Kali Mati yang Mengalirkan Kehidupan

 



~Degei Siorus


Awal dengar nama Kali Mati pikiran saya terbawa ke Israel, bukan lantaran itu negara spesialis konflik yang sedang hangat diperbincangkan warga jagad, melainkan ada Laut Mati di sana. Laut Mati di Israel menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang menjanjikan. Airnya teduh, tidak ada gelombang, dari kejauhan terlihat seperti cermin raksasa yang tergeletak di padang gurun.


Beda dengan laut mati, di Kampung Egebutu, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai ada juga salah satu destinasi wisata, orang-orang menyebutnya Kali Mati, agak berlebihan memang menamakannya sebagai destinasi wisata sebab letaknya yang cukup menyajikan medan menantang. Tapi masyarakat setempat, terutama anak-anak usia dini selalu menjadikan Kali Mati sebagai Kali yang hidup. 


Kali Mati, airnya jernih, anda bisa berkaca pada kulit airnya yang bening bestari. Air ini berasal dari jantung sebuah bukit. Airnya memiliki kekuatan dingin yang dalam beberapa detik saja mampu membekukan tubuh, meremukkan tulang, dan mengeramkan sendi-sendi. Airnya tenang, dari kejauhan kita tidak akan melihat bahwa airnya mengalir, tidak ada bunyi desiran arus air seperti kali pada umumnya. Dia tenang di permukaan, tapi menghanyutkan dari dalam, jangan salah, arusnya ada di kedalamannya, jika kuda-kuda anda lemah maka arus ini akan membawa anda entah kemana.


Saya menemani beberapa kelompok anak-anak Gereja mengunjungi tempat indah yang terletak jauh dari keramaian kota ini. Beberapa anak terlihat bahagia saat beberapa di antara mereka menghidupkan suasana mati di kali ini. Mereka ceria, tapi hanya sejengal menit saja mereka langsung kedinginan. Ada sekitar 30 menit kami habiskan bersama di Kali Mati ini. Saya tidak mandi, karena lupa bawa pakaian ganti, saya memang hanya mau menemani adik-adik ini, saya berkesempatan mengcuci muka, tangan, dan kaki, untuk ini saja saya sudah di ambang keram kedinginan, harus menarik nafas untuk menahan dingin yang menembus tulang.


Kali ini memang mati, tapi sebagai sumber air untuk beberapa kampung dan ratusan jiwa ia sudah menghidupkan segala mahkluk ciptaan yang ada di sekitarnya. Tanaman di sekitar kali ini subur, tidak terlihat kali ini mengecil atau mengering, ia selalu mengalir dalam rupawannya yang teduh tenang, tidak bersuara dan berisik itu, ia memiliki kekuatan arus hebat yang menghanyutkan.


Saya membayangkan psikologis manusia sejati dari wujud Kali Mati ini. Manusia yang tenang, tidak bicara banyak, tidak ribut, tapi banyak berkontribusi dan berkarya bagi banyak orang dalam diam yang berlian. Bukan jatuh pada mental konotatif diam-diam makan dalam atau tenang-tenang menghanyutkan, tetapi bunyi dalam sunyi, berjuang dalam hening. Menghasilkan karya-karya yang menjadi sumber kehidupan dari wujud raga yang mati.


Kali Mati menjadi simbol kerendahan hati dan keugaharian, ia menyembunyikan kekuatannya di dasar kedalaman diri, bukan pada kedangkalan fisik, orang bisa menakluhkkan kedangkalannya tapi tidak dengan kedalamannya. Jadilah mati: matikan ego, mati kesombongan, hidupkan kharisma, alirkan kehidupan bagi yang lain.


Sudut Egebutu, 28/07/25

🌺

Komentar

Postingan Populer