SABDA YANG TERENDAM BANJIR
~Degei Siorus
Kamis, 04 September umat Paroki St. Petrus Mauwa, Stasi Muniopa, Kombas Sta. Marta melaksanakan Pendalaman Kitab Suci pekan pertama dalam ziarah harapan bersama “Sang Sabda” menuju “pintu suci” (porta sancta).
Sekitar Pukul 13:20 WP, saya bersama saudara Alex Koga menggunakan sepeda motor keluar dari Pastoran Paroki menuju Kapela Kombas Sta. Marta yang terletak di Kampung Muniopa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua. Kami menempuh jarak sekitar 4 kilo dari pusat Paroki.
Cuaca siang jelang sore kali ini menampakkan wajah yang buram mendung, gumpalan kabut putih berbalut kegelapan mulai menutupi gunung-gemunung sekeliling kota Dogiyai. Kami sedikit lebih cepat dari curah hujan dan hawa dingin agar tidak menggigil dingin di tengah jalan.
Jalan menuju Kampung Muniopa yang ke arah Salatan lembah hijau itu memang rawan banjir. Kolam-kolam dengan ukuran air batas lutut orang dewasa menjadi tuam rumah yang setiap saat siap menyambut. Untung motor yang kami gunakan jenis KLX yang cukup tinggi, sehingga air tidak dapat menjangkau kami.
Sekitar Pukul 13:40 WP, kami tiba di Kapela Sta. Marta Muniopa. Saya turun dari motor, cuaca semakin horor menyeramkan, kali ini curah hujan tidak akan bercanda, ia ekstrim, ia akan bersungguh-sungguh merendam lembah selatan Kamuu. Ada seorang mama dan seorang gadis kecil sudah menanti kedatangan kami di depan jalan masuk. Saudara Alex menunggu di depan jalan, sambil menikmati roko dan pinangnya, kemudian akan menyusul.
Saya masuk ke dalam sekretariat Kapela Kombas yang sederhana dan bersahaja, sebuah rumah sehat lengkap dengan tungku apinya. Kami menunggu umat yang lainnya. Beberapa adik harus jalan ke beberapa rumah untuk mengabarkan bahwa frater sudah datang dan pendalaman iman di pekan pertama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) akan segera dimulai, mereka antusias sekali sekalipun cuaca tak bersahabat.
Sekitar Pukul 14:20 WP, umat sudah mulai memenuhi sekretariat Kombas. Mama-mama dari kebun sudah pulang.
“Tidak ada ubi dan keladi di kebun. Banjir sebabkan kami gagal panen, kebun-kebun kami hancur. Hujan terus-menerus tanpa henti, wilayah ini memang rawan banjir” demikian curahan hati beberapa mama di tepi tungku api meratapi nasib mata pencaharian mereka karena mengalami gagal panen lantaran banjir.
“Sebentar pasti akan banjir. Kali Mauwa pasti meluap dan menutup badan jalan, jadi lebih baik motor yang tadi anak frater pakai diamankan dulu ke P3” ucap seorang mama sambil melihat curah hujan yang datang dari arah timur, utara, dan barat yang mulai menyerang wilayah selatan.
Ada seorang adik nona menyuruh Alex untuk mengamankan motor kami ke P3 atas perintah mama-mama Kombas. P3 adalah singkatan dari Perkebunan, Pertanian, dan Peternakan (P3), sebuah lembaga yang bergerak di bidang ekonomi kerakyatan.
Sekitar Pukul 14:50 WP, kami memulai pendalaman BKSN pekan pertama dengan tema sentralnya “Pembaruan Relasi dengan Diriku” (Za. 1: 1-6). Tema ini menitikberatkan tentang pentingnya mengenal dan memahami kelumit diri sendiri dalam rangka membangun persekutuan iman dengan yang lain, terutama dengan Allah sesuai pengalaman Israel dalam kitab Zakharia. Sebelum membaharui dan membangun relasi iman, harapan, dan cinta kasih dengan yang lain, tema pekan pertama ini menekankan agar pertama-tama setiap umat membaharui dirinya sendiri. Sebab restorasi dan transformasi komunal baru tercipta bila tiap-tiap pribadinya sudah lebih dulu bertobat dan kembali kepada Allah (supaya Allah kembali kepadanya).
Dalam rangka membaharui relasi dengan diri sendiri, maka dalam pendalaman sore ini yang bertolak dari kitab Zakharia 1: 1-6 umat memfokuskan percakapan lintas imannya pada bagaimana membangun relasi positif-multualis dengan malaikat pelindung yang berdiam dalam diri sendiri.
Malaikat pelindung dalam diri bersumber dari dua kiblat, yakni dari budaya dan agama. Malaikat pelindung dalam budaya lebih dulu menyatu dengan diri kita sendiri dalam inisiasi adat dalam tradisi. Bahasa Mee menyebut malaikat pelindung dalam inisiasi adat ini dengan nama umumnya ‘ipuwe’ (pemilik). Artinya dialah pemilik diri kita, dialah yang bertanggung-jawab atas diri dan hidup kita. Setiap orang atau setiap individu dalam komunitas adat suku Mee memiliki ipuwe-nya masing-masing dan sendiri-sendiri (tentu selain ipuwe keluarga; marga; submarga; suku; subsuku, alam, dan entitas ciptaan lainnya).
Malaikat pelindung kedua berasal dari dalam Agama, dalam hal ini rahim bunda Gereja yang universal. Setiap orang yang dibaptis dalam Gereja Katolik selalu mendapatkan nama baptis yang berasal dari nama salah satu orang kudus (santo dan santa). Gereja memandang nama bukan sekedar nama, nama memiliki arti dan makna yang kudus. Dengan memakai nama para kudus, tentu orang kudus tersebut akan menjadi pelindung, dan penjaga. Nama itu juga membawa tanggung-jawab moral untuk sedapat mungkin mengikuti teladan dan spirit (passion) hidup orang kudus yang namanya kita pakai.
