AIBON, MENCURI DARI PENCURI
(Satu Naga Papua vs Se Degeimbilan Naga Jakarta)
*Siorus Ewainaibi
Terlihat sebuah mobil Triton berlumpur, berwarna merah dengan lukisan macan raja rimba dan beberapa panorama alam liar memasuki Bandara Dou Oturure, Nabire. Paul, seorang sopir keluar dengan membawa sekatung pinang, serta sebungkus rokok surya coklat besar menuju pintu masuk dan ruang tunggu Bandara. Paul sedang menunggu seseorang dari Jayapura.
“Halo..Kaka kami baru saja mendarat” pesan notifikasi via WA dari seorang dengan nama kontak adik nona Dokter, “Ok nona keluar saja, kaka ada tunggu di luar, di ruang tunggu, kita langsung naik sekarang” balas Paul kepada Intan. Intan adalah adik perempuan Paul yang sedang studi kedokteran di UGM, ia libur dan transit lewat Jayapura. Paul sendiri adalah sopir lintas, sejak selesai SMA Paul memutuskan untuk tidak lanjut kuliah, ia memilih kerja sebagai sopir lintas demi menafkahi keluarganya selepas meninggalnya bapanya, mantan seorang birokrat sejati yang dekat dengan orang kecil, ia dibunuh oleh lawan-lawan politiknya yang arogan dan haus kursi kuasa.
Bersyukur sebab sepeninggal ayah mereka, ada sebuah mobil triton yang ditinggalkan sebagai warisan, mobil inilah yang Paul pakai sebagai sarana mata pencahariannya demi menyambung hidup di Papua Tengah yang super sulit mencari kerja bagi anak asli Papua.
“Kaka ini pinang roko terus, tidak baik untuk kesehatan, stop sudah” ada suara halus, manis, dan penuh cinta menghampiri telinga Paul dari arah kerumunan ruang kedatangan penumpang, “Nona dokterku yang cantik, minta maaf. Memang menurut ilmu kedokteran yang nona pelajari, pinang dan roko ini merusak kesehatan, tapi menurut ilmu kami pejabat jalanan yang kaka kami pelajari lama di jalanan, roko dan pinang ini obat tahan mata, pemantik fokus, penghangat tubuh, dan pembangkit semangat” balas Paul dari jauh sambil tersenyum bahagia melihat adik dokternya yang cantik.
“Pejabat jalanan? Maksudnya?” tanya Intan dengan sedikit penasaran dan jengkel.
“Ya pejabat jalanan nona sayang, kami sopir-sopir lintas inikan orang kira anak jalanan, anak aibon, masa depan tidak jelas, tapi dari hasil sopir lintas ini ada masa depan yang bisa kami perjuangkan dan selamatkan, minimal masa depan untuk keluarga kami. Intan bisa pakai baju dokter lengkap ini ini juga gara-gara jalan lintas sepanjang 300 kilometer di atas yang tiap hari kaka pulang-balik akan, hahahahah....” jawab Paul dengan serius namun ia balut dalam narasi komedi.
Paul memang suka bercanda untuk menyampaikan hal-hal serius kepada adiknya (juga kepada siapa saja), sehingga Intan tidak merasa ditegur.
“Ado-ad... iyo sudah. Hormat untuk kamu para pejabat jalanan. Hormat juga untuk ilmu pinang dan roko, hehehe...” balas Intan sambil naik mobil. Paul mengamankan barang-barang adiknya yang super banyak, ada sekitar dua koper berwarna merah muda dengan sedikit lukisan langit cerah dan tangkai-tangkai mawar putih yang mengelilingi, seperti taman bunga berjalan.
“Nona kita langsung naik ee..Kaka sudah beli bekal tadi, tidak ada penumpang lain, bahan bakar juga sudah aman jadi” ucap Paul sambil menghidupkan mobil dan mulai keluar dari area parkiran mobil.
“Dari kaka saja. Naik sekarang juga bisa, lebih cepat lebih baik. Tapi putar-putar Nabire sedikit dulu ee...hehehe, nona mau lihat-lihat dulu, soalnya sudah tiga tahun di Jawa praktek saja jadi, sudah lupa-lupa nabire” minta Intan kepada Kakanya.
