CINTA BEDA IDEOLOGI

 


(Sebuah Cerpen)

Keterangan: Lukisan ‘Senjata’ karya Geoge Gavriel, pelukis asal Siprus.

*Siorus Ewainaibi Degei

Sore menjelang malam, sekitar pukul 18:30 mentari sudah menyembunyikan mukanya, dari kejauhan terlihat seorang Bapa dan putra sulungnya pulang dari sebuah pertemuan rahasia dengan beberapa pemuda menggunakan motor vespa keluaran tahuan ‘60an.

Mereka tidak balap tidak juga pelan, mereka jalan sambil mengaspal santai menikmati balada unggas hutan dan panorama pepohonan lebat. Sang ayah memanfaatkan kesempatan bersama ini untuk menyampaikan wejangan-wejangan kesatria bagi putra sulungnya, ‘Tom, kau adalah putra sulung. Sebagai anak pertama tanggun-jawab keluarga ada pada tulang punggungmu selepas bapa tua atau meninggal’ ungkap sang ayah.

‘Iya bapa. Tapi jangan dulu bicara soal meninggal, Tommy, Mama sama ade Jack masih butuh bapa’ jawab Tommy dengan nada datar penuh mohon.

Rupanya ada pohon cemara berukuran besar yang tumbang memalang tubuh jalan yang hendak mereka lalui. Keadaan makin gelap, Tommy dan ayahnya hampir menabrak pohon tersebut. Sang ayah mulai berfirasat buruk, ‘Tom, tenanglah di sini, Bapa cek dulu ke sana’ minta sang ayah, ‘Tom mau ikut bapa’ paksa Tommy, ‘Tidak Tommy tunggu bapa di sini jangan kemana-mana, ini sudah mulai gelap’ larang sang ayah.

Arnold, Bapa Tommy demikian ia disapa mengecek situasi, rupanya cemara ini tidak tumbang akibat longsor atau angin besar, melainkan ada yang sengaja merobohkannya sebab ada tebasan kampak logam. Sang ayah semakin mendekat, ‘Saudara Arnold, Anda ditahan, jangan bergerak’ suara ancaman dari dalam semak belukar keluar mengejutkan, ‘Baik, siapa saudara gerangan, dan ada perlu apa dengan saya’ Balas Bapa Tommy. Bapa Tommy dijegal oleh beberapa orang misterius berbusana preman lengkap dengan senjata api. Merasa ada yang kurang beres dari kejauhan, Tommy turun dari atas motor dan menepi ke pinggir hutan dan bersembunyi. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi yang jelas adalah bahwa ada orang jahat yang sedang memalak mereka.

‘Kita kooperatif saja bung Arnold demi keluargamu di rumah, kasihan nasib istri dan kedua putra kecilmu’ paksa seorang dari gerombolan misterius ini, ‘Saya tidak akan kerjasama, percuma kalian memaksa saya pun, tekad saya sudah bulat, kalau mau bunuh, ya bunuh saja, sebab saya tidak akan kompromi dengan musuh. Saya sudah makan tanah dan berjanji’ tegas Bapa Tommy menampik mentah semua desakan dan permintaan mereka. ‘Tup..tup..tup..’ bunyi beberapa tembakan selongsong peluru yang merobek tubuh Bapa Tommy. Dari kejauhan Tommy mendengar suara tembakan sebanyak 5x itu, ia hanya diam dan terpojok dalam rasa takut dan sedih.

Bunyi gas mobil yang tertancap balap, dengan cepat Tommy keluar dari persembunyiannya. Ia melihat mobil berwarna hitam itu melaju di ujung jalan, ‘Bapa..bapaa...bapa..’ Tomy memanggil dan mencari ayahnya dalam ketakutan. Bukan balasan suara yang memanggil namanya yang muncul seperti biasanya, melainkan jasad tubuh ayahnya yang tewas mengenaskan di balik pohon cemara yang tumbang. Darah segar membasahi kulit aspal, ‘Tuhan Yesus, bapa’ pecah tangisan histeris Tommy mendapati mayat ayahnya yang dibunuh dengan keji itu. Tommy memeluk jasad ayahnya, ‘Bapa bangunkah, bapa, ado Tuhan tolong, bapa bangunlah, di sini gelap, Tommy takut, bapa bangunlah, kita pulang ke rumah sudah, mama sama ade Jack sedang menunggu. Mari pulang bapa’ Tommy hancur menggila dan ketakutan.

