GEREJA SERBAGUNA

 


(Mewaspadai Iman Skolatisme-Sekuler Barat, Membangun Iman Mistisisme-Kultural Timur)


*Degei Siorus


Dalam sebuah seminar online 2020 yang diselenggarakam oleh Kanton Seger 2020 (Katekese Online Seputar Gereja:https://www.youtube.com/live) dengan tema 'Masa Depan Gereja Katolik di Eropa' Uskup Paulus Budi Kleden, SVD yang kala itu menjabat sebagai superior general SVD sedunia (SVD: Societas Verbi Divini atau Serikat Sabda Allah) membagikan pengalamannya saat berkarya di Eropa. Terjadi perubahan yang amat radikal dalam kehidupan iman umat beriman di sana. Banyak umat yang memilih untuk tidak hadir dalam Gereja selama 20-50 tahun belakang ini. Alasannya macam-macam, Gereja yang adalah lembaga sakral rupanya sudah mulai berubah menjadi lembaga sekular. Akibat sekularisme yang menggurita di sana, jumlah umat berkurang. Orang-orang lebih memilih menjadi kristen anonim, kristen pasif. Status sipil mereka memang beragama kristen, tapi mereka tidak aktif melibatkan diri pada kehidupan menggereja. 


Gereja-gereja di Eropa menjadi sepi. Untuk itu masa depan Gereja Katolik di Eropa menjadi samar-samar dan dipertanyakan. Mereka yang memulai misi pemberitaan Injil, mereka yang terkemudian dalam mengenal dan memahami Injil Tuhan, Yesus Kristus, Roh Kudus, dan segala tali parutnya, namun kini mereka terhempas keluar jauh kebelakang, dan tentu saja orang-orang yang dulu dipandang sebagai yang terbelakang mulai tampil kemuka sebagai misionaris, laskar-laskar pemberita Injil yang ulung. Banyak misonaris dari dunia ketiga yang mulai berpikir segala macam cara untuk mencari domba-domba sekaligus gembala-gembalanya yang hilang tersesat di rimba sekularisme Eropa.


Uskup Budi Kleden sebagai pimpinan SVD waktu itu mulai memutar otak bersama dewan pimpinan yang lain untuk bagaimana bermisi di seantero dunia pertama yang sudah tereduksi kristianisme anomin, kristen KTP, bahkan ada juga yang terpapar ateisme baru. Banyak imam, bruder, suster, dan kaum religius lainnya dari Asia, Utara dan Afrika yang tersebar di Eropa. Misi mereka hanya satu, yaitu menggembalikan Eropa pada kejayaan kekristenan awal. Ini tentu tugas berat.


Sejauh yang saya tahu bahwa situasi ini terjadi pertama-tama karena Gereja-Gereja di Eropa terlalu lembek dalam spiritualitas dan lunak dalam praksis pastoral, tidak militan dan puritan sebagai laskar murid kristus. Teologi-teologi yang mereka kembangkan, wartakan, dan hidupkan semua hanya berpusat pada logika, pada rasionalitas. Teologi mereka begitu daging, tidak ada refleksi teologi yang bermuara pada latihan-latihan rohani yang mencerahkan budi dan membebaskan daging menuju pada subjek transenden yang integral, jiwa yang terkoneksi dengan alam semesta.


Teologi barat mengunyah filsafat barat yang penuh rumus logika yang berbelit-belit itu sejak Aristoteles sampai Rene Decartes secara mentah-mentah tanpa mengendapkan dan mengkristalisasikannya dalam hidup kontemplasi dan meditasi. Aspek intelektualitas menjadi corak utama teologi barat. Teolog-teolognya adalah orang-orang akademia yang mengenal dan memahami Tuhan bukan dari dalam hidup doa yang ortodoks, melainkan dari hasil baca buku, dari hasil penjelajahan ilmu di perpustakaan. Kampus menjadi pusat teologi, bukan biara, kepela, dan ruang doa. Padahal akar teologi itu adalah doa, komunikasi dan relasi intim antara Tuhan dan manusia. Para nabi dulu dalam perjanjian lama, Yesus Kristus dan Para Rasul, Paulus misalnya dalam perjanjian baru, para bapa Gereja awal dalam bentangan partristika, mulai dari Santo Agustinus, Thomas Aquinas, Bonaventura, Aneselmus Canterbury, dan lainnya mereka mengembangkan teologi-teologinya bukan saja dari hasil baca buku melainkan dari hasil doa. Tuhan mereka kenal dari dalam hidup doa yang puritan, hidup kontemplasi ala biara-biara kontemplatif. Para bapa Gereja yang merintis teologi kita ini lahir dari rahim spiritualitas ordo-ordo kontemplatif, semisal dominikan, fransiskan, dan agustinian. Sarang teologi Katolik adalah tiga ordo ini. Kemudian barulah mereka mulai membuka pintu biara untuk merangkul beban dunia.


