OJEK MAYAT KEKASIH
*Degei Siorus
Ishak, adalah sulung dari empat orang adiknya. Ia terkenal nakal, pemabuk, dan beberapa kali keluar masuk penjara. Mereka menjadi yatim-piatu pasca wafatnya kedua orang tua mereka dalam tragedi gempa bumi yang memilukan.
Ayah dan ibu tak selamat, sementara keempat anak ini berhasil selamat karena mereka bersembunyi di bawah tempat tidur keluarga. Dua adiknya, Jhony dan Merry mengalami cacat pada otak, sehingga membuat keduanya lambat dalam berpikir akibat benturan hebat pada lantai kamar, yang juga mengalami gangguan mental. Jhony juga harus lumpuh karena kakinya yang berusia 2 tahun tujuh bulan itu patah akibat sedikit tertindih papan tempat tidur lantaran reruntuhan tembok.
Hanya dua adiknya yang normal, Jein dan Marko. Kedua sudah berseragam sekolah, Jein sudah duduk di SMA Kelas XI, sementara Marko akan mulai berkuliah tahun. Sebagai keluarga yatim, Ishak adalah tumpuan keluarga, sekalipun kacau dan nakal, jauh dalam nuraninya ada sedikit kesadaran bahwa ia harus menafkahi empat orang adiknya. Ia terpaksa putus SMP Kelas X sejak musibah dan harus menjadi pekerja serabutan kasar demi menghidupi adik-adiknya.
Gaji yang ia dapatkan ia bagikan kepada adik-adiknya, dan sisanya akan ia pakai untuk mabuk. Ishak lolos dari musibah karena waktu itu ia di luar rumah, sedang bermain dengan teman-teman seangkatannya di gunung, tempat mereka bermain dengan alam bebas dan mencari buah-buahan segar.
Ia harus secara detail membagi waktunya, merawat kedua adiknya yang sakit di rumah, memberi makan, menemani mereka ke kamar mandi, menidurkan mereka, dan pekerjaan domestik lainnya.
Setelah Jein dan Marko pulang sekolah sekitar pukul 12:30, barulah ia akan keluar untuk bekerja, ia bisa pulang jauh malam sampai kisaran jam 02:00 malam atau jam 01: 30 malam. Ia akan mabuk, jalan ke sana ke mari, namun ia tidak akan lupa untuk pulang tidur bersama adik-adiknya di rumah. Tapi sebelum keluar ia akan meninggalkan uang belanja makan untuk kedua adiknya, Jein dan Marko.
Marko akan melakukan pekerjaan layaknya seorang laki-laki dewasa, sementara Jein akan melakukan pekerjaan layaknya kaum perempuan pada umumnya di rumah, ‘Ini ada uang sedikit, nanti pakai beli makanan. Jangan hitung Kakak karna pasti pulang larut malam’ pesan Ishak sambil memberikan uang 50ribu kepada kedua adiknya. Uang 50ribu cukup untuk biaya makan minum empat orang kaka beradik ini selama sehari.
‘Saya tidak bisa menikah cepat brow’, Ucap Ishak kepada Aris, teman proyeknya, ‘Saya juga tahu keadaanmu kamu, tapi Kezia sudah terlanjur mau serius denganmu’, balas Aris, ‘Dia tahu sendiri keadaanku selama ini. Ada empat orang adik yang harus aku pertanggung-jawabkan nasib masa depannya. Jhony dan Merry masih membutuhkanku. Begitu juga Jein dan Marko yang punya semangat sekolah tinggi. Tahun depan Marko harus kuliah, aku tidak akan biarkan dia mematah pena, merobek kertas, dan memegang alat berat, minum mabuk, hidup di jalanan seperti aku’ ungkap Ishak sambil menghisap sebuntung roko anggur kupu yang ia join dari Aris.