Tidak berselang lama, ada beberapa warga kampung yang datang, mereka berhenti, dua orang pria turun dari mobil dengan membawa parang guna membersihkan jalan dengan menebang batang pohon cemara yang tergeletak memalang badan jalan. Ketika mendekat mereka terkejut dan ketakutan melihat lumuran darah manusia yang mengalir, ‘Anak-bapa ini mati tergilas pohon pasti’ ungkap seorang warga, ‘Tidak, kalau lihat dari lukanya, ini macam luka tembak’. Semakin mendekat mereka mengenali wajah korban, ternyata itu adalah mayat Arnold, seorang yang cukup terkenal dan berpengaruh di kalangan pasukan gerilyawan. Di samping mayat Arnold ada tubuh seorang bocah, itu adalah Tommy yang pingsan di sisi ayah. Para pemuda yang melihat itu memanggil warga lainnya. Tubuh Arnol dan Tommy di bawah ke Puskesmas terdekat untuk dibersihkan. Di dalam mobil, Tommy terbangun. Ia kaget dan menangi menjadi-jadi sambil menyebut-nyebut nama sang ayah.

Istri Arnold, Helena dan adik Tommy, Jack datang. Keluarga kecil yang bernasib malang ini bertemu di kamar mayat. Tommy belum bisa berbicara, ia mandi darah ayahnya, terdiam kaku lemas, mata melotot jauh, tubuhnya gemetar ketakutan dan kedinginan. Ia mengalami trauma yang berat.

Beberapa Bulan kemudian, Tommy mulai berbicara pasca 3 Bulan menjalani rehabilitasi dan terapi di psikiater. Ia berkisah tentang kematian ayahnya. Beberapa teman ayahnya datang, mendengarkan cerita Tommy.

Sebagai putra sulung, Tommy memilih untuk merantau ke luar kota. Dari tempat yang jauh ia membiayai keluarga kecilnya, termasuk biaya pendidikan adiknya Jack. Jack dan ibu tinggal di kampung. Sekali-kali Tommy akan pulang untuk berlibur bersama keluarganya. Ia belum bisa menikah, faktor pekerjaannya yang extra padat. Ia gemilang dalam pekerjaannya, sehingga adanya keluarga menurutnya hanya akan memundurkannya dari jarak impian yang sudah dekat.

Setelah 4 tahun tidak rayakan natal bersama keluarga, Tommy pulang kampung. Jack sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan cerdas. Ia sudah diterima di akademi kemiliteran. Tomny bangga dengan kabar tersebut. Tahun depan Jack akan menyelesaikan pendidikannya dan langsung akan ditugaskan. Helena dengan bangga menceritakan kisah itu kepada putranya, ‘Jack adikmu itu sekarang sudah menjadi anggota militer yang tangguh. Dia sangat disegani di kampusnya karena nilai dan sikapnya yang baik’ Kisah Helena dengan bangga dan mata sedikit berbinar, ‘Jack mau jadi tentarakah?’ Kaget Tommy ‘Anak itu tidak tahukah, kalau yang bunuh Bapa itu tentara’ marah Tommy dengan nada keras dan penuh kesal, ‘Kenapa Mama sama Jack tidak bilang dan minta ijin dulu sama saya? Saya ini penganti bapa dalam keluarga ini!’ Sedih Tommy.