Intan adalah dokter beda saraf. Ia menyelesaikan s1 dan s2nya di bidang spesialis penyakit langka di bagian saraf dari UGM. Usai menyelesaikan pendidikan, profesornya memintanya untuk menjadi dokter praktek di rumah sakit milik sang profesor. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa para dokter dengan gelar profesor pada universitas-universitas kenamaan selalu punya rumah sakit pribadinya sendiri.
“Oke nona dokterku, yang pasti nabire masih seperti dulu, cuman ada sedikit yang berubah sekarang” balas Paul dengan nada bermain.
“Sedikit berubah bagaimana kaka?’, tanya Intan memandang kakanya dengan mimik serius sambil mengangkat alis mata kirinya yang terukir indah.
“Nona tidak ikuti berita-berita viral di hpkh akhir-akhir inikah, bisa ketinggalan info itu” balas Paul.
“Oh tentang begal-begal itukah?’ respon Intan dengan cepat.
“Itu sudah nona dokter. Dulu waktu kecilkan orang bilang nabire ini kota emas. Emas diambil, jadi kota singkong. Sigkong habis, jadi kota jeruk, jeruk habis jadi kota seribu kenangan, sekarang baru jadi kota begal. Tidak tahu begal habis, manusia Papua habis. Kembali jadi kota seribu kenangan pasti, kenangan kalau pernah di kota ini ada orang asli Papua tapi mereka habis karna HIV-AIDA, Begal, Miras, Keracunan, dan Lakalantas, hahahahaha....” Ungkap Paul dengan penuh tawa. Ia tidak bisa serius membahas soal-soal ini, karena seperti menelan pil pahit di cuaca terik membakar.
“Husss....ado-ado, kaka diam sudah, dari dulu sampai sekarang sama saja, kalau tertawa selalu saja bikin kaget orang yang ada, kita lagi serius ini, hahahaha....” balas Intan dengan tawa yang sama sambil menegur Paul, kakanya yang tidak pernah berubah, yang selalu tertawa saat membicarakan hal-hal serius.
“Tapi benar kaka, nabire sekarang kejam. Intan jadi ingat Pace Black punya judul lagu yang berjudul ‘Mege Mumai’ itu” balas Intan kembali serius membahas seputar begal di nabire.
“Nah itu dia nona dokter, gara-gara mege mumai alias uang habis atau tidak ada uang, jadi masalah-masalah perbegalan merajalela dan subur di kota ini. Jadi nabire bukan saja kejam tapi sudah jahat dan brutal. Pace Black dia jadi ojek dalam video clip itu. Macam kaka kita ini jadi sopir lintas, sementara banyak orang yang lain, mau jadi apa di kota sulit dapat uang dan kerja ini? Apalagi jika harga satu kepala manusia nilainya fantastis, siapakah yang akan menolak? Jadi mege-mege (uang-uang) yang ada saat ini itu seharusnya sebagai para pemimpin yang bijaksana, mereka harus alokasikan baik-baik kepada rakyat kecil, macam dulu bapa mereka buat itu, biar angka kriminalitas, banalitas, dan brutalitas pembegalan di nabire bisa terkontrol dan masyarakat bisa hidup damai dan tenang di nabire ini, hahahhahaah.....” Jawab Paul lagi-lagi selalu dengan ciri khas tawaannya yang tidak asing bagi Intan.
“Benar Kaka, sepakat sih kalau soal alokasi dana yang bijaksana dan setara begitu. Apalagi Papua Tengah inikan banyak dana dan primadonanya Papua soal urusan SDA, belum lagi dana pembagian royaliti yang dari Freeport itu. Tapi sebagai dokter bedah saraf ee kaka kalau boleh berteori, Intan amati masalah begal-begal di nabire ini sepertinya motifnya bukan hanya dari sisi ekonominya saja sih” balas Intan dengan rasa penasaran yang semakin tinggi, jauh, dan dalam mengajak Paul membahas isu begal lebih serius dan kritis.
‘Benar nona, pasti ada motif dan nuansa lainnya juga, kita tidak bisa hitam-putih, kaka kami inikan anak-anak jalanan toh, jadi yang bisa kami analisa itu seperti begitu saja, hahahaha...” jawab Paul.
“Jadi kira-kira bagaimana kalau anak-anak kedokteran lihat masalah begal ini, hahaha...?” tanya menambahkan Paul.
