Teologi Pembebasan dan Realitas Papua dalam Terang Pemikiran Mahatma Gandhi , Hélder Câmara, dan Romo Mangunwijaya
"Iman tanpa perbuatan adalah mati." (Yakobus 2:17) Dalam konteks ketidakadilan, iman bukanlah pelarian, tetapi perlawanan.
Oleh: Yulianus Kebadabi kadepa
Dalam bukunya Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isi (2021), Francis Wahono Nitiprawito menegaskan bahwa iman tidak pernah netral. Iman yang otentik menuntut keberpihakan terhadap kaum tertindas dan sebuah prinsip yang menjadi roh dari teologi pembebasan.
Realitas Papua saat ini merefleksikan krisis moral dan kemanusiaan yang akut: eksploitasi sumber daya, marginalisasi masyarakat adat, serta kekerasan negara yang membungkam suara profetik. Dalam terang pemikiran Wahono dan tokoh-tokoh pembebasan spiritual dunia seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., Dom Hélder Câmara, dan Romo Mangunwijaya, Papua bukan hanya soal isu politik, tetapi juga panggilan moral dan spiritual.
Pembangunan yang tidak memerdekakan pembangunan di Papua seringkali dibingkai sebagai “kemajuan”. Jalan dibuka, jembatan dibangun, tambang beroperasi. Namun pertanyaan utamanya adalah: untuk siapa pembangunan ini dilakukan?
Dalam kerangka teologi pembebasan, ini bukan pembangunan, melainkan bentuk baru kolonialisme struktural. Seperti dikatakan Wahono (hlm. 79-82), proyek pembangunan yang tidak menghargai martabat lokal dan meminggirkan masyarakat adat adalah bentuk penindasan yang terselubung.
Gandhi mengkritik keras modernitas yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam Hind Swaraj, ia menyebut pembangunan modern sebagai "peradaban tanpa jiwa". Apa yang terjadi di Papua hari ini adalah cerminan dari pembangunan yang memisahkan teknologi dari moralitas.
Suara profetik yang dibungkam. Tokoh spiritual dan aktivis iman di Papua baik pendeta, pastor, maupun tokoh adat sering menjadi sasaran kriminalisasi. Mereka disebut separatis hanya karena menyuarakan penderitaan rakyatnya.
Martin Luther King Jr. dalam Letter from Birmingham Jail menulis bahwa “ketidakadilan di mana pun adalah ancaman bagi keadilan di mana pun.” Ketika suara profetik dibungkam, kita sedang menyaksikan kematian nurani publik.
Demikian pula Romo mangunwijaya, dalam karya dan praksisnya di Kali Code dan Papua, menolak agama yang bungkam terhadap kekuasaan. Bagi Romo Mangun, iman harus berpihak pada rakyat kecil, bukan bersekongkol dengan kekuasaan.
Agama: Membebaskan atau membungkam? Teologi pembebasan menantang posisi lembaga agama yang netral atau kompromistis terhadap kekuasaan. Di Papua, gereja sering menjadi satu-satunya harapan rakyat. Namun bila gereja hanya berfungsi sebagai pelipur lara spiritual tanpa membela hak rakyat, maka ia telah mengkhianati misi profetiknya.
Dom Hélder Câmara, Uskup Brasil yang menjadi ikon teologi pembebasan, pernah berkata:
“Jika saya memberi makan kepada orang miskin, mereka menyebut saya orang suci. Tapi jika saya bertanya mengapa orang miskin tidak punya makanan, mereka menyebut saya komunis.”
Di Papua, banyak tokoh gereja yang mempertanyakan ketimpangan struktural dan justru dituduh makar. Ini menunjukkan bagaimana agama bisa menjadi alat pembebasan, atau justru instrumen pembungkaman, tergantung bagaimana ia dipraktikkan.
Praksis Iman dalam Konteks Papua Francis Wahono (hlm. 147–160) menekankan bahwa teologi pembebasan bukan hanya teori, tetapi praksis konkret. Di Papua, ini bisa diwujudkan dalam bentuk: pertama, Pendidikan kontekstual: Mengembangkan sekolah berbasis budaya dan bahasa lokal. Yang kedua,.Kesehatan komunitas: Klinik rakyat yang dikelola oleh komunitas adat. Yang ketiga Liturgi kontekstual: Ibadah sebagai ruang kolektif untuk menyuarakan luka dan harapan rakyat. Yang keempat, Gerakan lintas iman dan budaya: Perlawanan damai terhadap penindasan struktural dan ekologis.
Romo Mangun menulis: “Gereja yang sejati adalah yang hidup dan menderita bersama umatnya.” (dalam Pasar Klewer, 1994)
Dengan demikian, iman yang memanusiakan. Papua adalah cermin bagaimana teologi pembebasan diuji dalam realitas konkret. Apa gunanya agama jika ia tidak membela martabat manusia yang diinjak-injak?
Dalam semangat Gandhi, King, Câmara, dan Romo Mangun, iman yang sejati bukanlah dogma yang mati, tetapi energi moral dan spiritual yang membebaskan. Sebab, seperti kata Wahono, keselamatan bukan hanya soal kehidupan kelak, tapi bagaimana manusia diperlakukan hari ini di tanahnya sendiri.
Daftar Pustaka
Wahono, Francis Nitiprawito. 2021. Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, Gandhi, Mahatma.1909. Hind Swaraj or Indian Home Rule. Ahmedabad: Navajivan Trust, King Jr., Martin Luther. 1963. Letter from Birmingham Jail. Câmara, Dom Hélder.1971. Spiral of Violence. London: Sheed and Ward, Mangunwijaya, Y.B. Pasar Klewer. 1994. Catatan Harian Romo Mangun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Gutierrez, Gustavo. 1973. A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation. Maryknoll, NY: Orbis Books, Sugijanto, Wawan. "Gereja dan Konflik di Papua." Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia, Vol. 6, No. 1, 2020.



Komentar
Posting Komentar