Bunyi klakson Mobil Avansa Velox. Jack diantar teman-temannya pulang, ‘Selamat sore Mama’ sapa Jack. Ia melihat ada pria kekar tinggi sedang berdiri dan berbicara dengan Mamanya di ruang tamu. Dari gaya berdiri dan cara berpakaian itu mirip almarhum Bapa, ia tahu bahwa itu adalah kakaknya Tommy. ‘Kakak....kakak’ sahut Jack memanggil kakaknya Tommy. Mereka saling berpelukan dengan erat, Jack tidak bisa menahan rasa rindu dan air matanya, ‘Kaka kerja apa jadi sampai tidak pulang lama sekali begini’ marah Jack dengan nada manja. ‘Nanti Kaka cerita, kaka sudah beli daging, kita makan malam bersama malam ini eh’ jawab Tommy. Tommy mau menegur adiknya atas pilihannya menjadi tentara, namun sebagai Kaka dan orang tua ia juga tidak mau mengacaukan suasana hati sang adik dan masa depan adiknya.

Sebuah motor pink bercampur biru langit parkir di depan rumah Tonmy. Itu adalah Izabella, teman dekat Jack sejak kecil. Ia adalah seorang bidan di desa mereka. Ia sudah tumbuh menjadi wanita cantik, rasa, dan keibuan. ‘Selamat sore’ sapanya ke dalam rumah, ‘Iyah, Oh anak Bidan’ jawab Helen melihat Bella yang datang, ‘Bagaimana anak Bidan’ tanya Helena, ‘Tidak mama. Tadi Kaka Jack suruh datang ke rumah, katanya dia mau pinjam motornya Bella buat ke Pasar mau belanja katanya’ jelas Bella dengan sedikit malu. Jack datang dari kamarnya, ia sudah rapi. Mereka berpamitan dengan Helena dan bergegas ke Pasar membeli segala sesuatu yang mereka butuhkah, ‘Bell, sementar ikut malam di rumah yah, Kaka Tommy juga sudah datang jadi biar kenal-kenalan dengan Kaka dia, supaya kalau saya bicara juga nanti aman-aman saja untuk pertunangan dan pernikahan kita’ ungkap Jack di tengah jalan kepada Bella yang sedang dengan saksama memeluk dan mendengarkannya dari belakang, ‘Saya masih takut dengan Kaka Tommy Jack. Tapi bisa, saya akan ikut untuk makan malam nanti’ jawab Bella dengan sedikit canggung, “Kaka Tommy itu orangnya baik, pembawaannya saja yang terlihat seperti orang jahat, padahal dia sosok yang baik sekali. Ok jadi fix, berarti ikut yah makan malam bersamanya” senang Jack.

Sepulang dari pasar, Bella membantu Helena, calon mertuanya di dapur. Mereka memasak banyak masakan enak malam ini. Tommy keluar dari kamarnya. Ia sudah rapi, ia selalu tampil dingin, tidak banyak bicara, hanya matanya yang menatap tajam. Semua sudah duduk, Tommy memimpin doa makan. Mereka makan bersama, suasana yang hangat.

Jack memegang tangan Bella dengan erat. “Jack, Bella, kalau kalian berdua sudah yakin mau hidup sama-sama, Kaka setuju dan mendukung, yang penting kalian berdua harus saling setia dan menjaga sampai menua bersama” Tommy membuka pembicaraan baru sehingga suasana menjadi tenang. ‘Kaka maksudnya bagaimana nih, jadi Kaka setuju Jack sama Bella yah’ Tanya Jack ulang dengan takut dan penasaran dengan sedikit nada gemetar, ‘Kaka tahu hubungan kalian berdua. Jadi, Kaka selalu pantau Jack sama Mama dari jauh, hahahaha....sudah kalian berdua jangan takut, biasa aj. Nanti adik Bella tinggal bicara lagi sama Bapa-Mama di rumah aj’ minta Tommy kepada Bella dan Jack, ‘Kalo Bapa Mama di rumah aman-aman aj kak. Bapa juga tentara lulusan akademi militer jadi dia juga sudah setuju pas Bella bilang sama Jack. Mereka lalu bilang Bella sama Jack tunggu Kaka Tommy pulang dulu lalu kita minta restu lagi sama kaka. Syukur kaka restui’ jawab Bella dengan nada tenang.

