Mengangkat Pena sebagai Jalan Menuju Dialog dan Perdamaian di Tanah Papua
(Sebuah Refleksi atas Pemikiran almarhum Pater Neles Tebay)
Oleh: Yulianus Kebadabi Kadepa
Konflik berkepanjangan di Tanah Papua telah meninggalkan jejak penderitaan mendalam, terutama bagi masyarakat adat yang rentan terhadap dampak kekerasan struktural dan politik identitas. Di tengah pendekatan represif yang dominan dan pembangunan yang cenderung bersifat top-down, almarhum Pater Dr. Neles Kebadabi Tebay menawarkan suatu paradigma alternatif berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas perdamaian melalui pendekatan dialog. Tulisan ini merupakan refleksi terhadap pemikiran Pater Neles sebagaimana tertuang dalam karyanya Angkat Pena Demi Dialog Papua (2012). Mengangkat pena dimaknai sebagai tindakan moral, intelektual, dan simbolik dalam memperjuangkan keadilan melalui pendekatan non-kekerasan. Dengan kerangka martabat manusia, kesetaraan, dan demokrasi deliberatif, tulisan ini menegaskan kembali urgensi dialog Jakarta-Papua sebagai strategi transformatif menuju rekonsiliasi dan keadilan yang berkelanjutan. Dialog bukan sekadar wacana politis, tetapi merupakan jalan etik dan spiritual menuju Papua sebagai Tanah Damai. Dialog, Papua, Pater Neles Tebay, perdamaian, pena, keadilan, kemanusiaan
Tanah Papua merupakan wilayah yang diberkahi dengan kekayaan sumber daya alam, namun juga menyimpan sejarah panjang ketegangan sosial-politik yang belum terselesaikan secara adil. Sejak integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), masyarakat Papua mengalami berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia, ketimpangan pembangunan, marginalisasi budaya, serta pendekatan keamanan yang seringkali represif.
Di tengah dinamika tersebut, suara-suara yang menyerukan resolusi damai dan adil melalui pendekatan non-kekerasan menjadi sangat signifikan. Salah satu tokoh yang konsisten mengusung pendekatan dialogis adalah Pater Dr. Neles Kebadabi Tebay. Sebagai imam Katolik, intelektual, dan aktivis perdamaian, Pater Neles menginisiasi gagasan bahwa konflik Papua hanya dapat diselesaikan secara bermartabat melalui dialog yang jujur dan setara antara Pemerintah Pusat dan rakyat Papua.
Pena sebagai Simbol Perlawanan Non-Kekerasan
Dalam narasi perjuangan Papua, tindakan "mengangkat pena" oleh Pater Neles memiliki makna simbolik yang mendalam. Pena tidak hanya menjadi alat tulis, melainkan representasi dari perjuangan moral dan intelektual dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan. Di tengah dominasi kekuatan bersenjata dan retorika politik yang cenderung meminggirkan suara rakyat Papua, pena menjadi instrumen perjuangan tanpa kekerasan (non-violent resistance).
Menurut Pater Neles, pena memiliki daya transformasi spiritual dan sosial yang mampu membentuk kesadaran kolektif, membangkitkan harga diri rakyat, serta menantang struktur dominasi secara etis dan konstruktif. Ia menolak kekerasan sebagai solusi. Mengutip salah satu pernyataannya: "Kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Sebaliknya, kekerasan hanya melahirkan kekerasan baru, memperkeruh suasana, melukai hati, dan memperdalam kebencian." Oleh karena itu, pena menjadi senjata moral yang lebih kuat daripada peluru.
Dialog sebagai Instrumen Etis dan Demokratis
Pater Neles memahami dialog bukan sekadar percakapan interpersonal, melainkan sebagai mekanisme etis dan politis untuk membangun relasi yang adil antara dua entitas yang selama ini terpisah secara historis dan identitas—yaitu Jakarta dan Papua. Dialog dalam pandangan ini harus bersifat deliberatif, partisipatif, dan didasarkan pada prinsip keterbukaan, keadilan, dan kesetaraan.
