Takut Hanya kepada Tuhan: Suara Iman dari Tanah Konflik Intan Jaya

 


(Menelusuri keberanian dan kesaksian iman Pastor Wadogouby Yogi di tengah konflik di Intan Jaya, Papua)


Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa 


Intan Jaya adalah salah satu wilayah di Papua yang tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang konflik. Ketegangan antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata sering kali menempatkan warga sipil sebagai korban.

Di tengah situasi ini, muncul sosok Pastor Wadogouby Yogi, seorang Imam Katolik dari Keuskupan Timika dan menjabat sebagai Dekan Deket Moni di Puncak Jaya, Papua. Ia bukan hanya seorang pemuka agama; ia adalah simbol keberanian, suara kenabian, dan pelayan umat yang teguh menjalankan tugasnya meski berada dalam ancaman.

Dalam sebuah pernyataan yang penuh makna, Pastor Wadogouby Yogi mengatakan:

“pastor Wadogouby hanya takut Tuhan, ai tidak takut manusia di atas tanah ini. Walaupun di Intan Jaya selalu konflik, ai sebagai Imam, Nabi, dan Raja menjalankan tugas ilahi itu.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan religius. Ini adalah bentuk perlawanan moral dan spiritual terhadap kekerasan, intimidasi, dan ketidakadilan yang terus membayangi di kabupaten Intan Jaya. Ketika banyak orang memilih diam atau pergi karena takut, Pastor Wadogouby memilih tetap tinggal. Ia menjalankan tugas pastoralnya di wilayah rawan, demi umat yang dipercayakan kepadanya.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa imam menerima tiga tugas pokok dalam tahbisan suci: menjadi Imam, Nabi, dan Raja dalam makna pelayanan. Ketiga tugas ini dijalankan Pastor Wadogouby dengan nyata:

Pertama, Sebagai Imam, ia tetap merayakan misa, mengunjungi umat di pelosok, dan memberikan penghiburan rohani meski di bawah ancaman kekerasan.

Kedua, Sebagai Nabi, ia menyuarakan kebenaran, menyampaikan penderitaan umatnya, dan tidak takut bersaksi tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Ketiga, Sebagai Raja, bukan dalam arti kekuasaan, tetapi sebagai pemimpin pelayan gereja yang hadir, membimbing, dan memberi teladan dalam pengabdian.

Di wilayah seperti Intan Jaya, menjalankan ketiga peran ini bukan hal mudah. Tapi di situlah kekuatan moral Pastor Wadogouby menjadi cahaya yang menyala dalam gelap.

Intan Jaya telah lama menjadi zona merah dalam konflik antara aparat keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Di tengah konflik ini, warga sipil, termasuk umat Katolik yang menjadi korban. Gereja sering kali menjadi tempat perlindungan, baik secara fisik maupun spiritual.

Banyak imam dan biarawan mengalami tekanan untuk meninggalkan wilayah berbahaya. Tapi tidak semua mau menyerah. Pastor Wadogouby tetap tinggal, bukan karena tidak tahu bahaya, tetapi karena ia memahami bahwa kehadiran rohani di tengah konflik adalah bagian dari tugas sucinya.

Keuskupan Timika, tempat di mana Pastor Wadogouby bertugas, membentang di wilayah yang luas dan penuh tantangan. Banyak paroki berada di daerah terpencil, terisolasi, bahkan rentan konflik. Meski begitu, Gereja terus hadir dalam melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, pendampingan sosial, dan tentu saja, pelayanan rohani.

Imam seperti Pastor Wadogouby menjadi penjaga nurani dan suara kenabian di wilayah-wilayah yang jarang diliput media. Ia tidak hanya berbicara di mimbar, tapi juga berjalan kaki berhari-hari ke pelosok demi menjumpai umatnya.

Papua tidak kekurangan suara yang tetapi seringkali, suara-suara yang keluar dari tanah ini diabaikan atau dibungkam. Ketika Pastor Wadogouby mengatakan bahwa ia tidak takut manusia, itu adalah sebuah pernyataan perlawanan spiritual terhadap dominasi kekerasan.

Pastor Wadogouby bukan pemimpin militer. Ia tidak membawa senjata. Tapi keberaniannya melebihi banyak orang bersenjata. Karena ia membawa iman, kasih, dan keadilan. Dan itulah yang benar-benar ditakuti oleh kekuatan yang tidak menghendaki perdamaian sejati.

Papua membutuhkan lebih banyak tokoh seperti Pastor Wadogouby yang tidak diam melihat ketidakadilan, yang tidak gentar bersuara, dan yang tidak menyerah melayani. Kesaksiannya adalah pengingat bagi bangsa ini, bahwa konflik di kebupaten Intan Jaya bukan sekadar statistik, tapi soal kehidupan nyata umat manusia.

Adalah tanggung jawab moral bangsa untuk mendengar suara dari tanah yang selama ini terpinggirkan. Dan Gereja, melalui figur-figur seperti Pastor Wadogouby, sudah sejak lama menjadi jembatan suara rakyat kecil kepada dunia luar.

Pastor Wadogouby Yogi bukan hanya imam biasa. Ia adalah pelita di tengah kegelapan, gembala yang tidak meninggalkan kawanan di saat bahaya, dan nabi yang tidak takut menyampaikan kebenaran. Dari Intan Jaya yang penuh luka, ia mengingatkan kita semua: Bahwa iman sejati bukanlah yang nyaman dalam gedung indah, tapi yang berdiri teguh di tanah yang berdarah.

"Pastor Wadogouby hanya takut Tuhan" bukan slogan. Itu adalah pernyataan iman yang harus menggugah hati nurani kita semua, bahwa suara dari Papua layak didengar, dihormati, dan diperjuangkan.


)* Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Abepura-Papua.

Komentar

Postingan Populer