Lanjutnya ‘Semua beban ini adalah bebanku sebagai seorang Kaka. Tidak mungkin melibatkan Kezia dalam tanggung-jawab ini’ ucap Ishak penuh keyakinan. Kezia adalah kekasih Ishak, keduanya sudah menjalin hubungan cukup lamq. Kezia terbilang cukup mapan, ia adalah pegawai perkantoran yang maju. Karena faktor usia, keduanya orangtuanya memaksanya untuk segera menikah, mereka juga sudah menjodohkannya dengan orang lain, Ansel yang juga seorang dokter spesialis penyakit dalam terkenal. Kezia sengaja meminta bantuan Aris sebagai sahabat karib Ishak untuk memaksa, namun nihil, ‘Maaf Kez, jawaban Ishak masih saja sama’ ucap Aris kepada Kezia lewat telpon, ‘Baik, makasih yah Ris sudah membantu’ tutup Kezia penuh kekecewaan.
Suatu sore, di pinggir kali yang jernih, Ishak menemani adik-adiknya mandi. Mereka terlihat ceria. Hari ini Ishak gajian, ia membawa keempat adiknya jalan-jalan ke beberapa tempat indah, salah satunya di kali jernih ini. Hanya ini yang bisa ia buat untuk membahagiakan adik-adiknya. Tentu selain mabuk dengan teman-teman sebayanya.
Dari ujung jalan terlihat sebuah mobil putih memasuki kali, hanya sekitar 10 meter mobil berhenti. Kezia turun dari dalam mobil. Ia berjalan dengan langkah kaki yang sedikit cepat mendapati Ishak yang sedang asyik menemani adik-‘adiknya.
'Ishak..Ishak...’ panggil Kezia dengan suara panjang, ‘’Kalian tunggu sebentar yah, Marko jaga Merry dan Jhony’ minta Ishak kepada adik-adiknya. ‘Aku siap menerimamu apa adanya, kenapa kamu menolak’ ucap Kezia dengan suara bergetar, ‘Kamu tahu sendiri Kez. Keadaan tidak memungkinkan untuk kita bersama sementara ini’ balas Ishak dengan lembut sambil menenangkan Kezia.
'Kamu sendiri yang menganggap semuanya tidak mungkin’ balas Kezia dengan sedikit marah dan tatapan tajam ke arah Ishak, ‘Aku harus fokus ke adik-adikku dulu Kez. Mereka masih membutuhkanku. Agak sulit meninggalkan mereka di saat-saat seperti ini. Apalagi Jhony dan Merry, mereka sangat membutuhkanku setiap saat. Aku hanya tidak mau cinta dan perhatianku aku tercurah lebih ke mereka berdua ketimbang kepadamu dan keluarga kita kelak’ balas Ishak lagi menutup pembicaraan.
Kezia terdiam, sebab dalam timbangannya apa yang Ishak sampaikan juga ada benarnya, sebab Kezia mau Ishak bisa seutuhnya ia miliki. Ishak kembali ke adik-adiknya, mengajak mereka untuk pulang ke rumah, karena cuaca semakin gelap. Sebenarnya Ishak bisa menerima Kezia asalkan Kezia tidak hanya mau menerima Ishak tapi juga menerima adik-adiknya, terutama Jhony dan Merry yang berkebutuhan khusus. Namun Kezia agak berat, sebab yang ia utamakan adalah Ishak bukan adik-adiknya.
Dengan terpaksa Kezia harus menikah dengan Ansel. Ishak dan Aris hadir. Ishak cukup bahagia melihat Kezia bersama Ansel. Ia berharap mereka bahagia. Setelah mengucapkan selamat ia pamit pulang, karena harus menjaga adik-adiknya.