“Begini kaka. Istilah begal sendiri asing untuk kita orang Papua, ini istilah yang sangat dekat dengan orang-orang non Papua. Misalnya di Jawa sana sering sekali kami jumpai istilah ini di Tv dan surat-surat kabar, juga percakapan sehari-hari Begal ini biasanya dilakukan pada malam hari atau siang hari tapi di tempat-tempat yang sepi. Pembegalan selalu berjalan bersamaan dengan pemalakan, pencurian, dan pemerkosaan kaka” balas Intan menerangkan, lanjutnya.
“Jadi Intan yakin sekali kalau mereka lakukan begal ini pelakunya ada kaitan kuat dengan orang-orang luar Papua, sekalipun dia orang sini tapi ia ada kaitannya dengan orang luar. Apalagi kaka bayangkan setelah Papua Tengah dimekarkan ini banyak dan besar sekali gelombang transmigrasi yang berdatangan. Kita tidak bisa menjamin apakah kaum transmigran yang datang ke sini secara ilegal itu semua orang baik, pasti ada satu dua tiga orang yang datang dengan prestasi pembegalannya yang gemilang di daerah asal sebelumnya” ucap Intan.
“Benar nona. Kaka kami lihat juga banyak sekali muka-muka baru di kota yang naik-turun” balas Paul.
“Nona kaka beli roko dulu ee...nona mau pesan minuman dingin, buah, atau cemilan apa begitu?” tanya Paul sambil menawarkan adiknya. Mereka sudah di toko tepat di jalan masuk Wadio.
“Tidak kaka. Belikan air le mineral dua botol dan bauh apel merah segar yang dingin saja, pakai tolak panas nabire yang tidak sopan ini” balas Intan yang kehabisan mood. Untung tadi dalam pesawat Intan sudah beristirahat dengan cukup, sehingga ia hanya membutuhkan air mineral dan buah segar untuk menyegarkan tubuh dari panasnya cuaca nabire akibat deforestasi kronis.
“Selain istilah toh kaka, secara psikologis kita juga bisa tahu bahwa orang-orang yang lakukan begal ini psikopat, ada gangguan mental yang serius. Karena tidak ada fobia darah dalam diri mereka. Mereka terlihat sangat menikmati profesi sebagai pembegal. Mereka tidak takut darah, suara hati dan feeling moral manusiawi mereka sudah lumpuh total dan mati. Mirip dengan film-film horor bergenre psikopat” lanjut Intan menjelaskan kepada kakanya yang sudah masuk mobil dan menancap gas. Keduanya sudah mulai masuk wadio.
“Benar nona. Mereka macam berani sekali bunuh orang. Pasti mereka sudah biasa membunuh orang, memotong, menikam, dan memutilasi tubuh manusia. Siooo...kita yang bicara saja macam sudah merinding, terbayang, dan takut sekali begini, masah mereka yang buat tidak rasa apa-apa begitu” heran Paul sambil siull pendek dan menggeleng kepalanya.
“Selain yang kaka tadi bilang toh nona, sebenarnya orang-orang begal ini sengaja bikin warga nabire untuk tetap stay at home. Mereka sengaja ciptakan situasi dan kesan bahwa nabire berbahaya, nabire kota begal. Ada pihak-pihak tertentu yang desing dan kelolah masalah begal ini. Kalau tidak ada, kenapa polisi susah pecahkan masalah ini? Inikan ranah polisi? Inikan masalah Kamtibmas? Ini juga bukan masalah kemarin sore? Sudah ada banyak kasus. Mengapa penyelesaiannya lunggang-langgang tidak jelas? Jadi, kaka biasa bingung dengan aparat keamanan, TNI-POLRI, mereka kerja apa coba? Mereka diam dan seakan-akan mengamini dan mendukung masalah begal ini, hahahha...” ujar Paul dan nada penuh kecurigaan.
Paul percaya bahwa polisi, orang-orang transmigran, dan beberapa orang Papua yang murah meriah harga dirinya yang sudah, sedang, dan terus bermain api di balik kejahatan begal di kota Nabire yang massif.
