JUBAH PERDAMAIAN: MENYARING ASPIRASI, MENANKAP HARAPAN MENUJU KESELAMATAN
~Degei Siorus
Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah dari Perwakilan Pokja Agama Katolik, Yahya Iyai melaksanakan kegiatan Penyaringan Aspirasi di Kabupaten Dogiyai. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu 06 September hingga Senin 08 September di Paroki St. Petrus Mauwa, Dogiyai, Papua Tengah.
Sekitar pukul 15:50 WP, tepatnya pada Sabtu 06 September tim dari MRP perwakilan Agama Katolik di bawah pimpinan Yahya Iyai tiba di Pastoran Paroki St. Petrus, Mauwa, Dogiyai. Sesuai pembicaraan awal, Tim MRP akan menginap dan melangsungkan kegiatan di Mauwa. Patoki St. Petrus Mauwa menjadi presidensia kegiatan penyaringan aspirasi kali ini. Terhitung ini adalah kali keduanya tim MRP perwakilan Agama Katolik melangsungkan kegiatan penyaringan aspirasi di kabupaten Dogiyai.
Pada Minggu 07 September kegiatan penyaringan dilangsungkan di Aula Paroki St. Petrus Mauwa, Dogiyai. Saudara Yahya Iyai, anggota MRP utusan Gereja Katolik Keuskupan Timika hadir sebagai penyaring aspirasi, sementara pesertanya adalah para petugas pastoral mulai dari para pastor paroki, dewan paroki (dan Stasi), Sekami, OMK, Misdinar, dan para peserta senior dan pewarta junior dari empat Paroki yang tersebar di Kabupaten Dogiyai: Paroki Mauwa, Paroki Moanemani, Paroki Idakbeo, dab Paroki Ugapuga. Dalam kegiatan penyaringan ini, Diakon Markus Auwe tampil sebagai moderator.
Dalam sambutannya membuka kegiatan penyaringan aspirasi Diakon Markus Auwe mengajak seluruh peserta yang hadir untuk dapat menyampaikan aspirasi-aspirasi yang selama ini menjadi pergumulan dan pergulatan mereka di lapangan pengabdian.
“Hari ini sudah hadir bersama kita saudara Yahya Iyai, MRP utusan Gereja Katolik Keuskupan Timika untuk menyaring atau mendengar semua aspirasi dari kita umat Katolik di Lembah Hijau Kamuu. Untuk apa yang selama ini kita alami dan gumuli baiklah itu kita sampaikan” pungkasnya.
Diakon Markus menyerahkan kesempatan sepenuh kepada saudara Yahyah Iyai untuk menyampaikan hal ikwal yang hendak ia saring. Diakon Markus juga memetakan rangkaian kegiatan penyaringan aspirasi pada siang sampai selesanya ini: 1) penyampaian tujuan dan maksud kegiatan penyaringan aspirasi di Kabupaten Dogiyai dari pokja Agama Katolik; 2) sesi tanya-jawab yang terbagi ke dalam tiga sesi tiga orang; dan 3) penutup dan santap bersama.
Yahya Iyai, anggota MRP perwakilan Gereja Katolik dari Keuskupan Timika menjelaskan tujuan dan maksud di balik kegiatan penyaringan aspirasi.
“Baik bapa-ibu, saudari-saudara sekalian. Saya Yahya Iyai, anggota MRP utusan Gereja Katolik Keuskupan Timika. Saya hadir di sini untuk mendengar dan menyaring langsung aspirasi dari bapa-ibu sekalian, khususnya petugas pastoral dan para pewarta di wilayah konflik” ucapnya.
Iyai juga menyampaikan bahwa ada satu hal penting yang ia lihat relevan dan urgen dikembangkan sebagai strategi pastoral dalam menciptakan perdamaian dan keadilan atas nama kemanusiaan, yaitu ‘jubah hitam’.
“Saya mau menawarkan satu hal gerakan pastoral yang menurut pihak kami relevan kami upayakan di wilayah-wilayah rawan konflik, salah satunya Kabupaten Dogiyai ini, yaitu Jubah Perdamaian. Jubah perdamaian ini kami lihat penting supaya ketika ada konflik par para petugas Gereja bisa menjadi mediator konflik di tengah masyarakat. Jadi, untuk lebih jauh memperjuangkan hal ini saya hadir untuk mendengar secara langsung aspirasi umat sekalian” tutupnya.
Sekitar Pukul 11:20 WP, proses serap aspirasi mulai bertanya. Ada banyak petugas pastoral dan pewarta yang menyampaikan aspirasinnya tentang dua hal, yakni: kesejahteraan para pewarta dan jubah perdamaian.
