Memahami Penderitaan Orang Papua Refleksi atas Salvifici Doloris di Tengah Penindasan dan Pembunuhan di Intan Jaya

 



Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa 

Penderitaan masyarakat Papua, khususnya di wilayah Intan Jaya, telah berlangsung lama dan penuh luka. Tragedi kemanusiaan yang terjadi pada 8 Juni 2025 di Kampung Gamagae dan Yoparu menjadi satu dari sekian banyak catatan berdarah dalam sejarah panjang penindasan. Ketika suara tembakan membangunkan warga dari tidur mereka, bukan hanya tubuh yang terguncang, melainkan juga iman, harapan, dan martabat sebagai manusia.

Korban sipil seperti Isak Kobogau (43), Alphon Kobogau (20), dan Yohanes Tipagau (40) menjadi saksi bisu akan keganasan aparat negara yang seharusnya melindungi, bukan membunuh. Penembakan tanpa ampun ini menyisakan trauma dan pengungsian; seolah orang Papua diperlakukan seperti binatang buruan di hutan, bukan sebagai sesama manusia yang layak hidup damai di tanah leluhur mereka.

Di tengah penderitaan ini, dokumen apostolik Salvifici Doloris (1984) karya Paus Yohanes Paulus II menjadi bahan refleksi yang penting. Dokumen ini tidak sekadar membahas penderitaan secara teologis, tetapi juga memaknai penderitaan manusia dalam terang penderitaan Kristus. Penderitaan bukan hanya beban, melainkan misteri yang bisa memiliki makna keselamatan bila dipersatukan dengan salib Kristus.

Penderitaan dalam Terang Salib Kristus

Menurut Salvifici Doloris, penderitaan adalah bagian dari realitas manusiawi yang terdalam. Namun dalam iman Kristiani, penderitaan memperoleh makna baru ketika dikaitkan dengan penderitaan Yesus. Paus Yohanes Paulus II menyatakan: "Di dalam penderitaan manusia, Kristus menyatakan dan menyampaikan kasih-Nya yang menyelamatkan."

Artinya, penderitaan orang-orang Papua bukan sesuatu yang sia-sia. Darah yang tumpah dan air mata yang jatuh bisa menjadi bagian dari penderitaan Kristus yang membawa penebusan. Tapi ini tidak berarti kita membenarkan kekerasan. Sebaliknya, melalui salib, kita dipanggil untuk memperjuangkan keadilan, damai, dan rekonsiliasi.

Peran Gereja dan Sosok Pater Yance Wadogouby Yogi 

Dalam situasi seperti ini, sosok-sosok profetis seperti Pater Yance Wadogouby Yogi, Imam Katolik dan Dekan Dekanat Moni, memainkan peran vital. Ia berdiri bersama umat, tidak meninggalkan mereka saat penganiayaan datang, dan membawa terang Kristus di tengah kegelapan senjata. Ia menjadi suara kenabian yang tidak diam terhadap ketidakadilan dan pembantaian yang dilakukan oleh militer.

Gereja harus menjadi tempat perlindungan, bukan hanya rohani, tetapi juga fisik. Ketika masyarakat lari ke halaman Gereja Katolik Galunggama untuk berlindung, itu bukan hanya ekspresi ketakutan, tapi juga kepercayaan bahwa rumah Tuhan adalah tempat keadilan dan kasih sejati.

Mendesak Dialog dan Rekonsiliasi

Salvifici Doloris juga menggarisbawahi pentingnya solidaritas dan kasih dalam menghadapi penderitaan. Maka dari itu, negara, dalam hal ini TNI dan Polri, harus segera menghentikan operasi militer yang menargetkan warga sipil. Dialog damai dan pendekatan kemanusiaan lebih bermartabat dan sejalan dengan nilai-nilai Injil serta Pancasila.

Rekonsiliasi sejati harus dimulai dengan pengakuan kesalahan dan permohonan maaf kepada keluarga korban. Tanpa itu, penderitaan orang Papua hanya akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Penderitaan Papua adalah Penderitaan Kristus

Apa yang terjadi di Intan Jaya bukan sekadar konflik, tapi penyangkalan terhadap nilai kemanusiaan. Dalam penderitaan Isak, Alphon, dan Yohanes, kita melihat wajah Kristus yang dipukul, disiksa, dan dibunuh di kayu salib. Maka, panggilan Gereja dan semua orang beriman adalah membela hidup, membela martabat manusia, dan menolak kekerasan dalam bentuk apa pun.

Sebagaimana dikatakan Paus Yohanes Paulus II, "Jangan takut untuk menjadi saksi penderitaan Kristus, karena dari salib-Nya lahir kebangkitan." Semoga dari luka Papua, lahir harapan baru. Dan semoga darah para martir Papua menjadi benih kedamaian dan keadilan sejati.

Komentar

Postingan Populer