TARZAN ROBONGHOLO
(Sebuah Cerpen)
*Siorus Ewainaibi Degei
Tony dan Anjel janjian untuk ketemuan di dermaga Kampung Yobee, Sentani, ‘Enjel, ada satu tempat indah untuk sansetan sore begini di Kota Jayapura’, chat Tony ke Enjel via WA, ‘Ah masa? Di mana itu balas Enjel dengan cepat. Ia baru saja selesai mandi dan bersiap-siap. ‘Ada deh, biasa markas-markas ...hehehe’ balas Tony membuat penasaran Enjel, ‘Stop bercanda Ton, tidak ada hal yang lucu di sini’ sergah Enjel dengan mengirim emotikon kesal dan marah, ‘Sudah nona tunggu di depan jalan, kita jalan sekarang berburu senja’, ucap Tony seraya tancap gas dari arah rumahnya di Kotaraja menjemput Enjel pujaan hatinya yang tinggal di Asrama Putri Wisma Lidya, Padang Bulan, ‘Hhm..oke-oke, jangan lama-lama’ balas Enjel dengan emoji kesal, ‘Ok bos, otw!’ Tutup Tony, ia meluncur. Tony membeli beberapa potong roti bakar di depan Koramil, Abepura.
Enjel, dengan penampilannya yang memukau sudah menunggu Tony di tepi kaki tanjakan Yakonde, dekat Lapangan Bola Zakeus Pakage. Memasuk jalan Yakonde, aroma parfum khas Enjel di bawa angin bukit Yakonde lebih dulu menyambut Tony, ia sedikit tenang, ‘Maaf nona, sedikit lama, tapi ada beli roti bakar jadi’ rayu Tony menenangkan Enjel yang terlalu sedikit ngambek. Tanpa basi-basi mereka menuju Sentani. Di expo mereka singgah dulu untuk membeli jagung bakar manis yang dijajakan mama-mama asal Lembah Baliem dengan sentuhan-sentuhan cinta.
‘Kita mau kemana Ton. Jauhkah tidak?’, tanya Enjel cemas dengan nada penasaran, ketika mereka sudah mulai memasuki batas kota, ‘Sebuah kejutan itu bukanlah kejutan kalau nona tahu sebelum melihat dan menikmatinya’ balas Tony dengan dana merayu dan bercanda, ‘Hmm...awas saja kalau tidak semanis ko pu mulut, tangan ini libur satu bulan tidak tampar orang jadi’, balas Enjel. Mereka berdua jalan layaknya pasangan muda yang terlelap dan terbakar api kasmaran masa muda.
Mereka menuju Kampung Yobee. Mereka berhenti di Dermaga Kampung Yobee, ada tangga-tangga sekaligus jalan di atas kulit air danau yang terbuat dari papan yang tersusun kuat dan rapi, ini adalah jalan di karpet air danau yang menghubungkan beberapa kampung di pulau-pulau kecil, ‘Nona biasa ke tempat ini sebelumnya atau tidak?’ tanya Tony seraya memarkirkan motor di garasi tempat parkir kendaraan pengunjung, ‘Tidak sih. Ini kali pertama. Tapi teman-teman enggo sama yauw asal Sentani sering sebut nama kampung ini’ jawab Enjel dengan wajahnya yang mulai takjub mendapatkan panorama pedesaan yang indah di tepi-tepi pulau dengan apitan aliran danau yang jernih. Beberapa ikan lohang, ikan nila, ikan mas, dan ikan mujair sedang bermain ceria bersama anak-anak belia yang yang mandi di pinggiran dermaga seraya balada pujian alam mengarak mentari kembali ke rumah abadinya, ‘Sungguh ini. Inikah kejutan yang kamu maksudkan. Indah sekali yah’ ucap Anjel sambil berjalan lebih dulu sedikit berlari ke arah dermaga dan mulai live, ia merekam aktivitas sore harinya itu, yah seperti wanita sebayanya pada umumnya ketika melihat pemandangan yang tidak biasa, ‘Ton, kita duduk di sini yah. Seru, gunung Cyclop lebih nampak dan sansetnya bisa terlihat seutuhnya’ minta Anjel dengan nada tinggi dan manja memilih tempat santai untuk mereka berdua, ‘Baik nona, disitu saja’ jawab Tony sambil menenteng plastik warnah hitam berisi roti bakar, jangung bakar, dan beberapa minuman dingin, tidak lupa sekantong pinang yang mereka beli di pasar Expo dan juga satu bungkus roko nation bolt hitam yang Tony beli, karena ia tahu bahwa angin sore di atas tangga-tangga dermaga Yobee amatlah dingin, jadi dirinya membutuhkan pinang dan roko untuk menetralkan suhu tubuhnya.
