Maut, Penderitaan, dan Jalan Menuju Hidup Baik: Refleksi Eksistensial atas Penemuan Diri
![]() |
| Buku Filsafat Maut Oleh: Yulianus Kebadabi Kadepa |
Filsafat Maut: Kesadaran akan Keterbatasan
Dalam buku Filsafat Maut: Empat Renungan untuk Hidup Baik, 136 halaman, Buku bersampul tipis, Diterbitkan 27 Maret 2024 para penulis mengajak pembaca untuk merenungkan kematian dari berbagai perspektif filosofis. S.P. Lili Tjahjadi menulis peristiwa kematian dari perspektif filsafat samurai Jepang, Fitzerald K. Sitorus membahas kematian dari kacamata filsafat Hegel, Budi Hardiman menjelaskannya dari filsafat Martin Heidegger, dan A. Setyo Wibowo menganalisis pandangan kaum stoikisme tentang kematian.
Bisa disimpulkan buku ini memosisikan momen kematian seseorang sebagai momen eksistensial sekaligus menawarkan semacam pereda untuk kecemasan yang muncul sebagai konsekuensinya. Kesadaran seseorang akan kematian yang kemudian menimbulkan kecemasan adalah kondisi khas manusia. Hal itu hendaknya diterima dengan sepenuh hati. Tak perlu seseorang melarikan diri dari kondisi tersebut.
Menurut Heidegger, kesadaran terhadap kematian merupakan hal yang autentik. Oleh karena itu, lari dari kesadaran tersebut hanya karena menimbulkan kecemasan yang merupakan sikap yang tidak autentik. Budi Hardiman menulis, ”Menjadi autentik merupakan wujud hidup yang baik. Dasein (manusia autentik-pen) menjadi dirinya sendiri, dan hal itu terwujud, jika ia hidup dalam kesadaran akan kematian (hal 68).
Artinya, autentisitas seseorang ditentukan, salah satunya oleh kesadarannya akan kematian. Melarikan diri dari kecemasan akan kematian merupakan bentuk pengingkaran terhadap kenyataan. Kondisi tersebut merupakan sikap hidup yang tidak sehat karena berupaya membohongi atau menipu diri sendiri.
Lebih jauh lagi, melihat kaum stoik terhadap kematian cukup sederhana. Sama seperti filosofi mereka yang fokus pada apa yang mampu dikendalikan oleh seseorang dan apa yang di luar kendalinya, kematian merupakan peristiwa yang terjadi di luar kendali kita. Oleh karena itu, tidak perlu membuang-buang waktu untuk mencemaskannya.
Di sisi lain, kaum stoik yang selalu memajukan kehidupan selaras dengan alam berpendapat bahwa kematian adalah proses dan siklus alamiah yang terjadi di alam semesta. Sikap menolaknya adalah sikap melawan hukum alam dan itu merupakan hal yang sia-sia.
Mengutip Epiktetos, Setyo Wibowo menulis, "Mengapa gandum tumbuh? bukankah supaya ia bisa matang di bawah sinar matahari? Dan jika sudah matang, bukankah aku juga akan dituai, karena aku bukan sesuatu yang terpisah?" (hal 87).
Penderitaan sebagai Jalan Penemuan Diri
Penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Dalam pemikiran Soren Kierkegaard, penderitaan justru adalah kondisi eksistensial yang mendalam, di mana manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan penting dalam hidup. Dalam penderitaan, semua topeng runtuh, dan manusia dihadapkan pada dirinya yang sejati.
Saat kita mengalami kegagalan, kehilangan, atau rasa sakit, kita dipaksa untuk berhenti dan merenung. Siapa kita sebenarnya tanpa jabatan, tanpa harta, tanpa pengakuan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini hanya muncul dalam momen penderitaan yang paling personal, dan jawaban-jawabannya sering kali membuka tabir jati diri yang selama ini tersembunyi.
Hidup Baik: Bukan Tentang Kebahagiaan, Tetapi Keotentikan
Hidup baik dalam perspektif ini bukan hidup tanpa kesulitan, melainkan hidup yang dijalani dengan penuh kesadaran, kejujuran, dan keberanian menghadapi kenyataan. Orang yang telah melalui penderitaan biasanya lebih bijak, lebih dalam pandangannya, dan lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup. Mereka memahami bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari menghindari penderitaan, tetapi dari keberanian untuk menghadapinya dan belajar darinya.
Refleksi Pribadi: Penderitaan yang Mengubah Pandangan Hidup
Saya sendiri pernah mengalami masa-masa gelap yang membuat saya mempertanyakan segalanya untuk tentang hidup, tentang nilai, tentang tujuan. Di tengah penderitaan itu, saya menyadari bahwa selama ini saya menjalani hidup secara otomatis, mengikuti arus tanpa arah. Justru saat semuanya runtuh, saya mulai melihat cahaya kecil dalam diri: kekuatan untuk bertahan, keberanian untuk berubah, dan keinginan untuk hidup lebih bermakna.
Maut dan penderitaan, pada akhirnya, bukan musuh yang harus ditakuti. Mereka adalah guru yang keras, tetapi jujur, yang membimbing kita menuju hidup yang lebih dalam dan sejati.
Kesimpulan
Hidup baik bukanlah hidup tanpa luka. Sebaliknya, luka dan penderitaan justru menjadi gerbang menuju kehidupan yang otentik. Filsafat maut mengajak kita untuk hidup dengan kesadaran akan kematian, sementara penderitaan membimbing kita menemukan makna terdalam dari keberadaan. Dalam dunia yang terus bergerak cepat dan menuntut kesuksesan lahiriah, refleksi semacam ini penting agar kita tidak kehilangan arah dan jati diri.
Rujukan Buku
Hardiman, F. (Ed.). (2024). Filsafat Maut: Empat Renungan untuk Hidup Baik. Kepustakaan Populer Gramedia.



Komentar
Posting Komentar