Dalam perspektif teologis, Kebadabi Tebai menegaskan: “Dialog bukanlah solusi, melainkan sarana untuk mencari, mengidentifikasi, dan merumuskan solusi bersama. Dialog bukan tentang siapa yang benar atau salah, tetapi tentang mendengarkan dan memahami secara timbal balik.”
Melalui pendekatan ini, dialog bukan sekadar upaya politik, tetapi jalan spiritual menuju rekonsiliasi dan penyembuhan kolektif. Proses dialog harus diawali dengan pembersihan “lahan konflik”, yakni prasangka, ketidakpercayaan, dan trauma masa lalu, agar benih perdamaian dapat tumbuh. Pater Neles menulis: Dialog damai bermartabat ibarat kita membuka kebun. Kita harus membersihkan tanah tersebut terlebih dahulu sebelum kita menanamnya.”
Urgensi Dialog di Tengah Eskalasi Kekerasan
Situasi kontemporer Papua, yang ditandai oleh konflik bersenjata, pengungsian massal, dan pelanggaran HAM di berbagai wilayah seperti Nduga, Intan Jaya, dan Yahukimo, menunjukkan bahwa pendekatan militeristik telah gagal mewujudkan perdamaian. Ketidakefektifan strategi keamanan harus menjadi refleksi bagi negara bahwa solusi damai bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral dan rasional.
Pater Neles memandang bahwa tawaran dialog harus direspons dengan serius, karena di dalamnya terkandung harapan rakyat Papua untuk diakui secara bermartabat. Tanpa dialog yang autentik, Papua akan terus terjebak dalam siklus kekerasan yang melahirkan luka sosial yang semakin dalam.
Dialog sebagai Warisan dan Tanggung Jawab Kolektif
Warisan pemikiran dan praksis Pater Neles tidak berhenti pada konsep. Ia merupakan pelaku langsung dialog lintas aktor, yang memperjuangkan ruang perjumpaan antara kelompok yang selama ini berseberangan. Julukan “Si Pembuka Pintu” yang disematkan kepadanya mencerminkan peran profetisnya dalam mengawali jalan damai.
Pater Neles pernah menyusun daftar sembilan aktor kunci yang perlu dilibatkan dalam dialog Papua–Jakarta: Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TNI–Polri, TPN–OPM, komunitas migran, tokoh gereja, tokoh adat, akademisi, dan perwakilan masyarakat sipil Papua di luar dan dalam negeri. Hal ini menunjukkan inklusivitas sebagai syarat utama keberhasilan dialog. Melanjutkan warisan ini merupakan tanggung jawab kolektif seluruh komponen bangsa.
Dengan demikian, Pemikiran dan perjuangan Pater Neles Kebadabi Tebay tentang dialog merupakan kontribusi strategis dan etis dalam upaya penyelesaian konflik Papua. Mengangkat pena menjadi simbol perjuangan yang mengedepankan nilai-nilai keadilan, martabat, dan kemanusiaan, sebagai alternatif dari kekerasan struktural yang selama ini mendominasi.
Dialog, sebagaimana dirumuskan oleh Pater Neles, adalah jalan etik, spiritual, dan politik untuk membangun Tanah Papua sebagai ruang damai yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Seruan “Mari Kitong Duduk Bicara Dulu” bukanlah sekadar ungkapan retoris, melainkan sebuah prinsip moral dan praksis yang mendesak untuk diimplementasikan dalam setiap usaha rekonsiliasi antara Papua dan Indonesia.
Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi “Fajar Timur” Abepura -Papua
Daftar Pustaka
Tebay, Neles Kebadabi. Angkat Pena Demi Dialog Papua: Kumpulan Artikel Opini tentang Dialog Jakarta-Papua Tahun 2001-2011. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012.



Komentar
Posting Komentar