IREN, SELAMAT JALAN
Sebagai anak yang berasal dari Kampung yang bersejarah dalam iman, pendidikan, dan peradaban, Iren punya cita-cita yang besar. Ia mau menimbah ilmu sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya di kota dan pulang membangun kampungnya yang terpencil. Gairah belajarnya mulai nampak sejak usia dini.
Sebenarnya ia mau masuk seminari, ingin menjadi imam, namun karena faktor kesehatan ia memendam niat mulia itu, selain faktor fisik kedua orang tuanya juga agak berat untuk menyerahkan putra tunggal mereka menjadi seorang imam.
Selesai menamatkan SMA di Kampung halamannya. Iren turun gurun, menyeberang samudera biru menuju Kota Jayapura. Ia mendaftar sebagai mahasiswa jurusan Pastoral Konseling di Sekolah Tinggi Pastoral Keteketik Rasul Paulus, Waena, Jayapura-Papua tahun 2023. Ia rajin dan aktif dalam kegiatan di Kampus dan Asrama. Sebagai calon katekis dan guru Agama Katolik muda, Iren dan teman-temannya aktif dalam kegiatan lintas iman di Kapela Asrama dan di Gereja Paroki Kristus Terang Dunia Waena (KTDW).
Saya suka mengunjungi Iren dan kawan-kawannya di Asrama Putra St. Stefanus STPK. Selain Iren, tentu ada banyak adik-adik hebat saya yang lain. Mereka antusias menyambut saya. Biasa kami akan sumbang-sumbang seribu-duaribu untuk membeli minuman dingin atau minuman panas, tergantung cuaca dan situasi. Jika cuacanya mendung atau gerimis hujan maka kopi, gula, dan susu akan kami beli. Jika cucanya panas, maka tentu yang dingin-dingin yang kami cari. Bersyukur sebab di tengah-tengah asrama ini ada sebuah honai khas Pegunungan, serambi honai yang sangat indah. Honai ini selalu menjadi tempat kami duduk bercerita, berdiskusi macam-macam hal penting dari hal-hal yang serius sampai hal-hal yang berbau humor.
Iren adalah anak yang rajin. Ia menurut akan perintah teman-teman angkatannya, terutama juga pada kaka-kaka seniornya. Ia peka, jika ada yang kurang dengan cepat akan ia lengkapi. Saya selalu berkunjung, ada tiga adik yang selalu saya sebut namanya, kalau bukan Agus atau Marko, pasti nama Iren yang saya sebut. Tentu masih banyak lagi adik-adik hebat lainnya yang saya kenal. Namun selain tiga nama ini, sebelumnya juga ada nama Paguru Stef dan Paguru Amandus. Nama-nama mereka saya gunakan sebagai sandi untuk masuk ke dalam asrama.
Kami diskusikan banyak hal. Saya selalu merindukan saat-saat nini setiap hari Minggu atau hari libur datang. Selalu ada banyak pilihan yang muncul, ke Taboria, STPK, atau Seminari Menengah Waena. Tujuan utama saya ialah mengisi waktu libur dengan hal-hal positif, semisal diskusi dengan adik-adik saya yang memiliki minat belajar yang tinggi dan minat membangun kampung dengan sungguh, seperti Iren dan kawan-kawannya.
Dalam suatu musibah, kaki Iren tiba-tiba keseleo atau salah urat semacam itu. Saya mengunjungi mereka. Kami berencana membeli es, sirup mangga, susu, beberapa makanan ringan, roko, dan pinang. Saya Iren, dan adik Marco. Kami bertiga ke depan. Saya memperhatikan ada yang berubah dari Iren. Saya bertanya ada apa dengan kakinya, ia menjawab biasa, ‘Tidak apa-apa Wauwa (Kaka laki-laki dalam bahasa Mee), ini hanya keseleo kecil’. Saya kira semuanya akan baik-baik saja, saya dan Marco menyarankan Iren pergi ke dokter untuk foto supaya kelihatan sendi-sendi mana yang keseleo, agar lebih mudah diterapi dan kaki lebih cepat pulih kembali. Hari itu kami lewati dengan banyak cerita. Ia mau membaca, namun ia meminta rekomendasi buku-buku terbaik versi saya. Kami mengadakan perjanjian, jika ia sudah menerima beasiswa, ia akan segera menghubungi saya untuk menemaninya membeli buku.
Suatu kali Iren chat via WA, ‘Wauwa ada kesibukan hari inikah?’ tanya Iren dengan sopan, ‘Tidak ada koke (sapaan akrab untuk pria dalam bahasa Mee), bagaimana?’ balas saya, ‘Baik Wauwa sa jemputkah, kita cari buku?’ mintanya, ‘Baik nan ke STFT aj’ saya membalas, kemudia segera siap. Ia tiba di STFT, sebelum ke toko buku lain, saya mengajaknya membeli empat buku di Sekretariat STFT, dua buku Psikologi Agama dari Prof Nico Deister, 1 buku ‘Orang Papua di Persimpangan Jalan’ dari Uskup Bernard Baru, dan satu lagi buku ‘Pengantar Pastoral Konseling’.
Setelah membeli empat buku ini, kami bergegas ke toko buku ‘Honai Center’, sebuah toko buku yang terletak di jalan masuk Kampus Poltekes, Padang Bulan, Abepura-Jayapura. Ini toko buku yang menjajakan buku-buku karya Pdt. Dr. Sokratez Sofyan Yoman dari karya-karya awalnya sampai yang paling terbaru. Saya menyuruh Iren memilih topik-topik buku yang ia gemari. Banyak buku ia ambil dengan antuasias, hampir sebagian besar buku karya Socratez ia beli habis. Kami pulang ke STPK, ia sangat bahagia, berulang-ulang ia ucapkan terima kasih kepada saya.
Saya membantu Iren, bagi saya ia berbeda, ia menggunakan uang beasiswa untuk membeli banyak buku, hal yang jarang terjadi di kota studi. Ia tidak membeli motor, pakaian baru, atau barang-barang mewah lainnya, apalagi membeli miras, sebagaimana yang kebanyakan dilakukan para mahasiswa tatkala menerima dana bantuan pemerintah atau beasiswa. Ia membeli buku yang berkualitas, dan ini menarik untuk saya. Jarang-jarang hal seperti ini saya jumpai di Kota Studi Jayapura.
Saya melihat rupanya kaki Iren belum begitu pulih, mala makin parah. Saya mendesaknya untuk yang kesekian kalinya segera ke dokter terapi. Ia menurut. Saya tidak tahu apakah ia pergi atau tidak. Saya semakin kaget lagi karena kali ini ia sudah memakai tongkat. Sungguh, ia sepertinya akan pincang untuk waktu yang tidak cepat. Tapi Iren adalah tipikal anak yang unik dan berjiwa petarung. Ia tidak surut daya juang dengan keterbatasan keadaan. Ia selalu menganggap remeh semua sakit yang ia derita. Idealismenya untuk belajar dan berjuang dalam hidup terlalu tinggi, sehingga kelemahan fisik, seperti sakit tidak menjadi fokus perhatian utamanya.
Hari ini, di tengah guyuran hujan di Lembah Hijau, saya mendapatkan berita kepergiannya yang begitu cepat ke tanah air surgawi. Ia pergi menghadap Tuhan dalam usia yang masih begitu muda sekali. Ia meninggalkan banyak cerita yang kini tinggal kenangan. Ia terlalu dewasa dalam berprinsip di usianya yang berumur tunas. Ia tidak pulang sebagai guru agama dan pewarta iman bagi saudara-saudarinya di Kampung sebagaimana cita-cita awalnya. Ia pulang membawa tubuhnya yang lemah, sakit, dan kakinya yang pincang. Tapi saya yakin ia sudah tidak sakit dan tidak pincang lagi dalam Kerajaan Allah. Selamat Jalan Iren. Doa kami mengantarmu.
Mauwa, 20 Agustus 20025
🖤🤍🌺



Komentar
Posting Komentar