“Huss...kaka tidak boleh langsung curiga dengan polisi kalau tidak ada bukti valid yang kuat. Kalau mereka curiga dan tuntut balik kaka bagaimana?” balas Intan menegur kakanya untuk tidak mengaitkan masalah begal di nabire dengan instansi keamanan negara (polisi-tentara).
“Kenapa nona takut? Biasa sajalah, sudah bukan rahasia lagi nona. Strategi teror psikologis seperti yang tadi nona bilang itu juga yang aparat kopi susu sama kacang hijau ini mereka pakai sayang....hahahahah” Paul menjelaskan dengan nada sedikit naik dan meremehkan.
“Kopi susu sama kacang hijau itu apa kakak?” balik tanya Intan semakin penasaran.
“Kopi susu itu sapaan khas anak-anak di jalanan untuk anggota polisi, nona lihat sendiri seragam yang mereka pakai itu mirip sekali dengan warna kopi susu, sementara kacang hijau itu merujuk ke ipar-ipar TNI mereka, sebab lagi-lagi seragam yang mereka genakan itu berwarna kacang hijau, haahahhaha...” jawab Paul dengan santai.
“Lalu bagaimana untuk brimob? Hehehe...” kembali tanya Intan dengan tersenyum dan terkejut.
“Brimob itu kopi tua nona dokter, karena seragamnya yang hitam pekat mirip moralitas mereka sendiri. Bayangkan saja baru-baru ini mereka menabrak Affan Kurniawan, seorang ojek online (gojek) dengan menggunakan kendaraan taktis” balik ungkap Paul.
Paul memang memiliki kecerdasan bawaan lahir. Ia juga suka diskusi, oleh karenanya ia hampir selalu tahu dengan isu-isu, wacana-wacana, dan agenda-agena para penguasa dan pengusaha di negeri ini. Namun karena himpitan soal ekonomi kehidupan, ia patah pena dan merangkul stir mobil lintas 300 kilometer demi nasib adiknya, Intan dan mama mereka yang telah ringkih.
Memasuki pegunungan Gamei mereka melihat ada sekolompok keluarga dari suku Auye yang terdiri dari seorang ibu mengendong bayi wanita manis dan imut, seorang nene dan kakek yang lanjut usia, dan dua orang pemuda. Paul dan Intan berhenti, mereka menawarkan tumpangan kepada keluarga malang ini. Kebetulan hanya Intan dan Paul saja dalam mobil, sehingga sekeluarga ini bisa mengisi kekosongan bak belakang mobil yang sepi. Dua orang lansia, tentu dijinkan masuk oleh Paul ke kursi penumpang dalam mobil.
“Ini nene tete mereka dari mana dan mau kemana eh kira-kira? Kenapa bisa sampai jalan kaki begini, kasihan ade kecil dia, bisa sakit gara-gara dingin?” tanya Intan dengan wajah peduli.
“Cucu baik, nene tete kami sudah puluhan tahun jalan kaki begini. Nene dan tete ini pensiunan guru, nene sendiri pensiunan bidan, tapi kami tidak tinggal diam di rumah, kami harus jalan keliling beberapa kampung-kampung asli orang-orang Auye, Aibore, dan Siriwo. Kebetulan nene dan tete asli suku Auye sini” balas tete yang juga menjawab dengan ramah, ia mengisahkan sepak terjang perjalanan dan perjuangannya selama ini.
“Memangnya belum ada jalan yang hubungkan kampung-kampung asli suku Auye dan suku-suku sekitarnyakah tete?” tanya Paul.
Intan hanya diam mendengarkan pembicaraan antara kakaknya dan tete tua yang mereka jumpai di pinggir jalan memasuki jam gelap itu.
“Cucu jalan dari dulu waktu tete muda sampai saat ini tete umur tua itu hanya jalan utama Trans ini saja. Jalan tidak pernah masuk sampai ke perkampungan kami. Kami masih memakai jalan lama yang dulu para leluhur rintis. Banyak wilayah kami yang masuk wilayah administrasi Nabire, ada juga masuk wilayah Dogiyai, ada yang masuk wilayah Deiyai, juga wilayah Paniai dan Timika, tapi perhatian dari empat Kabupaten dan Provinsi dalam bentuk jalan layak tidak pernah kesampaian ke kami cucu” jawab tete Melki.
