MENGHAMILI BUKU
~Degei Siorus
Di dermaga pelabuhan Samabusa-Nabire, terlihat seorang remaja menenteng koper barang berwarna hijau dan mengenakan tas bertulis logo laptop Asus. Ia sepertinya anak remaja yang baru lulus SMP dan berniat melanjutkan studinya ke Kota Jayapura pada jenjang SMA.
Namanya Juan, ia tidak di antara keluarga lengkap layaknya anak-anak lain yang bersamanya di pelabuhan Samabusa. Hanya mama yang setia menemaninya bersama seorang kaka perempuannya. Mereka bertiga duduk di ruang tunggu. Kapal Gunung Dempo tujuan Jayapura akan bertolak kisaran jam 02:30, jadi mereka harus lebih awal tiba di Jayapura. Ini adalah pelayaran pertama Juan ke Jayapura. Ia anak rumahan dan gerejaan. Tidak pernah jalan jauh selain ke kampung halamannya saat natal atau libur kenaikan kelas di bulan Juni-Juli.
Ia memutuskan cita-citanya sejak kecil untuk menjadi seorang imam Katolik atau orang yang berguna bagi banyak orang kelak sekalipun tidak menjadi seorang imam, ‘Mama sepertinya kapal nanti terlambat sandar, jadi mama sama kaka pulang lebih dulu sudah’ minta Juan ketika melihat mama dan kakanya sudah mengantuk.
Betapa tidak, mereka sudah berada menunggu kapal sejak siang jam 12:30 sampai sore jam 16:00 pun tidak nampak tanda-tanda sama sekali raut kapal di persada kulit air laut, ‘Tapi Juan tidak apa-apa Mama kasih tinggal Juan sendirian di kapal begini?’ tanya mama sambil mempertimbangkan permintaan anaknya yang akan pergi beberapa tahun ke tempat yang tak mudah ia kunjungi, ‘Tidak apa-apa mama, nanti Juan jalan sama orang-orang kenal yang mau ke Jayapura. Di sini banyak sekali yang Juan kenal, ada banyak kaka-kaka dan teman-teman yang pakai kapal ini juga jadi’ balas Juan dengan penuh meyakinkan mamanya.
Padahal Juan tahu bahwa ia sudah membohongi mama kandungnya. Ia hanya tidak mau merepotkan mamanya. Sebab ia merasa ia sudah mandiri, bukan anak kecil, ‘Tidak papa mama kasih tinggal Juan sendiri ini?’ tanya mamanya lagi memastikan keteguhan Juan. Sebab sebagai seorang mama, ia tidak kuasa melepaskan anaknya pergi seorang diri ke negeri yang ia sendiri belum pernah kunjungi, ‘Mama tidak papa sekali, ini ada banyak orang kenal ini, saya bisa tanya-tanya mereka dan minta antar ke seminari nanti, jadi mama sama kaka pulang saja, sekarang tinggal tunggu kapal saja, petugas bilang satu jam lagi kapal sudah masuk’ balas Juan dengan nada semakin meyakinkan, ‘Baik sudah, mama sama kaka pulang dulu yah Juan. Jaga diri baik-baik di sana. Kalau sudah sampai telepon mama yah sayang. Mama tinggal dulu’ mama Juan memeluk putranya, ia meneteskan air mata, menahan kuasanya untuk menahan putranya.
Mereka pulang, ‘Sebenarnya tidak tega biarkan Juan pergi ke Jayapura sendiri’ ucap Mama sambil menangis, ‘Itu sudah mama, apalagi dia juga baru kali pertama ke Jayapura, seharusnya bapanya temani dia ke sana’ balas Kaka Ina, ia melanjutkan ‘Tapi bagus, adik Juan anaknya sudah mandiri sejak keci. Saya kenal dia, dia beda dengan anak-anak lain’, ‘Iyah Ina, dia tidak biasa bikin susah mama. Kalau saudara-saudarinya yang lain baru paling suka bikin susah orang tua’, balas Mama Juan, ‘Itu sudah mama. Jadi mama jangan terlalu sedih, adik Juan pasti aman-aman saja. Mama kita doakan adik dia saja supaya bisa tiba dengan selamat, juga supaya bisa sekolah di seminari dengan baik dan jadi orang hebat di kemudian hari’ ucap Kaka Ina menguatkan Mama Juan sambil menyetir motor melintasi Kimi menuju Kota.