Tentang kesejahteraan para pewarta. Hal-hal yang mereka sodorkan sebagai aspirasi ialah terkait bagaimana MRP perwakilan Gereja mau memperjuangkan agar interval waktu enam bulan dalam proses pembayaran honor itu bisa dikurangi sampai triwulan. Ada juga terkait kelayakan rumah yang mereka huni. Juga hal-‘hal seperti tunjangan kesejahteraan pendidikan anak-anak mereka, terutama anak-anak pewarta dari kelas menengah ke bawah. Ada juga pengurus deqan paroki yang mengusulkan ada upaya MRP pokja Agama Katolik dalam mendukung upaya menuju Gereja mandiri.
Selain ihwal kesejahteraan para pewarta dan restorasi Gereja dari kuar dan dari dalam, salah satu tema besar yang didiskusikan cukup hangat juga terkait jubah perdamaian.
Konsep jubah perdamaian ini menurut Iyah peran dan fungsinya ialah mediator konflik, pihak ketiga yang netral mirip peran dan fungsi ‘palang merah’ dalam perpolitikan dunia. Palang merah adalah lembaga kemanusiaan yang independen dan netral, kepentingan mereka adalah kemanusiaan dan perdamaian. Para pihak yang berkonflik tidak dapat dibenarkan untuk menyerang palang merah dalam medan konflik. Hal yang sama juga menurut Iyai ia cita-citakan di balik gerakan jubah perdamaian yang mau ia promosikan.
Para pewarta yang tergabung dalam gerakan jubah perdamaian ialah para petugas pastoral dan para pewarta. Mereka yang memiliki tanda pengenal (id card). Lembaga juga yang berbadan dan berpayung hukum yang bersumberkan dari hukum positif dan hukum Gereja melalui otoritas Gereja Katolik di tingkat Stasi, Quasi Paroki, Paroki, Dekenat, Keuskupan, Konferensi Waligereja, dan Kepausaan. Selain dengan pemerintah dan hirarki Gereja kerjasama lintas agama, lintas denom8asi, aktivis, LSM, LBH, Komnas HAM, kementerian HAM, media, jurnalis, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Frater Siorus Degei, frater Toper pada Paroki St. Petrus Mauwa menyampaikan bahwa konsep Jubah Perdamaian yang ditawarkan MRP perwakilan Agama Katolik terbilang kontekstual, sehingga penting juga dipikirkan badan dan payung hukumnya.
“Konsep Jubah Perdamaian ini menurut saya sangat bagus, sebab terapi inilah yang kita butuhkan. Cuman mesti juga dipikirkan agar konsep ini memiliki badan hukum baik itu hukum positif maupun juga advokasi di dalam hirarki Gereja sendiri”
Selain itu juga Frater Degei juga menambahkan bahwa perlu ada pelatihan jurnalis yang bertaraf internasional agar para pewarta yang memediasi konflik bisa secara objektif menuliskan berita kejadian secara jujur.
Juga penting agar MRP pojka Agama Katolik bekerjasama dengan pokja agama dan bidang lainnya untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan dari almarhum Pater Nato Gobay dalam rangka membumihanguskan mata air- mata air pemusnahan orang asli Papua, seperti Miras, HIV/AIDS, Lokalisasu, perjudian, dan lainnya.
Yuli Tebai, pewarta senior Paroki Mauwa menegaskan tentang pentingnya identitas dari anggota jubah perdamaian.
“Saya kira. Selain aspek hukum dan aspek kesejahteraan, penting juga aspek identitas. Para pewarta yang akan terlibat dalam jubah perdamaian ini mesti memiliki tanda pengenal sebagai identitas mereka”
Penanya ketiga, Eman Goo, seorang pewarta di Kaladiri Nabire menyoalkan agar konsep dan mekanisme jubah perdamaian ini bisa diracik sejelas-jelasnya alur cara kerjanya.
“Pihak-pihak yang bertanggung-jawab dengan apa yang diperjuangkan oleh komunitas jubah perdamaian. Kita harus perjelas ia berada di bawah lembaga mana, pihak-pihak mana saja, bagaimana proses advokasi dan mediasinya, juga bagaimana solusi akhirnya?” tanyanya.
Pada sesi kedua, susasana saring aspirasi semakin hangat. Penanya pertama, pewarta Pieter Tebai memohonkan agar waktu penerimaan gaji mereka dari dinas sosial yang selama ini dibayar per enam bulan itu, bisa diperjuangkan oleh MRP utusan Agama Katolik untuk mengurangi enam bulan itu menjadi tiga bulan.