‘Nona lihat senja di ujung di sana’ Ucap Tony sambil menunjuk ke arah pulau-pulau jauh. Cahaya senja menyinari badan gunung Cyclop. Kali ini nasib kedua pasangan muda ini baik, gunung cyclop terang benderang, terlukis jelas. Mereka seakan-akan melihat satu mahakarya seni lukis aliran naturalisme yang sungguh hidup. Hanya kagum dan kagum yang mereka rasakan.
‘Bicara-bicara, tapi nona tahu atau tidak tentang mitos ular naga di gunung Cyclop sana’ ucap Tony membuka suatu percakapan serius, ‘Tidak tahu persis. Tapi teman-teman yang asli dan lahir-besar Sentani sini biasa cerita-cerita kalau ada jam mata kuliah yang kosong di kampus juga sebelum istirahat malam di asrama’ Jawab Enjel sambil menikmati jangung bakar, ‘Gunung ini sebenarnya orang-orang lokal pandang sebagai tempat sakral. Tempat berdiamnya para leluhur mereka, selain di dalam danau ini, yang ceritanya ada buaya putih’ Yang benar Tony, macam semua-semua kaka paham baik begitu balas Enjel, ‘Ada banyak rumor yang beredar dan berkembang di kalangan masyarakat sini nona. Sampai saat ini belum bisa dipastikan secara jelas, tapi dalam keyakinan lokal religius masyarakat setempat barang itu ada dan hidup lestari’ ucap Tony dengan nada serius. Tony tahu banyak karena ia banyak bergaul dengan anak-anak asli Sentani. Bahkan saat-saat libur ia biasa menginap di beberapa rumah temannya di pelosok pulau-pulau sentani. Apalagi Tony adalah anak yang suka bertanya dan punya ingatan kuat, sehingga banyak cerita-cerita rakyat sentani yang ia tahu.
‘Dulu pernah ada dua orang sahabat karib. Mereka tinggal di bawa kaki gunung Cyclop, sebenarnya salah sih namanya bukan cyclop, nama aslinya ada, yaitu Robongholo’, ungkap Tony, ia melanjutkan, ‘Dua orang sahabat itu suka cari buah-buahan sepulang sekolah. Kisah ini terjadi hampir 30 tahun lalu. Satu kali di dekat salah satu rawa mereka melihat pohon mangga yang buah-buahnya sudah menguning menyala dan masak-masak. Kedua sahabat ini mengadakan janji untuk memetik buah mangga itu sepulang sekolah. Keduanya masih SD kelas tiga. Sepulang sekolah mereka saling mencari dan mengajak menuju rawa tadi. Mereka tidak ajak teman lain. Salah satu di antara mereka namanya Jefry, ia yang memanjat, karena ia mahir panjat pohon, sementara Eko sudah siap menunggu di bawa kaki pohon mangga tua yang cukup raksasa di tengah-tengah rawa kering yang sering berubah jadi kolam besar tatkala hujan lebat memandikanyaa. Puluhan buah mangga sudah jatuh. Hati kedua anak ini melonjak kegirangan. Mereka membayangkan betapa hokinya mereka berdua hari itu. Eko memungut semua buah yang jatuh dan terpental ke arah jauh dari pohon, karena diserang beberapa semut, Jefry turun cepat-cepat, sebelum menginjak tanah, ia lalu menghilang, suara terakhirnya adalah terikan mamaa...’ ucap Tony menghela nafas sambil meminta Enjel tunggu karena ia harus makan pinang dan menikmat satu-dua batang roko, ‘Jadi bagaimana kelanjutan kisahnya’ minta Enjel dengan nada mohon, ‘Santai-santai orang makan pinang pasang roko dulu nona’ jawab Tony yang sudah selesai menghabiskan satu buah sirih panjang dan mulai menyalakan korek api membakar ujung roko Nation Bolt-nya.