Jadi sharing pada sesi pertama ini berkutat tentang bagaimana diriku membangun relasi dengan malaikat pelindungku baik dari alam kultural budaya maupun dari alam kehidupan religius keagamaan. Dengan demikian maka jalan untuk membangun dan membaharui relasi iman, harapan, dan cinta kasih dengan sesama dapat terlaksana dengan mulus. Sebab malaikat pelindung diri akan dengan mudah terhubung dengan malaikat-malaikat pelindung lainnya sebagaimana yang akan direnungkan dan didalami pada tema-tema pendalaman tiga pekan mendatang selama berbulan madu bersama “Sang Logos Ilahi”.
Suasana sharing berlangsung penuh hikmah. Semua umat yang hadir membagikan pengalaman mereka yang kaya dalam membaharui relasi dengan diri masing-masing, dan dengan malaikat peluang masing-masing. Pemimpin pendalaman menyimpulkan semua hasil pendalaman dengan memberikan tugas untuk setiap pribadi yang hadir mulai membaharui relasi dengan diri sendiri lewat jalan pemulihan ipuwe masing-masing.
Sekitar Pukul 15:35 WP, pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional di pekan pertama usai. Karena cuaca ekstrim di luar, umat masih bertahan dalam rumah. Api dinyalakan, seorang pemuda mulai masak air panas. Kopi dan gula diracik dengan apik untuk menghadirkan kopi yang mampu menguatkan raga menaklukkan badai hujan, banjir deras, dan hawa dingin.
Sekitar Pukul 16:05 WP, Frater, saudara Alex Koga, bersama Ketua Dewan Paroki, Bapak Agustinus Goo mulai berjalan pulang menyusuri jalan yang mulai berubah wujud menjadi kali. Celana panjang sudah kami lipat melewati batas lutut, sepatu kami tenteng. Sebuah perjuangan untuk keluar dari sarang banjir baru saja kami mulai. Di depan jalan gerimis dan serpihan-serpihan embun membasahi kulit baju, noken, dan tas kami. Kolam-kolam yang menjadi langganan banjir mulai melahap habis badan jalan.
Ada sekitar 3 kilometer lebih untuk mencapai jalan aspal yang aman banjir dari Kampung Muniopa, belum lagi jika jaraknya kita hitung dari ujung timbunan Kampung Pueta dan wilayah paling ujung selatan, barang kali bisa makan 10 sampai 20 kilometer. Kali Mauwa sudah meluap, badan jalan menjadi badan air banjir, karena hilirisasi aliran air yang tersendat dan parit-parit tertutup tumpukan rumput liar yang raksasa. Tidak ada jejak jalan yang nampak. Kedalaman banjir bisa mencapai 3 sampai 4 meter. Kami harus pulang, tidak ada pilihan lain, berteduh menunggu air surut adalah giat sia-sia di tengah cuaca mendung yang sekali-kali aktif menurunkan curah hujan dengan frekuensi tak terduga.
Kami melewati pinggiran jalan, sekali-sekali masuk ke tengah badan jalan yang sudah berubah menjadi kali. Tubuh terendam banjir. Kitab Suci, dan panduan pendalaman BKSN yang kami bawa terpaksa harus sedikit terpercik air banjir. Kami mencari daratan yang tak terkena alur air, dan itu hanya bisa kami dapatkan lewat pekarangan rumah dan kebun warga setempat yang jaraknya bisa 20 sampai 50 meter dari badan jalan utama. Jalan-jalan tikus di tengah guyuran hujan dan kawa dingin harus kami tabrak dan tapaki. Lumpur bercampur rerumputan liar kami tebas, mereka tidak menjadi penghalang yang berarti.
Sedih juga melihat banyak kebun warga yang terendam banjir. Beberapa rumah di pinggiran jalan harus esktra waspada 24 jam guna menghalau luapan air kali yang potensial merembes rumah mereka, kendaraan-kendaraan mereka harus mereka amankan di area ketinggian, sebab ada beberapa kasus dimana ada banyak kendaraan yang hilang terbawa arus banjir yang super kencang di tengah malam suntuk.
Kami sedikit lambat, gerak jalan kami diperlambat karena harus melawan arus air yang kencang. Sehingga menyebabkan ratusan meter jalan mendekati jalan utama menjadi begitu dalam. Tidak ada alternatif pilihan, benda-benda berharga seperti dompet dan hp harus kami masukkan ke dalam tas dan noken kemudian memikulnya di atas kepala sambil bergerak maju antara gaya berjalan dan sedikit berenang singkat. Dada kami menjadi batas air, dengan pelan namun pasti kami berjalan dengan penuh hati-hqti.
Akhirnya sekitar Pukul 17:20 WP, setelah melewati badan jalan Muniopa-Ikebo yang tergilas banjir sepanjang 3 kilometer lebih dengan total durasi 2 jam lebih itu, kami berhasil lolos mencapai badan jalan aspal yang relatif aman dari banjir. Inilah cerita kami. Dalam hati ada sedikit demonstrasi, ini salah siapa? Ini dosa siapa? Syukurlah malaikat pelindung kami baik. Selamat memasuki Pekan I BKSN. Tuhan memberkati.
Catatan:
Foto di ruas jalan Muniopa-Ikebo usai Pendalaman Kitab Suci Pekan I BKSN bersama umat Kombas Sta. Marta, Stasi Muniopa, Paroki Mauwa, Dogiyai.
Mauwa, 04 September 2025
ππΈπΊ



Komentar
Posting Komentar