DARI PEREMPUAN YANG TERLUPAKAN MENJADI SAHABAT SEJATI

 


Diberi Pakaian, Ia Melangkah Masuk ke Gereja: Sebuah Kritik atas Pelayanan Pastoral yang Melupakan Mereka yang Menderita


Oleh: Frater Yulianus Kadepa

Frater Tahun Orientasi Pastoral (TOP), Paroki Kebangkitan Agimuga

Keuskupan Timika 


Pada hari Minggu Biasa ke-28, kita diajak merenungkan Sabda Tuhan melalui tiga bacaan: Yesaya 25:6-10a, Filipi 4:12-14.19-20, dan Matius 22:1-14. Ketiga bacaan ini mengajak kita untuk memahami bahwa kita diundang oleh Allah, dipelihara oleh kasih-Nya, dan dipanggil untuk hidup layak di hadapan-Nya.

Melalui Nabi Yesaya, kita melihat Allah yang menyediakan perjamuan keselamatan bagi segala bangsa. Santo Paulus mengajarkan bahwa Kristus menguatkan kita dalam kelimpahan maupun kekurangan. Sementara itu, Injil Matius berbicara tentang undangan perjamuan kawin yang menuntut tanggapan nyata dari mereka yang dipanggil.

Namun, di tengah undangan Allah yang terbuka bagi semua orang, muncul sebuah pertanyaan yang mengusik hati nurani kita: Apakah Gereja sungguh-sungguh menjadi rumah bagi semua orang, atau hanya menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang terpandang, berpakaian rapi, dan memiliki kedudukan sosial?

Pertanyaan ini bukan sekadar teori teologis. Pertanyaan ini muncul dari sebuah pengalaman pastoral yang sederhana, tetapi sarat makna.

Pada hari Minggu ini, seorang perempuan yang mengalami gangguan mental dan hidup dalam keterasingan akhirnya mengikuti ibadah di gereja. Setelah diberi pakaian, ia melangkah masuk ke dalam gereja. Sebuah tindakan sederhana, tetapi menyimpan pesan kemanusiaan yang mendalam. Perempuan yang mungkin selama ini dipandang sebelah mata akhirnya memperoleh kesempatan untuk hadir, beribadah, dan menjadi bagian dari komunitas umat beriman.

Peristiwa ini membuat kita bertanya: mengapa seseorang yang juga merupakan ciptaan Allah terkadang harus menunggu begitu lama untuk mendapatkan perhatian, penerimaan, dan tempat di tengah umat-Nya?

Dalam kehidupan pelayanan, kita sering menyaksikan kesibukan para pelayan Tuhan dengan berbagai kegiatan pastoral, perayaan liturgi, rapat, pembangunan, dan urusan administratif. Semua itu memiliki tempat dan kepentingannya masing-masing. Namun, persoalannya muncul ketika kesibukan tersebut membuat kita kehilangan kepekaan terhadap penderitaan manusia di sekitar kita.

Kita terkadang lebih mudah mencari orang yang berdasi, memiliki jabatan, berpengaruh, atau mempunyai kemampuan ekonomi. Kita merasa bangga ketika dapat berjalan bersama orang-orang penting. Akan tetapi, bagaimana dengan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa? Bagaimana dengan mereka yang hidup di jalanan, orang dengan gangguan mental, orang-orang tertindas, dan mereka yang tersingkir dari kehidupan sosial? Apakah mereka juga kita cari?

Ataukah kita membiarkan mereka tetap tinggal di pinggir jalan, sementara perhatian pastoral lebih banyak diarahkan kepada orang-orang yang dapat memberikan keuntungan tertentu?

Inilah kritik yang perlu kita sampaikan dengan jujur. Jangan sampai pelayanan Gereja kehilangan arah karena lebih sibuk mengejar kekayaan, kehormatan, dan kedudukan daripada merangkul mereka yang membutuhkan pertolongan.

Ketika orang yang memiliki kekayaan lebih mudah mendapatkan perhatian daripada orang miskin yang menderita, kita perlu bertanya kembali: untuk siapa sebenarnya pelayanan pastoral itu dijalankan?

Gereja bukan perusahaan yang mengukur nilai manusia berdasarkan keuntungan. Gereja adalah persekutuan umat Allah yang dipanggil untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan keselamatan. Karena itu, orang miskin tidak boleh dianggap sebagai beban, orang yang mengalami gangguan mental tidak boleh diperlakukan sebagai gangguan, dan orang yang hidup di jalanan tidak boleh dibiarkan kehilangan martabatnya. Mereka bukan orang asing bagi Gereja. Mereka adalah saudara-saudari kita.

Di Manakah Letak Panggilan Imam sebagai Imam, Nabi, dan Raja? Pertanyaan ini menjadi penting bagi setiap pelayan pastoral, terutama bagi mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima tanggung jawab pelayanan dalam Gereja.

Di manakah letak panggilan kita sebagai imam, nabi, dan raja ketika kita tidak mampu melihat penderitaan orang-orang di sekitar kita?

Sebagai imam, kita dipanggil untuk menghadirkan Allah di tengah umat. Namun, kehadiran itu tidak boleh berhenti pada altar dan perayaan liturgi. Kehadiran Allah juga harus dapat dirasakan oleh orang yang lapar, sakit, kesepian, dan terlupakan.

Sebagai nabi, kita dipanggil untuk menyuarakan kebenaran dan membela mereka yang tertindas. Panggilan kenabian menuntut keberanian untuk mengkritik ketidakadilan, termasuk ketika ketidakadilan itu muncul dalam cara kita memperlakukan sesama. Seorang pelayan Tuhan tidak boleh hanya berani berbicara tentang kasih dari mimbar, tetapi diam ketika martabat manusia direndahkan di hadapannya.

Sebagai raja, dalam semangat Kristus Sang Gembala yang melayani, kita dipanggil untuk menggembalakan, melindungi, dan menguatkan umat. Kita bukan dipanggil untuk menguasai umat demi kepentingan pribadi, melainkan untuk melayani mereka dengan kerendahan hati.

Karena itu, panggilan imam, nabi, dan raja tidak dapat dipisahkan dari perhatian terhadap orang-orang yang menderita.

Apa artinya menjadi gembala apabila kita hanya mengenal domba yang berada dekat dengan kita, tetapi tidak pernah mencari mereka yang tersesat dan terlupakan? Apa artinya mewartakan Sabda Tuhan apabila hidup kita tidak mencerminkan kasih yang kita wartakan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi semua pelayan Gereja. Sebaliknya, pertanyaan ini merupakan ajakan untuk memeriksa hati nurani, memperbarui cara pelayanan, dan kembali kepada semangat Injil.

Pakaian yang Diberikan, Martabat yang Dipulihkan. Peristiwa seorang perempuan yang diberi pakaian hingga akhirnya dapat mengikuti ibadah menunjukkan bahwa pelayanan pastoral dapat dimulai dari tindakan yang sangat sederhana.

Memberikan pakaian mungkin terlihat sebagai tindakan kecil. Namun, di balik tindakan tersebut terdapat kesediaan untuk memperhatikan seseorang yang selama ini mungkin tidak mendapatkan tempat yang layak dalam kehidupan bersama.

Akan tetapi, kepedulian tidak boleh berhenti pada pemberian pakaian atau membiarkannya masuk ke dalam gereja. Ia juga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, penerimaan yang tulus, perhatian terhadap kebutuhan hidupnya, dan dukungan yang manusiawi sesuai dengan kondisinya.

Kita tidak boleh hanya menyambut orang yang terlupakan ketika ada kegiatan tertentu, kemudian kembali melupakannya setelah kegiatan itu selesai. Pelayanan sejati menuntut kesetiaan untuk hadir, mendengarkan, mendampingi, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih bermartabat bagi mereka yang membutuhkan.

Sebab, membuka pintu gereja tanpa membuka pintu hati hanya akan menghasilkan penerimaan yang setengah-setengah.

Perempuan itu tidak membutuhkan belas kasihan yang membuatnya semakin merasa rendah diri. Ia membutuhkan persaudaraan yang mengakui dirinya sebagai manusia yang memiliki martabat, perasaan, dan hak untuk hidup bersama orang lain.

Di sinilah Gereja dipanggil untuk menjadi sahabat sejati bagi mereka yang terlupakan. Undangan Allah Bukan Hanya untuk Mereka yang Terpandang

Injil Matius 22:1–14 mengisahkan perumpamaan tentang perjamuan kawin. Dalam perumpamaan tersebut, undangan perjamuan menjangkau orang-orang di jalanan setelah para undangan sebelumnya menolak panggilan itu.

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa undangan Allah tidak boleh dipersempit menurut ukuran sosial manusia. Allah memanggil manusia untuk masuk ke dalam persekutuan-Nya, sementara kita dipanggil untuk menanggapi undangan itu dengan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Bacaan dari Kitab Yesaya menggambarkan perjamuan keselamatan yang disediakan Allah bagi segala bangsa. Sementara itu, Santo Paulus mengingatkan bahwa kekuatan hidup kita bersumber dari Kristus, baik dalam kelimpahan maupun kekurangan.

Jika demikian, mengapa dalam kehidupan menggereja kita masih mudah membedakan manusia berdasarkan pakaian, kekayaan, jabatan, dan penampilannya?

Jangan sampai kita menerima undangan Allah, tetapi menutup pintu bagi orang-orang yang ingin mengalami kasih-Nya. Jangan sampai kita duduk dalam perjamuan Tuhan, tetapi tidak bersedia menyediakan tempat bagi saudara yang miskin dan menderita.

Gereja seharusnya menjadi tempat di mana orang miskin merasa diterima, orang sakit mendapatkan perhatian, orang dengan gangguan mental diperlakukan dengan hormat, dan mereka yang kehilangan harapan menemukan kembali keberanian untuk menjalani hidup.

Undangan Allah menjadi nyata ketika umat-Nya bersedia membuka ruang bagi sesama, terutama mereka yang tidak mempunyai kekuatan untuk memperjuangkan tempatnya sendiri.

Jangan Mencari Kekayaan, Lalu Melupakan Panggilan. Pengalaman pastoral ini mengajak kita untuk kembali mempertanyakan arah pelayanan kita. Apakah kita sungguh-sungguh mencari dan merangkul umat, atau justru lebih sibuk mencari kedudukan dan keuntungan bagi diri sendiri?

Kritik ini harus menjadi bahan refleksi bagi seluruh pelayan Gereja, termasuk para imam, frater, biarawan-biarawati, dan umat beriman. Tidak seorang pun boleh merasa dirinya sudah sepenuhnya bebas dari godaan untuk mencari penghargaan manusia dan melupakan mereka yang tidak dapat memberikan keuntungan apa pun.

Kita perlu kembali kepada Yesus yang menjadikan kasih sebagai inti pelayanan-Nya. Ia tidak hanya berbicara kepada orang banyak, tetapi juga mendekati mereka yang disingkirkan. Ia tidak hanya menyambut orang-orang terpandang, tetapi memberikan perhatian kepada mereka yang menderita.

Hari ini, seorang perempuan yang terlupakan melangkah masuk ke gereja setelah diberi pakaian. Peristiwa itu mengingatkan kita bahwa perubahan dalam Gereja dapat dimulai ketika seseorang berani melihat manusia yang selama ini tidak dilihat oleh orang lain.

Mungkin bagi sebagian orang, kehadirannya tidak berarti banyak. Namun, bagi kita yang sedang belajar memahami panggilan pastoral, pengalaman ini seharusnya menjadi teguran yang mendalam.

Jangan sampai kita begitu sibuk berbicara tentang Tuhan sehingga tidak lagi mendengar jeritan orang yang menderita. Jangan sampai kita begitu tekun mengurus urusan Gereja sehingga melupakan manusia yang seharusnya menjadi pusat perhatian pelayanan kita. Jangan sampai kita mencari orang yang berdasi, tetapi membiarkan orang miskin terus berjalan sendirian.

Gereja tidak diukur hanya dari megahnya bangunan, meriahnya liturgi, atau banyaknya kegiatan pastoral. Gereja juga harus dinilai dari keberaniannya merangkul mereka yang terlupakan dan memperjuangkan martabat mereka yang menderita.

Sebab, ukuran pelayanan yang sejati bukanlah seberapa banyak orang penting yang mengenal kita, melainkan seberapa tulus kita hadir bagi mereka yang tidak diperhitungkan oleh dunia.

Ketika seorang perempuan yang terlupakan menemukan sahabat sejati, kasih Allah menjadi nyata. Dan ketika Gereja bersedia berjalan bersama mereka yang menderita, pada saat itulah pelayanan pastoral sungguh menjadi kesaksian Injil.

Jangan hanya menjadi pelayan di altar. Jadilah juga sahabat bagi mereka yang terlupakan di jalanan.






Komentar

Postingan Populer