Uskup Bernardus Baru, OSA sebelum menjadi Uskup, kala berstatus sebagai dosen Agama dan Masyarakat, Teologi Agama-Agama, dan Misiologi di Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur Abepura-Papua selalu membagikan pengalamannya selama 8 tahun lebih hidup di Eropa. Menurut Uskup Bernard agama dan teologi kristen di Eropa sudah kehilangan sesuatu yang penting dalam iman, yaitu hati dan spiritualitas. Saya kira mendiang Paus Fransiskus juga menekankan hal ini dalam Ensiklik terakhirnya yang bernama 'Dilexit nos', yang berisi tentang kasih manusiawi dan Ilahi dari Hati Kudus Yesus Kristus.


Orang Eropa tidak mengandalkan kekuatan hati, kekuatan estetika dan rasa. Logika menjadi dikator yang telah membantai dinasti-dinasti hati. Padahal spiritualitas itu wadasnya adalah hati, spirit itu daya, semangat, ia tinggal dan bernyawa dalam relung jiwa, bukan dalam neuron otak, kepala, sebab itu hanyalah palungan bagi rasionalitas. Uskup Bernard sepulangnya dari beberapa negara di Eropa, seperti Jerman dan Belanda kemudian membagikan pengalamannya bahwa sudah saatnya kita meramu teologi kita sendiri, teologi yang kaya akan spiritualitas, yang lahir dari mistisisme budaya kita, inilah yang selama ini dirindu-rindukan oleh teolog-teolog kristen di belajan bumi Eropa. Mereka sudah kehilangan mistisisme, sekarang adalah tugas Gereja-Gereja Asia, Afrika, dan Pasifik untuk kembali melakukan misi keluar yang kedua kalinya di Eropa.


Tugas sarjana teologi Papua adalah mengembangkan filsafat Papua. Filsafat Papua yang dikembangkan harus lahir dalam iklim mistisitas yang terkandung dalam rahim kearifan lokal budaya setempat, bukan saja iklim kampus atau fakultas-fakultas disiplin ilmu teologi. Saya melihat bahwa kita hanya mampu meramu filsafat dan teologi Papua melalui sebuah dapur, semacam lembaga studi di bawah asuhan sekolah-sekolah teologi-filsafat yang tersebar di Papua dari lintas Gereja yang ada.  


Filsafat yang khas Papua artinya filsafat yang harus mencerahkan dan membebaskan filsafat-filsafat sebelumnya yang berkembang di dunia lain atau setidaknya filsafat yang mampu melakukan dialog yang dialektis dan bermartabat dalam kerangka dekolonisasi epistelomologis. Kenapa ini penting? Sebab bahaya jika kita menghilangkan aspek Gereja sebagai sakramen keselamatan yang mahasuci, tempat Allah Tritunggal bersemayam. Bisakah Allah bersemayam dalam kubangan lumpur dosa duniawi? Bisakah Tuhan bersemayam dalam gedung-gedung Gereja, biara, dan rumah doa yang arsitekturnya glamor? Bisakah Allah tinggal dalam rumah yang berwadaskan keringat, darah, dan nyawa orang-orang tak bersalah dan berdosa? Bisakah Tuhan dekat dengan manusia-manusia pembeol yang makan-minum uang haram dan uang darah? 


