Berdiri di Bawah Salib: Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita bersama Komunitas Konfrater Keuskupan Timika


 

(Kapela Tiga Raja, Timika di Jayapura, 15 September)


Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa 


Hari ini, 15 September, 2025 Gereja merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita, sebuah devosi yang mengajak kita menatap sosok Maria Bunda yang setia, berdiri di bawah salib, menyatu dalam penderitaan Putranya, Yesus Kristus. Dalam suasana doa dan kontemplasi, komunitas konfrater Keuskupan Timika berkumpul di Kapela Tiga Raja di Jayapura untuk merenungkan makna duka Maria dan bagaimana kita pun dipanggil untuk ikut serta dalam misteri salib itu.

Peringatan ini bukan sekadar mengenang kesedihan Maria, tetapi menjadi momen peneguhan iman, panggilan untuk berjalan bersama Kristus, bahkan dalam penderitaan dan kesulitan yang paling berat. Bagi kami, para konfrater, ini adalah undangan untuk memurnikan motivasi panggilan, memperdalam kesetiaan, dan menimba kekuatan dari teladan Maria.

Sejarah mencatat bahwa devosi kepada Maria Berdukacita berkembang sejak abad ke-12, diperkaya oleh ordo-ordo religius seperti Cistersien, Fransiskan, dan Hamba-hamba Maria. Salah satu simbol terindah adalah lagu “Stabat Mater” karya Jacopone da Todi, yang mengajak kita membayangkan Maria berdiri di kaki salib, berbagi derita dengan Putranya. Puncaknya, pada tahun 1913, Paus Pius X menetapkan 15 September sebagai peringatan liturgis resmi bagi Gereja universal.

Dalam devosi ini, kita mengenang Tujuh Dukacita Maria, dari nubuat Simeon, pelarian ke Mesir, kehilangan Yesus di bait Allah, hingga Maria menyaksikan sengsara dan wafat-Nya di salib, lalu mengantar-Nya ke makam. Setiap duka itu menjadi madah kesetiaan dan kasih yang tidak tergoyahkan.

Firman yang Menguatkan: Lukas 2:33-35 dan Ibrani 5:7-9, Dalam Injil Lukas 2:33–35, kita membaca nubuat Simeon kepada Maria, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Penderitaan itu bukan akhir, melainkan jalan pembukaan rahmat,.“Supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang".

Sementara dalam Surat kepada Ibrani 5:7-9, kita melihat bagaimana Kristus sendiri belajar menjadi taat melalui penderitaan, dan Maria Bunda-Nya, menjadi saksi dan peserta utama dalam proses itu.

Dalam homilinya, Pastor Agustinus Tebai menegaskan bahwa, .“Penderitaan itu memang menyakitkan, tetapi dalam pelukan Bunda Maria, kita belajar bahwa tidak ada air mata yang sia-sia di hadapan Tuhan".

Maria berdiri di bawah salib bukan karena kuat, tetapi karena cinta yang tak menyerah. Di balik luka ada cinta, dan di balik tangis, ada kekuatan. Penderitaan menjadi sekolah hati, dan Maria menjadi guru yang lembut dan sabar. Maka dalam setiap salib yang kita pikul sebagai konfrater, dalam pelayanan, hidup bersama, dan pengabdian kepada umat, kita diundang untuk belajar dari ketekunan dan keberanian Maria.

Pater Agus menegaskan bahwa “Jika Maria bisa berdiri di bawah salib, maka kita pun bisa berdiri di bawah beban hidup, karena kasih yang sama menopang kita.”

Peringatan ini menegaskan bahwa kesedihan bukan akhir kisah iman, tetapi bagian dari jalan menuju kedewasaan rohani dan kesucian hidup. Maria menunjukkan bahwa berdiri di bawah salib bukan tanda kelemahan, tetapi keberanian untuk percaya ketika segalanya tampak gelap.

Sebagai komunitas konfrater Keuskupan Timika, kami diingatkan kembali akan nilai-nilai ketaatan, pengharapan, dan kasih sejati dalam hidup religius. Dalam Maria Berdukacita, kami menemukan bukan hanya Bunda yang bersedih, tetapi Bunda yang menguatkan.

Dengan demikian, “Santa Perawan Maria Berdukacita, doakanlah kami, agar dalam segala duka, kami tetap setia pada salib Kristus.”

Semoga devosi ini terus menghidupkan semangat pengabdian kami. Dan semoga setiap konfrater, dalam setiap tugas dan panggilan, tak hanya bertanya "mengapa", tetapi mampu berkata seperti Maria: “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.

Komentar

Postingan Populer