‘Duummm....duummm......dummm’ bunyi stom kapal Gunung Dempo dari ujung bibit Tanjung Samabusa, ‘Wiss lihat Kapal sudah masuk’ teriak seorang dari kerumunan penumpang. Kapal sudah masuk perairan pelabuhan. Ia mencari posisi aman untuk sandar. Juan dan penumpang lainnya bersiap-siap. Kapal sudah sandar dengan sempurna, petugas kapal mulai menurunkan tangga-tangga penumpang tujuan Jayapura dan tangga-tangga turun untuk penumpang tujuan Nabire.
Juan masuk dalam kerumunan penumpang yang berdesak-desakkan menuju pintu masuk kapal. Terlihat para petugas berseragam pegawai PELNI kerepotan mengatur hilir-mudik penumpang. Biasa ini Bulan Juni-Juli, ‘Bulan anak-anak sekolah’. Ada yang pulang liburan ada juga yang baru mau mendaftar kuliah.
Juan naik lebih awal bersama penumpang lainnya. Ia melihat nomor tempat tidur di tiketnya tertera nomor 1025, ia menuju salah satu penjual makanan ringan di dalam kapal, ‘Abang permisi, mau numpang tanya, kira-kira tempat nomor 1025 ini di dek berapa yah’ tanya Juan dengan sedikit hosa dan tergesa-gesa karena baru tiba dalam kapal, ‘Oh nomor 1025 ini di dek tiga bagian belakang adik, jadi nanti adik naik lagi satu deka, lalu ke bagian belakang’ jawab penjual sambil menunjukkan anak tangga menuju dek tiga, ‘Baik abang, makasih banyak yah’ balas Juan sambil memikul koper hijaunya ke arah arah dek tiga belakang sesuai petunjuk penjual.
Akhirnya Juan boleh tiba tepat di depan tempat tidurnya, ia orang pertama yang tiba di dek tiga bagian belakang. Segera ia mencari nomor tempat tidurnya. Ia menyelipkan kopernya di bawa kolom tempat tidurnya. Ia mengeluarkan patung Salib lengkap dengan korpus ukuran kecil dan satu buah patung bunda Maria, oa letakkan di atas besi tempat tidurnya.
Ia kecapean, belum tidr sepanjang hari tadi, jam menunjukkan pukul 18:50, ia tertidur pulas di tempat tidurnya. Ia bangun, orang-orang sudah penuh, ribut, dan lalulalang, ia melihat jam karet anti air berwarna hitam pekat yang ia genakan di tangan kiri, waktu menunjukkan pukul 22:15 malam. Ia meraih tasnya, mengambil bekal yang sudah mamanya berikan, beberapa potong pisang kuning rebus dan tahu saus tomat, dan sebotol air Aqua besar, ia lahap memakannya, ia terbayang wajah sang ibunya di dekat dermaga, ia sedikit meneteskan air mata, ini akan jadi kali terakhirnya ia bisa merasakan masakan buatan mamanya mama secara langsung.
Juan adalah anak sulung dari tiga orang bersaudara dalam keluarga broken home. Ayah dan ibunya sudah pisah ranjang sejak ia duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Jadi sudah lama ia tidak merasakan kasih sayang seorang ayah.
Ayahnya menikah lagi dan pindah kota meninggalkan ibunya, unjuk ibunya adalah seorang guru SD yang bisa menafkahi ia dan ketiga adiknya. Ia makan kenyang malam itu dalam kapal, ia menyisakan dua potong buah pisang dan sedikit air. Ia mengambil buku bacaan, mulai terlarut dalam bacaan. Ia tidur bersama buku.
Keesokan sorenya sekitar Pukul 18:30 kapal sudah masuk dermaga Jayapura. Ia turun dekat pelabuhan. Ia memutar otak untuk mencari tumpangan dan orang kenal. Ia berjumpa dengan Kris, seorang kaka kompleks yang juga sedang bekerja sebagai operator di Kantor Walikota Jayapura, Kris ini anak Nabire yang kuliah, kemudian bekerja dan menetap Jayapura, kebetulan ia kemarin sempat liburan ke Nabire.
‘Abang Kris...’ panggil Juan melambaikan tangan dari jauh, ‘Mari ke sini’ jawab Kris dari jauh dengan bahasa tubuh sambil memanggil datang ke arahnya, Juan sedikit mempercepat langkah kakinya, ‘Bagaimana adikku, bawa barang-barang ini mau pindah rumahkah’ ucap Kris bercanda dengan Juan, ‘Tidak abang, saya mau lanjut SMA di Seminari Waena, abang tahu tempatnyakah, bisa antar saya ke sana?’ Jawab Juan sambil menanyakan lokasi Asrama Seminari, ‘Ah Seminari itu saya tahu, itu dekat SMA kaka di Taruna Bakti, bisa, tapi besok yah kaka antar yah’ balas Kris.
‘Bisa kaka, tapi malam ini boleh, soalnya di Jayapura adik tidak ada keluarga’ balas Juan dengan sedikit bingung karena ia tidak memiliki keluarga sama sekali di Jayapura, ‘Untuk tempat tinggal jangan terlalu dipikirkan nanti ikut kaka ke rumah saja, kebetulan di rumah juga kosong jadi, biar tinggal dulu sama kaka. Bisa juga ikut anak-anak Nabire yang lain ke Asrama’ ucap Kris menenangkan Juan, ‘Siap kaka, terima kasih, adik ikut dengan kaka saja’. Mereka naik taksi ke Waena. Kris tinggal di Buper-Waena. Ia menyediakan satu kamar untuk Juan. Ia memberikan kasur, selibut dan sepasang bantal, ‘Adik nanti tidur di kamar ini saja yah, ini ada alat-alat tidur’ Ucap Kris menunjukkan kamar dan menyerahkan beberapa alat tidur, ‘Aduuh...abang terima kasih banyak’, ‘Tidak adik langsung tidur saja, besok baru kita jalan cek-cek informasi di Seminarinya’ balas Kris seraya pergi menuju kamarnya.
‘Halo Mama..Juan sudah di Jayapura, sementara masih nginap sama Kaka Kris mereka, nanti besok baru Juan ke Seminari cek informasi masuknya’ Juan menelpon mamanya malam sambil rebahan di tempat tidur, ‘Syukurlah, terima kasih Tuhan. Bilang terima kasih banyak dari mama untuk kaka Kris. Baik Juan, sesuaikan di sana yah. Mama minta maaf karna tidak bisa sama-sama. Seharusnya mama antar Juan sampai di Jayapura, tapi pekerjaan di sini padat di sekolah karena tahun ajaran baru dan ade-ade masih kecil, jadi mama minta maaf sama Juan’ ucap sang mama sambil menangis.
‘Jangan terlalu sedih mama, Juan sudah bilang semuanya aman saja, ada banyak orang yang Juan kenal, jadi pasti Tuhan akan bukan jalan untuk bantu. Mama fokus saja di sekolah sama adik-‘adik. Juan hanya butuh doa mama, itu saja’ ucap Juan menenangkan mamanya.
Juan menatakan lagi patung Salib dan Patung Bunda Maria lagi di atas meja yang letaknya di tepi kiri tempat tidurnya. Ia mulai berdoa mengucap syukur karena Tuhan Yesus dan Bunda Maria sudah menjadi ‘Bapa’ dan ‘Mama’ yang selalu menanaminya. Sejak kecil, Juan tahu bahwa ia akan hidup tanpa sosok Bapa dalam waktu yang lama, tatkala ia sendiri menyaksikan dan mendengar bapa dan ibunya ribut dan memutuskan untuk berpisah.
Sejak saat itu Juan sangat merindukan sosok ayah, ia juga mau mendapatkan sentuhan dan pelukan hangat dari ayah dan ibunya sama seperti teman-teman dan anak-anak yang lain. Namun itu tak kunjung ia dapatkan, yang ia dapatkan adalah pil pahit kenyataannya sebagai anak yang tumbuh dan besar dalam keluarga broken home. Ia selalu berdoa, mencari penguatan dan ketabahan di lingkungan Gereja, sejak saat itu ia mulai dekat dengan Tuhan dan Bunda Maria.
