PENDERITAAN YESUS DENGAN PENDERITAAN ORANG PAPUA
(Refleksi Teologis Pembebasan)
Oleh Gertak Kebadabi Kadepa
Penderitaan merupakan peristiwa atau Keadaan menyedihkan yang harus ditanggung oleh manusia itu sendiri. Penderitaan Yesus merupakan bagian dari pembebasan manusia sedangkan penderitaan orang Papua adalah masalah sosial.
Penderitaan mulai muncul ketika seseorang sedang bermain sebagai ritme permainan terhadap manusia, ekonomi dan politik. Masalah penderitaan Yesus Kristus itu bagian dari misi Tuhan untuk memikul salib demi manusia. Dengan penderitaan Yesus di kayu salib merupakan peristiwa historis. Penderitaan Yesus Sama persis dengan penderitaan orang Papua karena orang Papua kini terjadi adalah, seperti hidup dengan penuh sengsara, penderitaan, dan susah.
Di tengah-tengah penderitaan Yesus dan penderitaan orang Papua merupakan peristiwa yang menjadi nyata sehingga bagaimana cara untuk mencari keadilan dan kebenaran oleh manusia itu sendiri. Maka harapan kita bersama sebagai manusia terarah pada Yesus Kristus dimana dan kapan saja kita berada. Yesus hadir dunia ini untuk membebaskan diri dari segala penderitaan manusia.
Penderitaan Yesus Kristus di kayu salib merupakan peristiwa sosial yang terjadi di masa itu. Dikaitkan dengan Penderitaan Orang Papua juga demikian peristiwa sosial.
Peristiwa Yesus, merupakan peristiwa iman akan keselamatan manusia melalui karya pelayanan. Ketika penderitaan mulai muncul oleh Yesus secara histori di kayu salib bahwa Yesus menunjukkan langsung dengan kematian dan kebangkitan bagi manusia untuk mencapai keselamatan. Kisah sengsara Yesus Kristus di kayu salib kita perlu refleksikan secara bersama-sama untuk merelevansikan penderitaan Orang Asli Papua.
Dalam bukunya Leonardo Boff, Yesus Kristus Pembebas Arnoldus, Ende: 1999 hal 40 “melihat secara mendam kematian Yesus terdapat enam argumen: pertama kematian Yesus memberikan kebebasan dan melahirkan kedamaian bukan kekerasan. Kedua, Yesus mati di kayu salib Ia pasrahkan seluruh hidupnya dan nyawanya demi manusia dan demi misinya. Yesus menerima kematiannya dengan kebebasan penuh kepada penjahat. Ketiga salib adalah simbol yang memiliki seorang tidak terlepas dari salib penderitaan. Keempat kematian Yesus ia membebaskan dan menerima segala penderitaan dengan ikhlas demi korban penebusan dosa-dosa umat manusia. Kelima, Yesus mati di kayu salib demi orang-orang miskin dan terpinggir diatas tanahnya sendiri. keenam salib memperlihatkan bahwa pengakuan salib itu adalah bagian dari pendirian orang sehingga pendirian itu mulai muncul pembebasan manusia diatas muka bumi ini.
Penderitaan Yesus melihirkan dan menerima kenyataan bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan membebaskan dari orang jahat. Maka penderitaan Yesus di kayu salib bagaimana pandangan penderitaan orang Papua.
Penderitaan Orang Papua kurang lebih sama dengan Penderitaan Yesus Kristus di kayu salib. Penderitaan Yesus merupakan bagian dari pengorbanan dosa-dosa manusia demi penyelamat nyawa manusia. Peristiwa penderitaan yang terjadi di Papua menjadi korban karena ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan hak Ulayat seperti kultural politis ekonomi dan sosial. Persoalan penderitaan orang Papua tidak bisa menyelesaikan satu dua hari namun bertahun-tahun karena pembebasan orang Papua tidak memiliki nilai-nilai kerendahan hati untuk menjaga mengawal haknya sendiri dalam kehidupan manusia Papua.
Setidaknya apakah korban-korban yang terjadi diatas tanah Papua itu bisa di atasi dengan tindakan yang adil? Ataukah secara berlahan-lahan untuk menghabisi nyawa manusia Papua sehingga kolonial Indonesia secara diam-diam masuk merampas hak tanah ulayat manusia Papua?
Bagaimana perfektif rencana Allah? Pertanyaannya adalah Allah macam apa yang harus kita mengerti dalam konteks ini? Kadang-kadang kita minta Tuhan untuk pertolongannya. Dan kadang berpikir sebagai orang Papua, bahwa Yesus Jadilah seperti orang Papua supaya Yesus sendiri juga rasa penderitaan orang Papua Ataukah orang Papua bertahun-bertahun meminta pertolongan pembebasan kepada Tuhan melalui doa-doa?
Sejauh ini orang Papua selalu meminta pertolongan kepada Allah Bapa di surga melalui kepercayaan masing-masing namun doa-doa orang Papua tidak terkabul oleh-Nya. Penderitaan orang Papua menjadi korban diatas korban seperti penderitaan Yesus Kristus sama persis dengan penderitaan orang Papua.
Penderitaan orang Papua tidak cukup untuk merohanikan sehingga pendirian Yesus dengan orang Papua adalah bagian dari penderitaan sosial. Teologi pembebasan menjadi landasan teori untuk membebaskan orang yang mengalami situasi penindasan, ketakutan, dan kekhwatiran yang dirasakan oleh manusia Papua.
Dalam bukunya Baskara T. Wardaya, Sj. Spritualitas pembebasan Kanisius: 1995 , hal 57) menjelaskan bahwa jalan salib sebagai jalan keadilan. Yesus mati di kayu salib untuk menebus jalan keadilan, sosial manusia “ sehingga Allah yang memihak dan membebaskan kaum lemah.
Jika hal seperti itu terjadi bagaimana cara untuk mendapatkan keselamatan manusia melalui teologi pembebasan manusia. Yesus menderita karena dosa-dosa umat manusia dan orang Papua menderita karena demi tanah airnya sendiri. Apa perbedaan Yesus dengan Penderitaan Orang Papua. Kedua peristiwa ini menjadi peristiwa iman akan keselamatan manusia. (*)
Wisma Tiga Raja Timika



Komentar
Posting Komentar