APA GUNANYA KALAU MEMILIKI TELINGA TAPI SEOLAH-OLAH TIDAK MEMILIKI TELINGA
Oleh: Martinus Tenouye
Telinga ada dua, tapi sia-sia jika tak dipakai untuk mendengarkan kelu-kesa yang terjadi dalam realitas. Telinga dimiliki, seakan tak pernah digunakan untuk mendengar kebenaran. Di sisi lain sudah mendengar kebenaran tapi tidak mau bersuara karena di telinga ditutupi oleh kebohongan palsu. Kebohongan palsu itu muncul ketika orang tidak sadar dengan realitas. Orang yang tidak peduli terhadap realitas, maka kebohongan palsu menjadi kebenaran. Di dalam benaknya selalu memikirkan kebohongan itu, karena mereka dikuasi oleh dunia kekuasaan dan kebohongan palsu. Ungkapan “memiliki telinga tapi seolah-olah tidak memiliki telinga” ini seringkali tidak menjadi asing atas ketidakpedulian terhadap penderitaan yang nyata, khususnya dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) situasi HAM di Papua telah lama menjadi isu yang kompleks, namun sayangnya masih banyak kalangan, baik individu, lembaga, maupun negara, yang memilih, mengabaikan, atau menolak untuk “mendengar” kebenaran tersebut.
Dalam tulisan ini, fenomena tesebut akan dianalisasi melalui perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, berdasarkan ungkapan “memiliki telinga tapi seolah-olah tidak memiliki telinga” dengan fokus pada konflik antara ego dan realitas, serta mekanismes pertahanan diri yang menjelaskan mengapa sebagian masyarakat atau negara menolak untuk mengakui realitas kekerasan pelanggaran HAM di Papua, dan mengapa banyak orang memilih untuk diam, tidak mau bersuara atas realitas yang terjadi.
Berkaitan dangan beberapa persolan di atas Freud menjelaskan dalam perpektif kolektif sosial, dalam suatu kehidupan tentu saja bisa memiliki realitas yang tidak dimungkinkan untuk mengsejahterakan masyarakat. Dalam suatu negara itu kalau ada seorang pemimpin yang kurang berpengalaman, dan tidak bijak. Maka negaranya menjadi kacau dan tidak teratur. Segala ketidakadilan yang terjadi di Papua, banyak orang memilih diam, tidak bersuara atas realitas. Meski begitu perjuangan demi kebenaran jangan berhenti, sebab kebenaran itu tetap menang meski kebenaran itu dibungkam oleh banyak orang. Atas realitas ini, dalam kenyataan secara dasar atau tidak banyak orang pura-pura tidak mendengar lalu menolak kebenaran. Inilah bentuk nyata dari “ memiliki telinga tapi seolah-olah tidak memiliki telinga”. Informasi atau realitas tentang penderitaan orang Papua (OAP) ditekan secara spikologis, sangat mempengaruh terhadap spikologis anak di masa depan, karena terlalu banyak menimbulkan konflik moral maupun konflik terhadap spikologis.
Konsep “Collective Unconscious” dikembangkan oleh Carl Jung….adalah, Freud juga mengakui bahwa nilai-nilai budaya dan nasionalisme dapat membentuk mekanisme represi kolektif. Dalam konteks Papua, ada semacam “budaya bungkam” atau Culture Of Silence. Memang kenyataan bahwa di setiap media dikendalikan atau dibatasi semua informasi terkait realitas di Papua. Kita bisa melihat secara lebih detail sikap ketidakadilan tersebut ini, atau “tidak ingin mendengar” ini merupakan manifestasi dari represi sosial terhadap realita yang menyakitkan. Oleh sebab itu, pentingnya saling mendengarkan kepada semua pihak. Dalam hal ini, Freud menjelaskan dalam perspektif psikoanalisis, bahwa penyembuhan dimulai dari kesadaran akan yang ditekan. Kalau dalam konteks Papua, bangsa Indonesia perlu untuk mulai mendengar dengan kesadaran penuh dan menghadapi luka-luka sejarah secara jujur. Selain dari pada itu saling mendengarkan, pentingnya dialog, duduk bersama-sama lalu bicarakan semua realitas yang terjadi. Ini melibatkan semua pihak dan menyampaikan pendapat masing-masing, dengan cara demikian semua pelanggaran itu dapat mengatasi dengan baik. Hanya dengan kesadaran, keterbukaan dan kemauan untuk “ mendengar dengan sungguh-sungguh”, luka sejarah di Papua dapat disembuhkan. Ingatlah bahwa anda jangan! anda memiliki mata dan telinga tetapi seolah-olah tidak memiliki mata dan telinga! Jangan jadikan“Culture Of Silence” tetapi gunakanlah telinga dan matamu untuk mendengar tentang realitas yang terjadi di depan anda.



Sangat benar Indonesia babi buta
BalasHapus