Realita Tak Seindah Surga
![]() |
| (Menerima Kenyataan, Menemukan Arti Hidup di Tengah Ketidaksempurnaan) Oleh Yulianus Kebadabi Kadepa |
Jawaban atas pertanyaan ini, sederhana tapi tak mudah diterima: karena kita tidak tinggal di surga, kita hidup di dunia. Dunia yang nyata, penuh ketidaksempurnaan, dan sering kali tak sesuai dengan ekspektasi kita masing-masing.
Kita melihat kehidupan sehari-hari mulai nampak ketidakadilan di sekitar kita. Usaha keras tak selalu dihargai. Kebaikan tak selalu dibalas. Orang jujur kadang kalah, sementara yang curang melenggang bebas.
Ini bukan karena hidup salah, tapi karena itulah hidup. Dunia bukan panggung sempurna. Dunia adalah tempat ujian, proses, dan pertumbuhan. Dan justru di balik segala ketidaksempurnaan itu, kita menemukan siapa diri kita sebenarnya. "Jangan berharap dunia berlaku adil seperti surga. Berusahalah berlaku adil meski di dunia dunia nyata ini."
Dengan refleksi ini, patah hati mengajarkan keteguhan. Kegagalan membentuk keberanian. Kekecewaan menajamkan intuisi. Setiap rasa sakit yang kita alami, meski tak kita inginkan, mengajarkan satu hal: kita lebih kuat dari yang kita pikirkan. Bukan yang hidupnya mudah yang tumbuh kuat, tapi yang pernah terjatuh dan tetap memilih bangkit.
Menerima kenyataan bukan berarti pasrah. Justru itu adalah langkah pertama untuk mengubah hidup: menghadapi apa adanya, bukan hanya berharap seperti yang kita inginkan.
Jika dunia tak bisa memberi kedamaian sepenuhnya, maka kita bisa mulai menciptanya dari dalam diri. Surga mungkin bukan tempat kita sekarang, tapi kita bisa membangun serpihannya: lewat kebaikan kecil, keikhlasan, dan ketulusan hati. Tak perlu menunggu dunia berubah, cukup mulai dari diri: jadi terang di tengah gelap. Bahagia bukan saat semua sempurna, tapi saat kita mampu mensyukuri yang sederhana.
Dengan demikian, realita memang tak seindah surga. Tapi itu tak membuat hidup tak berharga. Justru karena dunia ini tak sempurna, kita diberi kesempatan untuk bertumbuh, mencintai, memaafkan, dan memberi makna. Kita hidup bukan untuk mencari dunia sempurna, tapi untuk menjadikan hidup ini berarti.
Wisma Tiga Raja Timika



Komentar
Posting Komentar