Jadi, Jefry hilang, Eko tidak melihat karena Jefry hilang dalam satu kali kedipan mata, artinya begitu ia turun, rupanya ada lubang cukup besar di akar pohon itu, Jefry turun, ya turun-turun langsung ke dalam lubang itu entah kemana. Eko tentunya tidak menyadari hal ini. Usai mengumpulkan mangga, ia segera memanggil dan menyuruh turun temannya dari pohon. Beberapa kali ia panggil, tapi tidak ada suara Jefry yang menyahut. Eko mulai takut, ia mengira Jefry sedang bercanda dan sedang bersembunyi di suatu tempat. Ia berteriak meminta Jefry untuk keluar, ‘Jef keluar sudah, tidak lucu. Mangga sudah banyak, sudah sore, sedikit lagi gelap, mari kita pulang sudah, mama mereka pasti cari’ teriak-teriak Eko. Tapi tidak ada jawaban satu pun kata dari Jefry, Eko terus berteriak memanggil, tapi hasilnya nihil, ‘Dalam hitungan tiga kalau ko tidak muncul berarti saya bawa mangga semua pulang nanti’, Eko mengancam Jefry, tapi sama saja, Jefry tidak menjawab dan hanya suara jangkrik dan unggas hutan yang mengabarkan bahwa keadaan hampir gelap, malam sudah dekat, segera pulang. Eko dengan rasa benci, marah, takut, dan sedih pulang. Ia tidak senang karena banyak mangga, tapi dia sedih, karena ia harus pulang sendirian, padahal tadi sepanjang jalan menuju rawa penuh dengan rasa bahagia antara dirinya dengan sahabatnya, Jefry yang hilang entah kemana’ Tony berhenti bercerita, rokonya tinggal puntung, ia harus lanjut menikmati satu batang roko lagi, di sebelah kirinya setengah botol kemasan teh pucuk hampir terisi full dengan ludah pinangnya yang merah segar, ‘Kenapa selalu begitu. Habiskan dulu ceritanya, lalu fokus hal lain’ kesal Enjel dengan tingkah Tony yang suka berhenti di tengah jalan cerita dan bercanda, ‘Nafas kaka terbatas nona, harus ada roko dan pinang, tidak mungkinkan nona bagi nafas sama kaka di tengah-tengah orang banyak begini, jadi sabar dan tenang’, ucap Tony main gila sambil terbahak-bahak, ‘Tidak tahu malu, siapa juga yang mau cium bibir merah dan aroma roko itu. Pasti pulang tenggorokan ini pindah tempat’ balas Enjel kesal, keduanya terbahak-bahak bersama-sama. Orang-orang di sekitar dermaga membuang pandangan bersamaan ke arah kedua kekasih yang sedang menikmati hangatnya cinta dan serunya kisah seputar mitos Robongholo.