Hampir dua Bulan lebih Tommy habiskan bersama keluarga. Ia menyaksikan sendiri adiknya menyelesaikan pendidikannya di kampus dengan prestasi baik. Ia juga menjadi saksi adiknya menikah di Gereja dan diberkati oleh Pastor. Kini tiba saatnya ia kembali ke tempat tugas. Sampai sejauh ini pun Jack dan Helena tidak tahu di mana Tommy bekerja. Mereka berpisah, Jack memulai hidup barunya bersama Bella.

Perang antara militer dan gerilyawan juga mulai memanas. Militer banyak mengalami kekalahan dalam operasi-operasi militer yang mereka jalankan. Banyak nyawa di kalangan militer yang berjatuhan di medan konflik. Keluarga mereka, anak-istrinya menjadi yatim-piatu dengan begitu cepat. Para petinggi membuat rapat terbatas di komando pusat. Semua pimpinan, para jenderal dari berbagai angkatan perang diturunkan.

Arnold, bapa Tommy dulunya dulunya sebenarnya adalah seorang panglima gerilyawan yang melawan pemerintah dan militer lewat jalur kombatan. Ia menjadi penyuntik alutsista perang bagi kelompok gerilyawan di beberapa titik KODAP yang paling sering melakukan kontak senjata dengan militer dan menumpas banyak orang. Oleh karenanya ia dianggap berbahaya. Nama samaran Arnold adalah Sampari. Sampari sudah ditumpas oleh pasukan elit khusus sejak lama dalam operasi ‘babi hutan I’.

Kini setelah kepergian Sampari muncul sosok baru yang meresahkan dan merugikan pihak militer lebih brutal dari Sampari pada 5-10 tahun terakhir. Pihak militer baru mengetahui identitas jenderal perang yang baru ini, namanya adalah Agen. Agen adalah jenderal gerilyawan yang pemberani, ia sangat terlatih dan tangguh dalam seni tempur di medan perang, tidak pernah ada jejak yang ia tinggalkan di lokasi operasi, semua terjadi cepat dan cermat seperti kibasan kilat.

Menanggapi semua itu, rapat terbatas diadakan. Semua elite militer berkumpul, menyiasati strategi pembunuhan jenderal Agen. Salah yang hadir kala itu adalah Jack. Sebagai lulusan terbaik dan militer yang memiliki karir menonjol di atas rata-rata ia menjadi bintang dalam pertemuan ini. Pertemuan rahasia berlangsung alot. Setiap jenderal berembuk menyampaikan informasi dan pembacaannya. Nama operasi diputuskan, operasi ‘babi hutan II’. Mereka juga memilih siapa yang akan memimpin operasi ini, banyak kandidat jenderal yang menolak dan menarik diri dari penugasan ini. Tidak ada yang berani memimpin operasi ‘perburuan babi hutan II’. Mereka tidak berani memburu bayangan maut di malam hari. Mereka semua menyodorkan nama Jack. Jack menjadi nama yang paling banyak para jenderal usulkan menangani operasi ini. Akhirnya, Jack sepakat. Ia didapuk dan didaulat oleh institusi militer menjadi komando operasi. ‘Halo Jack, ada berita baik buatmu sayang. Kamu akan segera jadi seorang ayah’ ungkap Bella dengan rasa bahagia. ‘Syukurlah, puji Tuhan. Sekarang kamu harus jaga kesehatan. Aku tidak mau anak kita mengalami masalah dalam proses kelahirannya’, jawab Jack penuh kehangatan cinta, ‘Kamu kapan balik Jack’ tanya Bella dengan penuh harap, ‘Secepatnya Bell. Kamu tahu sendiri ini pertemuan yang padat dan penting sekali.’ Jawab Jack dengan berat hati. Ia baru mau jujur, namun amat berat, ‘Oh iyah Bell. Aku mau sampaikan sesuatu yang penting padamu, tapi kamu jangan khawatir, fokus saja dulu sama kandunganmu’ minta Jack, dari nada suara Jack Bella tahu Jack sudah mendapatkan panggilan tugas operasi yang berat, ‘Bilang saja Jack. Kita sudah biasakan begini’, pinta Bella, ‘Bell, para pemimpin memilih aku sebagai komandan operasi khusus’, ungkap Jack dengan hati tegar, ‘Ya Tuhan, operasi apalagi. Apakah tidak ada orang lain, selain kamu sayang. Kenapa selalu kamu. Aku akan bicara sama pimpinanmu untuk menolaknya’ jawab Bella dengan tidak terima, ‘Tidak bisa Bell, aku sudah terlanjur menerimanya, dan tidak mungkin mengubahnya. Aku mohon sama kamu, tetap tenang ya sayang, ini akan menjadi operasi terakhirku dan berlangsung cepat’ Mohon Jack pada Bella. Dengan berat hati Bella merelakan suaminya mempersiapkan diri untuk operasi, selama 1 Bulan mereka latihan penuh.

