Kebun Anggur Tuhan Ada di Tengah Kehidupan Kita: Frater Yulianus Kadepa Mengunjungi Seorang Lumpuh dan Kehilangan Ingatan
Pada hari Minggu Biasa XXVII, umat di Paroki Kebangkitan Agimuga merayakan ibadah dengan merenungkan Sabda Tuhan tentang kebun anggur. Meskipun hari tersebut bertepatan dengan peringatan Santo Fransiskus dari Assisi, perayaan liturgi tetap menggunakan bacaan Minggu Biasa XXVII.
Ketiga bacaan yang kita dengarkan berbicara tentang kebun anggur. Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi sangat dalam: Di manakah kebun anggur Tuhan dalam kehidupan kita?
Apakah kebun anggur Tuhan hanya terdapat dalam cerita Kitab Suci? Tentu tidak. Kebun anggur Tuhan justru sangat dekat dengan kehidupan kita. Keluarga adalah kebun anggur Tuhan. Rumah adalah kebun anggur Tuhan. Pekerjaan adalah kebun anggur Tuhan. Gereja dan komunitas adalah kebun anggur Tuhan. Tanah dan alam yang kita tempati juga merupakan kepercayaan yang Tuhan titipkan kepada kita. Bahkan hati dan kehidupan kita sendiri adalah kebun anggur Tuhan.
Dalam bacaan pertama dari Kitab Yesaya, kita mendengar kisah tentang seorang pemilik kebun anggur yang merawat kebunnya dengan sungguh-sungguh. Ia mencangkul tanah, membersihkan batu-batu, menanam pokok anggur pilihan dan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Semua itu dilakukan karena ia berharap kebunnya menghasilkan buah yang baik. Namun, yang dihasilkan justru buah anggur liar.
Gambaran ini sangat dekat dengan kehidupan manusia. Tuhan telah memberikan begitu banyak hal yang baik kepada kita. Kita menerima keluarga, kesehatan, kemampuan, pekerjaan, alam, tanah, persaudaraan dan kesempatan untuk melayani. Tetapi pertanyaannya adalah: buah seperti apa yang kita hasilkan dari semua kepercayaan Tuhan itu?
Dalam Injil, Yesus juga berbicara tentang kebun anggur yang dipercayakan kepada para penggarap. Mereka seharusnya merawat kebun dan menghasilkan buah bagi pemiliknya. Namun, mereka lupa bahwa kebun tersebut bukan milik mereka. Mereka hanya dipercaya untuk mengelolanya. Bukankah kehidupan kita juga demikian?
Tuhan mempercayakan keluarga kepada kita. Tuhan mempercayakan anak-anak kepada orang tua. Tuhan mempercayakan pekerjaan dan kemampuan kepada kita. Tuhan juga mempercayakan tanah dan alam kepada kita. Semua itu bukan semata-mata untuk dinikmati, tetapi juga untuk dirawat dan menghasilkan kebaikan.
Karena itu, kita perlu bertanya: ketika Tuhan memberikan tanah dan alam kepada kita, apakah kita menjaganya atau hanya mengambil hasilnya? Ketika Tuhan memberikan keluarga kepada kita, apakah keluarga kita menghasilkan kasih dan kedamaian? Ketika Tuhan memberikan anak-anak kepada kita, apakah kita memberikan teladan hidup yang baik? Ketika Tuhan memberikan Gereja dan komunitas kepada kita, apakah kita sungguh-sungguh mau melayani?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting bagi kita yang hidup di Agimuga. Tanah dan alam bukan sekadar sumber kehidupan dan penghasilan. Alam adalah bagian dari kehidupan bersama yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Karena itu, merawat tanah, hutan, sungai dan lingkungan berarti juga merawat kebun anggur Tuhan.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: manusia sendiri juga merupakan kebun anggur Tuhan. Orang yang sakit adalah kebun anggur Tuhan. Orang yang lemah adalah kebun anggur Tuhan. Orang yang terlupakan adalah kebun anggur Tuhan. Mereka yang hidup dalam keterbatasan juga tetap memiliki martabat sebagai ciptaan Tuhan yang harus diperhatikan dan dikasihi.
Dalam konteks inilah, kunjungan Frater Yulianus Kadepa kepada Bapak Sunme Lumpu menjadi sebuah kesaksian sederhana tetapi bermakna. Setelah ibadah, Frater Yulianus memberikan perhatian kepada Bapak Sunme Lumpu, seorang perintis tim medis di suku Amungme yang sedang mengalami kondisi kesehatan berat, termasuk kelumpuhan dan kehilangan ingatan.
Kehadiran Frater Yulianus di tengah keadaan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti ketika ibadah selesai. Justru setelah umat meninggalkan tempat ibadah, iman dipanggil untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Mengunjungi orang yang sakit mungkin terlihat sebagai tindakan sederhana. Duduk di sampingnya, berbicara dengannya, memberikan perhatian dan menunjukkan kepedulian mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang dapat diukur dengan uang. Namun, bagi orang yang sedang menderita, kehadiran seseorang dapat menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Di sinilah makna “kebun anggur Tuhan” menjadi nyata.
Jika kehidupan adalah kebun anggur Tuhan, maka setiap orang memiliki tanggung jawab untuk merawatnya. Ketika kita melihat seseorang yang sakit, kita tidak boleh hanya melihat penyakitnya. Kita perlu melihat bahwa di dalam dirinya ada kehidupan yang Tuhan ciptakan dan percayakan kepada kita untuk dihargai.
Ketika kita melihat orang yang lemah, kita tidak boleh menjauhinya. Ketika kita melihat orang yang membutuhkan pertolongan, kita tidak boleh menutup mata. Ketika ada saudara yang menderita, kita dipanggil untuk hadir.
Sebab, buah yang Tuhan harapkan dari kebun anggur kehidupan kita bukan hanya keberhasilan, kekayaan atau pencapaian. Buah yang Tuhan kehendaki adalah kasih, kepedulian, pelayanan, pengampunan, persaudaraan dan solidaritas terhadap sesama.
Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi juga mengingatkan kita agar tidak dikuasai oleh kekhawatiran. Paulus mengajak kita membawa segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa, permohonan dan ucapan syukur.
Namun, doa tidak berarti kita berhenti berusaha. Doa harus menghasilkan tindakan. Kalau kita berdoa untuk orang sakit, kita juga perlu berusaha memberikan perhatian dan pertolongan. Kalau kita berdoa untuk keluarga, kita harus berusaha menciptakan kedamaian. Kalau kita berdoa agar Tuhan mengampuni kita, kita juga harus belajar mengampuni. Kalau kita berdoa agar Tuhan memberkati kita, kita juga harus bersedia menjadi berkat bagi orang lain.
Karena itu, tindakan Frater Yulianus Kadepa dapat menjadi sebuah pengingat bagi umat bahwa pelayanan kepada sesama adalah bagian dari kehidupan iman. Gereja bukan hanya tempat untuk beribadah, tetapi juga tempat untuk belajar hadir bagi mereka yang menderita.
Apa yang dilakukan Frater Yulianus mungkin sederhana, tetapi pesan yang dibawanya sangat besar: jangan sampai kita rajin merawat kebun anggur kita sendiri, tetapi lupa merawat kebun anggur Tuhan yang ada di sekitar kita.
Keluarga kita adalah kebun anggur Tuhan. Gereja kita adalah kebun anggur Tuhan. Tanah dan alam kita adalah kebun anggur Tuhan. Dan saudara-saudari kita yang sakit, lemah, miskin dan membutuhkan pertolongan juga adalah bagian dari kebun anggur Tuhan.
Karena itu, pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya, “Apa yang saya terima dari Tuhan?” tetapi juga, “Buah apa yang saya hasilkan bagi Tuhan dan bagi sesama?”
Apakah kehidupan kita menghasilkan kasih atau kebencian? Menghasilkan persaudaraan atau perpecahan? Menghasilkan kepedulian atau ketidakpedulian? Menghasilkan pengampunan atau dendam?
Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita miliki. Tuhan melihat bagaimana kita menggunakan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita.
Maka, marilah kita merawat kebun anggur kehidupan kita dengan kasih, kesetiaan, pengampunan, kejujuran, persaudaraan dan kepedulian. Marilah kita menjaga keluarga, menghargai sesama, merawat alam dan tanah, serta tidak melupakan mereka yang sedang sakit dan menderita.
Kisah kunjungan Frater Yulianus Kadepa kepada Bapak Sunme Lumpu menjadi sebuah contoh bahwa iman yang hidup adalah iman yang bergerak keluar dari tempat ibadah dan hadir di tengah kehidupan manusia.
Sebab pada akhirnya, kita bukanlah pemilik kebun anggur. Kita hanyalah orang-orang yang dipercaya Tuhan untuk merawatnya.
Semoga ketika Tuhan datang melihat kebun anggur kehidupan kita, Ia menemukan buah yang baik. Bukan hanya buah keberhasilan untuk diri sendiri, tetapi juga buah kasih yang dapat dirasakan oleh orang lain.
Kebun anggur Tuhan ada di tengah kehidupan kita. Ada di keluarga kita, di tanah dan alam kita, di Gereja kita, dan terutama di dalam diri setiap manusia yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Tugas kita adalah merawatnya, mengasihinya dan menghasilkan buah yang baik bagi sesama.
Agimuga, 04 Oktober 2026



Komentar
Posting Komentar