GERAKAN TUNGKU API: WARISAN HIDUP DARI KEUSKUPAN TIMIKA

 


(Refleksi Pastoral dalam Terang Ensiklik Laudato Si’)

Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa 


Gerakan Tungku Api adalah sebuah warisan luhur yang lahir dari semangat dan keteladanan Uskup Keuskupan Timika yang telah berpulang, Mgr. John Philip Saklil. Uskup Jhon bukan hanya seorang pemimpin Gereja, tetapi seorang gembala sejati yang menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berakar pada tanah, kerja, dan keluarga.

Dalam salah satu pesannya yang paling dikenang, almarhum Jhon berkata:

"Jangan pernah jual tanah. Hiduplah dari hasil olah tanah. Jika kita menjual tanah, maka kita sesungguhnya sedang menjual anak cucu kita."

Kata-kata ini adalah warisan profetis yang relevan bagi setiap generasi Papua dan bahkan seluruh dunia. Ini adalah panggilan moral untuk kembali hidup berdasar pada martabat, kemandirian, dan keberlanjutan. Gerakan Tungku Api adalah gerakan hidup yang menyala dari dalam, menyatukan spiritualitas, kerja keras, dan cinta tanah air.

Meneladani Jejak Orang Tua dan Leluhur

Saya pribadi memaknai gerakan ini sebagai panggilan untuk hidup dengan martabat melalui kerja fisik yang tulus. Saat saya bekerja di kebun, saya tidak hanya menanam atau mencangkul. Saya sedang melanjutkan jejak orang tua saya yang bekerja tanpa lelah untuk kehidupan anak-anak mereka. Mereka berjuang di kampung, menyekolahkan anak-anak mereka, dan mempertahankan tanah demi generasi masa depan.

Saya tidak ingin menikmati hidup dengan mengorbankan penderitaan orang tua. Bila mereka berkeringat, saya pun ingin berkeringat. Bila mereka menangis, saya pun merasa sakit. Sebab, hidup sejati bukanlah hasil dari jalan pintas, melainkan buah dari kesetiaan kepada proses.

Makna Tungku Api dalam Kehidupan Orang Papua

Gerakan Tungku Api bukan sekadar aktivitas bertani. Ia adalah simbol kehidupan. Di rumah-rumah Papua, tungku api adalah pusat segala aktivitas: tempat memasak, berkumpul, berbagi cerita, membina relasi dan menumbuhkan kasih. Maka gerakan ini mengajak kita untuk kembali kepada nilai-nilai dasar: kerja keras, kemandirian, solidaritas keluarga, dan penghormatan terhadap tanah sebagai ibu kehidupan.

Dengan Tungku Api yang menyala, kita tidak hanya memanaskan makanan, tetapi juga menjaga warisan budaya dan iman dari generasi ke generasi.

Ajakan Bagi Generasi Muda Papua

Gerakan Tungku Api adalah seruan terbuka bagi generasi muda Papua untuk tidak tergoda oleh kenyamanan instan yang datang dari luar, yang seringkali mengorbankan jati diri, budaya, dan tanah warisan. Kita dipanggil untuk bangkit secara mandiri, mencintai tanah air, menjaga tanah, dan melihat kerja bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan hidup yang membebaskan dan memuliakan.

Relevansi Gerakan Tungku Api dengan Ensiklik Laudato Si’

Semangat dari Gerakan Tungku Api sangat selaras dengan suara Gereja universal dalam ensiklik Laudato Si’ yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Dalam dokumen ini, Paus menyerukan perhatian global terhadap krisis lingkungan yang berdampak langsung terhadap martabat manusia, khususnya kaum miskin dan masyarakat adat yang hidup dekat dengan alam.

Pendidikan lingkungan telah semakin mampu membentuk kesadaran ekologis dan memperdalam motivasi untuk menjaga lingkungan. Pendidikan ini dapat membantu kita untuk tumbuh dalam solidaritas, tanggung jawab, dan kasih terhadap bumi yang kita warisi.” (Laudato Si’, 180)

Gerakan Tungku Api adalah bentuk nyata dari pendidikan lingkungan di konteks Papua. Pendidikan yang dimulai bukan di sekolah, tapi di tungku rumah, ladang keluarga, dan peluh harian. Di situlah cinta tanah, tanggung jawab terhadap alam, dan solidaritas sosial dibentuk secara organik.

Lebih dari itu, Paus Fransiskus mengingatkan:

Tanah adalah anugerah dari Allah, bukan komoditas untuk dijual dan dibuang sembarangan.” (Laudato Si’, 71)

Hal ini menegaskan bahwa menjaga tanah Papua sebagaimana dipesankan oleh Mgr. Saklil itu bukan hanya keputusan ekonomi, tetapi tindakan iman dan moral. Dengan tidak menjual tanah, kita sedang menjaga masa depan anak cucu dan memuliakan ciptaan Allah.

Menjaga Api yang Menyala

Terima kasih kepada kedua orang tua saya yang mengajarkan kerja keras dan kesederhanaan sejak kecil. Terima kasih pula kepada Mgr. John Philip Saklil yang meninggalkan api hidup dalam bentuk Gerakan Tungku Api. Warisan ini bukan sekadar slogan, tetapi jalan hidup spiritual dan sosial.

Mari terus jaga tungku itu menyala, di rumah sebagai tempat kasih dan doa, di ladang sebagai tempat kerja dan harapan, dan di hati sebagai tempat iman dan tanggung jawab.

Dengan demikian, menyatukan semangat lokal Papua dan pesan global Gereja melalui Laudato Si’, kita semua dipanggil untuk menjadi penjaga rumah bersama di bumi, tanah, dan sesama. Marilah terus nyalakan Tungku Api itu di rumah, di ladang, di hati, dan dalam gerakan kita merawat bumi sebagai kehidupan kita bagi orang Papua

Komentar

Postingan Populer