Eko pulang sendiri dengan rasa sedih, dan kecewa. Di perjalanan, memasuki Kampung, beberapa teman bertanya kepadanya, di mana Jefry, ia semakin kesal dan memarahi mereka untuk diam. Jefry hilang, ia tidak pulang sampai tengah malam. Kedua orang tua dan kaka-kakanya mencarinya. Rumah pertama yang mereka datangi tentu adalah rumah Eko. Sebab Jefry dan Eko adalah sahabat karib. Rumah mereka juga berdekatan. Keluarga Jefry bertanya kepada orang tua Eko, ‘Apakah Jefry ada bersama mereka malam ini?’, tapi mereka menjawab sebaliknya. Eko dipanggil, ia baru saja mau mimpi, mamanya membangunkan, ‘Di mana temanmu, Jefry, mamanya ada cari, belum pulang ke rumah katanya’, Eko menjawab tidak, memang benar tadi mereka sama-sama siang pulang sekolah cari mangga ke arah rawa di tengah hutan, tapi saat mau pulang Jefry tiba-tiba menghilang. Para warga dengan pelita di tangan menyusuri jalan menuju rawa di tengah hutan. Mereka menggeledah pohon Mangga di setiap sisinya. Ada tiga pemuda yang naik dan memeriksa pohon besar itu, tapi tidak menemukan sedikit pun bukti keberadaan Jefry itu. Anak itu benar-benar dinyatakan hilang entah kemana. Orang tua terus mencari. Mereka memanggil para dukun dan tua-tua adat, namun nihil. Menurut informasi terakhir dari salah seorang ondo, Jefry sudah diculik penunggu rawa dan nyawanya tidak selamat, apalagi dia baru 08 tahun, ini adalah usia yang pas untuk tumbal. Keluarga pasrahkan saja kejadian ini kepada Tuhan. Keluarga menggelar ibadah. Tidak ada pilihan dan jalan, Jefry benar-benar sudah mati.
Belasan tahun kemudian. Musibah ini sudah lama hilang dan tidak dibicarakan orang. Hanya ada larangan jangan ke arah rawa hutan, terutama bagi anak-anak kecil. Ada seorang penjelajah gunung sedang menjelajahi gunung Robongholo, namanya Robert, pendaki asal Prancis. Ia berhenti di satu tempat yang disediakan untuk beristirahat. Malamnya ia mendengarkan desikan ular. Dari suara desisnya ini bukan ular kecil, tetapi ular besar, karena suaranya besar, jauh, dan jelas. Ia bangun, memegang senter dan beberapa alat penjinak ular dan melihat, ada seorang pria gagah, berusia 25 tahun sedang berdesis, menangis, dan kedinginan. Robert mendekat, ia senter semakin jelas, ternyata itu adalah seorang pria gagap, ia tidak waras, agak sedikit gangguan psikis. Robert mengajak bicara, tapi anak itu memilih diam, sambil melihatnya, anak itu menghindar pelan-pelan, menarik kepalanya dan dengan gesit dan cepat menggigit mirip serangan ular dengan cara mematuk, namun Robert ini bukan sembarang penjelajah ia sudah terlatih dan profesional, sudah banyak gunung ia taklukkan Ia membawa anak ini ke Kampnya. Ada permen coklat kurma yang ia bawa sebagai pengganjal lapar dan magnya, ia berikan beberapa potong. Anehnya anak ini tidak mengunyah, melainkan lebih banyak menelan. Penjelajah asal Prancis ini menelepon kawanya yang pakar psikologis di negara asalnya, memintanya supaya bisa mendiagnosis anak yang ia temukan di dalam hutan Robongholo dengan semua gejala yang ia temukan dalam diri anak tersebut. Teman Robert, Kelly di Prancis dengan cepat menemukan jawabannya. Anak ini mengalami kelainan jiwa, seperti ia sudah hidup di alam liar lebih dari 10 tahun tanpa perjumpaan dengan dunia manusia. Ia mirip tarzan, kata psikolog itu. Robert bertanya bagaimana bisa anak ini mereka pulihkan. Ia butuh rehabilitasi mental untuk beradaptasi dengan dunianya yang baru. ‘Apakah kau bisa membantunya’ tanya Robert kepada temannya, ‘Tentu bisa, tapi akan sedikit lebih sulit, sebab bahasa hewan yang sering ia keluarkan, hanyalah ular. Desis ular agak sulit kita tafsirkan, tapi bisa, sebab ia bisa paham bahasa tubuh, ia juga bisa dengan cepat mengerti maksud pesan yang kita berikan. Jadi saya menebak, ia tidak hidup dengan jenis ular sembarangan. Sebab selain insting aktif dan baik, ia juga cerdas, dan punya empati, ia bisa bersedih, ikut merasakan sedih dan marah dengan alasan-‘alasan yang rasional atas rangsangan luaran yang ia jumpai’, jawab Kelly, rekan psikolog Robert’ tutup Tony, sambil memasang lagi api rokoknya yang hampir habis, ‘Buang sudah rokonya, mengganggu sekali’ bentak Enjel yang sudah mendengar cerita Tony dengan serius, ‘Ceritanya panjang nona, santai dan sabar’ ucap Tony sambil membakar ujung rokok dan menghirup beberapa kali tarikan nafas panjang dan dalam sambil menyemburkan ke mana-mana, seperti pejalan kaki di padang gurun yang yang haus dan meminum air segar dari pancaran terjun alam yang sejuk.