Marko sudah masuk kuliah. Syukur sebab ia mendapatkan beasiswa dari jalur siswa berprestasi di sekolahnya. Ishak sangat bangga mendengarkan ini. Ia akan kuliah di salah satu universitas ternama di luar kota. Ishak dan adik-adiknya mengantar Marko ke Bandara, ‘Jaga diri baik-baik di sana yah. Kalau ada apa-apa segera hubungi kaka kapan pun’ tegas Ishak dan mereka harus berpisah di Bandara. Marko memeluk dan mencium dahi adik-adiknya. Ia harus berlutut untuk memeluk erat Jhony yang lumpuh dan difabel. Ia mengusap air matanya lalu dengan tegap melangkah naik pesawat. Mereka saling melambaikan tangan.
‘Ishak, ada proyek besar di Jembatan selat, tepatnya di kilo 171. Soal bayarannya jangan diragukan’ ucap Aris dalam telepon mengajak Ishak yang baru pulang dari Bandara untuk ikut dalam proyek baru dan besar, ‘Ok baik brow. Cuman nanti dulu yah baru kita bicarakan ini. Masih dengan adik-adik soalnya’ balas Ishak.
Aris dan Ishak bertemu setelah hampir 1 tahun lebih tidak bertemu. Aris sudah menjadi mandor proyek pembangunan jembatan. Mereka singgah di Bar. Aris mentraktir beberapa minuman keras kepada Ishak. Ishak tidak bisa minum banyak seperti dulu.
Pekerjaan pembangunan jembatan dimulai. Waktu yang dibutuhkan berkisar 1 bulan 3 Minggu. Ishak agak berat menerima tawaran ini, namun ia tidak punya pilihan lain, Marko sudah kuliah, Jein juga akan menyusul kuliah tahun depan, Jhony dan Merry juga butuh biaya pengobatan. Ia akhirnya menerima tawaran Aris dengan catatan ia butuh sedikit uang lebih awal untuk mengamankan dua orang adiknya yang berkebutuhan khusus, ‘Aris, kamu tahu sendiri keadaanku. Aku minta beberapa uangmu, kalau gajinya cair akan aku ganti’ mohon Ishak dengan sungguh ke Aris, ‘Tenang kawan, kedua adikmu sementara akan kita titip ke panti biara untuk waktu 1 bulan 3 Minggu yah. Sementara Jein bisa tinggal dulu di rumah sahabatnya’’ ungkap Aris, ‘Terima kasih banyak brow’ balas Ishak sambil memeluk Aris, ‘Santai saja brow. Kita adalah keluarga. Adik-adikmu juga adalah adik-adikku. Mereka adalah tanggung-jawab kita berdua’ .
‘Tolong...tolong...’ teriak beberapa orang yang baru saja menemukan mayat seorang wanita hamil. Aris dan Ishak dari kamp langsung keluar berlari ke arah kali di mana mayat itu ditemukan. ‘Jangan lihat brow’ minta Aris dengan paksa kepada Ishak, ‘Kenapa, apa yang terjadi’ balas Ishak semakin penasaran, ‘Tidak ada apa-apa’ ucap Aris dengan suara penuh ketakutan, ‘Tenang brow, tidak ada yang perlu ditakutkan, kan bukan kita pelakunya. Siapa tahu kita bisa menolong’ ujar Ishak sambil melepaskan tangan Aris yang berusaha menahannya.
Usut punya usut, ternyata itu adalah mayat Kezia. Aris sudah mengenali wajah mayat itu lebih dulu, makanya tadi ia sudah berusaha menahan Ishak. ‘Ya Tuhan, bukankah ini Kezia’ kaget Ishak dalam hati. Ia mendekat dan melihat secara jelas wajah mayat, ternyata benar itu adalah Kezia. Ia bertanya kepada warga setempat kenapa mayat ini meninggal, mereka tidak menjelaskan, ‘Kami melihat bangkai jasadnya terapung di atas kulit kali, anjing pelacak kami mencium aromanya sehingga mayatnya kami temukan’ jawab seorang warga dengan kelelahan karena ia habis membopong mayat itu dari kali. ‘Mayatnya berat sekali. Kami ada enam orang tapi kewalahan semuanya’, ujar warga lain, ‘Jelas ia berat, ini mayat ibu hamil, sebab kalau kita lihat sepertinya ia bunuh diri saat sedang hamil’ tambah warga lainnya, ‘Sangat disayangkan sekali nasib ibu dan bayi di dalam kandungannya’, ‘Yang jelas ia bukan mati dibunuh. Tapi mati bunuh diri’ lanjut warga yang lain.