Ia dan istrinya sudah lama mengabdi di wilayah orang-orang Auye/Ause, Aibore, dan Siriwo. Sekalipun di luar sana pembangunan terbilang cukup maju, namun medan jalan yang mereka akses masih sama. Medan jalan yang masih sama, tidak layak dan tidak pantas ini mengakibatkan macetnya aktivitas mobilisasi warga. Mereka harus menempuh jalan tikus berkilo-kilo untuk mendapatkan jalan sehat, listrik, dan jaringan internet. Mereka juga tidak bisa merasakan motor dan mobil pribadi. Mereka masih sangat terisolir dan terpinggirkan” jawab tete Melki berkisah dengan sedih penuh harapan.
“Cucu tahu jalan ini adalah hak ulayat kami. Hampir sepanjang jalan ini milik marga-marga kami. Namun tidak pernah kami nikmati cabang-cabangnya sampai ke kampung kami. Kami semacam terusir begitu cucu dari tanah ulayat kami sendiri. Negara ambil tanah kami, pemerintah gunakan itu, tapi kami sama sekali tidak menikmati hasilnya. Minta maaf cucu pemerintah dan orang-orang besar dari wilayah Mee mereka abaikan kami. Padahal kami ini suku kerabat, kami keluarga sejak para leluhur. Kami juga sudah hidup layaknya ade-kaka kandung dengan orang Mee. Kami mengerti bahasa dan budaya mereka, tapi mereka yang sulit paham kami, tapi dulu orang-orangtua sangat dekat dengan orang-orang dari atas. Tete punya bapa-bapa dan om-om yang biasa bantu orang-orang Mee untuk menghubungkan mereka dengan orang-orang pesisir di nabire biar bisa saling barter barang dengan kulit bia yang orang mee sebut mege itu anak” ungkap tete Melki.
“Oh benar tete. Terima kasih tete sudah mau cerita begini. Sungguh apa yang barusan tete cerita ini selama ini cucu tidak tahu betul. Berarti kami orang Mee ini terlalu egois sampai-sampai bisa mengabaikan suku-suku kerabat di sepanjang jalan Trans Nabire-Paniai ini” ucap Paul sambil berempati menanggapi apa yang tete Melki sampaikan.
Tidak terasa mereka sudah memasuki wilayah Mapia. Jalan-jalan banyak longsor akibat curah hujan dan badai yang begitu besar. Banyak titik jalan yang sudah mulai sulit diakses, bersyukur sebab mobil Paul termasuk mobil yang kuat, ia mampu menembus rintangan yang ada. Belum lagi tete Melki sedang bersama keluarganya sedang bersamanya, Paul yakin bahwa alam pasti bisa menyelamatkan mereka karena salah satu orang yang berjasa bagi banyak jiwa yang hidup bersama alam itu sedang ia berikan tumpangan.
Tete Melki dan keluarganya turun di tepi kali Kasuari. Sudah ada perahu yang mereka sediakan. Mereka harus menyeberang kali di malam suntuk untuk masuk ke kampung-kampung Mereka. Sebelum pergi, tete Melki memesan supaya Paul menghebat energi mobilnya, membeli bekal bahan bakar yang secukupnya, sebab cepat atau lambat jalan Trans akan putus dan sulit dilalui lagi. Paul terkejut dengan permintaan tete Melki ini.
“Cucu kemarin Aibon Kogoya masuk di wilayah kami. Cucu kenal Aibon Kogoya kan?” bisik tete Melki kepada Paul dengan pelan tanpa diketahui Intan yang tertidur pulas dalam bungkusan mantel bulu dombanya yang lembut di kursi depan.
“Kenal tete. Cucu sering dengar nama itu. Wah...beliau bisa sampai tiba di sini juga yah dari Intan Jaya sana...” sontak kaget Paul.
“Benar. Rupanya rintihan alam di sini dan suku-suku asli di sini sudah sampai kepadanya. Kami tidak tahu siapa yang beritahu dia. Tapi yang jelas dia sudah di hutan-hutan kami yang lebat ini. Tete tidak tahu apa yang akan anak Aibon akan perbuat beberapa hari kedepan. Jadi, untuk beberapa hari kedepan cucu berdua jangan dulu naik-turun nabire-kampung, soalnya tete yakin akan ada satu petaka besar yang akan terjadi di sepanjang jalan ini” pesan tete Melki dengan tulus dan rangkulan tangannya yang hangat.
