Makan Bersama dengan Suami Istri yang Tidak Bisa Melihat sebagai Wujud Tugas Perutusan

 


Frater (Top) Tuhun Orientasi pastoral 

Di Paroki Kebangkitan Agimuga 

Keuskupan Timika 


Yulianus kadepa 


Tidak harus menjadi orang besar dan kaya raya untuk dapat melayani sesama. Bagi saya, menjadi seorang Frater berarti bersedia diutus oleh Allah untuk hadir dan melayani siapa saja, terutama mereka yang miskin, menderita, terlupakan, dan membutuhkan perhatian. Perutusan tidak selalu diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Kadang-kadang, perutusan justru hadir dalam perjumpaan yang sederhana, dalam sebuah rumah, dalam sebuah percakapan, bahkan dalam satu meja makan.

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika saya mendapat kesempatan makan bersama seorang suami dan istri yang tidak dapat melihat. Bapa dan Mama ini memiliki keterbatasan dalam penglihatan, tetapi mereka menerima saya dengan penuh kasih dan melayani saya dengan begitu baik. Saya datang sebagai seorang Frater yang merasa diutus untuk hadir bersama mereka, tetapi dalam perjumpaan itu saya justru merasa bahwa saya sendiri yang menerima pelayanan dan kasih dari mereka.

Kami makan bersama di rumah mereka. Kami duduk dalam satu meja, menikmati makanan yang disediakan, berbicara, dan berbagi cerita. Secara sederhana, mungkin tidak ada sesuatu yang luar biasa dalam peristiwa tersebut. Namun, bagi saya, pengalaman itu memiliki makna yang sangat dalam. Saya merasakan bahwa makanan yang sederhana dapat menjadi begitu nikmat ketika disantap dalam suasana persaudaraan, ketulusan, dan kasih.

Bahkan, bagi saya, makan bersama Bapa dan Mama yang tidak dapat melihat terasa lebih nikmat daripada menikmati makanan yang enak dan istimewa di tempat yang mewah. Kenikmatan itu bukan terutama berasal dari makanan yang tersedia, melainkan dari kasih dan ketulusan yang menyertai perjumpaan tersebut. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk bertemu dan mengalami kebersamaan dengan keluarga ini.

Pengalaman tersebut membuat saya bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya, siapa yang melayani dan siapa yang dilayani? Saya datang dengan kesadaran sebagai seorang yang diutus untuk melayani, tetapi ternyata saya justru mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari mereka. Bapa dan Mama yang secara fisik tidak dapat melihat justru memperlihatkan kepada saya bagaimana melihat dengan hati. Mereka mengajarkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengasihi, menerima, dan melayani sesama.

Saya, Frater Yulianus Kadepa, semakin menyadari bahwa panggilan hidup saya merupakan bagian dari tugas perutusan. Melalui Gereja dan Keuskupan Timika, saya diutus untuk hadir di tengah masyarakat dan umat. Perutusan ini berakar pada Amanat Agung Yesus: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19-20).

Bagi saya, perintah Yesus tersebut tidak hanya berarti pergi ke tempat yang jauh atau melakukan karya yang besar. Perutusan dapat dimulai dari tempat di mana kita berada. Perutusan dapat diwujudkan dengan hadir bagi sesama, mendengarkan cerita mereka, berbagi makanan, membangun persaudaraan, dan memberikan perhatian kepada mereka yang mungkin sering kali terlupakan.

Dari pengalaman makan bersama Bapa dan Mama, saya belajar bahwa pelayanan bukan pertama-tama tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang kesediaan untuk hadir bagi orang lain. Kita tidak harus kaya untuk berbagi. Kita tidak harus terkenal untuk melayani. Kita tidak harus memiliki banyak harta untuk menunjukkan kasih. Kadang-kadang, kehadiran kita sendiri sudah menjadi bentuk kasih yang sangat berarti.

Pengalaman ini juga mengingatkan saya pada kisah Yesus yang menyembuhkan dua orang buta dalam Injil Matius 9:27-31. Kisah tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa melihat bukan hanya persoalan kemampuan mata secara fisik. Ada pula kemampuan untuk melihat dengan iman dan hati. Ketika saya duduk dan makan bersama Bapa dan Mama yang tidak dapat melihat, saya belajar untuk tidak melihat mereka hanya dari keterbatasan fisik mereka. Saya belajar melihat martabat, kekuatan, ketulusan, dan keindahan hidup yang ada dalam diri mereka.

Bapa dan Mama mungkin tidak dapat melihat saya dengan mata mereka, tetapi mereka mampu menerima saya dengan hati. Mereka mungkin tidak dapat melihat makanan yang ada di atas meja, tetapi mereka mampu menghadirkan suasana makan yang penuh kasih dan persaudaraan. Dari situlah saya belajar bahwa terkadang orang yang tidak dapat melihat secara fisik justru dapat mengajarkan kepada kita bagaimana melihat kehidupan dengan lebih dalam.