Setelah latihan cukup, Jack dan pasukannya menyusuri sungai, memasuki hutan. Agen dan pasukannya bersembunyi di bawah kaki gunung kembar, dua gunung dengan rimba yang lebat dan diapit oleh sebuah niagara raksasa super dingin. Jack dan pasukan memasuki perkebunan orang lokal, ada beberapa orang tua ringkih melihat mereka lewat dengan busana perang. Mereka terkejut, Jack menyuruh anak buahnya untuk tidak bertindak gegabah. Simon, seorang tangan kananya menyarankan agar mereka menghabisi tiga wanita tua yang baru pulang kebun itu, namun Jack menolak niat Simon itu. Sebab musuh dan target utama mereka bukan warga sipil, melainkan Agen dan gerombolannya. Tiga wanita ini bebas dari Jack dan pasukannya. Mereka lari ketakutan ke kampung, dan memberitakan kedatangan pasukan militer kepada warga yang lain, semuanya yakin akan ada perang besar, jadi mereka lari meninggalkan kampung, ke kampung tetangga yang jauh lebih aman. Informasi kedatangan Jack dan pasukannya pun sampai di telinga Agen dan pasukannya, mereka lebih dulu menjemput tamu mereka itu. Jack sudah mulai merasa bahwa keberadaan mereka sudah tercium oleh musuh, oleh karenanya mereka mengubah rute, membagi pasukan menjadi kubu, ada yang akan melewati gunung dari sisi barat, ada juga yang dari sisi Timur. Simon membawa pasukan A, Jack membawa pasukan B. Dengan mudahnya Agen sudah melihat pasukan Simon dari jauh, mereka bersembunyi dengan rapi, adu kabu tembak pun tak terhindarkan. Simon dan pasukan Agen membuat ribut semesta hutan lebat yang tenang itu dengan bunyi tembakan. Ada beberapa di antara pasukan Simon yang terluka, termasuk Simon sendiri yang terkena lengan kiri dan paha kanan, oleh Joy, penembak jitu milik Agen. Simon meminta bantuan Jack, datang dari samping pasukan Agen, Joy mati di tangan Jack, beberapa pasukan Agen pun tumbang. Agen menyuruh anak buahnya mundur. Agen kembali, dan memutar haluan penyerangan. Rupanya Agen yang maju ini bukanlah Agen yang sebenarnya, Agen yang sebenarnya sudah menanti Jack dan rombongannya di jalan pulang, tepat di dalam dan di tepi sungai. Agen menembak kepala Simon, beberapa pasukan Jack habis, tinggal tiga orang yang terluka kritis. Agen adalah salah satu penembak jitu yang misterius, ia menembak dari banyak arah dan keberadaannya mustahil terdeteksi radar musuh. Ia melihat lebih dekat musuh-musuh yang sudah ia ratakan menggunakan teleskop, di tengah-tengah aparat yang merangkak itu ada satu wajah yang tidak asing, itulah Jack. Agen menyuruh pasukannya mundur.