‘Halo Ris, tolong kirimkan aku nomor telepon Ansel’ minta Ishak dengan nada marah kepada Aris lewat telepon. Kebetulan di wilayah ini masih ada jaringan, perusahaan menyediakan jaringan listrik tenaga air di sini. Ada juga beberapa aparat keamanan yang sudah memasang starlink untuk mempermudah operasi mereka. Nomor Ansel tidak aktif.
‘Kita apakan mayat ini. Tidak memungkinkan kita makamkan di sini. Tentu ada keluarga kandungnya di kota’ tanya seorang warga kepada warga lain yang berkumpul’, ‘Coba kita tunggu mobil lintas sini yang lewat’ jawab seorang warga. Banyak mobil yang lewat, namun tidak ada satu pun yang bersedia membawa mayat. Para karyawan patungan untuk menawarkan tumpangan kepada mobil-mobil yang lewat, namun semuanya menolak, ‘Maaf abang, kami tidak biasa membawa mayat. Apalagi ini sudah jauh malam dan ini adalah mayat ibu hamil, maaf saya jujur, saya tidak berani’ jawab seorang sopir. Hampir semua sopir jawab demikian. Mereka saling tawar-menawar, namun nihil.
‘Ngenng...ngenngg...’ bunyi knalpot motor RS King tua yang tinggal rangkah namun masih bisa menyala dan jalan, ‘Mari ikat mayat itu ke sini, bersama tubuhku dari belakang’ suara Ishak memecah kebingungan banyak orang malam itu.
‘Ishak, ini berbahaya, harus mobil yang membawanya’ ucap Aris sambil menahan tangan Ishak yang menggenggam gas, ‘Tidak akan ada mobil yang mau Ris’ balas Ishak, lanjutnya ‘Kamu lihat sendiri sudah berapa banyak mobil yang sudah menolak uang-uang besar kita, jangan berharap ke mobil. Kita tidak punya banyak waktu’, tegas Ishak.
‘Tidak bisa seperti ini Ishak. Aku mandor di sini, nyawamu adalah tanggung-jawabku, aku tidak mau mengorbankan nyawa karyawanku. Aku tahu kalian berdua dekat, tapi bukan dengan cara seperti ini brow’ tegas Aris menahan dan mengingatkan Ishak, ‘Mayat Kezia sudah dua hari terapung di atas laut. Mayatnya sudah mulai membusuk akibat air tawar. Ini bukan air garam, tidak ada pilihan lain brow’ balas Ishak dengan nada penuh kepastian.
Dengan berat hati Aris membiarkan Ishak membawa mayat Kezia. Mayat Kezia diikat dengan erat dari belakang Ishak, kakinya melingkar di pinggang Ishak, tangan memeluk erat tubuh Ishak. Dari jauh terlihat Kezia sedang memeluk erat tubuh Ishak. Ini jelas seperti kenangan-kenangan mereka saat bersama dulu, bedanya saat itu mereka sangat berbahagia, dan kini kedua-duanya dalam keadaan penuh duka nestapa.
‘Aris, aku butuh sebotol vodka ceper. Apakah masih ada stok?’, ucap Ishak sebelum berangkat, ‘Tinggal ini brow’ balas Aris sambil melempar satu botol Vodka. Ishak meneguk botol Vodka itu sebanyak dua kali. Tubuhnya mulai hangat, ia semakin berani dan santai. Ia tancap gas.
Sebelum itu ia menandai diri dengan tanda salib, tanda kemenangan Kristus, ‘Sejak kapan anak ini berubah, perasaan sejauh ini ia mati-matian mengutuk Tuhan atas musibah yang menimpa keluarganya’ gumang Aris dalam hati.
