BERMATIRAGA DALAM TINDAKAN, MEMBANJIRKAN BERKAT
~Degei Siorus
Siang ini, Kamis 11 September 2025 Sekitar Pukul 13:50 WP alam Selatan Lembah Hijau Kamuu tidak sesuram beberapa hari lalu yang mengubah padang rerumputan hijau menjadi persada genangan luapan air kali Mauwa. Umat Kombas Sta. Sisilia Yatugepa, Stasi Sta. Veronika Muniopa, Paroki St. Petrus Mauwa menggelar Ibadah Pendalaman Bulan Kitab Suci Pekan II dengan tema “Pembaruan Relasi Dengan Sesama” (Za. 7:1-14). Topik perenungan dan pendalaman berkisar tentang sejauh mana relasi saya dengan sesama terjalin baik? Sejauh mana puasa, ibadah dan doa sejati saya berdampak pada tatanan kehidupan bersama yang jauh lebih baik? Sejauh mana saya membangun relasi iman yang sehat dengan sesama?
Medan jalan menuju Kapela Kombas Sta. Sisilia Yatugepa terbilang menantang. Cuaca kali ini memang lumayan bersahabat, tapi tidak dengan kubangan-kubangan lumpur bandel bercampur genangan air yang menuntut kewaspadaan ekstra dari mata kaki. Ada sekitar 1 kilometer lebih jarak yang kami butuhkan menuju Kapela Kombas sederhana yang teranyam rapi dari batang-batang jubi pilihan.
Sekitar pukul 14:05 WP kami tiba di halaman Kombas Sta. Sisilia Yatugepa yang asri, kesan hijaunya menunjukkan bahwa tanah di mana kaki kami berpijak ini adalah overdosis subur. Orang-orang belum berdatangan, hanya terlihat beberapa anak kecil polos yang sedang bermain riang dengan seekor ayam jago mereka sebagai penghibur sore. Kami masuk ke dalam rumah tungku yang juga adalah sekretariat Kombas, di dalam sudah ada seorang pemuda yang menunggu, ia sendirian menjaga api dalam tungku tetap bernyala, lumayan kehangatan yang terpancar dari tungku itu memberikan kesan nyaman pada tubuh yang dingin karena banjir keringat.
Sekitar Pukul 15:00 WP beberapa umat sudah mulai mengerumuni halaman kapela, tepat di atas batu-batu wadas yang mereka siapkan di muka pintu depan untuk membangun Kapela. Kami memulai ibadah pendalaman.
“Mama-bapa, ade-kaka saudari-saudara seiman semua. Hari kita akan memulai pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional untuk pekan II dengan tema Pembaruan Relasi dengan Sesama yang diambil dari Kitab Zakaria 7:1-14” demikian buka Victor Yobee, seorang kader Pewarta dari Kombas setempat.
Dalam kata pengantarnya Frater Siorus Degei mengajak umat untuk kembali merenungkan tema pekan pertama terkait pembaruan relasi dengan diriku, kemudian mulai mempersiapkan diri untuk keluar dari relasi personal menuju relasi komunal dengan sesama.
“Bapa-Mama, ade-kaka, saudara-saudari semua. Minggu lalu kita sudah memeriksa hubungan kita dengan diri sendiri. Hubungan dengan diri sendiri ini penting karena akan menuntukan relasi kita dengan sesama. Jika hubungan dengan diri sendiri saja belum selesai dan jelas, bagaimana kita mau membangun relasi yang baik dengan sesama? Pada pendalaman Kitab Suci yang kedua ini kita akan mulai bertolak keluar dari diri sendiri, yaitu membaharui dan membangun relasi baik dengan sesama” ungkap Frater Degei.
Ia menambahkan bahwa bacaan yang akan menjadi destinasi perenungan di sore hari ini mengajak umat untuk menghasilkan buah-buah dari doa, ibadah, dan puasa sejati dalam rupa tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama, terutama sesama yang paling rentan: orang sakit, janda, yatim-piatu, pendatang, musuh, dan lainnya.
“Bapa-Mama, ade-kaka semua yang terkasih dalam Kristus. Bacaan yang akan kita bacakan, dengarkan, renungkan, dan dalami bersama pada sore ini mau mengajak kita untuk berdoa, beribadah, dan berpuasa bukan saja dalam Gereja, di altar suci, tapi juga pertama-tama seruan Nabi Zakaria ini memanggil kita untuk keluar dari panti imam, keluar dari gedung Gereja, keluar dari halaman Kapela untuk berdoa, beribadah, dan berpuasa di pasar, di kebun, di tempat konflik, di tengah-tengah sesama yang mengalami sakit, susah, dan duka. Kita harus menjadi bukti kehadiran Tuhan sendiri yang menyapa umatnya dalam doa tetesan darah dan air mata sesama kita yang menderita” demikian tambah Frater yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Mauwa.
Pewarta Victor Yobee menerjemahkan kata pengantar Frater Degei dengan baik dan sederhana dengan bahasa ibu umat setempat kepada umat yang hadir.
Bacaan yang menjadi topik perenungan dan pendalaman pada pekan kedua Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) ini ditarik dari Zakaria 7:1-14 tentang Puasa yang Baik. Puasa atau matiraga yang baik menurut nabi Zakaria ialah puasa yang menekan hasrat dangkal, puasa dari pikiran dan perasaan jahat seraya menebar kebaikan kepada sesama yang rentan (janda, yatim-piatu, pendatang, dan lainnya). Inilah corak ibadah puasa yang sejati, yaitu yang berdampak pada pembaharuan relasi dengan sesama. Tentu ini senada dengan kiat-kiat pantang-puasa yang Paus Fransiskus anjurkan, yaitu puasa-pantang rohani, bukan jasmani atau daging yang berkutat hanya pada soal makan-minum melulu. Puasa sejati melampaui urusan libido perut, ia menekankan kesungguhan dan keradikalan iman yang menyejarah dalam realitas hidup bersama yang carut-marut dan rentan.
Frater Siorus mengajak umat berdoa, beribadah, dan berpuasa secara sejati melalui tindakan cinta kasih yang nyata bagi sesama yang terlilit luka dan duka.
“Bapa-mama, ade-kaka semua yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Kita harus belajar berdoa, beribadah, dan berpuasa atau bermatiraga lewat tindakan nyata. Jika mau berdoa untuk kesuburan, maka kita harus bekerja keras di kebun memohon kesuburan itu terjadi. Jika kita berdoa untuk keselamatan dan kesehatan anggota keluarga, maka kitalah yang harus memulai jadi mantri, bidan, dan dokter bagi sesama dalam keluarga, kombas, dan masyarakat. Untuk ade-ade sekolah, jika berdoa mohon kepintaran maka harus rajin belajar, jadikan semangat rajin belajar, baca buku, dan dengar-dengar nasehat guru itu sebagai tindakan doamu, tindakan ibadahmu, dan puasamu.” Ungkap Frater Degei dengan tegas.
Beberapa umat yang hadir juga membagikan pengalaman mereka dalam membangun relasi yang harmoni dengan sesamanya, terutama dalam kehidupan Kombas di Kampung. Ada umat yang membagikan pengalamannya mengunjungi sesama anggota keluarga Kombas yang sakit, tidak saja memohon doa kesembuhan bagi mereka, tapi hadir ke rumah, menguatkan mereka, membagikan cerita-cerita lucu yang mampu mengalirkan kembali energi positif mereka.
Ada juga umat yang membagikan pengalamannya, membantu seorang nenek janda yang hampir setiap saat kebunnya terendam banjir. Ia meyakini benar bahwa doa paling nyata itu adalah tindakan kasih, ia membantu nenek janda itu membangun kembali kebunnya yang dihancurkan banjir, ia juga membagikan beberapa bibit pangan lokal, seperti ubi jalar, keladi, nanas, kol, daun bawang, dan sayur hitam agar ditanam nenek janda tersebut.
Seorang pemuda yang hadir juga membagikan pengalamannya, ia juga merelakan beberapa lahan tanahnya yang kosong, yang notabene jauh dari ancaman banjir untuk seorang anggota keluarganya yang yatim, agar ia bisa berkebun dan menyambung hidup.
Dari semua hasil pendalaman ini Frater Degei menyimpulkan dan menegaskan bahwa setiap umat yang hadir harus mampu hadir sebagai “banjir berkat” bagi sesama.
“Bapa-mama, ade-kaka, saudara-saudari semua. Kita hidup di wilayah yang rawan banjir. Tapi semangat doa, ibadah, dan puasa kita tidak boleh dikalahkan dan diredam mati oleh banjir. Justru sebaliknya, kita harus membanjirkan aksi-aksi kasih dan cinta kepada sesama di sekitar kita yang membutuhkan demi pembaharuan relasi iman. Semakin kita dilanda banjir, kita juga harus memastikan bahwa sesama kita juga mengalami banjir sukacita, banjir damai sejahtera, dan banjir kebahagiaan sejati melalui kehadiran tangan-tangan kasih kita, sekalipun dari tenaga kita yang serba terbatas, dari hasil kebun kita yang hancur gara-gara banjir, dan dari iman kita yang sederhana. Santa Sisilia selalu mendoakan kita. Amin”
Pewarta Victor menerjemahkan kesimpulan dan penegasan yang disampaikan oleh Frater Degei. Ibadah pendalaman diakhiri dengan doa umat, disimpulkan dengan doa bapa kami, diakhiri dengan doa dan berkat penutup. Usai pendalaman Frater Degei mengajak umat Kombas Sta. Sisilia Yatugepa untuk berpose bersama. Syanora...
Catatan:
1) Foto I: paronama Kampung Yatugepa, Distrik Kamuu, Dogiyai dari Jembatan Kali Makamo yang menanjang indah permai.
2). Foto II: pose bersama umat di depan Kapela Sta. Sisilia Yatugepa usai pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) Pekan II.
Mauwa, 11 September 2025
🕊✨️🩵



Komentar
Posting Komentar