Operasi ‘babi hutan’ gagal membunuh Agen, justru sebaliknya Jack dan pasukannya yang tumbang. Jack juga menyampaikan bahwa informasi tentang Agen yang mereka dapatkan juga adalah keliru, itu bukan Agen yang sebenarnya, itu adalah beberapa bawaan Agen yang menyamar layaknya Agen, untuk mengelabui lawan, supaya dengan begitu Agen yang sesungguhnya bisa menghabisi musuh pada titik terlemah dan terlengah mereka. Para jenderal kaget dengan semua yang dilaporkan Jack. ‘Halo Jack, bagaimana dengan operasimu, Kaka harap kamu bisa mempertimbangkan lagi keputusannya, kasihan anak-istrimu’ telepon Tommy kepada adiknya, ‘Tidak kaka. Aku masih penasaran dengan sosok Agen ini. Kenapa dia tidak menyelesaikan aku tadi, padahal peluangnya begitu besar’, terang Jack, ‘Jangan bicara seperti begitu Jack. Seharusnya kamu bersyukur kepada Tuhan, karena masih mendapatkan kesempatan untuk hidup. Ingat pertimbangkan lagi niatmu untuk memburu Agen’.

Jack pulang, ia istirahat untuk beberapa bulan sampai putranya lahir. Tommy datang, ia menamai anak Jack ini dengan nama Arnold Putra Sampari. Jack kaget dan beberapa pasukannya yang hadir dengan nama Sampari, karena ini merupakan nama dari seorang legenda gerilyawan paling mematikan yang pernah instansi mereka hadapi, ‘Kaka, maaf, saya mau tanya, kira-kira dari mana Kaka dapatkan nama Sampari ini’ tanya Jack dengan nada penasaran dan sedikit curiga, ‘Ini nama moyang kita Jack. Nama yang dulu ayah gunakan saat masih muda. Kaka mau anak kita ini tumbuh jadi pri tangguh seperti kakek dan ayah-ayahnya’ jawab Tommy dengan penuh meyakinkan.

Setelah sudah pulih, Jack dipanggil lagi, ia mendapatkan panggilan dari pimpinannya. Jack benar, Agen yang sesungguhnya bukan seperti yang mereka anggap selama ini. Jack mendapatkan informasi lengkap foto wajah asli Agen, ternyata Agen asli yang selama ini mereka buru adalah kakak kandungnya sendiri, Tommy. Batin Jack goyang takaruan, namun ia tetap tegap dan profesional. Mereka juga mendapatkan informasi bahwa Tommy ini suka turun dari gunung ke kota, untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Banyak detail informasi yang para jenderal dapatkan tentang Tommy. Maka untuk yang terakhir kalinya para jenderal meminta kesediaan Jack dengan hormat untuk memimpin operasi ‘babi hutan II’, mereka menjanjikan penghargaan yang besar, nama yang besar, dan segala macam bentuk privilese kepada Jack, ia juga akan dibebas-tugaskan dari segala macam operasi militer yang ada.

