Menjadi Aku di Dunia yang Menyuruh untuk Berubah

 

Aku adalah aku 

(Menjadi diri sendiri di dunia yang terus-menerus mencoba menjadikanmu sesuatu yang lain adalah pencapaian terbesar)

Oleh: Yulianus Kebadabi Kadepa 

Menjadi diri sendiri terdengar seperti hal paling sederhana, namun justru menjadi salah satu tantangan terbesar dalam hidup. Kita hidup dalam masyarakat yang sibuk memberi tahu siapa yang pantas, bagaimana cara berpikir yang “benar”, bagaimana harus berpenampilan, dan bahkan bagaimana cara merasa. Seolah-olah, menjadi pribadi yang autentik dianggap tidak cukup baik. Di tengah gempuran tuntutan ini, aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku sungguh mengenal siapa aku? Atau hanya sekadar menjadi cerminan dari harapan orang lain?

Jawaban atas pertanyaan diatas ini lebih memperjelas dibawah ini adalah:
Pertama, Tekanan untuk Menyesuaikan Diri
Sejak kecil, aku sudah terbiasa mendengar kalimat seperti, "Jangan begini, nanti orang lain menilai," atau "Jadilah seperti si itu, dia lebih baik." Aku mulai belajar untuk menyembunyikan sisi-sisi diriku yang dianggap berbeda. Aku mulai memakai "topeng", bersikap sesuai harapan, dan perlahan-lahan membungkam suaraku sendiri. Dunia seolah mengajarkanku bahwa menjadi berbeda adalah kesalahan, bahwa menjadi unik adalah kelemahan.

Tak hanya dari lingkungan sekitar, media sosial juga turut membentuk standar tidak realistis tentang kebahagiaan dan kesuksesan. Aku melihat orang-orang tampak sempurna di layar, dan tanpa sadar mulai membandingkan diriku. Aku pun mulai merasa tidak cukup. Tidak cukup cantik, tidak cukup pintar, tidak cukup berhasil. Tekanan untuk menjadi versi ideal yang dibuat oleh dunia perlahan merampas kepercayaanku terhadap diriku sendiri.

Kedua, Saatnya Berhenti Berpura-pura
Namun, di satu titik, aku lelah. Lelah berpura-pura, lelah menyesuaikan, dan lelah menyenangkan semua orang. Aku sadar bahwa tidak ada yang lebih menyakitkan selain mengkhianati diriku sendiri. Aku mulai bertanya: Apa salahnya menjadi diriku yang asli?

Perubahan pun mulai terjadi. Aku belajar mengenali diriku sendiri apa yang membuatku bahagia, apa yang aku yakini, dan apa yang benar-benar penting bagiku. Aku mulai menyaring suara-suara di luar dan lebih mendengarkan suara dari dalam diri. Aku mulai menyadari bahwa menjadi diri sendiri bukan berarti menolak nasihat atau menutup diri dari kritik, melainkan berani bersikap jujur dan konsisten dengan nilai-nilai yang kupegang.

Ketiga Menjadi Diri Sendiri Itu Proses, Bukan Tujuan Instan. Menjadi diri sendiri bukan berarti langsung tahu segalanya tentang siapa kita. Itu adalah proses panjang yang sering kali menyakitkan, membingungkan, tapi juga membebaskan. Aku belajar mencintai diriku bukan hanya karena kelebihanku, tetapi juga karena kekuranganku. Aku tidak selalu benar, tidak selalu kuat, dan tidak selalu tahu arah. Tapi aku tetap berharga, tetap layak, dan tetap pantas menjadi diri sendiri.

Setiap hari adalah latihan kecil untuk tetap jujur. Ketika dunia menyuruhku berubah agar sesuai, aku belajar untuk tetap teguh. Ketika orang lain meragukanku, aku belajar untuk percaya pada langkahku sendiri. Dan ketika aku merasa tak cukup, aku mengingatkan diriku bahwa menjadi “cukup” bukan soal sempurna, tapi soal menjadi nyata.

Dengan demikian, refleksi singkat ini mengajak kita untuk menjadi diri sendiri di dunia yang terus menyuruh untuk berubah adalah bentuk perlawanan yang paling tulus dan paling penting. Ini bukan tentang membangkang, tapi tentang menghormati diri sendiri. Dunia mungkin tidak selalu menerima, tidak selalu mengerti, bahkan mungkin mengejek. Tapi lebih baik ditolak karena menjadi diri sendiri, daripada diterima karena menjadi orang lain.

Hari ini, aku memilih untuk menjadi aku. Mungkin jalanku tak secepat orang lain, mungkin caraku berbeda. Tapi ini jalanku, langkahku, dan hidupku. Aku tidak sempurna, dan aku tak perlu menjadi sempurna untuk merasa cukup. Karena aku tahu, aku adalah aku. Dan itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih Tuhan atas nafasku.

Wisma Tiga Raja Timika 

Komentar

Postingan Populer