Tubuh yang Diserahkan, Luka yang Diterima, Harapan yang Dihidupkan
Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa
Hari ini, Gereja Katolik universal merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Kita mengenang peristiwa yang paling sakral dalam iman kita, saat Yesus menyerahkan tubuh dan darah-Nya bagi keselamatan dunia. Perjamuan Kudus bukan sekadar ritual, tapi tindakan cinta yang paling dalam: penyerahan total dari Allah kepada manusia.
“Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu’” (1 Kor. 11:24). Kata-kata ini menjadi inti Ekaristi dan pusat spiritualitas kita. Ia memberi tubuh-Nya, bukan hanya roti dan anggur, tetapi kehadiran-Nya sendiri, utuh, nyata, dan hidup.
Namun perayaan ini tidak lengkap jika hanya berhenti di altar. Ekaristi harus menembus kenyataan. Ia harus mengalir ke jalan-jalan dunia, menyeberangi batas-batas sosial, budaya, dan geografis. Dan di sinilah kita dihadapkan pada panggilan yang lebih luas dan lebih menantang: bagaimana tubuh Kristus itu juga hadir dan diserahkan bagi saudara-saudari kita di Papua?
Kini dalam konteks Papua adalah bagian dari tubuh bangsa ini. Tapi tubuh itu sering terluka, terpinggirkan, dan bahkan dibiarkan berdarah dalam diam. Sejarah panjang kekerasan, ketimpangan ekonomi, eksploitasi sumber daya alam, dan diskriminasi rasial membuat banyak orang Papua hidup dengan realitas pahit yang tidak terlihat oleh banyak mata. Suara mereka sering dibungkam, identitas mereka ditekan, dan keberadaan mereka tak jarang dianggap ancaman.
Dalam konteks inilah, kutipan kontemplatif berikut menjadi sangat relevan:
“Biarkan cinta membawamu ke tempat di mana kau berani menatap kenyataan tanpa topeng, dan tetap memilih untuk menjadi dirimu sendiri.”
Cinta yang sejati, seperti cinta Kristus dalam Ekaristi, tidak memalingkan wajah dari penderitaan. Ia justru menatap kenyataan, sedalam-dalamnya, meski menyakitkan. Papua mengajak kita untuk membuka mata dan hati, menanggalkan topeng ketidakpedulian, dan berhenti menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.
Yesus tidak menghindari salib; Ia justru memeluknya. Maka, bagaimana mungkin kita, yang mengaku pengikut-Nya, hidup dalam Ekaristi, tetapi menolak untuk menyentuh luka-luka yang nyata di tubuh bangsa ini?
Yesus tidak hanya menyerahkan tubuh-Nya. Ia juga menyerahkan martabat, kebebasan, dan hidup-Nya, agar manusia dapat hidup utuh sebagai dirinya sendiri.
Papua pun ingin hidup sebagai dirinya sendiri. Menjadi Papua berarti mencintai budaya, tanah, dan martabatnya. Maka Ekaristi sejati adalah saat ketika Gereja dan masyarakat mendukung Papua untuk tetap menjadi dirinya, bukan versi yang dipaksa oleh kekuasaan atau pengaruh luar.
Biarkan cinta membawa kita semua , bangsa Indonesia, umat Katolik, para pemimpin dan pewarta, untuk berani menatap kenyataan Papua tanpa topeng nasionalisme sempit, tanpa wajah kepentingan ekonomi, tanpa sikap pura-pura tidak tahu.
Biarkan kita hadir di sana, dengan tubuh, perhatian, dan tindakan kita. Hadir tidak sebagai penyelamat, tetapi sebagai saudara.
Ekaristi tidak akan bermakna jika kita tidak ikut menyerahkan tubuh kita: Tubuh yang hadir di tengah konflik, Tubuh yang berdiri bersama kebenaran, Tubuh yang memihak keadilan, Tubuh yang berani bicara saat yang lain diam
Papua membutuhkan lebih dari sekadar doa. Ia butuh cinta yang menjadi aksi. Kasih yang menjadi kehadiran nyata. Tubuh Kristus bukan hanya di altar, tetapi juga dalam keberpihakan nyata kita kepada yang tersisih.
Hari ini kita menyambut tubuh dan darah Kristus. Mari jangan hanya mengunyah roti-Nya, tapi hiduplah seperti Dia.
Jadilah roti yang dipecah untuk yang lapar. Jadilah darah yang dicurahkan bagi yang haus keadilan.
Dan ketika Papua memanggil, bukan hanya dengan suara, tapi dengan luka, semoga kita tak menutup telinga, tapi membuka hati dan memberi tubuh kita untuk hadir di sana.
Karena sesungguhnya, setiap luka di Papua adalah luka dalam tubuh Kristus.



Komentar
Posting Komentar