Tony melanjutkan, sambil menikmati roko dan pinang, ‘Jadi, Robert dan Kelly merasa takjub dengan jenis ular yang sudah lama hidup dengan anak asing itu, penemuan keduanya ini mereka namakan ‘The Tarzan of Robongholo’. Anak kecil itu mulai normal. Mereka membawa anak ini pun ke kenalan mereka, Doktor Janneth, seorang ahli bedah saraf dan pakar neuron kliniks untuk memeriksa otak Tarzan Robongholo. Dokter Janneth melihat bahwa ingatan manusiawi Tarzan Robongholo ini masih ada, namun tersembunyi di alam bawah sadar yang jauh. Untuk itu mereka mesti merangsangnya keluar dan muncul ke permukaan kesadaran dengan sebuah alat yang mereka sebut ‘kursi pemulih ingatan’. Ia sejenis kursi yang sudah dilit dan didesain dengan aneka alat canggih yang terkoneksi langsung ke sistem kerja saraf dan neuron manusia. Alat ini berfungsi mengubah atau memindahkan ingatan seseorang ke orang lain (clooning memory), bisa juga menghilangkan ingatan seseorang secara permanen (delete memory), juga mengembalikan ingatan seseorang yang sudah lama hilang (refresh memory). Dengan alat bernama ‘kursi pemulih ingatan’ ini Dokter Jenneth berusaha mengembalikan ingatan Tatzan Robongholo. Akhirnya, setelah melewati proses yang panjang dan begitu rumit, mereka akhirnya sukses. Mereka menemukan kembali ingatan Tarzan secara lengkap. Dokter Janneth, Robert, dan Kelly mulai mewawancarai Tarzan Robongholo, ‘Siapa kau sebenarnya, dari mana asalmu. Apakah kau masih ingat dengan sosok ular yang bersamamu?’ demikian tanya Dokter Janneth dengan ekspresi penuh perhatian dan fokus.
‘Saya Jefry. Saya dari Sentani, saya mau pulang’ jawab Jefry si Tarzan Robongholo itu dengan nada ketakutan karena ia sudah berada di ruangan serba kaca dan eletron plastik dengan suhu sangat dingin, ‘Kenapa ular itu tidak membunuhmu. Seperti apa bentuknya?’ Kelly kembali bertanya dengan nada tenang sambil mengenakan jaketnya yang tebal ke tubuh Jefry karena melihatnya ketakutan dan kedinginan, ‘Dia bukan sekedar ular biasa, dia mama saya. Dia yang merawat dan memelihara saya sejak kecil. Dia baik sekali dan penuh cinta’ jawab Jefry si Tarzan hutan sambil merunduk sedih mengenang sosok ular yang sudah memeliharakannya sejak usia 08 tahun sampai 25 tahun (17 tahun), ‘Bisakah kau gambarkan sedikit sosoknya seperti apa?’ tanya Dokter Janneth sambil menunjukkan koleksi anek macam ular yang tersebar di dunia, ‘Ia tidak sama dengan semua ular dalam gambar ini. Ia sangat besar. Besar sekali, tapi baik, ada mahkota emasnya. Ia bisa berkomunikasi dengan saya. Ia mirip mama kandung saya sendiri’ jawab Jefry si Tarzan Robongholo penuh meyakinkan setelah melihat dengan saksama berbagai jenis ular yang Dokter Janneth sodorkan. Mendengar jawaban-jawaban Tarzan, ketiga orang Prancis ini semakin bingung, kenapa ular bisa disapa mama? Kemana ada manusia yang bisa hidup dekat dengan alam, dengan ular, dan meyakini pasti itu mama? Kenapa ular itu tidak menghabisi nyawa anak ini sejak awal bertemu? Kenapa ia memelihara anak ini selama 17 tahun dan tubuhnya sehat dan baik-baik saja layaknya cinta seorang ibu pada anaknya? Pertanyaan-pertanyaan ini timbul dan mengacaukan alam sadar ketiga orang barat ini. Hampir satu tahun lebih Tarzan tinggal bersama Robert. Karena Tarzan ini berasal dari Sentani. Robert mengirimnya kembali ke Sentani. Ia diturunkan di bandara. Jefry menuju rumahnya. Ia sudah tumbuh dewasa, satu tahun lebih ia hidup dan tinggal di Paris bersama Robert. Ia pulang, Sentani sudah berubah, sangat padat sekali. Tempat-tempat bermainnya waktu kecil dulu sudah berubah menjadi ruko, hotel, kontrakan, pasar, dan bangunan-bangunan besar ainnya. Ia masih ingat gunung Robongholo tempatnya hidup. Ia hidup di dasarnya bersama ibu asuhnya, seorang Naga betina yang baik hati.
Jefry kembali ke kampungnya, keluarganya entah kemana. Ia duduk dan bertanya kepada seorang tukang ojek, ‘Adik tahu rumah orang yang bernama Eko’ tanya Jefry mencari Eko, ‘Oh iyah, rumah yang di sisi kanan Gereja. Mari sekalian saya antar’ jawab tukang Ojek sambil menawarkan tumpangan karena melihatnya kebingungan dan kecapean, ‘Halo..selamat siang’ sapa Jefry dengan sopan dan pelan, ‘Iyah selamat siang juga ada perlu apa yah?, jawab Eliz, istri Eko dengan penasaran sambil memperhatikan perawakan Jefry yang memang sudah berubah, ‘Saya perlu sama Bapa Eko. Beliau ada?’ balas Jefry sambil bertanya balik, ‘Iyah ada, tunggu sebentar. Bapa....ada tamu yang cari, laki-laki muka baru’ ucap Eliz, ‘Baik-baik, bilang dia tunggu’, jawab Eko yang sedang santai di halaman belakang rumah di bawah rimbunan pepohonan buah-buahan mangga yang ia tanam. Salah pohon mangga ia namak Jefry, bibitnya berasal dari buah mangga yang menjadi bagian sahabatnya saat dulu mereka petik di rawa hutan.
‘Bapa suruh tunggu, biar mari masuk duduk dulu’ Eliz memanggil Jefry, menyuruhnya duduk, ia juga menyediakan minuman dingin, ‘Kaka sepertinya orang baru di sini yah. Dari mana kiranya?’ tanya Eliz, ‘Benar ibu. Saya baru di sini. Habis dari Paris Prancis’ jawab Jefry dengan sopan, ‘Wow! Di Prancis, kuliah atau kerja? Ada perlu apa sama Bapa sini?’, tanya Eliz dengan penuh penasaran tapi dengan empati dan ramah, ‘Dulu ada teman masa kecil saya, kami sahabat karib, namanya Eko. Menurut orang-orang sini, yang namanya Eko itu rumahnya di sini, jadi saya datang pastikan saja’ jawab Jefry sambil menikmati minuman dingin, ‘Tapi bapa tidak pernah cerita kalau dia punya teman yang kuliah, kerja, atau tinggal di Prancis’ respons Eliz sambil meragukan pernyataan Jefry, ‘Halo..kawan...bagaimana ada yang bisa saya bantu, maaf agak lama menunggu’ sapa Eko sambil menyalami Jefry, ‘Tidak papa, saya hanya mau tanya rumah bapa Maikel di mana yah?’ balik jawab Jefry sambil bertanya, ‘Bapa Maikel? Oh saya kenal, kebetulan kami berdekatan, rumah mereka ada seng warna putih itu’, jawab Eko sambil menunjuk ke arah rumah bapa Maikel. Bapa Maikel ini nama ayah kandung dari Jefry, ‘Baik terima kasih’ balas Jefry dengan ramah, ‘Tunggu, tapi kawan ini siapanya bapa Maikel yah, soalnya saya juga cukup dekat dengan mereka, terutama anaknya yang bernama Jefry, yang sempat hilang 17 tahun lalu?’, Jefry menghela nafas pelan-pelan menatap sahabat karibnya sejak masa kecil yang terpisah 17 tahun silam itu, ‘Saya minta maaf Eko, saya ini Jefry. Saya mau ketemu bapa, mama, kamu semua’ jawab Jefry sambil menangis dan memeluk Eko, ‘Jefry, yang benar saja, ini benar Jefry sahabat kecil saya?’ Eko kaget, seperti disambar petir di siang bolong, keduanya hilang dalam rasa sedih, bahagia, kaget, dan lainnya, ‘Jefry kau masih hidup ini, saya tidak mimpikan’ bahagia Eko, mereka menuju rumah Jefry, ibu dan bapanya sudah ringkih. Keduanya dijaga adik bungsunya, Paskal. Eko dan Jefry saling merangkul seperti dulu kala waktu masih kecil, dari jauh Maikel sudah melihat keduanya, ‘Mama mimpi yang tadi malam itu sepertinya akan terjadi sesaat lagi’ teriak Maikel kepada istrinya. Tadi malam, ular naga betina datang dalam mimpi ibunya, dan membisikkan berita bahwa anak mereka akan kembali dalam keadaan selamat dan sehat. Sesuai mimpi, Jefry si Tarzan Robongholo itu berjumpa dengan ayah dan ibunya setelah 17 tahun berpisah dan hilang secara misterius dalam perut gunung Robongholo dan rahim Naga Betina.
‘Saat itu, ada lubang besar di bawah akar pohon mangga besar yang kita petik itu Eko. Saya hilang di dasarnya. Ada seekor naga besar datang dan mau menelan saya, tapi ia dihalang seekor naga lainnya. Mereka ribut, yang jantan mau memakan saya saat itu juga. Sementara betina menolak, karena saya masih kecil, daging saya tidak akan cukup untuk mereka berdua. Kemudian mereka bikin perjanjian, saya baru akan dimakan jika saya sudah tumbuh besar. Tugas menjaga saya diberikan pada naga betina. Ia memelihara saya dalam goa dan rahimnya sendiri, karena sudah lama. Ia menganggap saya sudah seperti anak kandungnya sendiri, sebab 17 tahun kami lalui bersama, 17 tahun saya hidup dalam rahimnya. Tiba saatnya, naga jantan datang, mau menagih janji. Sebelum ia datang, mama sudah menunjukkan jalan keluar untuk saya. Saya bebas dari ancaman naga jantan berkat naga betina. Di puncak, saya bertemu Robert, seorang pendaki asal Paris-Prancis. Ia membawa saya satu tahun lebih ke Paris untuk memeriksa saya dan menyembuhkan saya secara total dengan alat-alat mereka yang canggih, dan hari ini mereka pulangkan saya ke sini. Demikianlah kisah saya waktu itu Eko, ipar, Mama, Bapa, Kaka, dan adik. Mari kita jaga Robongholo, ada mama asuh saya yang baik hati bagi orang baik dan jahat baik orang jahat di dasarnya.’ Kisah Jefry mengisahkan kilas balik apa yang menimpa padanya.
‘Jadi begitu kisahnya Enjel, yah tidak terasa keadaan sudah mau gelap, mari kita pulang’ ucap Tony menutup rangkaian cerita tentang Jerfy si Tarzan Robongholo yang 17 tahun hidup di dasar rahim Naga raksasa dalam gunung Cyclop alias Robongholo. ‘Semoga Perusahaan Nikel yang ceritanya mau masuk hancurkah Robongholo ini berhenti, sebelum Naga marah dan Sentani hilang tinggal nama’ ucap Enjel dalam hati sambil menatap Robongholo yang tertutup kabut. Sekian!
)* Penulis Alummi STFT Fajar Timur, Abepura-Papua.



Komentar
Posting Komentar