya sudah habis. Pater Ernest tentu membalas pelukan Damian dengan sama hangatnya. 

“Mari kita berdoa anakku. Tapi sebelum itu. Bisakah kau ceritakan sedikit apa yang terjadi sampai kau bisa ditahan di penjara ini?” tanya Pater Ernest.

Pater Ernest mengharapkan penjelasan ringkas tentang perjalanan Damian hingga tiba di dalam penjara Guantanamo ini.

“Pater ceritanya panjang. Tapi untuk Pater saya akan cerita” demikian balas Damian.

“Saya lahir, tumbuh, dan besar di tempat yang keras Pater. Di sana untuk bisa makan kami harus buat kejahatan, salah satunya mencuri. Saya sudah mahir mencuri sejak kecil. Dari hasil curian saya bisa beli makanan, pakaian, dan segala sesuatu yang saya butuhkan. Jika hasil curiannya banyak itu biasa saya bagikan kepada keluarga-keluarga kecil yang lain” ucap Damian sambil melepaskan pelukan mulai duduk sedikit sandar di tembok.

“Pater tahu, setiap natalan, saya akan mencuri banyak petasan di kontainer-kontainer besar. Hasilnya saya jual dengan harga super murah atau saya bagikan cuma-cuma. Saya juga mencuri makanan dan minuman di toko-toko. Saya selalu mencuri pakaian-pakaian baru dan saya bagikan kepada sesama yang lebih membutuhkan, yang tidak memiliki pakaian” tambah Damian.

“Tapi bagaimana Damian bisa mencuri tanpa diketahui orang. Kenapa Damian selalu lolos dari segala incaran orang-orang yang barangnya Damian curi? Bagaimana Damian bisa lolos dari sistem penjagaan ketat dan polisi-polisi profesional?” tanya Pater Ernest dengan penuh tanda tanya besar di kepalanya.

“Tapi ini sebenarnya rahasia saya. Selama ini banyak orang, termasuk polisi-polisi bertanya tentang hal itu, tapi jawaban saya tidak pernah jujur, saya selalu membohongi mereka. Begini Pater saya dulu pernah mencuri di rumah seorang Jepang. Dua kali saya masuk ke rumah itu. Kali pertama, ada samurai emas berlapis berlian mulia yang saya curi, ini emas majal sekali. Kali kedua saya datang, saya berangkasnya, tapi rupanya ini adalah jebakan. Saya dijebak, ada empat orang berpakaian ninja memadamkan lampu dan menyerang saya secara membabi buta. Saya bisa lolos, namun dalam keadaan terluka parah di sekujur tubuh. Saya buang diri ke kali besar yang terhubung langsung ke tengah lautan lepas. Saat kena air saya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Saya tidak sadarkan diri situ” demikian balas Damian.

Ia terdiam sedih, mengenang perjalanan itu.

“Saya baru sadar setelah beberapa hari. Saya sudah di puncak sebuah gunung di serui. Di sebuah gunung pemali di daerah Ansus. Di gunung itu ada seorang gadis, ia sedang menunggu saya sadar. Wajahnya cantik sekali. Namun yang membuat saya takut ialah bahwa di dalam gua itu banyak sekali berserakan tengkorak kepala manusia. Saya tidak tahu siapa wanita ini, tapi saya ucapkan terima kasih karena berkatnya saya bisa hidup, saya selamat. Saya hidup hanya sebanyak 88 bekas jahitan akibat luka tebasan samurai jepang yang beracun merobek-robek tubuh saya” tutup Damian.

Pater Ernest semakin penasaran dengan apa yang dikisahkan Damian.

“Siapa wanita itu? Tidakkah kamu bertanya siapa namanya, dari mana dia berasal, dan kenapa tinggal di gua yang banyak tulang tengkoraknya?” tanya Pater Ernest semakin menggali cerita Damian.

“Saya lupa nama lengkapnya Pater, tapi yang masih sedikit saya ingat, yaitu tadi namanya Celarce. Ia juga bilang bahwa saya tidak perlu takut lagi, sebab obat yang ia berikan pada luka-luka saya itu akan membuat saya kebal. Saya kemudian, untuk yang ketiga kali masuk ke rumah orang Jepang yang kaya itu. Saya berhasil merampok habis semua uang yang ia simpan dalam berangkas. Empat  pasukan ninjanya pun saya mutilasi, saya cincang daging mereka menjadi 88 potongan dan saya buang tepat di jembatan yang dulu saya jebur” balas Damian.

“Dari peristiwa itu saya mulai lihai mencuri. Pernah saya coba untuk mencuri di Bank Papua. Saya masuk dengan sebuah tas besar dari pintu belakang. Tidak ada camera yang menangkap saya. Semua uang cadangan di berangkas penyimpanan dalam gudang saya habiskan. Saya mampu menghilangkan kesadaran para penjaga dan petugas. Namun saya kembalikan lagi kesadaran mereka. Dengan tas berisi penuh uang saya berjalan santai, polisi dan tentara mengejar saya dengan senjata lengkap, di tengah pepohonan kelapa saya tiba-tiba menghilang dari tengah kepungan mereka. Saya lagi-lagi lolos” ungkap Damian dengan bangga.

“Jadi menurutmu Celarce memberikan kesaktiannya kepadamu sehingga kamu menjadi pencuri terbaik?” balas Pater Ernest.

“Benar Pater. Dulu ada banyak tato di sekujur tubuh saya, setiap tato memiliki kemampuannya sendiri, tato-tato ini bukan sembarang tato, ini adalah kekuatan. Celarce yang mengukir tato-tato magis itu dalam tubuh saya, sehingga saya menjadi begitu kuat. Saya juga bisa tidur dengan gadis cantik mana pun, dan biasanya ada tato D di paha kiri mereka, itu berarti bahwa mereka sudah saya tiduri, hahhahaha....maaf Pater” jawab Damian, kali ini dengan sedikit tawa, baru kali ini ia bisa tersenyum, Pater Ernest juga ikut tersenyum.

“Jadi hampir semua rumah orang kaya sudah saya rampok Pater dan selalu lolos. Saya bisa keluar masuk rumah mereka tanpa diketahui siapa pun. Cuman satu hal Pater kebanyakan dari mereka suka pakai jin sebagai penjaga lumbung hartanya, pelaris usahanya, dan objek pujaan berhalanya. Banyak pengusaha dan penguasa yang rumahnya dijaga ketat sama setan, tuyul, pocong, kuntilanak, dan lainnya Pater. Bahkan ada yang tidak segan-segan menyewa iblis” ungkap Damian. 

“Apakah lantaran itu aksi pencurianmu gagal di rumah Rockefeller?” tanya Pater Ernest.

“Ya seperti begitulah Pater. Tapi soalnya lebih rumit dan buat saya menyesal sampai saat ini Pater. Ternyata sebelum merampok tambang emas di gunung Nemangkawi milik orang Amungme dan Mimika Wee, keluarga Rockefeller itu sudah menculik lebih dulu Mama Amungsa. Seorang gadis penjaga gunung itu. Keluarga Rockefeller sudah mencurinya melalui beberapa orang lokal yang saat itu mengusir keluarga Amungsa yang menjaga gunung Nemangkawi. Bapa-mamanya mereka basmi, anak gadisnya yang saat itu masih belia sekitar 3 tahun mereka bawa dan pelihara di rumah. Anak inilah yang menjadi sumber kemakmuran mereka, dan gadis inilah proyek pencurian terakhir  saya yang gagal Pater. Keluarga Rockefeller takut dan menyuruh Donald Trump menjebloskan saya ke penjara bawah tanah Gunatanamo dan mendapatkan siksa yang hanya menyisakan ratap tangis dan kertak gigi. Seperti begitu Pater ceritanya” tutup Damian, ia terlarut dalam kesedihan karena tidak bisa menolong Mama Amungsa yang di tawan bertahun-tahun oleh keluarga Rockefeller.