Sepulangnya, Jack mengajak Kakanya, Tommy untuk bertemu empat mata di samping Gereja, ‘Kaka, tolong jujur sama Jack” minta Jack berdesah tangis, ‘Kenapa Jack, apa yang terjadi, apa yang tidak bisa Kaka buat untukmu selama ini adikku?’ Balas Tommy dengan tenang, ‘Kaka selama ini adalah Agen bukan, pemimpin tertinggi gerilyawan, musuh utama negara kita itu?’ Tanya Jack dengan suara yang penuh kekecewaan sambil menyodorkan bukti-bukti foto dan informasi yang baru saja ia dapatkan yang merujuk pada Tommy. Tommy sedikit terdiam dan menjawab, ‘Benar Jack. Kaka minta maaf. Kaka tidak pernah terbuka sama kamu dan mama selama ini soal pekerjaan kaka selama ini’ ungkap Tommy dengan nada datar penuh maaf, ‘Kenapa kaka buat ini semua. Kenapa kaka tidak mau jujur sama Jack dan Mama selama ini, kenapa Kaka?’ Tanya Jack lagi ingin tahu memaksa kakanya, ‘Kaka sudah mandi darah bapa kita sejak kecil Jack. Kaka sempat pingsan di samping mayat Bapa, sejak saat itu roh dari Bapa bersemayam di dalam jiwa Kaka. Kaka sengaja tidak memberitahu Jack dan Mama karena keberadaan kalian akan berbahaya, jika musuh-musuh kakak tahu, kaka minta maaf yah Jack’, mohon Tommy sambil memegang bahu adiknya ‘Jack bisa dan sudah maafkan kaka, tapi kenapa kaka memilih jadi gerilyawan, kenapa kaka memilih jadi musuh utama negara kaka, kaka sudah tidak sayang Jack, Mama, Bella, dan anak Arnold?’ Jack makin menjadi-jadi histerisnya, sebab ia diminta oleh atasannya hari ini untuk kedua kalinya membunuh Kaka kandungnya sendiri, sosok yang menjadi panutan, bapa, sekaligus sahabat dalam hidupnya itu, ‘Kaka tahu sendiri, Jack sekarang adalah tentara, pemimpin menugaskan Jack untuk memburu dan membunuh Kaka. Sebagai adik, Jack tidak bisa, Jack tidak mampu, tapi sebagai tentara, sebagai komando operasi khusus Jack harus bagaimana, Tuhan Yesus tolong‘ Jack menjelaskan kepada Kakaknya, ‘Jack orang-orang yang dulu membunuh bapa kita adalah pasukan operasi khusus bernama operasi babi hutan I, komandannya yang bunuh bapa, sama seperti posisi Jack saat ini, mereka adalah tentara. Mereka yang bunuh Bapa kita, itu semua Kaka lihat dengan mata kepala kaka sendiri. Mereka awalnya bujuk bapa untuk kerjasama, tapi bapa menolak, akhirnya mereka menembak bapa sekitar 5x dari jarak dekat sampai mati tempat. Kaka mau membalas apa yang sudah mereka buat kepada bapa kita itu aj Jack’ Jawab Tommy dengan nada sedikit tinggi. Kedua adik-kaka yang selama ini tidak pernah saling bentak-membentakan pun harus saling menegur dengan suara tinggi. ‘Kau harus profesional Jack jika itu pilihanmu. Kaka tidak pernah melarang, karena kaka tidak mau mengecewakanmu, kaka tidak pernah melarangmu menjadi tentara, karena Mama yang melarang Kaka untuk tidak membatasimu, kalau tidak, jujur Kaka sudah lama mengeluarkanmu dari akademi militer Jack. Karena kaka tidak mau suatu saat kita bertemu di satu medan perang bukan sebagai saudara tapi musuh’ Ungkap Tommy dengan sedih mengingat niatnya dulu melarang adiknya, ‘Mama sedang sakit di rumah. Ia selalu menyebut nama Kaka, pulanglah ke rumah, mama sangat merindukan kaka’, minta Jack kepada Kakaknya yang telah lama tidak pulang.

Bersyukur sebab semua teman dan pemimpin Jack tidak tahu bahwa Agen adalah kaka kandung Jack, karena memang Tommy punya kharisma khusus dalam menyembunyikan identitas aslinya, termasuk identitas keluarganya.

Agen alias Tommy harus pulang, rupanya mamanya sudah dirawat di puskesmas. Tommy keluar dari tempat persembunyian tanpa senjata, tanpa amunisi, tanpa pasukan. Rumahnya sudah dipadati banyak pasukan elite dari berbagai kesatuan yang terbaik, di sudut-sudut kampung sudah bersiap banyak penembak jitu profesional. Jack menyiapkan semua ini untuk Kakaknya. Mereka memindahkan sang mama yang sakit ke Puskesmas, semua petugas di dalamnya adalah mata-mata militer yang terlatih.