Ishak tidak pernah ke Gereja, tidak pernah berdoa, sejauh yang Aris kenal. Ia sudah lama, sejak mereka kecil meninggalkan kehidupan menggereja, karena baginya Tuhan sudah mati, Tuhan tidak adil dalam hidupnya dan keluarganya. Tuhan mengambil nyawa ayah-ibunya sejak ia dan adik-adiknya masih kecil, Tuhan juga membuat cacat dua orang adiknya, Tuhan tidak membantunya saat ia dalam susah menafkahi adik-adiknya. Namun Ishak salah, sebab doa dari adik-adiknya, terutama Jein dan Marko selalu menemannya. Jein dan Marko setiap hari mendoakan kaka pertama mereka itu. Mereka selalu memohon agar Tuhan terus memberikan kekuatan dan kesehatan yang baik bagi Ishak agar ia selalu menjadi mama sekaligus bapa bagi mereka adik-adiknya.
Ishak tancap gas, ia tidak lihat bahan bakar. Dalam hatinya ia percaya bahwa niat baik akan membawa kemudahan dalam rintangan.
Dalam perjalanan, untuk menghilangkan rasa takut, ia mulai mengajak mayat Kezia untuk berbicara, ‘Kenapa Kez, kenapa dengan begitu cepat dan mudahnya kau mengakhiri hidupmu. Kasihan sekali dengan nasib anakmu’ ucap Ishak membongkar kesunyian malam di tengah jalan.
‘Ansel selingkuh, ia tidak setia’, balas Kezia pelan dalam kesedihan yang hebat, ‘Tapi kenapa kau harus bunuh diri’ ulang tanya Ishak dengan nada sedikit kesal, ‘Kami sudah janjian akan bertemu di desanya, tempat ia tugas. Aku sudah libur, makanya aku susul dia lebih dulu tanpa memberikan kabar’ lanjutnya, ‘Saat aku tiba di penginapannya, ia sedang tidur dengan wanita lain. Kamu bayangkan betapa hancur hatiku. Aku baru saja mengandung anaknya, ini sudah 7 bulan lebih, tinggal dua bulan kami akan jadi mama dan bapak, namun ia mala bersenang-senang dengan perempuan lain’ ungkap Kezia yang diiringi suara tangisan kecil, sehingga membangunkan arwah-arwah makhluk gaib sepanjang jalan mereka lintasi dan mulai meneror mereka, kebetulan ini di tengah hutan lebat yang tak berpenghuni.
'Jika aku perempuan yah dan berada di pihakmu pasti aku juga berpikiran pendek yang sama, tapi yang jelas bukan bunuh diri yang aku pilih’ balas Ishak.
Di tengah hutan motor tiba-tiba mogok, ‘ada apa lagi ini’ tanya Ishak dalam hati. Sambil menggendong mayat Kezia ia memeriksa kondisi motor, bensin masih ada, tidak ada tanda-tanda kerusakan yang serius pada tubuh motor dan mesin. ‘Kez, kalau memang kamu mau aku ikut berasamu, akhiri hidupku, tapi jika kau mau beristirahat dalam damai di depan keluargamu, tolong jangan halangi perjalanan kita’ ucap Ishak dengan tenang, ‘Ishak kamu tahu? Aku sengaja membuat takut semua sopir tadi supaya mereka tidak yang berani membawaku sekalipun ditawar ongkos besar. Aku mau hanya kau dan aku yang melewati perjalanan terakhirku. Tidak mungkin aku membawamu bersamaku, kasihan adik-adikmu, kamu sendiri bilang bahwa kau adalah segalanya bagi mereka, dan mereka adalah segalanya bagimu’, balas Kezia sambil tersenyum, ‘Ayo kita jalan lagi’ lanjutnya.
Motor secara tiba-tiba bisa menyala. Mereka menempuh jalan, yang tidak begitu jauh tapi terasa jauh, Kezia memperlambat gerak jalan motor. Memasuki kota motor tiba-tiba mati. Kali ini bensin benar-benar kosong, Ishak berhenti, menaruh motor dan berlari mendapati pemukiman warga namun sayang semua kios dan toko yang biasa menjual bensin sudah tutup, ia kembali dan dari kejauhan ia melihat tangki bensin penuh, ‘Terimaskah Kez’ ucapnya lagi dalam hati.
Mereka tiba tengah malam di depan rumah Kezia. Ishak mengetok pintu, ayah Kezia membukakan pintu, ‘Maaf bapa, ini mayat Kezia, ceritanya panjang’ sapa Ishak yang sudah pucat dan kelelahan memikul Kezia itu, ‘Ya ampun nak, apa yang terjadi, Mama... maaa..cepat kemari’ kaget Bapa Kezia sambil memanggil istrinya, ‘Ada apa pa, ya Tuhan pa, itu bukan Kezia anak kita kan’ jawab Mama Kezia sambil ketakutan melihat mayat putri mereka, ia pinsang.
Ishak istirahat sampai pagi disitu, ia mengisahkan apa yang terjadi kepada Kezia, ‘Baik om, tante, Ishak pamit pulang dulu’ pamit Ishak, ‘Nak Ishak tunggu, ini ada sedikit berkat dari keluarga sebagai bentuk ucapan terima kasih, diterima yah nak. Kalau tanpa nak Ishak tidak tahu nasib anak kami Kezia’ ucap Bapa Kezia sambil menyodorkan amplop yang berisi banyak uang dengan mimik tulus penuh harap, ‘Wah terima kasih banyak pa, sama-sama. Tapi minta maaf pa. Saya menolongnya dengan ikhlas. Sejak awal saya sudah tidak menolak uang, apalagi Kezia ini teman baik saya sejak kecil, saya sepenuhnya ikhlas pa. Makasih lagi pa’ jawab Ishak sambil menolak pemberian keluarga Kezia yang berduka.
Proyek jembatan sudah selesai, Ishak sudah di rumah begitu juga dengan adik-adiknya. Dalam tidur malamnya, Kezia datang dalam mimpinya, ‘Ishak, aku mau besok malam, kau dapat datang ke kuburan, jika ada sesuatu yang kau dapatkan, ambillah itu lalu simpanlah dengan baik’ bisik Kezia dalam mimpi Ishak kemudian hilang.
Keesokan hari ini, tepat malam hari sesuai permintaan Kezia, Ishak mengunjungi makam, ia berhenti tepat di depan kuburan Kezia, di situ adalah bola putih kecil, mirip kelereng susu putih, ia mengambil batu kaca putih itu. Dalam tidurnya, Kezia datang, ‘Ishak, itu adalah ungkapan rasa terima kasihku bagimu. Kedua adiknya, Jhony dan Merry akan cepat pulih. Jein dan Marko juga akan baik-baik saja. Aku akan menjaga mereka dari tempat istirahatku yang abadi ini’ bisik Kezia, suaranya lembut dan langsung hilang.
Apa yang Kezia sampaikan mulai tampak. Jalan berkat bagi Ishak dan adik-adiknya terbuka lebar. Ia mendapatkan pekerjaan yang layak. Jein bisa kuliah dengan biayai yang cukup, Marko aman-aman dalam studi. Jhony dan Merry berangsur-angsur membaik. Keluarga ini berubah menjadi baik.
Beberapa Minggu kemudian tersiar berita yang menggemparkan kota, telah ditemukan tengkorak dari mayat dokter Ansel dan selingkuhannya di bawah jurang yang terjal. Keduanya mengalami kecelakaan serius dan mati mengerikan, 1 tahun lamanya baru mayat keduanya dapat berhasil diselamatkan. Sekian!
Mauwa, 20 Agustus 2025
🖤🤍🌺



Komentar
Posting Komentar