Mereka akhirnya berpisah, dari jarak yang tidak terlalu jauh, Paul melirik kaca spion kirinya, ia tidak melihat sama sekali rombongan keluarga besar tete Melki.
“Tuhan..nona...nona.. bangun dulu, coba lihat ke belakang dulu” minta Paul dengan nada ketakutan sambil membangunkan Intan yang tertidur lelap.
“Sudah ini, kenapa jadi, ganggu istirahat orang saja” jawab Intan kebingungan sambil marah. Baginya ada musibah atau sejenisnya.
“Nona lihat, baru tiga menit saja rombongan tete Melki mereka semua langsung hilang itu” lanjut Paul.
“Benar kaka. Ado-ado bikin takut saja. Sejak awal nona sudah punya feeling kalau mereka jalan tidak sendirian, siapa yang berani jalan kaki sendian sepanjang jalan inj, pasti ada sesuatu yang bersama mereka. Makanya sepanjang tadi kaka mereka bicara itu nona antara dengar atau tidak, antara sadar atau tidak, kepala lemas dan mengantuk sekali” Intan menjelaskan feelingnya yang kurang enak ketika rombongan tete Melki naik mobil, seakan-akan keadaan mulai berubah.
Beberapa hari kemudian Paul mendengarkan berita aksi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Aibon Kogoya yang menewaskan dua anggota Brigpol Arif Maulana dan Brigpol Nelson Rumaki di Jalan Trans Nabire.
“Nona...Nona...kemari dulu, cepat lihat ini” teriak Paul memanggil adiknya.
“Bagaimana, kenapa lagi?” balas Intan sambil jalan malas ke arah kakanya dari kamar. Intan sedang live di tik-tok, dan terpaksa harus menemui kakanya di ruang tamu.
“Nona lihat wajah asli Aibon Kogoya ini. Wajahnya mirip sekali dengan tete Melki toh?” tanya Paul dengan nada heran bercampur getir.
“Ya ampun Tuhan, benar sekali kaka. Aibon ini mukanya mirip sekali dengan tete Melki yang empat hari lalu kita bantu tumpangan itu” kaget Intan.
Keduanya baru sadar bahwa yang kali lalu mereka bantu berikan tumpangan di pegunungan Gamei itu tidak lain dan tidak bukan adalah rombongan Aibon Kogoya yang sedang melintasi pegunungan Gamei dalam suatu misi khusus mereka.
Rupanya Aibon mengaburkan pandangan Paul dan Intan hari itu supaya tidak mengenali wajah asli mereka. Dengan memakai rupa seorang tete dan nene, seorang wanita dan anaknya, dan dua orang pria, Aibon dan rombongan ikut menumpang dalam mobil Paul dan Intan. Keduanya kembali merenungkan apa yang sudah mereka alami di sepanjang jalan itu, terutama yang sudah banyak bicara langsung dengan Aibon jarak dekat bak seorang cucu dan kakeknya yang sedang mendongeng.
Dalam tidur malamnya, Paul berjumpa dengan tete Melki. Paul meminta maaf karena tidak mengenali wajah tete Melki yang sebenarnya. Tete Melki menegaskan supaya Paul melakukan apa yang sudah ia sampaikan sebelumnya. Besoknya muncul berita bahwa jalan di kilo 139 putus total. Selama satu Minggu jalan Trans mogok. Jalan yang mogok ini melumpuhkan roda aktivitas di tiga Kabupaten: Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Bukannya tambah baik, keadaan semakin rumit, jalan-jalan di setiap titik rawan longsor dari kilo 134 sampai 143 semakin parah menutup badan jalan dengan timbunan material longsor dan kali deras yang menelan jembatan, memotong badan jalan. Hujan dan badai tidak absen mengguncang lintasan jalan Trans, akses jalan benar-benar menantang, menyeramkan, dan sulit dilalui, jangankan oleh kendaraan, para pejalan kaki pun merasa angker.
