Filsafat Humanisme: Kehidupan yang Bijak, Cinta, dan Kebijaksanaan untuk Hidup Lebih Baik


 

(Inilah Hidup: Siapakah Aku Sebenarnya?)

Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa 

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philein (mencintai) dan sophia (kebijaksanaan), yang secara harfiah berarti “cinta akan kebijaksanaan.” Filsafat lahir dari keingintahuan manusia yang mendalam terhadap hidup, diri sendiri, dan dunia.

Dalam bukunya Filsafat Manusia: Jendela Menyingkap Humanisme, Kasdin Sihotang (2018) menyatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu bertanya dan merenung. Bahkan sejak masa kecil, manusia sudah mempertanyakan: “Siapakah saya?”, “Mengapa saya hidup?”, atau “Apa makna semua ini?” Pertanyaan-pertanyaan ini adalah awal dari kesadaran eksistensial dan reflektif manusia.

Di sinilah filsafat humanisme mengambil peran penting arah hidup yaitu menempatkan manusia sebagai makhluk yang bermartabat, bernilai, dan memiliki kemampuan untuk mencari makna hidup, bukan sekadar bertahan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai humanisme menjadi dasar dalam membangun relasi yang adil, memperlakukan orang lain dengan hormat, serta menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

Pertanyaan Manusia: Antara Praktis dan Filosofis

Setiap hari kita dihadapkan pada dua jenis pertanyaan, pertanyaan praktis: seperti “Bagaimana hidup yang baik?”, “Bagaimana menjalankan tugas pribadi?”, atau “Bagaimana cara berpikir yang baik dan benar?”. Pertanyaan ini bersifat teknis dan jawabannya bisa langsung diuji dan dipraktikkan.

Pertanyaan filosofis: seperti “Siapakah saya sebenarnya?”, “Untuk apa saya hidup?”, atau “Apa yang membuat hidup bermakna?”. Pertanyaan ini lebih dalam dan menyentuh inti dari keberadaan manusia.

Menurut Sihotang (2018:14-15), menjawab pertanyaan filosofis membutuhkan refleksi, logika, dan keberanian untuk melihat lebih dalam dari sekadar permukaan hidup. Jawabannya tidak instan, tapi memerlukan kejujuran dan perenungan panjang.

Contohnya dalam hidup sehari-hari, saya bertanya apa itu hidup yang sudah mapan secara finansial bisa tiba-tiba merasa hampa. Ia mulai bertanya: "Apakah ini hidup yang saya inginkan? Untuk apa semua ini?" Inilah momen ketika pertanyaan filosofis mulai muncul, dan filsafat memberi ruang untuk menjawabnya secara bijak.

Manusia: Sebuah Misteri yang Terus Dipertanyakan

Pertanyaan “Siapakah manusia itu?” adalah pertanyaan tertua dan terus relevan sepanjang sejarah. Para filsuf dari zaman Yunani Kuno, seperti Herakleitos dan Anaximandros, menjawabnya dengan pendekatan alam atau kosmologis. Sokrates, Plato, dan Aristoteles kemudian membawa pertanyaan itu ke dalam hakikat manusia itu sendiri (Sihotang, 2018:16–18).

Pada Abad Pertengahan, para pemikir Kristen menempatkan manusia dalam relasi dengan Tuhan. Nilai hidup manusia tidak terpisah dari penciptaannya dan tujuannya menuju keselamatan kekal (Sihotang, 2018:18). Pada masa modern, manusia mulai menjadi pusat perhatian, bukan lagi hanya sebagai makhluk ciptaan, tetapi sebagai subjek yang menentukan nilai-nilai hidupnya sendiri (Sihotang, 2018:19).

Dalam praktik hidup, pendekatan-pendekatan ini memengaruhi bagaimana kita memandang orang lain: apakah sebagai makhluk Tuhan yang perlu dikasihi, atau sebagai pribadi merdeka yang memiliki nilai dan hak untuk memilih jalannya sendiri.

Eksistensialisme: Manusia sebagai Misteri

Menurut filsuf eksistensialis seperti Gabriel Marcel dan Martin Buber, manusia bukanlah makhluk yang mudah dipahami. Ia adalah Dinamis, karena terus berkembang dan berubah. Misterius: karena tidak bisa dipahami secara tuntas, paradoksal: karena semakin dipelajari, semakin sulit dimengerti (Sihotang, 2018:20-21). Mereka menyatakan bahwa manusia adalah persoalan yang tak akan pernah tuntas. Manusia terus berubah seiring waktu, pengalaman, dan pergulatan hidup.

Contohnya dalam kehidupan modern, seseorang bisa terlihat sukses di luar, namun merasa kosong di dalam. Ia mungkin tidak mengerti perasaannya sendiri, atau terjebak dalam dilema moral yang tidak ada jawaban pastinya. Di sinilah kesadaran akan kompleksitas dan paradoks manusia menjadi sangat nyata.

Peran Filsafat: Mencari Makna Hidup

Plato menyebut lima peran penting filsafat: yang pertama, mengkaji secara kritis segala hal seperti tidak menerima sesuatu begitu saja. Yang kedua, menggunakan metode dialektis dan berdialog, bertanya, dan merefleksi. Yang ketiga, mencapai realitas terdalam (metaempiris) dan melihat lebih dari yang kasat mata. Yang keempat, Menangkap tujuan ideal realitas hidup mencari makna dan nilai. Dan yang kelima, Mengetahui bagaimana seharusnya manusia hidup untuk hidup yang berprinsip (Sihotang, 2018:22–24).

Sokrates, yang rela dihukum mati demi mempertahankan nilai kebenaran, menjadi contoh konkret filsuf yang menghidupi prinsip ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa meneladani filsafat dengan tetap jujur di lingkungan kerja yang penuh tekanan, tetap bersikap adil meski tidak populer, dan berani mempertanyakan pilihan-pilihan hidup kita secara sadar dan reflektif.

Filsafat Humanisme dalam Hidup Sehari-hari

Filsafat humanisme bukan hanya teori akademis, melainkan panduan hidup yang bisa diterapkan di banyak aspek kehidupan:

Yang pertama, Pendidikan: Guru humanis melihat murid sebagai pribadi yang utuh. Ia tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan menghargai keunikan setiap anak.

Yang kedua, Dunia kerja: Pemimpin yang humanis memperlakukan karyawannya dengan hormat, memberi ruang untuk berkembang, dan menjunjung etika.

Yang ketiga, Relasi sosial: Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap humanis muncul dalam bentuk toleransi, empati, dan keterbukaan terhadap perbedaan.

Yang keempat, Kehidupan pribadi: Setiap individu yang merenung tentang arah hidup, mempertimbangkan dampak pilihannya terhadap sesama, dan berani hidup otentik, sedang menerapkan filsafat humanisme.

Menghidupi Nilai-nilai Humanisme

Filsafat humanisme mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian luar, tetapi juga tentang pencarian makna, penghayatan nilai, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Pertanyaan seperti “Siapakah saya sebenarnya?” bukan sekadar retoris, tetapi kunci untuk menjalani hidup yang lebih sadar, utuh, dan bermanfaat.

Di tengah zaman yang cenderung dehumanisasi, di mana manusia diperlakukan seperti angka, data, atau mesin pencari filsafat humanisme menjadi pase yang menghidupkan kembali nilai-nilai cinta, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan kebebasan.

Daftar Pustaka

Sihotang, Kasdin (2018) Filsafat Manusia: Jendela Menyingkap Humanisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius,

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer