Mahasiswa dan Konfrater Keuskupan Bersatu dalam Nobar dan Diskusi: "Papua Bukan Tanah Kosong!"
Pelapor: Frater Yulianus Kebadabi kadepa
JAYAPURA-Suasana khidmat namun penuh semangat membara menyelimuti Aula John Philip Saklil, Rumah Studi Konfrater Keuskupan Timika, pada Sabtu, 2 Mei 2026. Puluhan calon imam (Frater) dan mahasiswa berkumpul dalam acara Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi kritis yang berfokus pada eksistensi harkat dan martabat manusia Papua di atas tanah leluhurnya.
Acara ini menjadi momen langka yang mempertemukan para Konfrater dari Keuskupan Timika, perwakilan Frater dari Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Jayapura, serta berbagai elemen mahasiswa dari luar yang sedang menempuh studi di Jayapura Papua.
Kegiatan dimulai dengan pemutaran dokumenter yang memicu diskusi panjang mengenai realitas sosial di Papua. Peserta diskusi secara tajam membedah isu-isu marginalisasi dan perampasan ruang hidup yang kian mengancam masyarakat adat. Bagi para mahasiswa dan calon imam ini, kegiatan ini bukan sekadar silaturahmi formal, melainkan sebuah wadah intelektual untuk memperkuat kesadaran kolektif.
Diskusi berjalan dinamis, di mana para peserta menekankan bahwa gereja dan kaum akademisi tidak boleh menutup mata terhadap ketidakadilan. Mereka sepakat bahwa suara kenabian harus terus disuarakan dari dalam rumah studi hingga ke tengah masyarakat.
Puncak emosional acara terjadi ketika seluruh hadirin berdiri dan menggaungkan yel-yel perjuangan yang menggetarkan seisi aula:
"Papua....!"
"Bukan Tanah Kosong!"
Pekikan ini membawa pesan mendalam sebagai respon terhadap narasi-narasi yang sering kali mengabaikan keberadaan dan hak masyarakat asli Papua. Yel-yel tersebut adalah penegasan bahwa setiap jengkal tanah di Papua memiliki pemilik, memiliki adat, dan memiliki sejarah yang tidak boleh dihapus oleh kepentingan kekuasaan maupun modal.
Kehadiran para Frater dari tiga keuskupan besar (Timika, Manokwari-Sorong, dan Jayapura) memberikan warna tersendiri. Ini menunjukkan adanya sinergi dan kesatuan pandangan di tingkat calon pimpinan spiritual Katolik di Tanah Papua. Bersama mahasiswa, mereka membangun benteng solidaritas untuk menjaga kedaulatan hak-hak dasar rakyat.
"Kegiatan ini sangat penting untuk menyamakan persepsi. Kita perlu membangun kekuatan bersama agar gagasan-gagasan untuk menjaga martabat manusia Papua tetap hidup dan relevan dengan tantangan zaman," ujar salah satu peserta di sela-sela diskusi.
Sebagai penutup rangkaian acara yang padat dengan pemikiran berat, seluruh peserta berkumpul untuk makan bersama. Momen makan bersama ini bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol persekutuan dan persaudaraan yang kokoh (communion). Di atas meja makan, perbedaan asal keuskupan dan latar belakang kampus lebur menjadi satu komitmen: terus mengawal isu kemanusiaan dan keadilan di Papua dengan semangat cinta kasih dan keberanian.
Papua Bukan Tanah kosong



Komentar
Posting Komentar