Tommy masuk wilayah kampung tepat 18:30, jam yang sama saat ayahnya akan dibunuh pasukan khusus dalam operasi babi hutan I. Tommy memakai baju jas panjang peninggalan sang ayah yang ada bekas sobekan lima butir timah panasnya, ia juga mengendarai Vespa klasis peninggalan almarhum ayah. Ia dengan mata kaca-kaca menuju Puskesmas. Di depan ruangan ada Helena, wanita tangguh yang menunggu Tommy bersama Arnold, keponakan tercintanya. Jack menyaksikan mereka dengan penuh haru.

Kali ini yang Helena lihat bukan Tommy yang datang melainkan suaminya Arnold. Tommy amat hancur, karena beberapa detik saja ia tidak akan pernah lagi melihat wajah ibu kandungnya, ini kali terakhirnya melihat wajah sang ibu dan memeluk erat tubuh ibunya bersama keponakannya Arnold, sebagai pejuang besar ia tidak takut mati, tapi sebagai seorang anak ia tidak sanggup melihat ibu kandungnya hancur yang kedua kalinya selepas peninggalan ayah, ia takut ibunya juga ikut meninggal bersamanya. ‘Tom, kau seperti sedang takut sekali nak, ada masalah apa nak, ayo cerita sama mama’ minta Helen, ‘Tidak mama, Tom hanya sedikit masuk angin dan dingin, makanya gemetar’ jawab Tom dengan berat, ‘Tidak Tom, Mama bisa merasakan detak jantung dan aliran darahmu, kamu terlihat ketakutan sekali nak, ayo cerita nak, Mama ada di sini’ Ucap Helena sambil mengusap keringat dingin dan air mata dari pipi Tom yang pucat, Helena menguatkan, ‘Tidak apa-apa Mama, Tom hanya sedikit tidak enak badan saja. Tom rindu sekali sama Mama’ tegas Tom. ‘Oh iya Tom, ini ada sebuah surat dari adikmu Jack, katanya sama Mama, tolong berikan ini ke kamu, mama tidak tahu isinya’ ucap Helena sambil memberikan secarik kertas yang terlipat rapat kepada Tom, ‘Setalah Kaka baca surat ini, lampu di seluruh puskesmas akan mati, semua pintu dan sisi sudah dikepung, hanya ada satu jalan yang aman, masuk lewat toilet keluar lewat ventilasi, lalu buka pintu kamar mayat di sana ada jalan keluar yang sudah adik siapkan. Kaka punya waktu 10 menit untuk larikan diri, jika kaka masih di lingkungan rumah sakit, maafkan, Jack adalah orang pertama yang akan menembak kaka’ tulis Jack dengan sungguh kepada kakanya Tommya.

Lampu mati, Agen menghilang dalam sekejap. 10 menit kemudian lampu dan jaringan menyala. Semua pasukan menggeledah Puskesmas. Banyak pasukan yang menyusuri hutan sekitar puskesmas. Rumah-rumah warga digeledah. Para penembak jitu terkecoh, mereka menembak bayangan sang ayah, Arnold yang mereka kira itu Agen. Namun nihil. Agen, buronan paling utama dan paling mematikan itu sekali lagi gagal ditahan. Sejak saat itu operasi pembunuhan Agen berhenti. Jack dibebaskan tugaskan dari operasi rahasia yang terakhir ini. Identitas Agen masih rahasia, hanya Jack yang tahu identitas asli Agen, yaitu Tommy, kaka kandungnya sendiri. Jack baru sadar, Tommy tidak sendiri, roh dari sang ayah senantiasa bersama Tomny dan dirinya. Keduanya berbeda ideologi namun satu dalam cinta, kemanusiaan, dan keluarga. Jauh dalam nurani kecilnya Jack berujar ‘Aku tidak mungkin menyaksikan ayahku meninggal untuk yang kedua kalinya di dalam diri kaka tercintaku, Tommy. (*)

)* Penulis adalah Alummi STFT Fajar Timur, Abepura-Papua.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer