Menurut Presbyterorum Ordinis Imam di Tengah Konflik: Menghidupi Imamat Sebagai Nabi, Raja, dan Imam di Intan Jaya
Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa
Akar Teologis Imamat dalam Gereja Katolik
Pada tanggal 7 Desember 1965, Konsili Vatikan II secara resmi mengesahkan sebuah dokumen penting bagi Gereja Universal: Presbyterorum Ordinis, atau “Dekret tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam”. Dokumen ini menegaskan bahwa para imam adalah rekan kerja para uskup dan pelayan-pelayan Kristus yang diangkat untuk menggembalakan umat Allah.
Dokumen ini membuka dengan pemahaman bahwa imamat bukan sekadar jabatan fungsional, tetapi suatu panggilan eksistensial dan perutusan ilahi. Dalam Presbyterorum Ordinis (PO) pasal 2 dikatakan:
“Para imam, oleh tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para uskup, dipanggil untuk melayani Kristus Sang Guru, Imam, dan Raja...” (PO, 2)
Yang artinya, identitas imam adalah perpanjangan dari Kristus sendiri dan sebagai nabi yang mewartakan kebenaran, raja yang menggembalakan, dan imam yang mempersembahkan diri demi keselamatan umat.
Realitas Konflik di Intan Jaya: Tantangan Imamat yang Nyata
Namun, bagaimana doktrin luhur ini menjadi nyata dalam situasi konkret, terutama di daerah yang sedang mengalami konflik berkepanjangan, pengusian warga sipil seperti Intan Jaya, Papua?
Kabupaten Intan Jaya Dekenat Moni Puncak Jaya di Papua merupakan salah satu wilayah yang hingga kini terus dilanda konflik bersenjata antara kelompok bersenjata dan aparat keamanan. Kekerasan, pengungsian, trauma, dan ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam situasi seperti ini, kehadiran Gereja dan para pelayannya sungguh diuji.
Di tengah realitas yang menegangkan ini, dua imam Keuskupan Timika tampil bukan hanya sebagai pemimpin rohani, melainkan sebagai wajah nyata Gereja yang berani dan berbelarasa: Pastor Yance Wadogouby Yogi dan Pastor Yoseph Tuwipapapito Bunai. Mereka melayani umat di wilayah Dekanat Moni, Puncak Jaya, yang termasuk dalam zona merah konflik.
Menghidupi Tiga Peran Imamat: Nabi, Raja, dan Imam
Dokumen Presbyterorum Ordinis dalam pasal 4 menekankan bahwa:
“Pelayanan para imam terutama terdiri dalam pewartaan Injil Allah kepada semua orang...” (PO, 4)
Di sinilah dimensi kenabian seorang imam muncul. Pastor Yance Wadogouby Yogi dan Pastor Yoseph bukan hanya memimpin ibadah, tetapi juga menjadi suara profetik itu membela hak hidup umat, menyuarakan perdamaian, dan menyampaikan harapan dalam keadaan tanpa kepastian.
Sebagai raja, mereka memimpin bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan pengorbanan. Mereka berjalan kaki menembus gunung dan sungai, tinggal bersama umat yang terancam, dan membagikan makanan, sabda, serta penghiburan.
Sebagai imam, mereka mempersembahkan Ekaristi Kudus sebagai pusat iman. Dalam situasi di mana peluru bisa melayang kapan saja, perayaan Misa menjadi tindakan iman yang radikal. Dalam terang PO pasal 5:
“Para imam melaksanakan pelayanan pengudusan secara istimewa dalam Ekaristi... maka dari situ seluruh pelayanan imam memperoleh kekuatannya dan maknanya.” (PO, 5).
Ekaristi di Medan Konflik: Tindakan Profetik dan Solidaritas
Perayaan Ekaristi di tempat pengungsian atau di dalam kampung yang dicekam ketakutan menjadi simbol kuat kehadiran Allah di tengah penderitaan umat. Imam dan umat bernyanyi dalam bahasa daerah, berdoa bersama, dan menerima Tubuh Kristus yang memperkuat jiwa mereka.
Kehadiran imam dalam konteks ini menjadi perwujudan PO pasal 6:
“Para imam ditahbiskan untuk mewartakan Injil di tengah dunia, di segala situasi, agar semua orang diselamatkan.” (PO, 6)
Dengan itu, setiap Misa yang dirayakan Pastor Yance Wadogouby Yogi dan Pastor Yoseph Bunai bukan sekadar liturgi, tetapi tindakan profetik, tindakan perlawanan terhadap kekerasan, dan pernyataan iman bahwa Allah tetap hadir dan setia.
Keteladanan Imam Papua: Gereja yang Hidup Bersama Umat
Kehadiran imam-imam seperti Pastor Yance Wadogouby Yogi dan Pastor Yoseph Bunai menggemakan seruan Paus Fransiskus agar para gembala “berbau domba” itu hadir dan menyatu dengan kehidupan umatnya, bukan sekadar menjadi administrator paroki.
Mereka tidak menuntut keamanan, tetapi memberi perlindungan. Mereka tidak tinggal di zona nyaman, tetapi hadir di zona konflik. Mereka tidak menyuarakan keluhan, tetapi menghadirkan harapan. Inilah Gereja yang sungguh hidup dan setia pada misinya.
Presbyterorum Ordinis yang Hidup di Papua
Dengan demikian, Presbyterorum Ordinis tidak berhenti sebagai dokumen Gereja. Ia hidup dan menyala dalam pribadi-pribadi imam yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk Allah dan umat-Nya yang bahkan di tengah konflik dan ancaman.
Imam-imam Papua ini, Pastor Yance Wadogouby Yogi dan Pastor Yosep tuwipapapito Bunai adalah perwujudan nyata dari imam yang sejati: nabi yang berseru di padang gurun kekerasan, raja yang menggembalakan dengan kasih, dan imam yang mempersembahkan Kristus di tengah luka-luka dunia.
Gereja yang hadir melalui mereka menjadi tanda harapan di tanah Papua yang haus akan damai dan keadilan. Maka, sebagaimana dikatakan dalam PO pasal 15:
“Para imam hendaknya mempersembahkan diri mereka seutuhnya kepada pelayanan rohani umat Allah, dengan mengarahkan hati mereka kepada Dia yang telah mengutus mereka.” (PO, 15).
Dengan hati yang utuh dan jiwa yang terbakar oleh cinta Kristus, mereka telah dan terus menjadi terang di tengah kegelapan.



Komentar
Posting Komentar