“Tete sudah bilang cucu. Jalan akan putus. Semoga orang-orang Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai juga bisa ikut merasakan apa yang suku-suku kecil di sisi mereka rasakan selama ini. Tete tidak tahu, alam tidak biasa sekejam ini sebelumnya, jika alam sudah buat begini, berarti tanda bahaya ada di depan mata kita semua. Kita harus arif membaca detak hati alam semesta dan peka pada hukum akal budi alam” ucap Tete Melki dalam mimpi yang kedua kalinya.
“Benar tete. Sebenarnya cucu juga senang jalan terputus begini. Karena Papua Tengah ini alamnya kaya raya dan mata investor-investor besar itu semua melirik gadis darah manis bernama Papua Tengah ini” balas Paul mengungkapkan isi suara hatinya.
“Paul tahu ada 53 Perusahaan raksasa akan masuk ke rahim Papua Tengah ini. Gubernur sekarang ini adalah pengusaha, ia bukan orang birokrat murni. Bupati Nabire saat ini juga sama, ia berangkat dari pengusaha bukan birokrat atau orang pemerintahan. Sama juga dengan bupati Deiyai, ia mantan salah satu petinggi di Freeport, termasuk Bupati Paniai dan Timika. Kecuali bupati Dogiyai yang memang mantan guru dan orang pemerintahan, juga dengan Bupati intan Jaya” balas tete Melki.
“Maksud tete bagaimana? Apa kaitannya 53 perusahaan dengan latar belakangan gubernur dan para bupati di Papua Tengah” tanya Paul semakin penasaran dengan jawaban dan penjelasan tete Melki.
“Sebelum maju jadi gubernur dan bupati, para pemimpin ini sudah menbuat MoU gelap di bawah meja dengan investor-investor besar di Jakarta dan luar negeri. Para investor atau pengusaha besar ini akan bantu menyuntikkan dana untuk kepentingan kampanye politik, biaya tim sukses, dan bayar suara juga koalisi partai politik pendukung dalam rangka pemenangan pemilu. Setelah menang ada hutang politik, proyek-proyek pembangunan dalam jumlah besar akan diserahkan kepada para pengusaha ini sebagai tanda balas jasa, dan di titik inilah alam jadi tumbal sesajen pada iblis oligarki. Begitu cucuku trik dan intrik permainan busuk perjudian politik negeri ini” ucap Tete Melki dengan suara ringkih dan nada liri.
“Lalu apa kaitannya lagi tete dengan kerusakan jalan. Minta maaf tete, saya terlalu banyak bertanya. Sebenarnya tidak sopan tapi, maaf sekali” balik tanya Paul lagi sambil minta maaf dengan sungguh rendah hati karena ia terlalu banyak bertanya mirip intel sejak tadi.
“Tidak mengapa, tete suka dengan cucu Paul karena suka bertanya. Biar apa yang apa Paul tanyakan dan apa yang tete jelaskan ini bisa Paul sampaikan juga kepada Intan adik Paul, dan kepada keluarga, juga teman-teman sopir lintas lainnya” balas tete Melki, ia melanjutkan.
“Jadi begini cucu. Ada kaitan antara 53 perusahaan, MoU konspiratif para pemimpin Papua Tengah dengan investor, terutama MoU gubernur dengan 9 Naga” ungkap tete Melki.
Mendengar nama 9 naga Paul semakin penasaran. Sembilan naga ini tidak asing untuk Paul. Sebab nama 9 naga ini selalu muncul ketika wacana tentang eksploitasi sumber daya alam ia dengar.
“Tete, tunggu dulu sebelum lanjut, tete tahu 9 naga ini juga eeh...?” balas Paul memotong pembicaraan tete Melki.
“Soalnya 9 naga ini nama yang selalu muncul sebagai pelaku utama kehancuran dan kerusakan sumber daya alam di Indonesia, khususnya di Papua ini” tambah Paul.
“Benar cucuku. 53 perusahaan tadi yang tete jelaskan itu ada kaitannya dengan 9 naga ini, itu sejatinya 53 anakan naga dark induknya, 9 naga. Mereka menjadi pemilik saham-saham terbesar dalam 53 perusahaan yang akan hancurkan Papua Tengah, dan seluruh Papua besar ini. Situasi ini tete ibaratkan seperti 9 Naga Jakarta melawan 1 naga Papua. Mereka adalah musuh bebuyutan. Sejak dulu 9 Naga ini mau menaklukkan dan menguasai satu Naga Papua ini. Satu naga Papua ini Tuhan Allah utus untuk jaga harta karun alam raya yang super kaya di negeri ini. Harta karun alam raya ini Tuhan Allah sediakan dan karuniakan hanya untuk bangsa Papua. Bangsa-bangsa lain di dunia juga sudah Tuhan Allah karuniakan kekayaan alamnya.” Ungkap Tete Melki penuh meyakinkan.