Sejak usia belia ia selalu membawa patung Salib dan Patung Bunda Maria, ia letakan pada tempat khusus dalam kamarnya. Dua patung ini sangat berharga dalam kehidupannya, ia merasakannya kejadian sosok ayah lewat patung Yesus dan sosok mama lewat patung Bunda Maria.
Pagi tiba, sekitar jam 09:30 Kris mengabtar Juan ke Seminari, mereka menggunakan motor milik Kris. Tetiba di seminari, mereka menuju rumah rektor. Menanyakan segala sesuatunya perihal informasi masuk seminari. Menurut rektor tunggu satu Minggu ke depan lalu tes masuk seminari akan mereka selenggarakan, sementara masih libur dan persiapan.
Juan dan Kris pulang, sebelum sampai di rumah mereka lebih dulu keliling kota Jayapura, Kris mengajak Juan jalan-jalan. Kris mengenalkan kota Jayapura kepada Juan yang baru, ‘Adik ini yang biasa mereka bilang Kota Jayapura’ ucap Kris kepada Juan di atas bukit Jayapura City, ‘Tempat bagus. Semu kota itu bagus, indah-indah. Tapi di balik yang bagus dan indah itu kejahatan dan masalah juga banyak’ ungkap Kris, ‘Benar kaka saya juga sering lihat foto-foto dari kaka yang kuliah di Jayapura. Tempatnya indah-indah’, balas Juan sambil mengagumi keindahan dan kemegahan kota Jayapura.
‘Kalau ini jembatan merah’ dari bukit Jayapura City Kris mengajak Juan ke Jembatan Merah’ ucap Kris, ‘Oh iyah benar, sekarang baru adik bisa lihat dari dekat, selama ini hanya dengar orang cerita dan lihat gambarnya di Hp’ balas Juan, ‘Adik, ada hal penting yang mau kaka bilang. Kita harus selalu ingat dengan tujuan awal kita ke Jayapura untuk apa dan untuk siapa’ Ucap Kris membukanya suatu pembicaraan dengan serius.
Mereka sudah membeli beberapa jenis minuman dingin, rujak di pinggiran pantai Hamadi dan jagung rebus, ‘Iyah benar, siap-siap’ jawab Juan sambil menikmati rujak dan sanset di teluk Youtefa Jembatan Merah, ‘Kaka biasa lihat banyak anak-anak dari daerah kita datang dengan tujuan sekolah, ada yang lanjut SMP, SMA, dan kuliah, tapi sayang cepat sekali putus di tengah jalan gara-gara salah jalan dan salah bergaul saja’ Ucap Kris dengan nada pelan dan sedikit kecewa.
‘Mereka datang dari Kampung dan daerah dengan penuh harapan, orang gantungkan harapan supaya mereka sekolah baik, selesai baik-baik, dan pulang jadi orang baik bangun daerah dan kampung dengan jauh lebih baik’ sambil menimun minum dingin Kris melanjutkan, ‘Mereka tiba di sini, setelah agak lama hidup di sini, mereka lupa arah dan tujuan awal kenapa dan untuk apa mereka di sini. Kaka biasa kecewa dan sedih adik, lihat adik-adik yang datang ke sini, jadi pemabuk dan perusuh, jalan ke sana ke mari. Pemalas baca buku, tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif di kampus, asrama, Gereja, dan lainnya. Ada juga yang harus hamil dan pulang bukan bawa gelar atau ijazah tapi anak, dan daftar panjang tunggakan kuliah dan surat DO, sedih dan miris adikku’ ucap Kris.
‘Benar sekali kaka, adik juga sering dengar cerita-cerita itu’ balas Juan dengan sopan dan tenang, ‘Itulah yang tadi kaka bilang Jayapura ini indah dan megah tapi masalahnya juga indah dan megah’ Ucap Kris lalu mereka tertawa, ‘Kaka senang adik mau masuk seminari dan jadi imam. Adik pasti bisa jadi, yang terpenting jangan suka jalan-jalan, duduk tenang di asrama dan belajar hal apa saja di sana. Seminari itu lengkap buku bacaannya, kaka lihat di kamar adik suka baca. Harus tingkatkan itu’ pesan Kris untuk Juan. Dari jembatan merah mereka pulang. Hampir satu Minggu Juan tinggal bersama Kris. Harus masuk ke seminari.
Juan sebenarnya adalah anak yang cerdas bawaan lahir. Ia sudah mandiri sejak kecil. Ia selalu meninggalkan prestasi yang gemilang di sekolah-sekolahnya. Ia ikut tes dan dinyatakan tembus. Ia sudah bisa menempati asrama. Ia masuk dengan teman-teman angkatannya dari berbagai daerah di Papua. Ia mulai berkenalan dan mulai akrab dengan beberapa anak.
‘Halo mama... Juan sudah lulus masuk seminari. Sekarang sudah mulai aktif tinggal di asrama. Kami dilarang bawa alat elektronik, termasuk Hp jadi, ini yang terakhir kali Juan bel mama sama adik-adik’ ucap Juan sedikit berat dalam dada dan sedih di hati, ‘Puji Tuhan, Juan tinggal di asrama baik-baik yah. Jangan banyak keluar-keluar, tinggal tenang dalam asrama saja kan semuanya sudah ada toh, jadi fokus di dalam saja sayang. Mama sama adik-adik baik-baik selalu, kami selalu doakan Juan’ ucap Mama sambil menguatkan anaknya.
‘Baik, selamat siang, Juan sayang mama sama adik-adik’ tutup Juan dengan sedih. Ia mengumpulkan hp di rumah rektor. Ia menuju kamar barunya, ia mengambil patung Salib dan Patung Maria. Ia menaruh kedua patung itu bersamanya di tempat tidur. Entah sudah berapa tahun kebiasaan ini Juan buat. Sejak kecil di mana saja ia tidur selalu ada dua patung ini. Dulu waktu aktif di Gereja di Misdinar dan OMK, saat kemping dua Patung ini selalu menemaninya. Di seminari juga sama, Yesus dan Maria selalu menemaninya di tempat tidur. Sekali lagi, Juan adalah anak dari keluarga broken home, Yesus dan Maria sudah ia anggap lebih dari kedua orang tua kandungnya sendiri.
Juan mulai menyesuaikan diri dengan aturan di Seminari. Ia harus bangun jam 04:20. Mandi pagi dan bersiap-siap. Pukul 05:00 mulai ibadah Pagi di Kapela dan dilanjutkan dengan misa Pukul 06:00. Usai misa ia harus keluar memungut sampah dan membuangnya di bak sampah. Menuju tempat cuci mencuci tangan. Pukul 07:00 mulai sarapan. Usai sarapan apel berlangsung di Pukul 07:15. Tepat Pukul 07:50 lonceng belajar berbunyi. Pukul 12:30 lonceng pulang. Mereka menuju Kapela buat doa siang. Pukul 13:00 makan siang.
Usai makan siang ada pengumuman untuk kegiatan sore antara belajar, kerja, olahraga, latihan lagu, dan kegiatan lainnya. Mereka ke unit masing-masing untuk istirahat siang. Bangun sore kegiatan disesuaikan dengan pengumuman di ruang makan tadi siang. Usia kegiatan sore mereka ke Kapela, ibadah sore sekitar jam 18:00. Pukul 19:00 mereka makan malam bersama. Malamnya semua belajar mandiri dari jam 20:00. Lonceng doa malam akan berbunyi di jam 22:00. Usai doa malam semu kembali ke unit masing-masing untuk istirahat malam, bangun pagi ritme dan irama hidup seperti biasa.
Juan bisa dengan cepat menyesuaikan diri. Ia mulai tampil dalam lomba-lomba. Ia banyak membawa nama baik SMA dan Seminari. Ia habiskan masa-masa dalam perpustakaan Seminari. Banyak buku-buku bagus ia lahap habis. Ia lupa akan keluarga, ia tidak rindu Mama dan adik-adiknya. Ia larut dalam dunia buku. Banyak buku ia baca. Ia menulis banyak refleksi luar biasa. Juan menjadi bintang di Seminari. Guru-guru bangga dengan dia. Teman-teman, adik-adik, dan kaka-kaka seniornya bangga dengannya.
Tak terasa ia sudah hidup tiga tahun di seminari dengan segudang prestasi dan pengalaman emas yang tak terlupakan. Juan banyak menulis. Ia mendapatkan permintaan untuk menulis di media-media besar dan mendapatkan sedikit berkat dari situ yang bisa ia tabung dan kirim ke mama dan adik-adik. Namanya dikenal massa luas. Ia mencetak buku-buku super. Lulus seminari Juan pulang dengan segudang prestasi dan pengalaman yang luar biasa dari Seminari. Tiga tahun lamanya ia tidak pulang. Waktu-waktu libur ia manfaatkan untuk belajar bahasa asing, membaca, dan menulis. Tidak heran pasca lulus seminari ia fasih berbahasa Inggris, Jerman, dan Lain.
Tetiba di rumah di rumah ia disambut hangat mama dan adik-adiknya. Mereka habiskan waktu bersama. Dua bulan lebih ia habiskan bersama mereka. Kini tiba saatnya ia harus melanjutkan pendidikan ia mengurung niatnya untuk menjadi imam. Ia merasa potensinya yang besar akan berguna bagi banyak orang di negerinya jika ia gunakan untuk mendidik banyak orang dan bekerja di banyak tempat.
Dia mengutarakan niatnya. Mamanya menerima. Juan mendapatkan beasiswa ke Jerman. Ia melanjutkan pendidikan s1 di sana dalam jurusan Sains dan Digital. Ia mendaftar di Universitas Munster Jerman. Ini sebuah Universitas Negeri yang raksasa di Jerman. Ia tinggal di satu apartemen biaya pemerintah. Di kamarnya tidak lupa ia letakkan patung salib dan bunda Maria. Ia masuk Kampus. Mulai menyesuaikan diri dengan iklim alam, kampus, kota, dan masyarakat di sana.
Empat tahun ia habiskan di Jerman. Ia bahagia menjalani hidup. Tempat pertama yang ia jadikan kuil pertapaan adalah perpustakaan. Munster punya perpustakaan yang megah dan mewah. Banyak karya-karya besar masih awet dan rapi tersusun di sana. Ia lebih mirip istana ilmu pengetahuan yang kokoh. Juan menghabiskan banyak waktu dalam perpustakaan itu. Sampai-sampai ia mengenal sebagian besar pengurus perpustakaan. Mereka bangga dengan Juan karena memiliki kecintaan yang tinggi dan mendalam dengan ilmu.
Mr. Johnathan menyuruh seorang staf memanggil, ‘Permisi tuan, pimpinan kami mau bert3mu tuan, jam makan siang ini di ruangannya’ ujar seorang staf dengan ramah pada Juan, ‘Baik tuan, dengan senang hati’ jawab Juan dengan ramah sambil tersenyum, ‘Ia pasti akan mengatakan sesuatu yang buruk’ pikir Juan, sebab ia adalah salah satu pengguna perpustakaan yang selalu paling terakhir pulang, ‘Tuan Juan yah’ buka Mr. Johnathan, ‘Benar sekali Tuan, saya Juan dari Indonesia, Papua’ jawab Juan sedikit gugup.
‘Saya sudah 20 tahun bertugas di perpustakaan ini. Saya senang dengan kamu. Kamu langka dab jenius. Saya dengan minat bacamu yang tinggi. Dan saya juga bangga karena kamu juga bisa menulis dengan bagus dalam bahasa Jerman di majalah Kampus yang kami kelola di sini’ puji Mr. Johnathan pada Juan. Juan tentu kaget dengan semua ini, ia tidak sadar dengan ucapan Mr. Johnathan. Awalnya ia kira akan mendapatkan teguran serius karena tidak tertib dalam aturan perpustakaan, ‘Wah...terima kasih banyak. Ini sebuah kejutan yang luar biasa. Saya merasa terhormat sekali dengan semua apresiasi dan penghargaan ini. Terima kasih banyak Mr. Johnathan’ ucap Juan dengan penuh kegirangan ia tidak sangat akan mendapatkan semua kejutan ini.
Rupanya, hari ini Mr. Johnathan berulang tahun yang ke-70 tahun. Ia punya kebiasaan mengadakan ulang tahunnya di kantor perpustakaan dengan stafnya. Mereka tidak banyak. Juan adalah tamu undangan yang diperlakukan spesial, ‘Silakan duduk Mr. Juan’ Mr. Johnathan mengundang Juan.
Bersambung...



Komentar
Posting Komentar