“Selama ini honor kami dibayar per enam bulan, nilainya 3 juta. Kami melihat dan merasakan bahwa ini begitu mencekik, untuk terkait kesejahteraan para pewarta alangkah baik enam bulan itu dikurangi menjadi tiga bulan, agar pemenuhan kebutuhan kami pun sedikit bisa lega” mohonnya.
Penanya kedua, bapak Herman Tebai, mewakili dewan Paroki. Menekankan pentingnya kerjasama vertigal antara MRP dan para pemimpin di tingkat nasional, provinsi, dan daerah-daerah.
“Saran saya saja, agar semua aspirasi yang sedang MRP saring ini lolos, penting sekali MRP menjalin koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah tingkat vertikal dan tingkat horisontal” ungkpanya.
Bapak Herman Tebai yang dikenal sebagai salah seorang birokrat senior Kabupaten Dogiyai ini menambahkan agar soal kesejahteraan para hamba Tuhan itu bukan saja menjadi wewenan pemerintah kabupaten, tetapi MRP bisa memperjuangkan agar itu juga menjadi tanggung-jawab pemerintah provinsi, karena para hamba Tuhan ini memiliki peran yang mendasar di daerah-daerah terpencil. Mata ksejahteraan juga mesti melirik sekolah-sekolah keagaaman yang ada.
Penanya berikut adalah Diakon Marius Goo, anggota tim pastoral Paroki Idakebo dan pengajar pada Sekolah Tinggi Kateketik (STK) Touye Paapa, Deiyai. Diakon Marius Goo menyampaikan dua hal, yaitu tentang pentingnya peran jurnalis dan keselamatan corong agama Katolik di tingkat Provinsi.
“Dari saya ada dua hal mungkin. Pertama terkait peran jurnalis. Hari ini jurnalis memegang peran penting, tanpa mereka kita mengalami kegelapan informasi. Untuk itu selain adanya pelatihan-pelatihan, penyediaan sarana pendukung juga menjadi hal penting. Yang kedua adalah tentang hak kami agama Katolik. Perjuangan dan suara-suara Katolik gaungnya selalu hilang di tingkat provinsi. Ada banyak sekali bantuan yang berasal dari pemerintah provinsi, saudara-saudara kita dari gereja denominasi merasakab itu, tapi tidak dengan kita, untuk itu MRP utusan Agama Katolik kami harapkan bisa memperjuangkan hak-hak kami Gereja Katolik di sana” pungkasnya.
Penanya lainnya, Isodorus Tebai, seorang kader pewarta dari Paroki Mauwa membedakan pola pendidikan formal dan non formal. Tebai mengharapkan agar pendidikan formal urgen menitikberatkan kurikulum pendidikan pada aspek-aspek moral anak.
Bapak Nelius Pekei, umat Paroki Mauwa juga mengharapkan MRP bisa mendukung usaha-usaha umat yang sedang dikembangkan di paroki-paroki.
Diakon Marius Goo dengan nada yang sedikit lantang menegaskan bahwa aspirasi rakyat Dogiyai, dan Papua seluruhnya adalah kemerdekaan, tugas MRP adalah menawarkan solusi kepada Jakarta atau Pemerintah pusat bahwa rakyat Papua mau dialog damai, mau referendum, dan lainnya. Sebab MRP itu lahir karena orang Papua mau merdeka.
Terakhir Pastor Paroki Idakebo, Pastor Rico, menjadi satu-satunya Pastor yang hadir. Pastor Rico menyampaikan hal-hal elementer terkait esensi dari tugas pokok dan fungsi MRP. Ia juga menyampaikan dua hal sebagai masukan, yaitu perlu ada evaluasi besar-besaran sebab sejak MRP dilantik hingga hari ini masyarakat belum melihat tanda-tanda hasil kerja MRP. Terakhir, terkait jubah perdamaian, tidak perlu ada motif jubah yang lain, sebab para pewarta, imam, diakon, dan frater sudah memiliki jubah yang diberkati, sehingga gunakanlah jubah itu saat turun ke dalam bara api konflik.
Sekitar Pukul 14:40 WP, kegiatan penyaringan aspirasi dari anggota MRP pokja Agama Katolik, Yahya Iyai di Kabupaten Dogiyai bersama umat Katolik di sana diakhiri dengan doa penutup dan doa makan bersama oleh Pastor Rico. Selanjutnya sebagai tuan rumah dan tuan pesta dewan paroki bersama saudara Yahya Iyai mengundang hadirin untuk santap siang bersama. Syanora....
Catata:
Foto bersama sebelum dan usai Kegiatan Penyaringan Aspirasi dari Anggota MRP Pokja Agama Katolik, Yahya Iyai bersama umat Katolik di Dogiyai, 07/08/2025. Dokpri.
Mauwa, 07/09/2025
🌸💚🩵



Komentar
Posting Komentar