Mendengar penjelasan tete Melki tentang pertarungan 9 Naga Jakarta dan 1 Naga Papua ini membuat Paul merinding, bulu kuduknya berdiri.
“Paul, kekayaan 9 Naga itu sedikit. Itu semua hasil curian, hasil pertumpahan darah dan nyawa manusia juga alam yang tidak berdosa. Tetapi harta milik 1 Naga Papua tidak sebanding dengan harta 9 naga, sekalipun mereka sembilang gabung hartanya tetapi tidak ada ukurannya dengan harta kekayaan 1 Naga Papua.” Jelas tete Melki.
“Jadi, gubernur dan para bupati Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua, dan Papua Pegunungan mereka sudah teken MoU dengan 9 naga dan anak-anak naganya lainnya, naga-naga cilik katakanlah, termasuk 53 perusahaan tadi. Apalagi Papua Tengah yang mahakaya ini, gubernurnya sudah alas karpet merah untuk 9 naga itu beranak pinak hancurkan rumah 1 naga Papua. Jadi, kehancuran alam saat-saat ini, terutama longsor, terputusnya jalan, hilangnya jaringan, matinya lampu, terputusnya kabel optik IndoHome di laut dan pelbagai krisis yang ada ini semata-mata adalah perbuatan 1 naga Papua yang sudah sejak lama menyadari bahwa eksistensinya sedang terancam di hadapan 9 naga Jakarta” tambah tete Melki.
“Oh begitu ee...tete. Saya sudah lama jadi sopir lintas sejak SMA sana, hari ini baru cucu tahu. Orang-orang pernah cerita tentang 1 Naga Papua itu. Sekarang tete bicara baru cucu bisa lebih paham” imbuh Paul dengan penuh penyadaran.
“Jadi begitu cucuku. Kita punya Naga yang jaga kita di negeri ini dia kuat, tapi jangan biarkan dia berjuang sendiri, dia akan jauh lebih kuat lagi kalau kita berjuang bersama dia mempertahankan eksistensi tanah dan bangsa ini dengan cara dan gaya kita masing-masing. Anak Aibon Kogoya dan teman-temannya, anak Egianus dan teman-temannya sudah dengan cara mereka sendiri. Ini bagi tete adalah contoh yang terbaik kepada kita semua, anak-cucu sekalian supaya memikirkan bagaimana cara memperjuangkan identitas tanah dan bangsa ini” tutup tete Melki dan menghilang dalam kobaran sinar cahaya fajar Timur.
Paul bangun pagi, mulai berdoa memohon perlindungan Tuhan, Alam, dan Leluhur bagi Aibon dan rombongannya, “Aibon benar-benar mencuri semuanya. Ia mencuri hati alam. Ia mencuri jalan Trans Nabire-Paniai sepanjang 300km itu. Ia mencuri aktivitas dan rutinitas tiga kabupaten sampai mogok. Ia mencuri listrik dari dalam dasar laut hingga puncak gunung, ia mencuri jaringan di langit, bahan bakar (solar, bensin, dan minyak tanah), ia mencuri laba penguasa dan pengusaha lokal dan domestik di tiga kabupaten. Aibon benar—benar adalah seorang Aibon sejati. Ia mencuri hati alam. Ia baru saja bicara akan menutup jalan Trans, pasukan gerilya alam langsung mengeksekusi komando itu. Ia baru saja bicara akan palang jalan, alamlah yang langsung palang memogokkan tiga kabupaten. Suara Aibon Kogoya benar-benar adalah suara alam. Ia menyatu dengan alam. Alam mendengarkannya. Aibon benar-benar mencuri semuanya. Ia mencuri dari para pencuri di atas negeri ini. Ia adalah simbol seekor naga Papua yang melawan sembilan ekor naga Jakarta” demikan gejolak hati Paul di fajar pagi yang baru.



Komentar
Posting Komentar