Makan bersama menjadi sebuah perayaan sederhana tentang kehidupan. Satu meja menyatukan kita. Di meja makan, perbedaan menjadi tidak begitu penting. Yang ada adalah manusia yang saling berbagi kehidupan. Kaya atau miskin, sehat atau memiliki keterbatasan, berpendidikan atau sederhana, semuanya membutuhkan kasih, persaudaraan, dan perhatian.

Dalam pengalaman tersebut, saya juga semakin memahami perkataan Santo Paulus: “Bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?” (Rm 10:15). Perutusan berarti bersedia pergi dan hadir. Seorang yang diutus tidak hanya berbicara tentang kasih Tuhan, tetapi juga berusaha menghadirkan kasih Tuhan melalui tindakan nyata.

Yesus juga berkata dalam Kisah Para Rasul 1:8 bahwa para murid akan menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi. Menjadi saksi Kristus berarti menghadirkan Kristus melalui kehidupan sehari-hari: melayani, mengasihi, membantu mereka yang membutuhkan, mendengarkan, menghargai, dan menerima setiap pribadi dengan penuh kasih.

Karena itu, saya memandang pengalaman makan bersama Bapa dan Mama yang tidak dapat melihat bukan sekadar kegiatan makan bersama. Bagi saya, pengalaman itu merupakan bagian dari tugas perutusan. Saya diutus bukan hanya untuk berkhotbah atau berbicara tentang Injil, tetapi juga untuk menghadirkan Injil melalui persaudaraan dan kepedulian.

Saya semakin menyadari bahwa perutusan dapat dimulai dari satu meja makan. Dari meja itu lahir perjumpaan. Dari perjumpaan lahir persaudaraan. Dari persaudaraan tumbuh kepedulian. Dan dari kepedulian, kasih Kristus dapat dihadirkan kepada sesama.

Pengalaman ini juga mengajarkan kepada saya bahwa kita tidak boleh memandang seseorang hanya berdasarkan keterbatasannya. Sering kali kita melihat orang yang tidak dapat melihat sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. Namun, dalam pengalaman saya, saya justru menemukan bahwa Bapa dan Mama juga memiliki sesuatu yang dapat mereka berikan: keramahan, ketulusan, perhatian, kasih, dan persaudaraan. Mereka bukan hanya orang yang saya layani, tetapi juga pribadi yang telah melayani dan mengajarkan sesuatu kepada saya.

Maka, saya percaya bahwa kita tidak harus menjadi orang besar dan kaya raya untuk melakukan sesuatu yang berarti. Kita hanya perlu memiliki hati yang mau hadir dan melayani. Ketika kita mau duduk bersama mereka yang membutuhkan, makan bersama, mendengarkan mereka, dan menghargai mereka, di situlah kasih Kristus dapat dirasakan secara nyata.

Saya bersyukur karena melalui pengalaman sederhana ini, saya semakin memahami arti perutusan. Saya datang untuk berbagi, tetapi saya justru menerima banyak hal. Saya datang untuk melayani, tetapi saya juga dilayani. Saya datang untuk hadir, tetapi kehadiran mereka justru memberikan pelajaran yang mendalam bagi perjalanan panggilan saya.

Sebagai Frater Yulianus Kadepa, saya ingin terus belajar bahwa inti dari perutusan bukanlah menjadi besar di mata manusia, melainkan menjadi kecil, hadir, dan berguna bagi sesama di hadapan Allah. Pengalaman makan bersama Bapa dan Mama yang tidak dapat melihat menjadi salah satu pengalaman sederhana yang memperkaya panggilan saya.

Dari satu meja makan itu saya belajar bahwa kasih Tuhan dapat hadir di mana saja. Kasih itu tidak selalu hadir melalui sesuatu yang besar dan istimewa. Kadang-kadang, kasih Tuhan hadir melalui makanan yang sederhana, percakapan yang tulus, penerimaan yang hangat, dan kebersamaan dalam sebuah keluarga.

Bagi saya, makan bersama Bapa dan Mama yang tidak dapat melihat bukan hanya tentang makanan. Itu adalah tentang perjumpaan, persaudaraan, pelayanan, dan kasih. Di meja makan yang sederhana itu, saya menemukan bahwa tugas perutusan dapat dimulai dari hal yang sangat kecil: bersedia hadir, bersedia berbagi, dan bersedia melihat sesama bukan dari keterbatasannya, tetapi dari martabatnya sebagai manusia yang dikasihi Allah.



Agimuga,  05 Oktober 2026

Komentar

Postingan Populer