Beriman itu bukan soal materi, tetapi misteri. Materi yang tidak mengantar kita pada misteri iman itu hanya akan jatuh pada sekularisme-sekularisme agamis yang sedang dibawa ke sana ke mari oleh angin globalisasi-digitalisasi-teknologis.


Gereja-Gereja kita akan kosong dan bertransformasi menjadi gedung serbaguna. Gedung serbaguna, adalah gedung multifungsi. Ia bisa menjadi tempat doa, tempat rekreasi, setelahnya menjadi lapangan olahraga, bisa jadi pasar: tempat orang jual-beli suara, jual beli citra nama baik, adu kemapanan materi dan lainnya. Bisa juga menjadi tempat rapat, sidang, atau musyawara tertentu. Di Eropa bahkan ada bangunan bar, diskotik, hotel, restoran, mall, dan lainnya yang dulunya adalah gedung Gereja.


Saya melihat pelan tapi pasti gejala itu juga bisa kita jumpai dalam Gereja kita. Anda sendiri tahu, ada Gereja yang dalam sehari bisa disulap menjadi tempat rapat, ruang sidang politik praktis atau bisnis ekonomi-politik. Ada juga yang dalam sehari disulap menjadi panggung kampanye politik praktis. Ada pasangan calon pemimpin tertentu yang menggunakan mimbar sabda Tuhan sebagai mimbar sabda hantu menjelang pesta pemilu. Mereka menyulap Gereja menjadi pasar gelap, tempat prostitusi, lokalisasi, tempat perpeloncoan, bar, diskotik, dan lainnya. Ini isu tragis, namun tidak kita gubris serius. Budaya pembiaran rupanya sudah melekat kuat dalam kalbu dan sanubari kita.


Saya sengaja menulis hal ini supaya sejenak kita berefleksi bahwa gedung-gedung besar yang sedang secara musiman hari-hari ini kita bangun di sekitaran lingkungan Gereja kita bukan tidak mungkin akan menjadi ruang serbaguna, beberapa gedung Gereja di pusat-pusat kota sudah membuktikan itu dan semua umat membiarkan itu sebagai suatu kewajaran, mereka takut protes karena takut dianggap dosa, seakan-akan para perampok, bahkan penjajah berwajah gembala berjubah agama itu adalah tuhan, utusan ilahi. Teologi rumah doa, Gereja sebagai sakramen mahakudus tidak semua kita pedomankan, namun Gereja sebagai persekutuan dan institusi berhirarki diterapkan secara pragmatis, dangkal, dan temporal, lagi-lagi pintu gerbang Gereja kita buka lebar-lebar bagi masuknya racun iman bernama sekularisme.


Sudah saatnya Gereja kita inisiasi menjadi Papua. Oktaf keimanan harus dinaikkan dimulai dari para pemuka agama lebih dulu, mereka benar-benar harus menjadi tampil dan hadir sebagai 'In persona Christi' atau 'Imago Dei' bukan saja pada saat memimpin doa syukur agung dalam perayaan Ekaristi kudus di Altar, tetapi terlebih juga dalam teladan hidup, terutama teladan kenabian dan kemartiran di jalan-jalan perjuangan menegakkan bumi seperti di dalam kerajaan surga. 


Kita tidak bisa mewartakan Kristus yang kita dapatkan di sekolah dan kampus, tetapi kristus yang kita jumpai dan alami di kampung dan ladang kehidupan, zona realitas konflik. Tuhan yang kita wartakan dan tunjukkan harusnya bukan Tuhan yang kita kenal lewat kepala, tetapi yang kita alami dalam hati. Bukan Tuhan pengetahuan yang kita katolisitaskan, melainkan Tuhan pengalaman yang kita katekesekan. Iman itu harus kita pahami, dalami, alami, dan amali. Kita baru pada tahap pamahaman, beberapa sudah mulai mendalami, sangat sedikit sekali yang mengalami, dan hampir nihil yang mengamalinya dalam hidup sehari-hari. Inilah yang dinamakan transendensi subjek ilahi, mengkosekrir diri, sesama, dan alam dalam pancaran kasih dan kerahiman ilahi. 


KPR Siriwini, 22/07/25

🌺

Komentar

Postingan Populer