“Wah! Cerita Damian ini mirip dengan cerita yang berkembang di Kampung teman-teman masa kecil Damian di wilayah Mapia. Katanya dulu Ir. Soekarno, proklamator dan presiden pertama Indonesia menyamar sebagai seorang dokter dengan nama samaran Dokter Subyono. Ia ikut rombongan Tillemans bersembunyi di sebuah gunung sakral yang bernama Pegaikatimai di kampung Modio. Di puncak gunung itu ia mencuri seorang anak gadis kecil dan ia sekap di pulau Jawa” ucap Pater Ernest.

“Yah Pater. Saya pernah ketemu dia Pater, Soekarno dan gadis kecil itu di penjara bawah tanah Keraton Pantai Selatan seperti tempat ini seramnya. Di penjara bawah tanah itu Soekarno menjadi salah satu pelayan ranjan Nyai Roro Kidul di malam hari, siang harinya ia bertugas membersihkan halaman Keraton. Sementara gadis kecil yang tadi Pater cerita itu ia sudah nenek-nenek umurnya sekarang. Terakhir saya dengar ia sudah dibebaskan oleh seorang perempuan kharismatik asal Mapia itu sendiri. Saya tidak bisa menolongnya, tapi saya sudah beri tahu pemiliknya untuk datang membawanya kembali ke rumah asalnya. Rupanya ada banyak roh-roh alam di Nusantara dari Sabang sampai Merauke, Minggas sampai Rote yang disekap di penjara bawah tanah di Keraton Pantai Selatan. Saya sendiri lihat dengan mata kepala sendiri, dan juga banyak sekali tokoh nasional Indonesia yang menyembah Nyai Roro Kidul layaknya tuhan dari kelas presiden, menteri, jenderal, panglima, investor, jaksa, dan lainnya Pater” demikian Damian. Ia menjelaskan banyak hal yang selama ini sama sekali tidak dipikirkan oleh Pater Ernest.

Tidak terasa, waktu kunjungan dan doa sudah hampir habis. Pater Ernest dan Damian 88 berdoa. Usai berdoa Pater Damian memberikan sakramen tobat dan minyak suci kepada Damian. Damian semakin kuat dan tenang secara jasmani-rohani. Pater Damian juga memberikan sepotong hosti dan setetes anggur suci kepada Damian sebagai bekalnya dalam perjalanan abadinya menuju Rumah Bapa. Tinggal hitung menit, detak jantung Damian akan berhenti dengan padamnya cahaya lilin di lorong gelap perut Guantanamo.

Para petugas yang lengkap dengan pakaian hitam monster pengisap nyawa  itu datang menjemput Pater Ernest.  Ia berpesan kepada Damian supaya tetap tegar dan tenang, Tuhan pasti berperkara. Pater Damian meletakkan lilin kecil hanya butuh 25 menit saja ia akan habis membakarnya dirinya sendirinya dan akan lekas lenyap ditelan gulita penjara bawah tanah Guantanamo yang mengerikan itu.

Pater Ernest sudah tiba di lantai atas. Ia tidak duduk lama. Simon sudah menunggunya di depan ruang tunggu Kantor. Keduanya bergegas ke dermaga Guantanamo. Dalam perjalanannya Pater Ernest menceritakan pengalaman perjumpaannya dengan Damian 88.

“Bagaimana kesannya bertemu empat mata dengan Damian 88 Pater” tanya Simon membuka percakapan santai keduanya menuju dermaga.

“Ya lumayan pa Simon. Damian rupanya tidak seperti yang selama ini orang citrakan dan ceritakan. Dia orang baik. Semoga jiwanya yang baik itu bisa bersekutu dengan Allah sumber segala kebaikan itu” jawab Pater Ernest.

“Amin. Semoga demikian Pater. Terima kasih banyak Pater sudah mau datang. Senang bisa bertemu. Sampai jumpa lagi Pater”

“Sama-sama Pa Simon. Terima kasih sudah mengawal saya di tempat ini” balas Pater sambil naik ke Jonson.

Mereka balap menyusur dermaga kota. Di tengah laut, terdengar tiga kali tembakan bedil panas membangunkan dan mengusir burung-burung yang sedang beristirahat santai di tangkai-tangkai pepohonan kelapa pinggiran pantai yang teduh berhawa dingin.

“Selamat jalan Damian, kau orang baik. Allah menyambutmu” demikian doa hati kecil Pater Ernest di atas Jonson.

Tetiba di dermaga sudah ada rekan imamnya yang menunggu. Mereka bergegas pulang, jarum jam sudah menunjukkan pukul 12:10, itu berarti 5 menit yang lalu jantung dan nafas Damian sudah berhenti bersama redupnya cahaya lilin di lorong gelap perut Guantanamo yang menyimpan banyak misteri gelap.

Tiba di rumah, Pater Ernest naik ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Ia membuka tasnya, mengeluarkan perlatan Misa dan peralatan sakramental yang ia gunakan. Ia kemudian turun ke kamar mandi, membersihkan diri, kemudian kembali. Ia masuk kamar, sebelum tidur ia pejamkan mata berdoa mohon keselamatan bagi jiwa Damian 88. Ia membuka mata di hadapannya berdiri dua orang, Damian 88 dan seorang wanita cantik.

“Jangan takut Pater. Terima kasih sudah mendoakan saya, saya tidak mati. Istri saya tadi sudah menyelamatkan saya. Bunyi tembakan itu tertuju bagi kedua monster penjaga itu” demikian kata Damian.

“Maksud kamu?” Pater Ernest kaget bukan main.

“Selama ini mereka sengaja mengurung saya di penjara bawah tanah supaya istri saya ini tidak mampu melacak saya. Ketika tadi saya saat peluk tubuh Pater, saya sengaja meneteskan air mata saya di jubah Pater dan meletakkan sehelai rambut saya di cawan suci itu supaya udara bisa mengabarkan itu kepada istri saya. Dan benar saja dalam sekejap dia tiba dan kami dua mengikuti Pater, kami bersembunyi di dalam cawan suci yang Pater bawah. Terima kasih banyak Pater” ucap Damian dengan penuh rasa syukur dan terima kasih.

“Maaf Pater, perkenalkan nama saya Celarce. Saya istri dari Damian” sapa Celarce, sosok wanita misterius yang sejak awal Damian ceritakan.

“Baik. Kalian jangan lama-lama di sini. Langsung pulang ke Papua” pesan Pater Ernest.

Keesokan paginya para petugas khusus dari penjara Guantanamo datang ke Biara St. Ignaius, mengunjungi Pater Ernest. Sebab ia adalah orang terakhir yang bertemu dengan Damian.

Mereka mengepung biara tua ini. Pastor Carlos keluar, bertanya apa yang mereka lakukan. Pasukan ini menunjukkan identitasnya dan menanyakan di mana keberadaan Pastor Ernest yang kemarin bertugas ke Penjara Guantanamo, sebab ia sudah bersekongkol dengan salah satu narapidana, musuh negara paling diburon.

Pastor Carlos kaget sebab Pastor Ernest sejauh yang ia tahu dan ingat sudah lama meninggal sejak 10 tahun lalu. Tidak mungkin ia bangkit kembali, mereka masuk ke sudut rumah, menggeledah, namun nihil, memang benar bahwa Pastor Ernest sudah lama meninggal. Mereka juga sampai ke kuburannya yang tidak jauh dari kompleks biara, lagi-lagi benar, Pastor Ernest sudah lama meninggal. Lalu jika demikian, siapakah dia yang kemarin datang ke penjara Guantanamo dengan wujud dan identitas Pater Ernest?

Semua petugas dibuat pusing. Terlebih Simon, sebab dialah satu-satunya orang yang sudah menjemput dan mengantar pulang Pastor Ernest, dan rupanya itu adalah bayangan Pastor Ernest. Simon benar-benar hampir gila, baginya yang kemarin terjadi itu adalah mimpi. 

“Berita tentang kehilangan dirimu yang terjadi tiba-tiba di kediaman Rockefeller itu memaksa diriku untuk menggunakan tubuh seorang imam yang sudah lama meninggal demi menerobos tembok Guantanamo dan sampai di lantai dasar itu membawamu pulang ke negeri asal kita ini sayang” demikian ucap Celarce kepada Damian 88 suaminya dari puncak Gunung Ansus sambil memandang senja menyinari kulit karpet air garam. Sekian


Mauwa, 10/09/2025

🖤❤️🔥

Komentar

Postingan Populer